
Suara ketukan pintu yang cukup keras mengganggu tidur Satya. Ia membuka mata sembari mengerjap. Satya merasa kepalanya sangat pusing, Satya mendesah pelan. Efek mabuk ternyata masih terasa sampai sekarang.
Satya menoleh ke bawah saat ada pergerakan di bagian dadanya. Mata Satya melebar seketika. Ia bergegas turun ranjang dengan wajah bingung juga pucatnya.
Riska membalik tubuhnya membelakangi Satya, masih nyenyak tidur. Satya memeriksa seluruh tubuhnya, juga melihat selimut juga sprei.
Satya bernafas lega saat menemukan tidak ada yang aneh. Tapi Satya tidak ingat apa yang terjadi tadi malam. Suara ketukan pintu semakin gencar. Satya membenahi pakaiannya yang kusut lalu melangkah membuka pintu.
Ia heran dengan beberapa petugas yang Satya ketahui adalah polisi dan orang dari dinas catatan sipil.
"Selamat pagi Tuan," sapa salah seorang petugas.
"Pagi. Ini ada apa ya Pak?"tanya Satya sembari berjabat tangan dengan petugas yang menyapanya.
"Seperti biasa, setiap akhir bulan kami melakukan pemeriksaan hotel. Prostitusi serta kejahatan pada wanita sangat rawan akhir-akhir ini, jadi kami harus memeriksa setiap kamar, termasuk kamar Anda," ucap petugas itu tegas. Dahi Satya mengeryit, memang ia tahu tentang ini, tapi ini bukan jadwal nya bagi hotel ini.
"Mohon kerja samanya," lanjut petugas itu segera masuk diikuti orang yang ikut dengannya. Satya yang masih berpikir, kaget dan ikut masuk. Ia meruntuk karena tidak waspada, Satya yakin ia dalam masalah sekarang.
Satya berdiri kaku saat mata petugas menatapnya sinis. Satya mengulum senyum, sepertinya Satya tahu ini ulah siapa. Hanya Karina yang bisa memerintahkan pemeriksaan ini dimajukan. Sangat janggal, sepagi ini sudah ada pemeriksaan, terlebih saat di luar tadi, hanya ada petugas, tidak ada tamu lain yang menonton mereka. Tapi Satya bersyukur hanya ada petugas, ia bisa menjaga nama baiknya juga wanita yang tidur di sampingnya tadi.
Riska terbangun mendengar suara ribut mengusik telinganya. Matanya yang masih mengantuk, terbelalak melihat banyak orang yang menatapnya dengan tatapan berapa, ada tatapan iba, sinis, tidak percaya, juga dingin. Riska linglung, ia mengedarkan pandangan, menatap Satya memelas meminta bantuan.
Segera Riska berdiri dan menghampiri Satya.
"Om ini ada apa?"tanya Riska tidak mengerti. Satya berdecak sebal dalam hati.
"Kamu tenanglah," ujar Satya menarik tangan Riska ke belakang tubuhnya.
"Bisa jelaskan hubungan kalian?"tanya petugas penuh selidik.
"Tidak terjadi hal yang di luar batas. Kami hanya tidur," jawab Satya tenang.
"Benar Pak. Kami hanya berpelukan. Tidak melakukan sesuatu yang dilarang kok," timpal Riska.
"Hubungan kalian apa? Ada surat nikah? Keluarga atau apa?"tanya tegas petugas itu.
"Kami …." Ucapan Satya terpotong saat suara langkah kaki masuk ke kamarnya. Satya menoleh, Riska pun begitu. Mereka semua menoleh ke arah pintu.
"Mereka akan segera menikah Pak. Tadi malam kami mengadakan pesta, karena dia dalam keadaan mabuk, jadi mereka tidur sekamar. Jadi mohon lepaskan mereka," ucap Karina seraya duduk di sofa. Karina hanya sendiri. Satya dan Mira refleks saling tatap dalam kebungkaman. Akibatnya akan jauh lebih parah jika mereka membantah.
