
Arion malah semakin, semakin merasa bersalah.
"Mengapa kau pulang lalu pergi lagi?" tanya Arion pelan.
"Ya aku kangen dirimu," jawab Karina mendongakkan wajahnya menatap manik mata Arion.
"Benarkah? Ternyata kau berubah jadi bucin ya," sahut Arion mencium kening Karina. Karina tersenyum manis mendengarnya dan kembali duduk diikuti Arion. Karina mengerutkan dahinya melihat wajah khawatir dan gelisah Arion.
"Kamu kenapa? Kok wajahnya lesu begitu? Kau tak senang aku kembali?" tanya Karina penuh selidik.
"Eh … tidak ada. Aku sangat bahagia kau sudah kembali. Aku hanya teringat masalah kakek saja," elak Arion merubah ekspresinya menjadi senang.
"Benarkah? Bukan masalah lain? Seperti perusahaan mungkin," ucap Karina masih tak percaya.
"Benar. Aku teringat akan beberapa bulan lagi aku jadi seorang keponakan dari anak Kakek dan Nenek Nita," ucap Arion memegang tangan Karina.
"Oh … lucu juga pasti nantinya," ucap Karina tersenyum. Namun di dalam hatinya ia belum percaya.
"Hmm … kemarin kau bilang kau ada sesuatu untukku? Apa itu?" tanya Karina teringat obrolan terakhir mereka via video call.
Arion terdiam. Tak lama ia tersenyum.
"Akan ku berikan nanti malam," jawab Arion.
Karina mendengus kesal yang membuat Arion terkekeh. Karina kembali menyeruput jus alpukatnya.
"Bagaimana jika kita makan siang di sini?" saran Karina. Bukan tanpa alasan, lambungnya yang bercabang sudah minta diisi.
"Tapi Sayang. Mama sudah masak banyak di rumah. Kita makan di rumah saja ya," tawar Arion. Karina menaikkan salah satu alisnya.
"Mama? Tak biasanya. Apa kau tak bekerja?" tanya Karina.
"Aku libur khusus untukmu. Perusahaan Ferry yang handel," jawab Arion. Karina mengangguk.
"Baiklah," ucap Karina.
Arion segera berdiri dan mengambil koper Karina. Karina meletakkan uang untuk membayar minumannya di meja dan ikut berdiri.
"Auhh …," ringis Karina saat akan melangkah. Arion menatap khawatir Karina dan melepaskan kopernya memegang pundak Karina.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arion. Tatapannya menuju kaki Karina. Perban membalut kaki kanan Karina.
"Gak papa. Cuma nyeri saja," ujar Karina.
"Kaki kamu kenapa? Kok diperban? Kamu terluka? Bagaimana bisa?" tanya Arion beruntun yang membuat Karina jengah.
"Emm … aku gak sengaja jatuh dari motor kemarin dan kaki aku terluka karena cagak motor," jawab Karina pelan.
"Astaga?! Mulai hari ini kamu dilarang naik motor. Kalau mau naik motor harus sama aku," ucap Arion tegas. Mau tak mau Karina harus mengangguk. Arion menunduk memeriksa kaki kanan Karina. Dahinya mengerut.
"Kaki kamu bengkak Sayang. Kita ke rumah sakit ya. Aku khawatir ini akan semakin parah nantinya," ujar Arion mendongak menatap Karina.
"Bengkak?" gumam Karina. Karena tak memakai alat bantu untuk berjalan seperti kursi roda ataupun tongkat penyangka membuat luka di kakinya menyebar dan membengkak. Ada rembesan darah yang perban.
"Tidak! Aku tak mau. Jika aku pergi ke sana aku akan disuntik. Aku tak mau!" tolak Karina tegas. Arion berdiri tegak dan memegang pundak Karina.
"Ayolah Sayang. Disuntik tak akan sakit. Rasanya seperti digigit semut," bujuk Arion. Karina menggeleng tidak mau.
__ADS_1
"Jika begitu bagaimana rasanya disunat? Apa seperti digigit semut? Jika iya akan aku sunat kau duluan baru aku mau disuntik," tanya Karina yang membuat Arion terdiam. Meresapi ucapan Karina. Spontan tubuhnya merinding ngeri. Karina tersenyum sinis melihatnya.
