Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 379


__ADS_3

Kembali ke rumah, menghela nafas lega. Awan kesedihan telah pergi. Sinar terang memenuhi lubuk hati. Ibarat pepatah habis gelap terbitkan terang, itulah yang terjadi pada keluarga Karina. 


Keraguan dan kesalahpahaman dalam hati telah sirna. Pertentangan sudah diatasi. Kini semua tersenyum lepas dengan pundak yang terasa sangat ringan. 


Saat kembali, makan siang sudah tersaji di atas meja makan. Hidangan istimewa, menyambut kembalinya Karina. Sayangnya meja makan tidak cukup. Tiga Tuan muda kasino Heart of Queen beserta keluarga, juga Calvin, Raina, Sam, dan Lila. Li, Gerry, dan Elina kembali ke markas, mereka akan menyiapkan perayaan di markas juga menyambut dan membahas lebih jauh  mengenai kerja sama Pedang Biru dengan kelompok Anfa.


Jadinya mereka makan siang di halaman belakang, menggelar tikar dengan dedaunan rimbun sebagai penghalang panas. 


Arion dengan telaten menyuapi Brian, Basurata, dan Bahtiar. Awalnya Karina melarang, mereka sudah bisa makan sendiri. Arion menolaknya, ini adalah pertemuan pertamanya, Arion ingin lebih dekat dan mengenal ketiga anaknya lebih dalam. Harus memupuk hubungan di antara mereka. Karena biar bagaimanapun, bagi ketiga anak laki-laki itu, Emir masihlah ayah yang paling terdekat dengan mereka. Hal itu dibuktikan langsung oleh Basurata. Ia berulang kali menanyangkan tentang Emir. 


Untung saja Arion tidak mengerti bahasa arab. Jika tidak, pasti akan menimbulkan lubang kecemburuan yang dalam.


Kumpul keluarga. Jika dulu mereka berkumpul masih ada yang belum memiliki anak, maka kita semua pasangan sudah menjadi orang tua. 


Azzura Aquilla Kinara, adalah nama anak Rian dan Angela. Anak perempuan berusia tiga tahun itu memiliki mata berwarna biru, berambut ikal mirip dengan Angela. 


Dylan Valencius, adalah nama anak Satya dan Riska. Anak laki-laki itu mewarisi mata emerald Satya. Rambutnya sedikit gelombang mirip Riska. 


Gibran, Azura, dan Dylan sudah fasih menggunakan dua bahasa, inggris dan indonesia. Jadi mereka tidak kesulitan mengerti pembicaraan orang tua mereka. 


Untung saja tiga akan laki-laki triplet itu punya kecerdasan di atas rata-rata. Baru beberapa saat diajari oleh Enji, sudah lumayan banyak kosakata bahasa indonesia yang mereka hafal dan ketahui. Sebelum mereka menguasai bahasa itu, mereka berkomunikasi menggunakan alat bantu penerjemah.


Selesai makan siang, para orang tua bercengkrama sembari menikmati menu penutup yakni rujak. Sedangkan para anak bermain dengan diawasi oleh Bik Mirna dan pelayan lainnya.


Menjelang sore, Sam, Lila, Calvin, dan Raina pamit pulang. Sudah hampir satu harian mereka di luar. Anak-anak neraka pasti sangat rewel pada kakek dan nenek di rumah.


Sesuai persyaratan Arion tadi, selesai Ashar, Darwis mulai berperang dengan alat dan bahan masak, memasak makan malam untuk semua. Joya ikut membantu, Rian, Satya, Angela, dan Riska juga ikut serta. Mereka memasak bersama, saling membagi tugas. 


Amri dan Maria bertugas menjaga anak-anak, kecuali cucu kandung mereka yang kini berenang bersama dengan orang tua mereka. 


Di kolam renang, Biru dan Bima menunjukkan kemampuan renang mereka sedangkan Bintang tetap menempel pada Karina. Arion mengajari Brian, Basurata, dan Bahtiar berenang.  Tapi bukannya berenang ketiga anak itu malah menempel pada Arion. Brian dan Bahtiar memeluk tangan sedangkan Basurata memeluk leher Arion. Arion tertawa, dengan jahil menyelam membuat ketiga anak itu sinyal menahan nafas. 


"Uhuk - uhuk- uhuk. Ayah kau jahat!"gerutu Basurata, terbantuk dengan memeluk erat leher Arion.


"Bara … Ayah tercekik," aduh Arion.


"Biarin!"sahut Basurata. 


