Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 141


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Li dan Gerry mulai menemukan titik terang kecelakaan yang menimpa Arion. Dibantu Satya dan Rian mereka terus melakukan penyelidikan. Darwis fokus pada pernikahannya saja dulu. 


Flashback sesaat di hari Arion kecelakaan. Kala mereka mendarat di negara ini, mereka langsung menuju mobil dengan Ferry sebagai pengemudi. Singgah sebentar di toko bunga, Arion membeli mawar putih untuk Karina.


Tiba di perempatan jalan, lampu merah baru saja menjadi lampu, melaju cepat agar bebas dari perempatan, naas truck melaju kencang dari arah kanan mereka. Kecelakaan tak dapat dihindari. Mobil yang dikemudikan Ferry terguling beberapa kali hingga berhenti di pinggir jalan. 


Begitupun dengan truck, terguling di tengah persimpangan karena kehilangan keseimbangan.


Bala bantuan pun segera diturunkan. Di saat semua sibuk mengurus insiden, tanpa mereka sadari ada yang tertawa sinis dan pergi ketika melihat Arion dan Ferry yang berhasil dievakuasi dengan bersimpah darah.


***


Di ruang pertemuan yang biasa mereka gunakan untuk berdiskusi, Li, Gerry, Satya dan Rian tengah membahas kejadian kecelakaan.


"Rem mobil juga blong, sopir meninggal sebelum kecelakaan, padahal dari CCTV yang merekam kejadian, truck itu berhenti di pinggir jalan dan jika diperbesar terlihat sopirnya tertidur," ucap Li menunjukkan apa yang ia simpulkan di laptopnya. Li membaca laporannya dengan serius.


"Dan menurut orang-orang di sana, itu sudah terparkir selama kurang lebih satu jam. Sebelum kecelakaan, ada yang menghampiri truck itu, nah pada saat itu semua orang tak peduli. Dianggap itu adalah kernetnya," lanjut Gerry yang memegang tablet. Kacamata bertengger di matanya. Dengan dua kancing kemeja atas terbuka membuat Gerry tampil cool dan menawan. Satya dan Rian diam sembari membaca laporan kepolisian yang mereka dapatkan.


"Namun, ada yang curi-curi pandang sebentar, orang itu kembali turun dan truck itu melaju perlahan, di situ CCTV diretas dan dimatikan. Saat sudah normal, truck itu sudah tidak di tempat dan tak lama terjadi kecelakaan," timpal Li. Saling pandang dengan Gerry.


"Berarti sekarang siapa orang yang masuk itu dan bagaimana caranya truck melaju dengan benar jika dikemudikan?" tanya Satya berfikir.


"Hmm … jawabannya karena orang itu pasti memakai alat seperti sistem yang sama pada mobil Karina. Dan itu pastinya bisa dibuka pasang, tetapi pihak kepolisian tak menemukan hal mencurigakan selain kedua hal tadi," jawab Rian mengutakan pendapatnya.


"Lihat! Dari rekaman tersembunyi CCTV lampu merah, ada yang mendekati truck kala sudah terguling. Memakai masker dan pakaian serba hitam. Dia mengambil sesuatu dari sana. Itu terlihat seperti bola kecil seukuran bola golf, warnanya juga putih, setelah itu dia langsung pergi," ujar Li.


"Dan di belakang cafe ini, dia masuk ke mobil van dengan plat nomor disembunyikan serta kaca yang sangat gelap sehingga tak tahu siapa yang ada di dalamnya," tambah Gerry.


"Setelah itu kita kehilangan jejaknya, CCTV kembali dimatikan dan jalanan kala itu sangat padat serta lampu penerangan yang mati ditambah cahaya lampu kendaraan membuat kita tak tahu ke mana mobil itu pergi," jelas Li lagi.


"Mereka ceroboh, kita juga lola dan tak teliti!"ucap Rian tiba-tiba yang membuat ketiga rekannya menoleh dan menatapnya penuh tanda tanya.


"Kalian tahukan bahwa saat itu kita atas diam-diam menerbangkan robot nyamuk kita jalan-jalan di kota. Dan dari hasil rekamannya kita dapat petunjuk besar, kalian mau lihat?" tanya Rian. 