"Mengapa tidak berbeda kamar? Walaupun sudah mau menikah, seks sebelum pernikahan dilarang," tanya marah petugas itu. Karina menaikan satu alisnya.
"Ini waktu holiday. Semua kamar sudah ada penghuninya," jawab Karina.
"Kalau begitu, mereka harus segera dinikahkan, kapan tanggal pernikahannya, kami akan datang memastikan. Seandainya kalian berbohong, kalian akan dikenakan hukuman kurungan tiga bulan dan denda sebesar undang-undang," ucap petugas itu tegas.
"Tahun depan. Tepat setelah tahun baru," jawab Karina. Petugas itu mengangguk dan meminta rekannya untuk mendata Satya dan Mira. Mau tak mau, keduanya memberikan data yang ditanya oleh pencatat itu.
__ADS_1
"Waktu dan tempat?"tanya petugas itu lagu memperinci.
"Gereja XX, pukul 14.30," jawab Karina. Petugas itu kembali mengangguk, setelah semua selesai, para petugas itu keluar dan mengecek kamar yang lain.
Satya segera menghampiri Karina untuk melayangkan protes, sedangkan Riska duduk di ranjang dengan tatapan kosong. Gadis itu masih tidak percaya, ia terpergok oleh petugas pemeriksaan dan Karina mengatakan bahwa ia dan Satya akan menikah di awal tahun. Astaga, mimpi apa kemarin dirinya. Walaupun Riska sempat terpesona terhadap Satya, tapi tidak pernah sekalipun ia bermimpi akan menikah dengan Satya. Cukup mengagumi saja. Lagipula umur mereka terpaut jauh. Satya yang sudah 28 tahun dan ia yang masih jalan 18 tahun. Satu lagi, apa kata dan reaksi orang tuanya mendengar hal ini nanti? Riska mendadak merinding, pikiran negatif hinggap di pikirannya.
"Apa aku akan dibunuh oleh Papa? Apa Papa akan memandangku tidak bisa menjaga kehormatan? Bagaimana nasibku nanti?"gumam pelan Riska. Wajahnya pucat dengan tangan saling berpegangan erat.
Karina mengajak Satya keluar. Satya yang baru mengatakan "apa" mengekor cepat. Di luar kamar, Mira dan Gerry menatap mereka penuh selidik.
"Urus adikmu," ucap Karina. Mira terkesiap dan segera masuk, diikuti oleh Gerry. Karina membawa Satya ke ruang privat. Berbicara empat mata.
"Sepertinya kamu sudah melupakan Mira. Baguslah. Riska bukan pilihan yang buruk." Karina memulai pembicaraan. Satya memdatarkan wajahnya. Ia terlihat sangat tidak senang dengan keputusan sepihak Karina. Selain itu, ini juga tidak adil bagi Riska. Dalam sekali lihat, Satya bisa menilai bahwa Riska anak yang baik, cerdas, terkadang juga bisa mendadak tidak pintar.
"Aku tidak bisa menikah dengannya. Terlalu banyak perbedaan. Karina, dia saja memanggil diriku Om, dia masih pelajar serta aku tidak mau berhubungan dengan anak ingusan, aku menolak, lebih baik aku dikurung dan denda saja, ketimbang terikat hubungan sah seumur hidup," papar Satya menyatakan ketidaksetujuannya. Satya tidak mengatakan tentang perpisahan, sebab bagi mereka pernikahan hanya sekali seumur hidup, pantang berpaling.
Karina menatap tajam Satya. Wajah dinginnya, membuat kulit Satya terasa dingin.
