
Di sisi lain, Gerry dan Mira sedang berbincang via telepon. Saat tiba di mobil, Mira langsung melihat handphone yang mode diamnya ia aktifkan. Mira saat itu menghela nafas kasar melihat notifikasi panggilan tidak terjawab dari Gerry.
Melihat ada pesan suara, Mira langsung membukanya.
[Segera hubungi aku jika kamu sudah lenggang. Maaf membuatmu khawatir. Aku menunggu].
"Maaf, belakangan aku sangat sibuk dan tidak sempat memberi kabar, kamu jangan marah ya," ucap Gerry dengan nada menyesal di sana. Mira tersenyum.
"Aku juga minta maaf. Aku juga sibuk di sini, kamu tahukan besok hari apa?" jawab Mira.
"Tentu. Hari minggu kan?" sahut Gerry. Mira berdecak sebal, tapi memang iya, masalah Gerry yang belum tahu besok hari apa selain hari minggu kan wajar.
"Ya besok Minggu, Senin aku kembali ke sana," ucap Mira dengan sedikit ketus.
"Loh lama sekali. Besok saja kamu kembalinya, sudah rindu aku. Aku sudah tidak sabar menunggu menyematkan cincin di jari manismu," rengek Gerry yang membuat Mira mendengus senyum.
"Aku pun sama Ger, tapi besok hari penting. Papa aku ulang tahun, enggak mungkin aku pulang besok."
Pada akhirnya Mira menjawab pertanyaannya sendiri. Gerry terdiam, tidak merespon beberapa saat. Terdengar helaan nafas berat, Mira mengeryit heran.
"Ger?" panggil Mira sembari melihat layar handphone nya, masih tersambung.
"Perlukah aku hadir untuk meminta restu? Aku kan harus berkenalan dengan calon mertuaku. Bagaimana? Sekalian melamarmu secara resmi."
Mira terkesiap, ia tidak menyangka Gerry maunya main cepat saja, Pria itu ternyata tidak sabar menunggu setelah mendapat kepastian. Tanpa sadar, wajah Mira bersemu merah, untung di dalam mobil, kalau di luar pasti ia dikira mabuk.
"Kau mau Papa cepat mati hah? Pelan-pelan dong Ger, buru-buru nanti hasilnya enggak sesuai gimana? Ya ada malah semakin rumit, Papa itu keras kepala, kamu pasti sudah tahu, tidak perlu aku jelaskan," ketus Mira, terdengar Gerry tertawa.
"Aku tahu. Ya sudah, Aku akan tunggu waktu yang pas. Hm, by de way kamu habis ngapain sampai harus mode diam handphone? Acara keluarga kah?" tanya Gerry penasaran.
"Aku … aku habis dari kasino Ger. Mengunjungi teman lamaku, ralat dia sudah seperti Abang bagiku. Tadi aku juga bertemu dengan tiga lainnya, aku enggak menyangka kalau dia ternyata salah satu Tuan Muda Kasino Heart of Queen, ternyata aku ini kurang update ya," jelas Mira yang tidak mau membuat Gerry salah paham seandainya nanti di kemudian hari, ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi dengan mengatasnamakan kedatangannya ke kasino dengan motif yang memojokkan dirinya.
Di tempatnya Gerry terpaku diam, ucapan Mira membuat rasa takut menyeruak masuk ke dalam hatinya. Rasanya sesak membuat Gerry memegang dan meremas dadanya sendiri. Gerry memejamkan nertanya sejenak, Mira terdengar memanggilnya berulang kali, agaknya wanita itu cemas dengan kediaman Gerry.
"Siapa dia?" tanya Gerry memastikan.
"Namanya Satya Airlangga, dia adalah saudara sepantiku dulu …."
Mira menceritakan tentang hubungannya dan Satya. Rasa cemburu terus tertumpuk. Rasa takut Satya melakukan hal nekat setelah mengetahui Mira sudah memiliki kekasih pun menghantui. Gerry tahu Satya punya rasa terhadap Mira, akan tetapi ia juga tidak rela melepas Mira untuk Satya, cinta pertama sangat sulit dilepas, tidak akan mungkin. Terlebih dia Pedang Biru terkenal dengan kesetiaannya.
