
Satya masuk ke dalam kamarnya dengan mulut menguap ngantuk. Satya mengira Riska sudah tidur dengan lampu kamar yang tidak menyala. Namun ternyata perkiraannya meleset. Lampu kamar memang tidak menyala tapi lampu belajar menyala.
Satya mendapati Riska tengah menulis di meja belajar. Terlihat sangat serius hingga kedatangan Satya tidak diketahui olehnya. Satya menggeleng pelan, melangkah menghampiri Riska.
Satya mengintip apa yang sedang Riska kerjakan dari belakang. Satya mengernyit tipis melihat tulisan Riska.
"Apa yang sedang kau kerjakan?"tanya Satya menunduk, memposisikan kepalanya di samping pipi Riska.
Riska terkejut dan menoleh ke samping.
Cup.
Riska malah tanpa sengaja mencium pipi Satya. Keduanya sama-sama terkejut. Keduanya saling tatap. Riska mengerjap cepat sedangkan Satya menyentuh pipi yang dicium oleh Riska tadi.
"Ah … maaf Kak. Aku tidak sengaja," ucap Riska cepat setelah sadar, menunduk dengan wajah memerah malu.
"Mengapa minta maaf? Apa kesalahan yang kau lakukan padaku?"sahut Satya tersenyum.
Ia berpindah posisi, berdiri di samping Riska.
"Itu … tadi aku kaget jadinya enggak sengaja nyium Kakak. Kakak pasti kaget, kan?" jawab Riska gugup, tetap menunduk menaikkan jemari tangan.
Satya tetap tersenyum, memutar kursi belakang Riska agar menghadap padanya. Satya membungkuk sedikit, memegang dahi Riska, menaikkan pandangan agar mata Riska menatap matanya.
"Kau ini memang polos atau bagaimana?"heran Satya.
Riska menatap Satya tidak mengerti.
"Kita ini pasangan suami dan istri. Kontak fisik itu wajar. Ingat ini, aku milikmu dan kau milikku. Jangankan mencium pipi, mencium seluruh tubuhku pun tidak masalah," tegas Satya.
"Mencium seluruh tubuh?"
Wajah Riska langsung memerah padam. Pikirannya sudah traveling kemana-mana.
"Hm," sahut Satya singkat.
Satya mengalihkan tatapannya kepada buku dan alat tulis di meja. Riska langsung menunduk dalam ketika dahunya dilepas.
"Kau belum tidur karena ini?"
Satya mengambil buku tulis yang tadi digunakan Riska untuk menulis.
"Iya," jawab Riska pelan.
"Catatan hari cutimu?"tanya Satya lagi.
"Iya. Sekolahku punya pemeriksaan catatan yang ketat. Besok ada mata pelajaran ini, jadi aku harus menyelesaikan malam ini," jawab Riska, meremas ujung baju.
"Aku tahu. Tapi sekarang sudah tengah malam. Sebaiknya kau istirahat agar besok kau semangat belajar," ujar Satya dengan tatapan masih pada buku yang ia pegang.
"Aku akan tidur setelah menyelesaikannya, Kak. Enggak banyak lagi kok tinggal dua lembar," tolak Riska.
Satya memberikan tatapan tajamnya pada Riska.
"Istirahatlah. Aku akan menyelesaikannya," ujar Satya lagi, tegas dengan sorot mata tidak terbantahkan.
Riska menelan ludah gugup.
"Ba-baiklah," jawab Riska, bangkit dari kursinya dan berjalan lambat menuju ranjang.
Satya tersenyum dan langsung duduk di kursi belajar.
Riska menatap Satya dalam diam. Perasaannya campur aduk, tapi kebanyakan rasa senang. Riska tersenyum melihat punggung Satya yang menunjukkan pemiliknya tengah serius.
Ia memang sudah lelah mencatat dan mengerjakan soal dari tadi siang. Dua hari cuti tugas sekolah sudah menumpuk. Selain itu Riska juga harus belajar untuk ujian masuk universitas. Jurusan yang ingin ia tuju termasuk jurusan yang terkenal sulit juga mahal, jurusan kedokteran.
"Kak," panggil Riska pelan tapi terdengar jelas oleh telinga Satya.
"Hm," sahut Satya.
"Kalau boleh tahu Kakak dulu SMA di mana?"tanya Riska penasaran.
__ADS_1
"Kita satu almamater. Aku seniormu," jawab Satya tanpa berpaling menatap Riska.
"Berarti Kakak tahu tentang sekolahku?"tanya Riska lagi.