"Jadi kau mau menjadikan Riska malu sendiri? Kabar ini pasti sudah tersebar di departemen catatan sipil kota. Kamu tetap akan dijadikan sebagai tersangka, Riska akan tetap dianggap telah ternoda, dan keluarga Riska akan membunuhmu. Nama baikku juga organisasi serta perusahan juga akan tercoreng. Kamu akan kehilangan kehormatanmu, begitupun aku." Satya terdiam tidak membalas ucapan Karina.
"Riska bukan pilihan yang buruk, dia sudah dewasa, hanya terkadang bertingkah seperti anak kecil, dia anak yang kesepian. Umur bukan masalah. Dari pengamatanku, dia tertarik padamu. Terima keputusanku ini, bukan hanya demi kebahagianmu juga untuk kebaikan bersama. Ini perintah, sekaligus permintaan dariku sebagai Queen-mu dan adikmu!" Lidah Satya terasa keluh ingin membantah ucapan Karina. Semuanya berkumpul pada satu titik dan bercampur untuk mendapatkan sebuah hasil yang akan menjadi jawabannya.
Satya mengangkat wajahnya.
"Rekaman. Karina kamu punya rekaman video malam tadi kan? Berikan padaku. Aku akan ke kantor sipil untuk menyelesaikan salah paham ini. Dengan begitu tidak akan ada yang harus terikat hubungan," ujar Satya memelas. Karina menggeleng.
"Selain itu, usia kamu sudah sangat matang. Sebagai pimpinan yang berdedikasi tinggi, aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Sudah cukup kamu berhubungan hanya satu malam, saatnya memulai hubungan serius dan setia pada satu wanita!" Seusai mengatakan hal itu, Karina berdiri, menepuk pundak Satya seraya menyunggingkan senyum. Satya melirik dengan wajah datar. Duduk lemas saat Karina keluar dari ruangan privat ini.
Satya ingat kejadian tadi malam. Tanpa sadar, senyum tipis ia torehkan. Setelah menimbang semuanya dalam keheningan, Satya berdiri lalu melangkah keluar.
"Sepertinya bukan pilihan yang buruk. Mempunyai istri lebih muda, aku rasa akan banyak hal baru yang muncul dalam hidupku nanti. Karina benar, sudah cukup berpetualang. Takdir, terkadang memang menggelikan, tapi ia adalah yang terbaik untuk diri ini. Pilihanku tidak disetujui, jika sudah Tuhan yang memilih, sekuat apapun aku mencoba menyangkal, semua akan tetap terjadi, pikir Satya, kembali ke kamarnya.
Tiba di kamar, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Satya melihat siapa yang menampar dirinya. Yang jelas bukan Gerry, melainkan Joya.
"Mengapa kamu menamparku?"tanya Satya heran. Dilihatnya sekeliling, Mira, Gerry, dan Darwis menatapnya datar. Wajah mereka jelas kesal dan geram dengan Satya. Riska menyembunyikan wajahnya di pelukan Mira. Sedangkan satu pasangan lagi sepertinya masih tidur nyenyak di kamar mereka.
"Karena kau bodoh! Apa kau kekurangan wanita di luar sana hingga pelajar pun kau embat?"bentak Joya kesal. Darwis memegang pundak Joya, matanya menyiratkan agar Joya jangan emosi, kesehatan Joya bisa menurun.
"Aku mabuk, lagipula tidak terjadi apa-apa. Aku punya kontrol diri yang tinggi," jawab Satya santai, matanya tertuju pada Riska.
"Kontrol tinggi apanya. Lalu yang kemarin lusa itu apa hah? Kau nekat sekali kan?!"bentak Gerry kesal. Satya menatap acuh Satya, membuat Gerry gatal ingin kembali memukul Satya. Mira menahan tangannya.
"Anggap saja aku lepas kontrol. Lagipula tidak terjadi apa- apa kan pada Mira." Gerry mendengus kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Urat lehernya sampai terlihat jelas.
"Redakan emosi kalian!"tegas Darwis. Joya berdecak sebal kemudian duduk. Mira memalingkan wajah saat Satya menatapnya, padahal Satya menatap Riska.
