Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Selamat Jalan Enji


__ADS_3

Arion menenangkan Karina yang frustasi. Ia memeluk Karina. 


"Maaf ... maafkan aku …," ujar sedih Arion.


"Aku b*odoh …," gumam Karina.


Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang IGD. Wajahnya nampak serius.


"Keluarga pasien?" tanyanya.


"Saya kakaknya Dok," ucap Karina melepaskan pelukan Arion.


"Bisa saya berbicara empat mata dengan Anda?" tanya Dokter.


"Iya," jawab Karina.


"Kalau begitu ayo ikut ke ruangan saya," ucapnya.


"Ma, Pa, kakek , Ar aku ke sana dulu ya," pamit Karina.


"Apa perlu aku temani?" tanya Arion.


Karina menggeleng.


"Gak usah!" tolak Karina.


Karina lantas menuju ruangan dokter yang bertag nama Faisal. Karina masuk tanpa mengetuk pintu.


"Silahkan duduk Nona …," ujar dokter Faisal.


"Karina."


"Ah ya Nona Karina. Perkenalkan saya Faisal dokter yang menangani penyakit Enji sebelumnya."


"Bagaimana kondisi Enji??"tanya Karina to the point.


Dokter Faisal menghela nafas panjang.


"Buruk. Penyakitnya sudah menyebar tidak ada harapan sembuh lagi. Hanya keajaibanlah yang dapat menyembuhkannya. Saat ini kondisi Enji kritis," ujar sedih Faisal.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan penyakitnya namun penyakit jantungnya sudah tidak ada harapan sembuh lagi."


"Ah ... tak kuduga secepat ini."


"Jadi Anda sudah tau penyakit Enji??"


"Aku sudah mengetahuinya sejak lama. Namun, aku tak mau menanyakannya. Jadi aku hanya memantaunya."


"Selama ini aku selalu memantaunya setiap hari. Namun, hari ini aku sibuk dengan pernikahanku jadi aku sedikit mengabaikannya. Tak kusangka akan jadi seperti ini," ujar Karina.


"Jadi Anda tahu bahwa Enji rutin melakukan kontrol di sini?" 


Karina mengangguk.


"Tapi kami menemukan fakta bahwa Enji tidak meminum obatnya 2 hari terakhir. Namun, ia kembali meminum obatnya sekitar 8 jam yang lalu dalam dosis yang berbeda," terang Dokter Faisal.


"Apa alasan dia melakukan itu?? Apa dia bod*h?" tanya Karina


"Sebelumnya pada kontrol terakhir yaitu 3 hari yang lalu Enji mengetahui bahwa obat yang ia minum tidak ada efeknya terhadap penyakitnya. Dia hanya tinggal menunggu waktunya berakhir. Entahlah saya juga tidak tahu apa alasan dia tidak meminum obatnya," terang Dokter Faisal lagi.


Karina mendesah pelan. Jika Enji tidak meminum obatnya 2 hari terakhir dan tiba-tiba meminumnya lagi dalam dosis yang lebih besar maka ada dua kemungkinan.


Ia ingin segera mengakhiri sakitnya atau  ada hal  yang penting yang membuatnya meminum obat dengan dosis  besar berharap rasa sakit di jantungnya mereda dan ia memiliki waktu untuk menyelesaikan keinginannya.


"Tapi kami menemukan sesuatu di tangannya. Ia menggenggam erat benda itu. Kami mencoba membuka genggamannya namun tak bisa."


"Apa itu?"


Dokter Faisal menggeleng. Karina langsung bangkit dari kursinya dan langsung menuju ruangan di mana Enji di rawat. 


Di sana Karina melihat Enji yang terbaring dengan wajah pucat dan alat alat kedokteran yang menempel di tubuhnya terutama bagian jantungnya.


Suara mesin EKG terdengar jelas.


Tit ... tit ... tit ….


Di monitornya terlihat garis naik-turun yang menunjukan aktivitas jantung Enji yang lemah.

__ADS_1


Karina duduk di samping brangkar tempat Enji terbaring. Dia menatap tangan kanan Enji yang menggenggam sesuatu. Perlahan ia  menyentuh tangan Enji untuk membuka genggaman itu dan melihat isinya.


Genggaman Enji langsung terbuka menampilkan flashdisk di telapak tangannya.


"Aneh ... katanya tadi gak bisa dibuka?"


Karina mengambil flashdisk itu. Ia ingat bahwa itu adalah flashdisk yang ia berikan untuk dikerjakan Enji.


"Flashdisk?? Apa kamu melakukan itu untuk menyelasaikan tugas dariku?"


"Iya Nona," jawab Enji yang terbangun dari kritisnya.


Perlahan mata Enji terbuka.


"Tugas terakhirku sudah selesai," ujar lemah Enji.


"Bod*h dasar kau ini ... mengapa kau tidak mengatakannya?"


"Tanpa aku mengatakannya kau pasti akan mengetahuinya."


"Ah Nona tugasku sudah selesai. Dadaku terasa sakit lagi," aduh Enji lemah.


"Mana yang sakit? Bertahanlah aku akan memanggil Faisal!" seru panik Karina.


Jika tidak dalam kondisi sekarat pasti Enji akan menertawakan wajah panik Karina yang biasanya datar dan dingin.


Enji mencegah Karina dengan memegang lemah tangannya. Karina menatap rumit Enji. Enji menggeleng dan tersenyum.


"Tidak usah Nona ... waktuku sudah akan berakhir …."


"Sebelum aku pergi apakah aku boleh bertemu dan berbicara dengan suamimu Nona?" tanya Enji dengan susah payah.


