
Ballroom Tirta Hotel tempat pernikahan Emir dan Aleza akan berlangsung sudah ramai dengan para tamu undangan. Tempat duduk yang disediakan sudah penuh, sebentar lagi akad akan berlangsung.
Tuan Muda Kasino Heart of Queen juga telah hadir, tentu saja dengan keluarga mereka. Keluarga Anggara, Alantas, Siska, Ferry, Helian, juga jajaran anggota penting baik Pedang Biru maupun KS Tirta Grub juga turut hadir menyaksikan acara akad.
Di meja tempat akad akan berlangsung, sudah duduk Emir, Osman, penghulu, juga wali nikah yang ditunjuk oleh kementrian agama sebagai wali Aleza.
"Karina, mana pengantin wanitanya? Mengapa belum keluar juga?" Marlena, ibu dari Elina, bertanya dengan wajah tak sabar, menepuk pundak Karina dari belakang. Karina menoleh ke samping.
"Pengantin wanitanya keluar setelah akad berlangsung," jawab Karina.
"Bolehkah begitu?" Marlena merasa heran. Dahinya mengeryit tipis.
"Tentu." Karina tersenyum.
"Baiklah." Karina kembali melihat ke depan. Arion membawa tangan Karina ke bibir, mencium punggung tangan Karina dengan lembut.
"Jadi teringat pernikahan kita dulu," bisik Arion.
"Aku juga. Tak terasa sudah tujuh tahun kita menikah," balas Karina, menatap lembut Arion.
Ehem.
Ehem.
"Jaga sikap dong di depan jomblo," sindir Enji yang gerah melihat kemesraan Arion dan Karina yang tidak mengenal tempat.
"Makanya cepat cari gandengan, Paman!" Bintang membalas. Enji tertohok dengan ucapan Bintang.
"Semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan. Jodoh Paman mungkin masih dalam perjalanan," ujar Bima.
"Mending, kalau masih dalam proses?" Bima menanggapi.
"Wah kalau masih dalam proses, berapa tahun lagi Paman Enji menunggu? Keburu jadi pria tua," celetuk Bara. Mata Enji membulat, bibirnya terasa keluh ingin membalas ucapan anak-anak itu.
"Tapi melihat wajah Paman, umur tua pasti tidak ketara. Wajahnya masih wajah bayi," tutur Bahtiar.
"Kamu benar!" Enji mengangkat kedua jempol tangannya untuk Bahtiar.
"Jadi … Paman cepatlah cari gandengan!" Brian menyimpulkan semua ucapan kakak dan adiknya.
"Shut, akadnya mau dimulai," tegur Karina. Keenam anak itu langsung duduk tenang, perhatian fokus ke arah Emir yang sudah menjabat tangan wali hakim.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan Aleza Hinata, anak perempuan Dave Hinata sebagai orang yang mewakilkan kepadaku dengan mahar sebesar 100 gram emas tunai!"ucap wali hakim.
"Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya, dengan mahar yang telah disebutkan!"jawab Emir lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Penghulu bertanya pada semua hadirin.
"SAH!"
Gemuruh suara mengucapkan sah berikut dengan ucapan syukur terdengar begitu semangat. Emir tersenyum lebar. Akhirnya, Aleza telah sah dan halal untuknya. Bacaan doa dilantunkan, diakhiri dengan ucapan "aamiin".
Selanjutnya mempelai wanita dipersilahkan masuk ke Ballroom. Pintu terbuka lebar, langkah yang pertama masuk adalah Sasha. Langkah kedua adalah Aleza yang digandeng dengan Elina dan Mira sedangkan langkah ketiga adalah Lila dan Raina. Melangkah perlahan melewati red carpet, senyum mengembang dengan sorot mata bahagia. Tatapan Emir lekat menatap Aleza yang berbalut gaun putih keemasan serta penutup kepala dan wajah.
Kini Aleza didudukkan di samping Emir. Pengiring menjauh dan duduk di tempat masing-masing. Saat berselisih tatap dengan Karina, kelima wanita itu bergidik ngeri. Karina mengeryit tipis dengan tetap tersenyum tipis pada mereka. Arion yang menangkap hal tersebut langsung bertanya.
"Mengapa tatapan mereka begitu? Seakan kau hendak memangsa mereka." Karina menaikkan bahunya.
"I don't know."
"Ah nanti juga akan ketahuan," lanjut Karina.
Dengan lembut, Emir menaikkan kain putih yang menutupi wajah Aleza. Emir tercengang sejenak menatap wajah Aleza. Satu kata, sempurna. Make up yang sangat cocok, bibir kemerahan begitu menggoda, tahapan mata yang lembut namun tegas membuat jantung Emir berdegup kencang. Jika bukan karena teguran penghulu untuk Aleza mencium punggung tangan Emir, pasti Emir sudah merenggut bibir itu dalam kendalinya. Emir menelan ludah pelan, memejamkan mata kala bibir Aleza menyentuh kulitnya.
