
Karina menggeliat pelan dalam kondisi mata masih menutup, beberapa detik kemudian Karina membuka matanya malas. Menguap memandakan ia masih mengantuk.
Karina lantas duduk dan merenggangkan tubuhnya berusaha menghempaskan kantuk menjauh. Di sampingnya Arion masih nyenyak tidur dengan guling dalam pelukannya. Dengkuran halus terdengar.
Matahari sudah berada di atas kepala. Saat orang lain sedang istirahat malah Karina baru bangun. Karina mengedarkan pandangannya. Suhu kamar yang sejuk membuat kantuk kembali datang.
"Bangun tidur, tidur lagi," gumam Karina langsung membaringkan lagi tubuhnya dan kembali memejamkan matanya tidur.
Lima menit kemudian, Arion menggerakkan matanya perlahan. Kelompak matanya mulai terbuka. Arion menguap sekali dan mengucek matanya. Tak lama ia bangkit dan menapakan kedua kakinya pada lantai yang beralaskan permadani berwarna biru.
Arion mengedarkan pandangannya mencari alat penunjuk waktu. Itu terdapat di dinding sisi kanan ranjang.
"Gila. Jam 12 siang!"pekik Arion terkejut. Refleks ia menutup mulutnya takut Karina terganggu.
Rekor bangun terlama gue ini mah. Tapi nih istriku kok betah sih? batin Arion, berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati jendela full kaca, tentu saja kaca anti peluru. Menyibak gorden dan menatap aktivitas kota B di tengah hari.
Karena hotel ini terletak di pusat kota B dan termasuk salah satu bangunan tertinggi jadinya bisa melihat hal itu dengan jelas.
Puas melihat itu, Arion melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Berniat menyegarkan tubuhnya agar kantuknya pergi dan kembali saat malam.
Di bawah guyuran air shower, Arion termenung. Mengingat kembali perkataan Li mengenai Karina. Kata penyakit jiwa ini sangat mengusik Arion. Karina tak pernah menunjukkan gejala atau kelakuan yang melambangkan dia menderita penyakit jiwa.
Setidaknya tidak di hadapannya. Jika benar itu kambuh dalam rentang waktu setahun sekali maka itu berarti dalam lima-empat bulan ke depan tahun ini penyakit jiwa itu akan kambuh.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada masa lalumu, Sayang? Akhirnya aku sadar, di balik kesuksesan pasti ada pengorbanan besar dan sakitnya jatuh bangun. Aku salut padamu. Kau bisa melewatinya walaupun berat. Ibarat berjalan di atas seutas tali, gumam Arion.
Menengadah, mengguyur wajahnya dengan air. Karina, di usia 24 tahun berhasil menguasai pasar dan disegani di dunia bawah.
Selesai mandi, Arion menarik handuk dan menutupi area sensitifnya. Dengan rambut masih basah Arion keluar dari kamar mandi. Mengeringkan kakinya pada keset dan berjalan mendekati ranjang. Duduk di samping Karina yang tidur.
"Aku sepertinya harus mengenalmu lebih dalam lagi. Mencari tahu masa lalumu dan siapa kau sebenarnya. Identitasmu masih misterius bagiku Karina," ucap Arion membenarkan posisi anak rambut Karina.
Meneliti wajah Karina dengan serius. Tatapannya beralih menuju perut datar Karina yang mana di situlah buah hatinya tinggal.
Arion diam dan kembali melamun.
"Hmm … tidak. Aku akan tunggu kau memberitahuku dengan sendiri. Lebih baik sekarang adalah aku mendukung dan menjadi benteng utamamu. Tempatmu mengaduh setelah kepada Tuhan. Aku harus menjaga kondisi psikismu agar penyakit itu tak kambuh," ucap lirik Arion. Ia kembali menatap Karina lalu menunduk mengecup kening Karina.
"Emm?" gumam Karina membuka matanya. Mengerjap merasakan ada sesuatu yang menempel pada keningnya.
"Kamu ngapain?" tanya Karina serak membuat Arion menarik bibirnya.
"Kecup kening," jawab Arion santai.
"Oh. Pakaian kamu kotor ya?" tanya Karina lagi setelah melihat Arion yang hanya berbalut handuk.
"Ya. Begitulah. Aku lupa soalnya. Mandi tapi lupa bawa ganti. Ya itu bau asam," ujar Arion menggaruk kepalanya.