"Baiklah."


Enji melepas pengangan tangannya. Karina keluar untuk memanggil Arion. 


Arion dan keluarga yang gelisah langsung menghampiri Karina.


"Bagaimana keadaanya ?" tanya Arion.


Karina menggeleng lemah.


"Ar ... bisakah kamu ikut aku ke dalam?


Arion bingung namun menyetujuinya.


"Baik."


Karina dan Arion masuk ke dalam ruangan Arion. Karina duduk di tempat di mana tadi ia duduk sedangkan Arion berdiri di sebelah kiri Enji


Enji perlahan memegang tangan Arion.


"Tuan kau jagalah Nonaku sepenuh hatimu. Sekarang kau adalah suaminya. Waktuku sudah tidak banyak. Sekarang tugas untuk menjaga dan melindungi Nona beralih menjadi tanggung jawabmu. Yang mana sebelumnya aku lah yang melakukannnya. Berjanjilah Tuan kau akan mengabulkan permintaanku ini ...," ujar Enji lemah.


Arion menatap Karina meminta jawaban. Karina mengangguk.


"Baiklah aku berjanji padamu," ujar tegas Arion.


"Berjanjilah kau tak akan pernah membuat ia menangis. Bahkan setitik air mata pun tak boleh ia keluarkan."


"Aku berjanji."


Enji tersenyum. Ia beralih menatap Karina.


"Nona terima kasih selama ini kau sudah merawat dan menyayangiku sepenuh hati. Terima kasih telah membawaku dari tempat itu ... aku minta maaf aku tak bisa menjagamu lebih lama lagi," ujar Arion menatap Karina seduh. Air matanya mulai menetes begitu juga dengan Karina.


"Apa yang kau katakan? Kau pasti sembuh!" marah Karina.


Enji kembali menggeleng dan tersenyum.


"Nona aku sedikit mengantuk dan lelah. Aku ingin tidur. Bisakah kau menyanyikan lagu pengantar tidur untukku?" pinta Enji.


"Baiklah ... tapi jika nanti aku membangunkanmu kau harus bangun!"


Enji mulai memejam matanya di iringi lagi nina bobo dari Karina.


**Nina bobo, oh nina bobo

__ADS_1


Kalau tidak bobo, digigit nyamuk


Nina bobo, oh nina bobo


Kalau tidak bobo, digigit nyamuk


Nina bobo, oh nina bobo*


*Hari sudah malam terkabut intan


Nina bobo, oh nina bobo


Bulan kan menjagamu, tidurlah sayang


Kalau tidak bobo, mimpi tak datang*


Tidurlah agar pagi cepat menjelang


Tidurlah agar pagi cepat menjelang*


Tepat saat Karina menyelesaikan nyanyiannya layar monitor mesin EKG menunjukkan perubahan. Garis yang semula naik-turun lemah mulai berubah jadi lurus. Mesin EKG berbunyi dengan kuat.


Titttt ....


Karina panik ia membangunkan Enji namun tak ada respos.


"Gak ... enggak kamu belum boleh pergi …."


Melihat kepanikan Karina, Arion ikut panik. Ia menekan bel untuk memanggil para dokter. Tak lama dokter Faisal dan para suster pun datang.


"Permisi biar saya periksa kondisi pasien."


Arion merangkul Karina dan membawanya agak menjauh dari brangkar.


Dokter Faisal memeriksa mata dan denyut jantung Enji. Kemudian ia mendesah pelan. Suatu kesedihan bagi seorang dokter yang tidak bisa menyelamatkan pasiennya.


"Pasien sudah tidak ada. Ia sudah meninggalkan dunia ini. Waktu kematian jam 02.15 dini hari," ujar Dokter Faisal. 


Ia pun menarik kain putih untuk menutup wajah pucat Enji. Para suster membuka alat alat yang menempel di tubuh Enji.


Dokter Faisal menghampiri Karina dan Arion.


"Maaf Nona ... kami tidak bisa menyelamatkannya. Enji sudah tiada."


"Gak ... gak mungkin …," tangis Karina pecah seketika.


Arion mencoba menenangkannya dan membawa Karina keluar dari Ruangan Enji.


Karina menangis di pelukan Arion.


"Apa yang terjadi?? Mengapa Karina menangis?" tanya Maria .


"Enji Ma …," jawab Arion.


"Enji kenapa Ar?" tanya Amri.


"Dia ... dia meninggal!!!"


"Innalillahi wainnaillahi rojiun ...," ucap serentak ketiganya.


"Kasihan sekali dia. Padahal aku berencana mengangkatnya jadi cucuku," gumam Kakek Bram.


"Iya padahal dari yang Mama lihat dia anaknya periang," ujar Maria.


"Ya sudahlah ... itu sudah ketentuan yang maha kuasa. Kita sebagai manusia tidak bisa menghindari dari maut yang tak mengenal umur maupun apapun itu," ucap bijak Amri menenangkan mereka semua.


"Ar ... kamu bisakan uruskan adminitrasi rumah sakit Enji? Agar jenazahnya bisa dibawa pulang dan dikebumikan," saran Kakek Bram.


"Karina biar sama Mama sini," ujar Maria


"Oke Ma," jawab Arion. 


Maria beralih memeluk Karina dan menuntunnya duduk di bangku rumah sakit.


"Papa ikut Ar …."


Arion dan Amri segera mengurus adminitrasi rumah sakit.

__ADS_1


Maria dan Kakek Bram mencoba menenangkan Karina yang masih menangis.


__ADS_2