Cukup lama Aleza mencium tangan Emir, air matanya luruh. Sekarang berakhir sudah masa single nya. Kini ia sudah menyandang status seorang istri, berikut dengan kewajibannya pada suami.
Babak baru hidupnya telah dimulai, meninggalkan rumah pergi ke rumah suami. Aleza berharap ini adalah pernikahan pertama dan terakhirnya, bersama hingga akhir, bersama-sama menjalani suka duka sebuah rumah tangga.
Aleza membuka matanya saat merasakan sesuatu menempel pada keningnya. Emir mencium keningnya, sangat lembut seolah dirinya adalah kaca yang rapuh.
Fotografer sibuk mengabadikan moment tersebut. Osman yang merasa sedikit risih, berdehem agar pasangan baru itu segera selesai.
"Aku berjanji, akan jadi istri yang baik dan hebat untukmu," ucap Aleza bersungguh-sungguh.
"Aku juga berjanji akan jadi seorang suami yang sempurna untukmu. Aleza kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku, aku mencintaimu," ucap Emir.
__ADS_1
"I love you too."
"Tuan, silahkan memasang cincin di jari manis istri Anda," ucap penghulu. Emir meraih kotak cincin di atas meja, membuka dan menyematkan cincin di jari manis Aleza. Cincin berwarna putih dengan permata berwarna biru muda begitu cantik melingkar di jarinya.
Sekarang giliran Aleza. Emir menatap lekat wajah serius Aleza.
"Emir apa kau tidak mengukur jarimu sebelum membeli?" Aleza mengangkat pandangannya, menatap Emir heran.
"Maksudnya?" Tatapan Emir tetap pada Aleza.
"Cincinnya nggak muat di jari manismu," ucap Aleza, kembali mencoba memasukkan cincin tapi tertahan di pertengahan.
Karina dan lainnya saling tatap, heran juga geli dengan Emir. Bukannya panik, para tamu malah tertawa pelan.
"Benarkah?" Emir tampak acuh dan tetap menatap lekat Aleza.
"Iya."
"Rayan bukannya semua sudah sesuai?" Osman menatap Rayan yang juga tampak bingung.
"Mungkin tokonya salah ngasih," ucap Rayan.
"Yang benar saja?!" Osman tampak frustasi. Berbeda dengan wali hakim dan penghulu yang menonton kedua insan itu.
"Jika begitu pasangkan saja di jari kelingking," ujar Emir.
"Memang bisa?"
"Tidak ada yang melarang."
"Baiklah." Cincin tersebut pas di jari kelingking Emir.
"Alhamdullilah!"seru Aleza lega. Helaan nafas lega dan tepuk tangan meriah langsung meledak.
*
*
*
Osman malah melamun mengingat kebersamaannya dengan istri-istrinya dulu. Karina berpisah dari Arion. Karina sibuk berbincang dengan duta dua negara, sedangkan Arion mengobrol dengan Sam dan Calvin. Tiga keluarga besar juga saling berbincang.
"Jadi Presdir, kedutaan mengundang Anda menjadi salah satu delegasi ke Maroko yang akan dilaksanakan dua minggu dari sekarang, apakah Anda bersedia?"
"Delegasi ke Maroko? Aku menolak," jawab Karina langsung.
"Baiklah. Tapi apa alasannya?" Duta itu harus tetap sopan. Karina adalah pemegang kendali ekonomi negara ini.
"Aku tidak bermaksud menyinggung kedutaan. Juga tidak berniat merendahkan kedutaan, hanya saja Anda tahu sendiri kesibukan saya. Saya bukan hanya seorang CEO akan tetapi juga seorang istri dan ibu. Terlebih di jadwal kepergian itu, saya ada acara penting," papar Karina. Menatap bergantian anak-anak dan suaminya. Arion yang menyadari ada yang menetap dirinya, membalas tatapan Karina. Keduanya bertemu pandang, saling melempar senyum.
"Ah kami hampir lupa. Untung saja Presdir mengingatkan." Tertawa pelan sembari menepuk dahi. Karina kembali fokus pada perbincangan.
"Sayang sekali Anda tidak bisa ikut. Padahal kedutaan kami sangat berharap Anda bisa ikut," ucap duta Maroko.
"Mungkin lain kali saya bisa ikut. Maafkan saya, saya benar-benar sibuk," ucap Karina, dengan nada menyesal.
"Tidak apa. Mungkin di lain kesempatan keinginan itu akan terwujud."
"Saya memang tidak bisa ikut akan tetapi salah satu anggota saya bisa ikut," ucap Karina.
"Anda memang cekatat, Presdir. Saya setuju dengan Anda."