"Sayang … itu berbeda," ujar Arion.
"Berbeda di mana? Bukankah sama-sama disuntik," sahut Karina melipat tangannya di dada.
Arion menghela nafas kasar. Percuma saja dibujuk. Karina keras kepala. Trauma akan jarum masih melekat di ingatannya.
"Baiklah. Kita pulang saja. Akan aku obati di rumah," ucap Arion mengalah.
"Hmm …," sahut Karina mengalungkan tangannya pada leher Arion. Arion so pasti mengerti. Arion segera menggendong Karina ala bridal style meninggalkan cafe menuju mobil.
"So sweet …," pekik pengunjung cafe melihat itu. Sesampainya di mobil, Arion mendudukkan Karina pada kursi mobil dan kembali lagi ke cafe mengambil koper Karina.
"Huft … gara-gara dia aku jadi begini," keluh Karina dalam hati cemberut. Tak lama Arion masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil meninggalkan bandara pulang.
"Apa ada sesuatu saat aku pergi? Bagaimana dengan Joya?" tanya Karina di perjalanan. Arion gelisah namun tak diperlihatkan.
"Tidak ada. Aku belum menemuinya," jawab Arion tersenyum.
"Baguslah."ucap Karina mengalihkan pandangannya ke arah samping kiri menatap jalanan kota.
Tak sampai setengah jam mereka tiba di rumah. Arion kembali menggendong Karina menuju meja makan sedangkan koper Karina dibawa oleh pelayan, di meja makan Amri, Maria dan Bayu sudah menunggu.
Mereka mengerut heran melihat Arion yang menggendong Karina dengan perban yang membungkus pergelangan kaki kanan Karina.
"Astaga! Sayang kamu terluka!?" pekik Maria khawatir.
"Cuma luka kecil kok Ma. Entar juga sembuh," ujar Karina tersenyum manis ketika Arion sudah mendudukkannya di kursi. Arion duduk di sebelah Karina.
"Luka kecil dari mana Kak? Jelas-jelas kaki kakak berdarah lagi," ucap Bayu khawatir.
"Pa. Menantu kita terluka kok malah main handphone," tegur Maria yang membuat Amri langsung menyimpan handphonenya.
"Iya Ma. Ini penting," ujar Amri.
"Pentingkan menantu kita Papa," ucap Maria kesal.
"Sudah-sudah. Kenapa Mama sama Papa yang bertengkar?" ucap Arion melerai.
Maria mendengus kesal sedangkan Amri hanya mengangguk paham. Karina dan Bayu bertatapan malas. Karina kemudian manatap meja dan menyapu isinya dengan matanya. Mata Karina berbinar seketika seakan melihat harta karun.
Arion menghela nafas pelan. Iya yakin Papanya ada alasan untuk itu.
"Karina takut jarum suntik Ma," ujar Arion.
"Tapi kan …." Ucapan Maria terhenti saat melihat Karina yang makan duluan. Maria menggelengkan kepalanya. Ingin rasanya marah namun tak tega. Menantunya ini kadang bersikap baik layaknya bidadari kadang bar-bar seperti badgirl.
"Sudahlah. Setelah ini kamu obati luka Karina. Ayo kita makan sebelum habis disantap oleh istrimu," pupus Maria.
Arion mengalihkan perhatiannya pada Karina. Piringnya penuh akan berbagai makanan yang terhidang di meja. Senyum Arion mengembang dan segera mengangguk.
"Kamu segitu laparnya," ujar Arion.
Karina menoleh ke arah Arion, menghentikan makannya.
"Habisnya aku lapar sekali. Lagian ini semua kan makanan kesukaan aku? Untuk siapa lagi jika bukan untukku?" tanya Karina santai. Arion menatap Karina tak dapat berkata lagi.
__ADS_1
"Sudah ayo makan. Jangan berdebat!" titah Amri. Mereka segera makan siang dalam keheningan. Lima belas menit kemudian mereka selesai makan siang. Karina mengambil tisu dan mengelap bibirnya.
"Papa kira tadi kalian mau buat adonan. Rupanya kaki kamu terluka," celetuk Amri yang membuat Arion menatap kesal Papanya.