"Ya, tunjukkan!" titah Li. Rian langsung mengambil handphonenya dan menyambungkannya ke layar monitor di hadapan mereka.


"Lihat ini, ini kejadian setelah kecelakaan, walaupun dia memakai masker serta penutup kepala, tetapi tak menutupi telinganya, perbesar tampilannya," ucap Rian.


"Lihat ada tanda bintang dan ular kobra di daun telinganya. Ini lambang organisasi kan?" lanjut Rian. Li dan Gerry serta Satya saling lempar pandang. Mereka mengangguk bersamaan. Gerry mengerutkan dahinya berpikir keras mengingat siapa pemilik lambang itu.


"Tapi siapa mereka? Aku tak tahu dan tak pernah ingat kita pernah berurusan dengan mereka?"tanya Li kemudian.


Rian menggeleng. 


"Kita diskusikan saja pada Karina. Mungkin dia tahu siapa pemilik lambang ini," saran Satya.


"Hmm … itu pilihan yang bagus," timpal Rian. Akhirnya mereka mengirim semua laporan pada Karina. 


***

__ADS_1


Di kediamannya, Karina tengah membantu Arion bersiap. Karina sendiri sudah bersiap dengan gaun putihnya. Pakaiannya senada dengan yang ia pakaikan pada Arion. Mereka akan berangkat di acara ijab qabul Darwis dan Joya sebagaimana janji Karina pada Darwis.


"Perfect," puji Karina saat selesai merapikan rambut Arion. Arion mengulum senyumnya.


"Kau kenapa? Tak senang aku dandani?" tanya Karina heran.


"Aku tak bisa melihat hasil dandananmu. Aku ingin melihatnya," jawab Arion. Karina menghela nafas.


"Bagaimana jika aku memotretmu? Jika kau sudah bisa melihat lagi kau dapat melihat ini," saran Karina. Arion mengangguk dan mengembangkan senyumnya.


Karina mengambil handphonenya dan memotret Arion beberapa cekrekan.


Selesai itu mereka langsung menuju lantai bawah. Karina menuruni tangan dengan hati-hati seraya membimbing Arion. 


Sesampainya di lantai bawah, mereka langsung menuju mobil yang terparkir manis di depan rumah. Pak Anton dengan sigap membuka pintu mobil untuk Karina dan Arion. Pukul 09.00, mobil meluncur meninggalkan kediaman Karina.


***


Kurang lima menit dari waktu Ijab Qabul yaitu pukul 10.00, Karina dan Arion tiba di kediaman Wijaya. Acara Ijab Qabul yang dilaksanakan di dalam rumah, otomatis mereka melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah. Tak lupa undangan yang Joya berikan padanya, Karina berikan pada penerima tamu. 


Terlihat Rian dan Satya yang sudah lebih dulu datang duduk di barisan bangku tepat di belakang Darwis. Darwis tampak gugup di tempat duduknya. Berkali-kali ia meremas tangannya mengusir rasa gugup.


Melihat Karina dan Arion yang masuk, mereka sontak menoleh dan memberi hormat dengan tundukkan kepala. Calon mempelai wanita belum turun, sebab masih di kamar bersama dengan sang Ayah.


"Ck, anak ini mau sah malah gugup, yang belum sah malah asal terkam," gumam Karina kesal.


"Bukan apa, hanya penasaran bagaimana rupa Joya nanti," jawab Karina.


"Aku ingin melihatnya, tapi tak bisa," ujar Arion. Karina mencenbikkan bibirnya.


"Ada baiknya kau tak dapat melihat," ketus Karina.


Arion terkekeh. 


"Sayang, aku bercanda. Mau secantik dan semenarik apapun wanita lain. Hati, pikiran, cinta, jiwa dan ragaku hanya untukmu. Mana berani aku selingkuh dari kamu, jika terjadi nyawa aku sudah melayang di tanganmu," ucap Arion menggenggam erat tangan kiri Karina.


"Tuh kamu tahu," ujar Karina.


"Karina," panggil pelan Darwis.


"Hm?" sahut Karina.


"Makasih," ujar Darwis dengan senyum menawannya.