Karina memalingkan wajah menatap satu persatu tangan kanannya. Li, Gerry, Aldric, Helian, dan beberapa orang lain. Baru saja Karina ingin memanggil salah satu dari mereka, ada yang menyela.
"Saya akan pergi sebagai delegasi!" Enji berdiri di samping Karina, berjabat tangan dengan kedua orang itu.
"Kau ingin pergi?" Enji mengangguk.
"Tentu saja. Siapa tahu pulang-pulang aku bawa gandengan," ucap Enji.
Karina menyipitkan mata, Enji tertawa.
"Aku bercanda. Aku akan pergi mewakili kakak. Aku juga butuh pengalaman di bidang politik," ucap Enji.
"Ini?"
__ADS_1
"Perkenalan ini adikku, Enji Tirta Sanjaya."
"Tuan Enji Tirta Sanjaya? Presdir BE corp?"
Enji mengangguk mantap. Decak kagum terdengar dari duta tersebut.
"Hahaha ini sempurna. Selamat bergabung, Tuan Enji." Keduanya kembali berjabat tangan.
"Berbincanglah, saya akan menemui anak-anak saya," ucap Karina, menepuk pundak Enji lalu undur diri.
"Mama!" Keenam anak yang sibuk bercengkrama dengan anak-anak tangan kanan Karina segera menatap Karina.
"Queen!"sapa anak-anak tangan kanan Karina.
Karina mengangguk.
"Mama setelah ini ada acara apa?"tanya Bintang penasaran.
"Kalau tidak salah setelah makan siang adalah pesta dansa. Kenapa?"
"Dansa? Tari berpasangan kan?" Bintang langsung bersemangat.
"Ya, benar."
Hehehe.
Bintang tersenyum lebar. Karina menebak ada yang Bintang inginkan dan dipastikan akan berhasil.
"Mama mengapa ayah Emir tampak kaku gitu?"ucap Brian menunjuk Emir yang tampak bingung berbincang dengan tamu yang menghampiri mereka.
"Helian?"gumam Karina dengan alis terangkat.
"Uh omong kosong apa yang Paman Helian katakan?" Bima menatap Helian curiga.
"Mama kami ke sana dulu. Pengganggu harus ditertibkan!"ucap Biru, langsung menuju pelaminan diikuti oleh saudara-saudaranya.
Karina menghela nafas pelan. Memilih duduk dan mengamati keenam anak itu.
"Ali di mana Mama dan Papamu?"
"Tadi sih katanya mau persiapan tampil, Queen."
"Tampil? Huh mereka sangat aktif!" Karina mendengus senyum.
"Gibran, panggil mamamu kemari," ucap Karina. Gibran mengangguk, segera memanggil Joya.
Karina lantas memangku Azura, anak itu tampak sangat tenang dalam pangkuan Karina.
"Zura apa hubungan orang tua kalian baik-baik saja?"tanya Karina sembari mencubit pelan hidung Azura.
Azura mengangguk.
"Cuma sering bertengkar ringan saja, Queen."
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu, Dylan?" Anak laki-laki itu tampak muram. Matanya menunjukkan kesedihan, tangannya mengepal erat.
Karina menatap Azura. Azura menggeleng tidak tahu.
"Papa sama Mama sering bertengkar, Queen." Anak itu berbicara sembari menahan tangis. Karina yang menangkap apa yang disampaikan selanjutnya pasti tidak mengenakan langsung menurunkan Azura, menggandeng lengan keduanya menuju sebuah ruangan.
"Kemarilah." Dylan memeluk Karina, anak itu menangis hebat. Mata Karina berkilat marah pada Satya dan Riska. Azura duduk di samping Karina, mengamati keduanya dengan wajah penasaran.
"Tenanglah. Tenang, jangan menangis. Ceritakan padaku apa yang terjadi."
"Papa … Papa main tangan sama Mama." Satu kalimat itu berhasil menaikkan darah Karina. Karina memejamkan mata menahan emosi.
"Apa Dylan tahu apa sebabnya?"
"Papa nggak setuju Mama kerja jadi dokter. Papa maunya Mama berhenti kerja tapi Mama nggak mau." Dengan terbata-bata Dylan menjelaskan, masih diiringi tangisnya. Karina tersenyum lembut, mengusap pipi Dylan yang basah dengan air mata.
"Sudah jangan menangis. Aku akan menyelesaian masalah orang tuamu. Minumlah dulu." Dylan meminum air yang Karina sodorkan.
Mereka bersandiwara? Heh ku kira hubungan mereka baik-baik saja. Anak ini sudah tahu, kasihan harus tersiksa dengan kelakuan dua manusia itu!
"Queen bisa membuat Mama sama Papa baikan? Nggak bakal berantem lagi?" Mata Dylan menunjukan harapan yang besar. Karina mengangguk, mengusap lembut kepala Dylan.
__ADS_1
Masalah pasti nggak jauh - jauh dari cemburu. Awas kalian!