"Papa ini ada-ada saja," ucap Arion.
"Hmm … menantu dengar Papa bully suami menantu ya saat menantu pergi?" tanya Karina menatap Amri dengan senyum manisnya. Amri tertegun Ia lupa akan menantu es dan pecinta anaknya ini.
"Habisnya anak Papa ini galau tiap pulang kerja," ujar Amri.
"Oh ya?" ucap Karina.
"Aih … sudahlah. Seperti kamu tidak tahu saja Papa dan suamimu ini jika dirimu tidak ada," ucap Maria.
Karina diam tak berbicara lagi. Rasa kantuk menyerangnya. Ia hanya tidur tak sampai empat hari ini. Itupun satu jam ia tidur di pesawat.
"Ma, Pa, Ar sama Karina ke kamar dulu ya. Ar mau mengganti perban Karina," ujar Arion.
"Ya sudah sana," ucap Maria. Arion kembali menggendong Karina menuju kamar. Sesampainya di kamar, Arion mendudukkan Karina di pinggir ranjang.
"Kamu tunggu sebentar ya. Aku ambil alkohol P3K dulu," ujar Arion.
Karina mengangguk samar. Matanya mulai terpenjam, Arion segera keluar kamar, Karina malah membaringkan tubuhnya. Rasa sakit pada kakinya tak ia hiraukan lagi.
Arion terperajat mendapati Karina yang tertidur.
"Haih … kau pasti lelah," gumam Arion. Dengan perlahan Arion mulai membuka perban pada kaki Karina. Dahinya mengerut heran melihat bentuk asli luka.
Bukankah luka akibat jatuh dari motor? Mengapa lebih mirip luka akibat senjata tajam? batin Arion.
Dengan hati penuh tanda tanya Arion mulai membersihkan luka Karina. Arion meringis pelan. Luka akibat sayatan pedang Arimbi membengkak dan menganga.
Arion berhenti sejenak dan melirik wajah Karina. Tak ada ekspresi malah terdengar dengkuran halus. Saat mulai membersihkan lagi, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Arion segera berdiri dan membuka pintu ternyata itu adalah Amri dan Maria serta dua orang dokter wanita.
"Ini?" tanya Arion bingung.
"Dokter untuk Karina. Papa khawatir lukanya akan semakin parah," ujar Amri. Arion segera mempersilahkan kedua dokter itu masuk dan mengecek luka Karina.
"Rupanya Papamu menghubungi dokter saat di meja makan tadi. Mama jadi merasa bersalah nunduh Papamu tadi," ujar Maria.
"Mengapa bukan David?" tanya Arion.
"Jika dia apakah kau akan setuju istrimu dipegang olehnya? Bisa-bisa kau meledak dan mesmack down dia nantinya," ujar Amri.
"Aku setuju sama Papa," sahut Arion. Mereka segera menghampiri dokter yang memeriksa Karina. Tampak salah seorang dokter menyiapkan jarum suntik. Mata Arion membulat seketika.
"Tuan, Nyonya, luka Nyonya muda cukup dalam dan lebar. Kami harus menyuntikkan antibiotik agar lukanya tak menjadi infeksi. Luka akibat sayatan senjata tajam ini sudah membengkak akibat aktivitas Nyonya yang tak menggunakan penyangga tubuh. Jadi kakinya tetap menopang berat badan," jelas salah seorang dokter. Maria dan Amri menatap Arion minta jawaban akan luka Karina. Karina hanya menggeleng tidak tahu.
"Tidak bisakah tidak disuntik? Dia takut akan jarum," ujar Arion.
"Tidak Tuan. Ini adalah cara yang paling efektif," jawab dokter itu.
"Tidak apa Ar. Lagian Karina juga tidur. Pasti dia tak akan merasa disuntik," ucap Amri.
"Tapi Pa …," tolak Arion.
"Iya Ar. Lukannya sudah membengkak," ujar Maria. Dengan berat hati, Arion mengiyakan. Arion beralih ke samping Karina. Tangannya menggusap lembut rambut Karina.
__ADS_1
***
Insya Allah, nanti malam update satu bab lagi😊😊