"Aku mohon jaga jarak dengannya. Aku mohon padamu Mir!" Permohonan dengan nada memerintah.
"Memangnya mengapa? Dia kan Abang angkatku?" tanya Mira heran.
"Jawabannya adalah pertanyaanmu. Karena dia bukan Abang kandungmu. Mira aku mohon padamu," jawab Gerry serius dengan nada penuh penekanan.
"Ya tapi mengapa? Hubungan kami sudah seperti saudara kandung. Ger kamu tidak sedang berusaha menjauhkan diriku dari keluargaku kan?" tanya Mira curiga. Wanita ini masih tidak peka, ia tidak tahu Satya memendam rasa padanya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak! Mira ternyata kamu memang tidak peka, peka lah sedikit terhadap orang-orang di sekitarmu. Terlebih kamu dokter, kamu punya ilmu psikologi," jawab Gerry.
"Aku rasa enggak ada yang aneh, kamu enggak mau nuduh Bang Satya suka dan cinta sama aku kan?" tanya Mira dengan nada tidak percaya. Gerry mengesah pelan.
Sayangnya itu benar, jawab Gerry dalam hati.
"Semoga tidak, aku hanya membuat opsi terpuruknya Mir. Aku malas bersaing untuk mendapatkan hatimu," ucap Gerry.
"Untuk apa bersaing? Kamu sudah mendapatkan hatiku. Percayalah aku orang yang setia. Dan aku paham kecemasanmu. Apapun itu, aku hanya padamu Ger, kamu sudah menaklukkan hatiku sepenuhnya," tutur Mira dengan kesungguhan hati yang teramat. Gerry tersenyum kecut.
"Aku percaya padamu," ucap Gerry.
Tapi tidak pada Satya. Aku bukan tidak ingin bersaing, tapi bersaing dengan kawan sendiri rasanya sangat tidak nyaman. Karina akan kecewa jika kami bersaing demi wanita dan menyebabkan perpecahan. Andai saja pekerjaan akhir tahun tidak menumpuk, pasti aku akan menjemputmu Dokter Selendangku, pikir Gerry dalam hati.
"Baiklah, aku rasa obrolan kita saat ini cukup. Tugasku menumpuk Mir. Jika ada waktu aku akan menyempatkan diri mengubungimu," ucap Gerry.
"Ya sudah. Semangat kerjanya masa depan. I love you," ucap Mira dengan gembira.
"Love you too," sahut Gerry. Percakapan terhenti. Gerry kembali meminum winenya. Tatapan matanya tajam ke depan, menatap lukisan yang berisikan enam orang, satu diantaranya adalah wanita yang duduk anggun di tengah kelima pria yang tidak lain adalah Karina, Li, Gerry, Darwis, Rian, dan Satya.
Di mobilnya, Mira memikirkan ucapan Gerry. Batinnya bergejolak, antara takut dan tidak percaya. Sampai sekarang Mira belum tahu kalau kasino Heart of Queen adalah bagian dari Pedang Biru. Tapi, tunggu jika Gerry tahu tentang Satya berarti Gerry sudah menggali semua tentangnya dong. Mira memijat dahinya.
Haish, lancar kan semua urusan kami Tuhan, harap Mira segera melajukan kendaraannya keluar area parkir.
Sejenak ia menatap bangunan megah kasino dengan wajah rumitnya. Mira kemudian menggelengkan kepalanya dan berusaha tetap tenang.
*
*
*
"Tenanglah. Karina pasti ada urusan penting. Bukankah kamu tahu Karina sukar ditebak?" tanya Joya. Darwis menatap Joya dalam dan menerbitkan senyum lebar. Dikecupnya sekilas bibir ranum sang istri yang membuat Joya membulatkan matanya kaget. Darwis terkekeh dengan reaksi Joya.
"Kau merona. Berapa lama kita sudah tidak berciuman dan berhubungan hm?" ledek Darwis.
"Mana aku tahu!" kesal Joya dengan wajah memerah. Darwis tertawa lepas. Rian masuk dengan wajah datarnya. Ia baru saja kembali seusai menyelesaikan masalah di lantai dasar.
"Satya?" tanya Darwis.
"Tidur," jawab Rian datar.
"Bagaimana?" tanya Rian. Darwis menggeleng.