" Jadi apa keputusanku, Ya?"tanya Darwis.
__ADS_1
"Tentu saja menikah dengan Riska, adalah pilihan selain itu?" Satya menaikkan bahunya.
"Aku perlu berbincang empat mata dengan Riska, bisa kalian keluar?"tegas Satya. Mau tidak mau mereka keluar. Riska menunduk seraya meremas ujung bajunya, membeku saat Satya duduk di sampingnya.
"Maaf membuatmu harus ikut menanggung akibat mabukku, aku sangat menyesal," ucap lembut Satya. Riska melirik sekilas.
"Aku akan bertanggung jawab pada dirimu. Sekalipun aku tidak melakukannya padamu, tetap saja aku mengambil kesucian bibirmu juga perasaanmu, kata-kataku terlalu vulgar tadi malam," lanjut Satya.
"Om jadi akan nikahin aku? Om serius? Enggak bercanda kan?" Riska menatap Satya rumit. Matanya masih menunjukkan penolakan.
"Aku serius. Tidak akan bukti yang bisa meringankan kita. Tenang saja, aku pria yang setia," ujar Satya, memberanikan diri memeluk Riska dari samping. Menyandarkan kepala Riska di dadanya.
"Tapi Papa dan Mama?"
"Aku akan menanganinya."
"Pendidikan Riska bagaimana? Riska masih mau kuliah Om. Riska juga belum mau jadi ibu muda, Riska masih mau menikmati masa remaja Riska," rengek Riska, terdengar menggemaskan di telinga Satya.
"Pernikahan kita hanya diketahui oleh keluarga. Masalah pendidikan kamu, kamu bisa berkuliah, tidak akan aku batasi, dan masalah menjadi ibu muda, otakmu ini terlalu jauh berpikir. Aku tidak tertarik dengan tubuh ratamu anak kecil, lagipula aku tahu resiko hamil di usia dini," jelas Satya, menyentil pelan dahi Riska.
"Rata dari mana? Di sekolah, aku termasuk yang paling cantik, juga seksi," protes Riska, gadis itu sudah bisa menerima takdir mereka. Setelah ia pikir - pikir, menikah dengan Satya bukanlah pilihan yang buruk.
"Dadamu sangat rata. Ku rasa pihak sekolahmu mata mereka bermasalah," ledek Satya, mulai bersahabat dengan Riska.
Riska mengerjap, melihat dadanya. Satya menahan tawa, tetap saja tidak bisa. Satya tertawa lepas melihat kekesalan Riska.
"Ih Om menyebalkan!"pekik Riska memukul keras tangan Satya. Satya berusaha berhenti tertawa lalu meminta maaf pada Riska. Riska cemberut dan memalingkan wajahnya.
"Satu lagi, jangan panggil aku Om, tidak cocok dengan wajah tampanku ini."
"Jadi panggil apa? Secara usia kamu memang cocok dipanggil Om."
"Tidak! Om terlalu tua untuk diriku. Kakak saja bagaimana?"saran Satya.
"Abang! Aku akan memanggilmu Abang, atau brother, bagaimana Bro? Lebih keren kan?" Mata Riska berbinar. Satya mendengus senyum.
"Jika hanya kita berdua tidak masalah, tapi jika di depan orang, panggil aku Abang," tegas Satya.
"Oke, Bro. Oh iya, jangan panggil aku anak kecil juga. Usiaku sudah mau 18 belas tahun. Panggilan itu terasa geli di telingaku," protes Riska.
"Jadi?"
"Riska saja."
"Baiklah, Riska."
Kedua orang berbeda usia itu tersenyum lebar, Satya mengajak Riska keluar, tidak ada seorang pun di depan kamar mereka. Satya mengajak Riska sarapan untuk memperdekat hubungan mereka. Mengenal satu sama lain secara lebih mendalam.
__ADS_1