"Ya," jawab Karina singkat. 


Selagi menunggu acara dimulai, Karina mengambil handphonenya dan memeriksa email terbaru.


Dahinya mengeryit dan menoleh ke arah Rian dan Satya. Merasa ditatap, keduanya menoleh ke arah Karina.

__ADS_1


Karina mengalihkan perhatiannya kembali pada handphone. Membaca dengan teliti apa yang dikirim serentak oleh keempat tangan kanannya itu.


Rian dan Satya memperhatikan reaksi Karina lekat tanpa berkedip. Wajah Karina menunjukkan ekpresi rumit. Hingga matanya membulat dan tangannya gemetar. Arion yang merasakan tubuh Karina bergetar mengeryit. Karina langsung menyimpan handphonenya.


"Sayang? Kamu gemetaran? Kamu sakit?"tanya khawatir Arion menoleh ke arah Karina. Ia ingin melihat wajah istrinya. 


Karina diam, bibirnya mengatup sempurna. Pandangannya fokus ke depan. Kosong, itu pandangan Karina. Rian dan Satya saling pandang dan terlihat khawatir.


"Sayang?" panggil Arion lagi. Tubuh Karina semakin gemetar. Jantungnya berdebar dengan kencang.


Karina takut? Cemas? Tapi dengan apa? Batin Arion.


Arion mencoba merangkul Karina dan menariknya dalam pelukannya.


"Aku di sini," ucap Arion mencoba menenangkan Karina.


"Mereka masih ada," ujar Karina pelan. Dahi Arion mengeryit kembali. Mereka? Siapa yang dimaksud mereka oleh Karina?


"Siapa?" tanya Arion.


"Mereka," jawab Karina.


"Huft, kita pulang saja ya," ajak Arion. Karina menggeleng. Janjinya harus ia tepati.


"Tidak," jawab Karina.


Karina mencoba menenangkan dirinya. Menetralkan debaran jantungnya. Berkali-kali menghela nafas agar ia merasa tenang.


Sialan! Respon tubuhku terhadap lambang itu tetap sama. Mengapa mereka bisa keluar dari penjara terbaik dunia? Mengapa para petinggi dan agen itu tak melalukan pergerakan? Aku aku menyelidikinya lebih jauh. Ah … andai saja Enji di sampingku pasti masalah ini cepat terpecahkan.


Huft! Tenang Karina, tenang. Netralkan emosimu. Mereka melakukannya secara diam-diam, berarti kekuatan mereka masih belum pulih. Tindakan pengecut namun berakibat fatal pada keluargaku. Aku harus segera membereskan mereka setelah ini. Aku tak akan biarkan mereka mengganggu keluargaku. Kalian, akan ku balas perbuatan kalian ini. Kalian buat suami dan kekasih adikku celaka, maka akan ku siapkan rumah untuk kalian. Mata balas nyawa. 


Karina mengukir senyum smirk. Namun sekilas, tak terlihat oleh siapapun. 


"Kita tetap di sini sampai acara Ijab Qabul selesai," ujar Karina tegas.


"Baiklah," jawab Arion menurut. Rasa khawatirnya mulai mereda merasa tangan Karina mulai tak gemetar lagi.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Joya Argantara binti Reza Argantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," suara tegas Darwis dalam keheningan. 


Tak lama terdengar suara gemuruh mengucapkan kata sah. Darwis tersenyum lega setelah merasakan demam panggung yang panjang. Mencium punggung tangan Darwis, Joya lakukan dengan titikan air mata yang masih menetes. Reza pun sama, kini putri sahnya telah menyandang status istri. Mengabdi pada sang suami.


Setelah menandatangi buku nikah barulah saling menyematkan cincin di jari manis pasangan. Karina ikut tersenyum senang dan bertepuk tangan. Masalah laporan tadi ia ke sampingkan dulu. Ini bukan saat yang tepat membahas hal itu.


Arion ikut mengukir senyum, menatap ke depan. Hatinya ikut senang mendengar mantan pacarnya telah menemukan tambatan hati dan tak akan pernah lagi mengganggu hubungan rumah tangganya dengan Karina.


***

__ADS_1


__ADS_2