Karina terkekeh melihat Arion yang terkurung oleh ketiga anak itu. Wajahnya pasrah saat Basurata memanjat dan kini duduk di lehernya, kedua kaki melayang di depan dada. 


"Mama … malam ini Bintang tidur di kamar Mama sama Papa ya," harap Bintang dengan mata memelas. 


"Biru juga, Ma," imbuh Biru, merapat pada Karina. 


"Bima juga, Ma," sambung Bima, juga merapat pada Karina. Karina mengeryit tipis.


"Aku juga Ibunda," ucap Brian yang diangguki kedua adiknya.


"Apa ranjangnya cukup?"tanya Karina.


"Cukup. Kalau tidak cukup Papa suruh tidur di sofa," jawab Biru. Arion yang mendengarnya langsung mendelik kesal pada Biru.


"Anak tengil beraninya kau menyuruh Papa tidur di sofa?! Ya ada kalian tidur di kamar kalian!"gerutu Arion. 


"Nggak! Bintang maunya tidur sama Mama!"tolak Bintang, memeluk pinggang Karina.


"Tidak! Mama hanya akan tidur dengan Papa! Kalian tidur di kamar masing-masing!"tegas Arion.


"Nggak mau! Bintang maunya tidur sama Mama!"kekeh Bintang.


"Bintang …."

__ADS_1


"Sudah-sudah. Malam ini kita tidur bersama. Mama juga takut tidur berdua dengan Papa," sela Karina.


Arion tersenyum kaku, sangat menusuk. Memangnya ia pria yang tidak bisa menahan nafsu? Ia juga tahu kondisi fisik Karina yang lemah, mana mungkin tega dan berani mengajak Karina berhubungan.


"Oke-oke. Kita tidur di lantai, ranjang tidak cukup untuk kita berdelapan," putus Arion.


"Hore!"seru keenamnya senang. 


*


*


*


Dongeng sebelum tidur, adalah hal yang membahagiakan bagi setiap anak. Terlebih jika kedua orang tua menemani dan memberi tepukan ringan pada tubuh. Dari keenam anak yang pertama tertidur adalah Basurata dan Bintang. Disusul oleh Biru, Brian, dan Bahtiar. 


"Sayang mengapa belum tidur?"tanya Karina lembut pada Bima.


"Mama … Papa ada yang ingin Bima tanyakan," ujar Bima, pelan dengan mata takut-takut.


"Tanyakan saja," jawab Arion.


"T-tapi Mama sama Papa jangan marah ya," pinta Bima, memainkan jarinya.


"Papa janji," sahut Arion.


"Mama janji nggak akan marah," imbuh Karina.


"I-ini tentang jati diri Bima," ucap Bima cepat, kemudian masuk ke dalam selimut. Arion dan Karina saling tatap, sama-sama menghela nafas pelan.


"Apa sudah saatnya?"tanya Arion.


"Tapi jangan di sini," bisik Arion. 


"Bima kita keluar yuk," ajak Karina. Bima mengeluarkan kepalanya.


"Bertiga saja?"


"Katanya Bima ingin tahu jati diri Bima, harus rahasia dong." Karina mengusap kepala Bima. Bima diam sebentar kemudian mengangguk patuh. Keluar dari barisan dengan hati-hati kemudian mengikuti Karina dan Arion menuju balkon. 


"Jadi apa yang ingin Bima ketahui?"tanya Karina.


"Mama … Bima bukan anak kandung kalian kan?" Arion dan Karina terdiam sejenak. Karina menatap Arion dengan mata menyelidik, Arion menggeleng tidak tahu.


"Siapa yang mengatakan Bima bukan anak kandung Mama sama Papa? Kakek, Nenek, atau Paman kalian?"


Bima menggeleng.


"Tidak ada yang mengatakannya padaku. Bima mengetahuinya sendiri," jelas Bima.


"Oh bagaimana caranya kamu menarik kesimpulan itu? Kamu adalah anak kandung kami," tutur Karina.


"Mama jangan berbohong. Bima tahu Ma, Pa. Wajahku dengan kak Bintang dan kak Bima berbeda jauh. Bima mungkin akan percaya jika Bima kembar dengan mereka jika itu masuk dalam kategori kembar. Tapi darah nggak bisa berbohong, Ma, Pa. Golongan darahku O+, sedangkan golongan darah Mama A, golongan darah Papa itu O. Kak Bintang dan kak Biru juga O. Kakek sama nenek juga nggak sama sama darah Bima," papar Bima dengan nada bergetar.