"Tentu saja. Sekolahmu itu bukan hanya tempat menimba ilmu tapi medan perang lingkup kecil," jawab Satya.
Riska diam. Sekolahnya memang sekolah terbaik di negara ini. Para pengajar di sekolahnya adalah lulusan terbaik universitas-universitas ternama baik dalam maupun luar negeri.
Sedangkan yang diajar adalah anak-anak yang orang yang berpengaruh dan terpandang. Intinya adalah sekolah untuk orang-orang yang berdompet tebal. Walaupun begitu, sekolah ini juga punya program beasiswa untuk anak yang cerdas tapi tidak mampu.
Satya mengatakan medan perang lingkup kecil bukan tanpa alasan. Semua murid mempunyai ambisi yang besar.
Persaingan terlihat jelas. Segala trik ada di dalamnya. Di sana bukan hanya dididik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan tetapi juga mental, cara berpikir untuk bekal hidup di masyarakat yang terkenal keras. Terlebih banyaknya anak pejabat yang di masa depan diprediksi sebagai pengganti orang tua mereka. Mereka digembleng dengan metode khusus.
*
*
*
Seminggu berlalu begitu cepat. Joya sadar empat hari yang lalu. Artinya Joya tidak sadarkan diri selama kurang lebih lima hari. Selama itu, Darwis tidak pernah tenang.
Setelah pemantauan selama tiga hari yang lalu. Tim dokter memutuskan untuk melakukan operasi hari ini, pukul 20.00 nanti.
Akan tetapi waktu yang ditetapkan harus melesat menjadi pukul 16.00 karena kontraksi yang Joya rasanya, disusul dengan air ketuban yang telah pecah.
Joya sedikit lega karena anaknya lagi memang sudah pada waktunya.
Darwis menemani Joya di ruang operasi. Menyemangati Joya yang diam merasakan bagian perutnya dibelah untuk mengeluarkan anaknya. Joya hanya bisa merasakan gerakkannya tidak dengan rasanya. Tubuh bagian bawahnya sudah dibias, mati rasa.
Darwis menggenggam erat jemari Joya, meramalkan doa di dalam hati.
Darah dan cairan infus masuk dengan lancar ke dalam tubuh Joya. Selang oksigen berada di hidungnya. Joya merasa tubuhnya semakin melemah.
Lengan Darwis terlihat bekas guratan panjang, juga ada bekas gigitan. Itu adakah bekas pelampiasan sakit yang Joya rasakan. Joya berusaha untuk tetap sadar di momen yang mengharukan dan membahagiakan ini. Ia ingin melihat anaknya lagi.
Darwis sendiri merasa ngilu melihat dokter bekerja mengeluarkan anaknya. Pisau dan gunting silih berganti membelah perut sebagai jalan keluar. Darah segar terlihat jelas mengotori sarung tangan dokter dan suster.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter berhasil mengeluarkan buah cinta Darwis dan Joya.
"Dia … lahir? Anakku lahir?"
Seorang bagi laki-laki yang tampan walau masih berlumuran darah. Tangis bayi tersebut langsung pecah memenuhi ruang operasi.
Sampai-sampai Satya dan Riska yang menunggu di luar berdiri dan saling tatap tidak percaya.
"Itu suara bayi kan?"tanya Satya dengan mata berharap.
Riska mengangguk.
"Kak Joya berhasil. Tangisnya nyaring sekali," ujar Riska.
Satya langsung memeluk Riska, meluapkan perasan bahagia karena ia sudah resmi menjadi seorang paman.
Di dalam, Darwis sangat berhati-hati menggendong putranya yang baru lahir. Tentu saja sudah dibersihkan dan dibungkus dengan kain.
Senyum Joya terus mengembang sejak mendengar suara tangis anaknya.
Dengan tangan gemetar Joya menyentuh pipi dan lengan anaknya. Air mata bahagia turun tanpa diminta. Bibir Joya bergetar bahagia. Sungguh ini adalah hari terindah setelah hari pernikahannya.
"An-anakku," panggil Joya dengan bibir yang bergetar.
"Anak kita tampan sekali," ujar Darwis.
"Tapi mengapa warnanya kemerahan?"heran Joya.
"Tangannya kecil sekali. Aku takut untuk menyentuhnya," lanjut Joya.
"Sudah kau azani?"tanya Joya lagi.
Rasa sakit yang selama ini ia rasakan seakan terangkat melihat senyum putranya dan mendengar tangisnya.
__ADS_1
Darwis menggeleng pelan. Ia lupa sangking bahagianya.