"Kamu masih wangi kok. Keringat kamu aku suka," imbuh Karina menatap Arion dengan senyum manisnya.
"Gombal. Sudah siang. Bangun yuk. Kita pulang," gemas Arion mencubit pipi Karina.
"Enggak papa kan, yang penting kamu suka," ucap Karina mengacak-acak rambut Arion.
"Hmm … aku boleh minta bawahan kamu untuk membelikanku pakaian?" tanya Arion dengan hati-hati.
"Tak perlu. Di walk in closet sudah terdapat baju ganti untuk kita. Kamu lihat gih," ujar Karina yang membuat Arion membulatkan matanya.
"Benarkah?" tanya Arion.
"Ya. Aku menyuruh manager bagian busana hotel untuk menaruh beberapa baju ganti di sana," jawab Karina. Memang benar.
Semua dalam perkiraan Karina. Pulang menjelang pagi dan pasti tak bisa langsung kembali ke rumah membuat Karina memutar otak dan menyuruh bawahannya di Tirta Hotel kota B mempersiapkan pakaian untuknya dan suami serta para bawahannya.
"Baiklah," ujar Arion beranjak mendekati walk in closet dan membukanya. Tersenyum lebar mendapati apa yang butuhkan sekarang.
Karina lantas bangkit dan mandi. Selesai mandi segera berpakaian. Karina mengajak Arion turun menuju restoran yang terletak di lantai bawah. Ternyata para bawahan Karina sudah berada di sana semua. Menikmati sarapan bersamaan dengan makan siang.
Mereka menunduk hormat saat Karina memasuki restoran. Karina mengangguk membalas hormat bawahannya.
Li, Gerry, Rian dan Satya satu meja. Meja besar itu mampu menampung 6 orang. Artinya masih ada dua kursi kosong. Karina memutuskan mengambil tempat di sebelah Li dan Arion mengambil tempat di sebelah Rian. Yang pasti Arion dan Karina duduk bersebelahan.
Pelayan segera datang, mempertahankan sikap santai namun hormat pada atasan terutamanya ini.
__ADS_1
Selepas makan siang, mereka berbincang singkat. Membahas masalah perundingan tadi.
"Li, salah satu syaratnya adalah kau menikah dengan Elina. Apa kau mau?" tanya Karina yang membuat Li tersedak. Begitupun tiga rekannya. Arion pun ikut terkejut.
"Queen … ada mau mengorbankan saya untuk bergabung dengan mereka? Anda tahukan adat mereka terhadap kami para lelaki?"
Li menyahut dengan memelas. Memang ada benih cinta yang tumbuh dalam hati, tetapi apakah harus secepat itu? Malah dia yang dilamar, bukan dia yang melawar.
Elina secepat itukah jatuh hati padanya? Oh … cinta pandangan pertama namun terhalang adat. Teringatlah Li lirik lagu isabela.
Karina tersenyum simpul. Gerry, Rian dan Satya iba dan merasa kasihan. Menatap Li dengan tatapan sedih. Demi bergabung Li apakah harus dikorbankan?
"Aku tahu. Tapi akan ku usahan adat itu di ubah. Kau tenang saja Li. Aku tak akan membiarkan wanita itu memperlakukanmu ibarat habis manis sepah dibuang," papar Karina serius.
Dia bukan orang bodoh menyerahkan bawahannya untuk itu. Jika bisa sebisa mungkin Karina memberikan yang terbaik bagi para bawahannya, seperti para bawahannya yang sepenuh hati mengikuti dan melayaninya.
"Maksudnya kau mau mengubah adat itu? Aku rasa itu tidak mudah Karina. Lagipula mereka tak punya keyakinan," ujar Arion.
"Benar Queen. Jika anda berniat merubah adat otomatis sistematis susunan dalam kelompok itu juga berubah," timpal Rian.
Karina tetap tersenyum.
"Anda mau mengubah adat dan membawa mereka masuk Islam Queen?" tanya Gerry.
"Elina sudah setuju. Tinggal bermasalah pada ibunya saja. Besok mereka akan ke markas pusat untuk membahas itu," ucap Karina menjawab pertanyaan mereka.
"Tapi Queen, besok adalah acara pernikahan Lila dan Raina. Apa tidak terlalu mepet. Secara saya adalah wali untuk Lila dan Raina," ujar Gerry lagi.