Karina terhenyak, Arion terkesiap. Tak lama senyum Karina terbit.


"Memangnya kenapa dengan itu?"tanya Karina penasaran.


"Kamu adalah anak kami, baik kandung atau tidak kamu adalah anak kami. Bima … benar. Kamu memang bukan darah daging kami tapi darah bukanlah penentu keturunan. Bima, Mama dan Papa sangat menyayangimu. Jadi, kami mohon setelah ini jangan pernah menjaga jarak dengan kami. Jangan merasa asing, kamu adalah bagian dari kami. Mengenai orang tua kandungmu, bukan saatnya kamu tahu," jelas Karina.


"M-Mama!" Bima langsung masuk ke dalam pelukan Karina. Menumpahkan air mata di dada Karina. Arion memeluk anak dan istrinya.

__ADS_1


"Benar. Kamu tetaplah anak kami. Anak yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta. Jangan pernah merasa kamu tidak sebanding dengan kakak dan adikmu, Bima kamu hebat tanpa harus menjadi orang lain. Tetaplah seperti biasa, kita adalah satu keluarga," tutur Arion. 


"Mama, Papa, Bima janji akan menjadi anak yang baik dan membanggakan kalian," ucap Bima sungguh-sungguh, menyeka air matanya.


"Maka jadilah pilot yang hebat!"sahut Arion.


"Siap, Papa!"


"Pilot? Kamu mau jadi pilot?"


"Hem. Bima mau jadi pilot, jadi nanti kalau Mama naik pesawat Bima yang akan mengemudikannya," jawab Bima.


"Anak baik, Mama tunggul ucapanmu hari ini." Karina mengusap kepala Bima. Bima tersenyum lebar, sungguh lega dan bahagia rasanya.


*


*


*


Senin yang terasa sangat cerah dan berwarna. Pagi hari diisi dengan keributan dan kegaduhan rumah oleh anak-anak. Karina yang sibuk merapikan rambut Bintang, Biru, dan Bima yang hendak berangkat ke sekolah. Arion yang manja meminta Karina memasang dasinya, padahal hanya mau berangkat ke markas, untuk apa pakaian formal? 


Belum lagi Brian, Basurata, dan Bahtiar yang sibuk memilih baju di lemari. Alhasil lantai dua sangat berisik. Ada lagi Gibran, Azura, dan Dylan yang merengek minta susu sedangkan ibu mereka sedang sibuk memasak. Ayah ketiga anak itu malah asyik jogging, membuat Joya, Riska, dan Angela menggertakkan gigi kesal. Bik Mirna yang tidak diizinkan ke dapur, menggeleng pelan mendengar dan melihat aktivitas pagi rumah ini. Sungguh berbeda.


Sedangkan empat lagi, yakni Amri, Maria, Enji, dan Alia malah sibuk menonton kartun pagi di ruang tengah. Tidak terganggu dengan keributan ini, malah tersenyum bahagia.


"Darwis kurang ajar!" Joya mengiris bawang dengan mata berapi-api seakan sedang mengiris Darwis.


"Mama handuk Gibran di mana?" Dengan botol  susu di tangan, Gibran berteriak pada Joya. 


"Di kamar, kalau enggak di dekat sofa!"jawab Joya.


"Nggak ada. Gibran sudah bongkar kamar nggak ada juga."


"Pakai handuk Mama saja!"


"Nggak mau!"


"Kalau gitu nggak usah mandi!"


"Oh oke." Gibran kini melenggang menuju ruang tengah, ikut menonton kartun.


"Anak tengil mengapa mirip Darwis?!"gerutu Joya.


"Namanya juga anaknya, Kak," sahut Angela.


"Tetap saja. Awas saja kalau Darwis pulang!"


"Mama susu!"


"Aduh Dylan, sabar sebentar ya Nak. Bentar lagi supnya matang kok," ujar Riska. 


Sedangkan Azura sendiri tertidur lagi dengan memeluk kaki Angela. Angela yang sibuk memotong sayuran, tersenyum lembut. 


*


*


*


Sarapan akhirnya selesai setelah beberapa drama. Dimulai dari Darwis, Rian, dan Satya yang disetrap guling botol oleh istri mereka. Sampai kerepotan Karina dan Arion yang harus menyuapi keenam anak mereka, ya namanya juga sedang manja. Keributan pagi ditutup setelah Bintang, Biru, dan Bima berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Anton, serta Karina dan lainnya yang berangkat menuju markas.

__ADS_1


__ADS_2