Darwis kemudian mendekap bayinya lembut di dada. Mendekatkan bibirnya ke telinga sang anak. Mengumandangkan azan dengan lembut. Hati Joya menghangat. Ia sangat bersyukur Tuhan memberikan waktu sampai putranya lahir.
Joya merasa tidak punya penyesalan lagi dalam hidupnya. Penyesalannya hanyalah satu yaitu merasa menyesal tidak bisa menemani putranya di dunia ini.
Senyum Joya tetap mengembang. Matanya yang semula tertuju pada Darwis dan putranya kini menatap ke atas, matanya perlahan menutup.
Diikuti dengan tangan yang memegang lengan Darwis jatuh. Tim dokter langsung panik ketika mesin-mesin yang menunjukkan detak jantung Joya berbunyi nyaring, garis yang bergerak naik turun berubah menjadi lurus.
Darwis langsung menoleh menatap wajah sang istri yang menutup maya tersenyum. Melihat detak jantung Joya yang berhenti berdetak.
"Tidak! Jangan!"ucap lirik Darwis tidak terima.
Suster mengambil alih anaknya, membawanya ke ruangan khusus bayi. Darwis langsung mengguncang tubuh Joya.
"Tidak! Jangan tinggalkan kami. Kami membutuhkan dirimu. Joya, Sweetheart, aku tahu kau tidak akan menyerah. Aku tidak mengizinkanmu meninggalkan kami. Jangan pergi. Ku mohon, tetaplah bersama kami," raung Darwis menangis.
Dokter yang kini berusaha mengembalikan detak jantung Joya menghela nafas kasar.
"Istri Anda telah berpulang, Tuan."
Seluruh staf medis yang berada di ruang operasi menunduk turut berduka cita.
"Diam kalian!"bentak Darwis.
"Sweetheart, ku mohon. Jangan pergi! Kembalilah! Jangan tinggalkan kami! Aku tidak sanggup tampamu, Joya!"
Darwis berlutut dengan kepala bertumpu pada brangkar Joya.
"Tuhan … ku mohon jangan ambil isteriku dari sisiku. Ku mohon beri kami kesempatan untuk bersama-sama membesarkan anak kami. Tuhan aku mohon kembalikan isteriku," ucap Darwis lemah.
"Tuan … Anda harus tegar. Nyonya sudah tenang di alam sana," ujar dokter.
"Keluar kalian! Jangan ganggu aku dan isteriku!"
Tapi para dokter tetap diam di tempat. Memilih diam melihat Darwis yang menumpahkan kesedihannya.
"Joya kembalilah. Jangan pergi. Aku tidak mengizinkanmu pergi!"
Kebahagian dan kesedihan melanda Darwis secara bersamaan. Darwis seakan kehilangan semangat hidupnya. Tatapan matanya menjadi kosong. Kehilangan wanita yang sangat ia cintai sangatlah berat.
Saat Darwis sudah berada di ujung rasa putus asa, Tuhan menunjukkan kuasanya. Garis yang tadinya lurus kini kembali bergerak naik turun walaupun lemah diikuti suara mesin yang kembali terdengar.
Darwis mengangkat wajahnya. Menatap Joya dan mesin bergantian. Tim medis sontak langsung kembali menanggapi Joya.
"Ini keajaiban. Terima kasih, Tuhan," ucap tim medis bersyukur.
"Terima kasih, Tuhan," ucap lirik Darwis mengecup punggung tangan Joya.
"Tuhan mendengarkan doa Anda, Tuan."
Terima kasih. Terima kasih banyak.
Darwis kemudian diantar keluar oleh perawat setelah mencium kening Joya. Di luar, Satya dan Riska menunggu tidak sabar. Satya langsung memapah Darwis yang keluar dengan lemah tapi wajah yang menyiratkan kebahagian.
"Bagaimana keadaan Joya? Aku mendengarmu berteriak histeris," tanya Satya.
"Tadi malaikat maut sempat membawa Joya pergi tapi sang pencipta memberi kami kesempatan untuk bersama lebih lama lagi. Aku lega, Joya selamat," jawab Darwis.
"Syukurlah," ucap lega Satya.
"Minum dulu, Kak."
Riska menyodorkan botol minum. Darwis menerimanya dan langsung minum.
"Aku lelah," ujar Darwis.
Belum sempat Satya menjawab, Darwis sudah kehilangan kesadarannya lebih dulu dengan bibir tersenyum.
"Hei!"
__ADS_1
Satya terkejut dan langsung memanggil dokter untuk merawat Darwis.
"Dia pasti tertekan batin tadi," ujar Satya yang diangguki oleh Riska.