Lila dan Raina juga adalah anggota Pedang Biru, namun lebih banyak berkecipung dalam perusahaan daripada mafia.
Mereka bukan hanya terikat satu organisasi tetapi juga terikat satu keluarga, satu kartu keluarga. Di mana Gerry, Li, Raina dan Lila adalah satu kartu keluarga sebagai saudara, kakak beradik. Sedangkan Trio tampan juga satu kartu keluarga. Li sebagai yang teratas dalam kartu keluarga.
"Kalian akan tetap dalam acara itu. Aku akan pergi setelah ijab qabul selesai," jawab Karina meyakinkan mereka.
"Baiklah. Semua dalam pikiran Anda," ujar Gerry.
"Kau yang terbaik," puji Arion menggenggam jemari Karina. Karina tersenyum manis.
Semuanya mengangguk. Bersiap menuju mobil. Berhubung mereka tak membawa barang, hanya baju yang melekat pada tubuh, baju kotor serta alat komunikasi, untuk ini pasukan elit tak membawanya.
Iring-iringan mobil Karina dan bawahan segera meninggalkan Tirta Hotel setelah petinggi hotel berdiri tegak hormat di lobby melepas kepergian Karina dan rombongan.
Perkiraan tiba di kediaman Wijaya adalah pukul 15.30. Karina langsung melajukan mobil pulang ke kediaman Wijaya, tidak mampir lagi di markas.
***
Meleset 30 menit dari perkiraan. Pukul 16.00 si putih memasuki halaman kediaman Wijaya. Dengan saling berpegangan tangan mereka memasuki rumah. Terdengar suara ricuh dari arah teras samping. Dekat dengan kolam renang.
"Kok banyak suara anak kecil sih? Mama sama Papa mana lagi?"
Arion bertanya yang dijawab gelengan Karina.
"Mana aku tahu. Mungkin saja itu Bayu sama teman-temannya. Kalau Mama sama Papa mungkin saja keluar atau ke kantor. Hmp … pasti mereka berdua ngira kamu ganggu aku tadi malam, sampai kita bangun telat."
Karina menjawab sekenanya. Arion mendengus. Ia berjalan ke arah sumber suara.
Karina mengikut. Dia berhenti di samping Arion dan telah sampai di tujuan.
"Bayu?" panggil Karina yang membuat Bayu menoleh.
"Eh? Kakak sudah pulang?" kaget Bayu.
"Kamu ngapain? Dan mereka siapa? Kalau Lia kakak kenal, tapi mereka?" tanya Karina menunjuk Lia dan empat orang lainnya.
"Kami ada tugas menari kak. Dalam bentuk kelompok dan tari berpasangan," jelas Bayu melirik Lia sinis.
"Oh. Ya sudah baik-baiklah berlatih. Ingat waktu. Sudah petang. Apa orang tua kalian tak khawatir?" ucap Arion memperingatkan.
Arion dan Karina kemudian menuju kamar mereka. Bayu dan teman-temannya duduk di pinggir kolam renang. Lia duduk di samping Bayu. Bayu dan Lia menjadi pasangan dalam tarian ini.
Tak berapa lama, satu persatu teman-teman Bayu pulang dijemput oleh jemputan mereka. Baik orang tua maupun sopir mereka.
Tinggallah Bayu dan Lia berdua.
__ADS_1
"Bayu, kamu kok jutek banget sih? Daritadi gerakannya tak pernah serius. Kamu gak suka pasangan sama aku?" tanya Lia kesal. Bayu melirik sekilas.
"Haruskah ku jawab? Kamu pasti tahu kan?" tanya balik Bayu dengan nada dingin khasnya.
Mata Lia memanas, ia selalu berusaha membuat Bayu suka dengannya setidaknya tersenyum dan membalas sapaannya setiap pagi saat di sekolah. Tapi wajah jutek Bayu yang selalu ia dapat.
"Bayu, kamu enggak suka sama aku?" tanya Lia berusaha menahan tangisnya.
"Menurutmu?"
lagi-lagi pertanyaan balik. Lia berdiri dan mengepalkan tangannya.
"Bayu kamu tahu gak aku suka sama kamu? Aku cuma mau dekat sama kamu, kamu balas senyum dan sapaan aku. Tapi kamu dingin sekali," teriak Lia menatap Bayu yang menunjukkan ekspresi datarnya. Memutar bola matanya malas.