"Li?" tanya Rian. Darwis melebarkan mmatanya singkong paniknya ia lupa dengan saudaranya itu. Rian berdecak kesal melihat reaksi Darwis.
Segera Darwis menghubungi Li, tak perlu waktu lama, Li sudah menjawab. Darwis segera menyampaikan pertanyaannya. Jawaban Li membuat Darwis terdiam dan melirik cemas ke arah Rian. Rian mendesah kasar, Joya juga turut bersedih, perubahan raut wajah Darwis sangat ketara.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian jaga Satya. Jangan buat Karina mengamuk. Kalian tahu kan ini bulan apa? Walaupun belum jelas kambuh tidaknya, kita harus tetap waspada. Karina saat ini tengah berada di rumahnya. Kalian tidak perlu khawatir dengan komunikasinya yang mati," ucap Li sebelum mengakhiri panggilan.
"Pasti. Tapi mengenai hal itu … apakah tidak berpengaruh terhadap kedua janinnya?" tanya Darwis yang cemas dengan kondisi Karina dan kedua anak di dalam rahim Karina.
"Aku rasa tidak. Janinnya adalah bagian dari tubuhnya. Dia tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Karina itu spesial," jawab Li menenangkan Darwis.
"Ya sudah kalau begitu." Panggilan diakhiri. Rian dan Joya menatap Darwis meminta penjelasan lebih lanjut. Darwis segera menceritakan apa yang Li sampaikan.
"Jadi benar, bagaimana ini? Satya akan sulit ditahan jika sudah bertekad," panik Rian.
"Karina, bukankah Karina bisa membuat Satya mengerti? Karina adalah jantung kalian," saran Joya.
"Tidak!" tolak tegas Darwis.
"Saat ini kita tidak bisa membebankan apapun terhadap Karina. Karina juga punya masalahnya sendiri. Bebannya akan bertambah banyak jika kita mengaduh. Kita harus memberi Satya pengertian. Masalahnya hanya Satya," lanjut Darwis.
"Tunggu, maksudmu Karina ada kesulitan sendiri bagaimana? Apa dia punya penyakit?" tanya Joya curiga.
"Anggap saja begitu, Joya tidak usah kami pikirkan. Kamu cukup pikirkan dirimu sendiri saja," jawab Darwis. Mau bertanya lagi, Joya urungkan melihat wajah tegas tidak terbantahkan Darwis.
"Aku setuju, Satya harus kita amankan," tukas Rian dengan wajah serius.
*
*
*
Saat matahari mulai kembali ke peraduannya, Satya baru bangun dari ranjang empuknya, matanya masih terasa berat dan dengan sempoyongan berjalan menuju kamar mandi. Terdengar suara air jatuh diikuti dengan aroma wangi memikat. Tak berselang lama, Satya keluar dengan hanya memakai handuk sebatas lutut menutup bagian terlarangnya. Rambut basah dengan air yang masih menetes, tetes air jatuh dari tubuhnya membentur lantai berbalut permadani.
Mata emerardnya menatap handphone di atas nakas. Diraihnya cepat dan segera mencari nomor ponsel yang hendak ia hubungi.
"Ada apa?" tanya seseorang di sana dengan nada datar.
"Kau berhubungan dengan Mira?" tanya Satya tak kalah datar mendekati dingin.
"Kami bertunangan," jawab seseorang itu yang ternyata adalah Gerry. Satya menggelapkan wajahnya.
"Lepaskan Mira. Dia milikku!" desis Satya dingin.
"Tidak mungkin! Harusnya aku yang mengatakan hal itu. Mira hanya menganggapku sebagai saudara angkatnya, tidak lebih dari itu. Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu pada orang lain Ya, aku mohon terima hubungan kami. Kamu saudaraku. Aku tidak mau kita bertengkar karena hal ini," papar Gerry blak-blakan. Satya mengeram kesal.
"Tidak mungkin! Ingat ucapanku. Apapun caranya, aku akan mendapatkan Mira!" tegas Satya memutus panggilan sepihak. Ia mengeram lalu berteriak kesal. Handphone ia banting dan melempar semua yang ada di atas nakas.
"Hanya sebagai saudara? Aku tidak terima!" seru Satya.
*
__ADS_1
*
*