"Ya jangan berharap balasan. Ingat saja salam, sapa dan senyum adalah imbauan guru," jawab santai Bayu.
"Kami ini gunung es ya?" tanya Lia dengan nada rendah.
"Iya. Aku gunung himalaya. Kamu siap-siap saja beku dekat terus sama aku," ketus Bayu.
"Kamu! Lihat saja. Suatu hari kau akan jatuh cinta padaku dan memohon untuk bersamaku. Ingat saja! Akan ku buat kau bertekuk lutut padaku!" seru Lia mantap dengan sepenuh keyakinan. Semangat membara meluluhkan gunung es ini ia kobarkan. Kilatan api membara menyala di matanya.
"Terserah!" ucap malas Bayu.
Lia menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan kolam renang sebab jemputannya sudah datang.
"Aku ingin cepat dewasa. Dunia anak kecil sungguh ribet!" gerutu Bayu berdiri dan menuju kamarnya.
Tanpa ia sadari, ada dua pasang mata yang melihat kejadian itu. Siapa lagi kalau bukan Amri dan Maria yang baru kembali dari perusahaan berbarengan dengan pulangnya anak terakhir kecuali Lia yang masih duduk.
"Cinta anak kecil emang ribet ya Pa?" tanya Maria berbisik pada Maria. Mereka mengintip melalui tirai di sudut ruang namun masih bisa melihat dan mendengar jelas percakapan Bayu dan Lia.
"Hmm … mungkin saja Bayu akan jadi bucin nantinya. Tinggal tunggu waktunya saja," sahut Amri.
Mereka kemudian beranjak menuju kamar dan membersihkan diri.
***
Pukul 20.00, Amri, Maria, Arion, Karina dan Bayu berkumpul di meja makan. Mereka tengah menyantap makan siang.
Terlihat Amri dan Maria saling lirik dan menatap curiga Arion dan Karina. Uniknya jika Karina membalas lirikan itu, Amri dan Maria akan membuang muka atau menunduk.
Hadeh. Mama dan Papa wartawanku siap dengan sejuta pertanyaan. Semoga saja Karina tetap santuy menanggapinya, batin Arion.
Akhirnya makan malam pun berakhir. Mereka berpindah ke ruang keluarga. Bertemankan dengan sinetron yang membuat greget habis dan membuat mulut mengeluarkan sumpah serapan dan kritikan.
"Tanyakan saja apa yang ingin Mama sama Papa tanyakan," ucap Karina menatap Amri dan Maria. Amri dan Maria tersentak ke belakang. Mereka tersenyum canggung. Jiwa kepo mencuat setelah mendapat lampu hijau.
"Dari mana kalian? Pergi tengah malam, pulang petang," tanya Maria dengan tatapan penuh selidik.
"Kota B," jawab Karina jujur.
"Ngapain? Apa gak ada waktu sampai pagi? Tengah malam loe kalian pergi. Kan pernah Papa bilang jangan keluar tengah malam," kesal Amri.
"Apa wanita ngidam bisa menunggu Pa? Ma? Pasti mama dan papa tahu apa jadinya jika keinginan ibu hamil tak terpenuhi. Katanya juga ngaruh sama jabang bayi," jelas Arion. Membuat Amri dan Maria membelakan matanya. Karina? Santuy saja mengikut alur.
"Karina, Sayang kamu ngidam?" tanya Maria berbinar.
"Iya Ma," jawab Karina dengan senyum menawannya.
"Wah … ngidam apa?" tanya Amri antusias.
"Ngidam tidur di Tirta Hotel kota B Pa," jawab Arion.
"Loh? Kok gitu?" heran Maria.
"Namanya juga ibu hamil Ma. Kalau gak aneh enggak ngidam namanya," sahut Arion santai menatap Karina.
"Iya juga ya. Mama lupa," kekeh Maria menepuk dahinya. Amri ikut terkekeh dan semuanya terkekeh.
"Agaknya jika anak kalian lahir namanya harus berinisial B," celetuk Amri.
"Iya juga," sahut Amri. Mereka kembali tenggelam dalam pembicaraan sampai pukul 22.00. Mereka beranjak menuju kamar masing-masing dan seketika menuju alam mimpi.
__ADS_1