Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 378


__ADS_3

Arion kembali memeluk Karina kemudian mendaratkan kecupan pada kening Karina. Karina membalas dengan menyentuh pipi Arion. Saat mengusap pipi itu, mata Karina menyipit. Wajahnya berubah suram, melempar tatapan tajam ke semua orang kecuali Arion. Semua tentunya merinding dengan tatapan itu, tatapan yang lama mereka tidak rasakan. 


"Siapa? Siapa yang memukul suamiku?" Nada dingin, menatap satu persatu bawahannya.


Arion terkesiap sesaat, Karina marah karena luka lebam di pipinya? Hati Arion menghangat, senyumnya mengembang.


"Sayang, jangan marah. Ini cuma pukulan ringan, aku pantas menerimanya," ujar Arion, meredakan amarah Karina. Karina melirik tajam, berdiri, tidak menggubris ucapan Arion.


"Jawab!"bentak Karina. Arion berdiri dan kembali memeluk Karina.


"Sudahlah Sayang. Ini hanya masalah kecil. Lebih baik kita pulang, kau harus istirahat," ucap Arion.


"Aku tidak masalah dengan luka itu, aku hanya ingin tahu apa alasan dari pukulan itu!"tegas Karina, tidak tergoyahkan dengan apapun ucapan Arion.


"Sayang ini karena aku salah," ucap Arion.


"Aku yang memukulnya, Queen!" Darwis menjawab, sorot matanya menatap dingin Arion. Arion menggerutu dalam hati.


 Sudah diselamatkan malah mencari petaka!


Joya memeluk erat lengan Darwis saat Karina menatap Darwis dengan tatapan dingin, jelas sekali gunung es itu akan segera meletus. Rian dan Satya menelan ludah, tatapan Karina benar-benar menyeramkan. Suasana di ruangan berubah, terasa berat dan suram. 


Enji bahkan kini bersembunyi di bawah meja, takut jika ia juga kena sambur oleh Karina. Maria menatap Amri cemas. Li menatap Gerry meminta penjelasan. Sedangkan dua pasangan lain, berdiri kaku di tempat mereka berdiri.


"Kau yang memukul suamiku? Apa alasannya?" Karina melangkah mendekati Darwis. Darwis tidak gentar, ia tidak merasa melakukan kesalahan. 


"Benar! Itu karena pria itu terlalu lemah dan bod*h!"


Darwis terlalu berani, batin Gerry, diam-diam mengagumi keberanian Darwis.


"Lemah dan bod*h? Apa alasannya kau mendikte suamiku lemah dan bodoh? Apa kau sangat kuat dan pintar? Apa hakmu menghakimi suamiku?!"


"Aku memang manusia lemah dan bod*h. Tapi aku tidak selemah dan sobod*h pria itu. Hanya keledai yang berulang kali jatuh di lubang yang sama!"jawab Darwis lantang.


"Oh benarkah begitu?" Karina menarik senyum sinis. 


Plak!


Semua membeku. Darwis terkejut dengan tamparan keras dari Karina. Joya bahkan memekik kaget. Darwis menatap Karina penuh tanda tanya. 


"Tapi dari yang aku lihat, nyatanya kau lebih lemah dari suamiku! Aku akui dia b*doh, tapi dia pria yang kuat! Sangat kuat, aku saja kagum dengan kekuatannya!"ucap Karina lantang. 


Aku sangat kuat?


"Darwis kekuatan sejatinya bukanlah fisik melainkan niat dan keyakinan. Kehilangan adalah ujian yang sangat berat. Kau tidak sebanding dengan suamiku!"


"Apa maksudmu?" Darwis tidak terima.


"Seingatku, Arion hanya dijebak dua kali. Yang pertama oleh isterimu dan yang kedua oleh wanita tadi. Dan ia hanya dijebak satu kali, yaitu oleh yang kedua. Sedangkan yang pertama, Arion mabuk dan berakhir bersama Joya. Serupa tapi tak sama. Huh!" Karina menjawab dengan tatapan mengejek. Joya menunduk, tak menyangka Karina mengungkit hal itu.


"Yang kedua, sebenarnya Arion bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus mengadakan acara gagal ini! Tujuan kalian memberi pukulan keras pada mereka, sungguh tanggung. Jika aku tidak datang, apakah kalian akan melepaskan mereka begitu saja? Pergi jauh tanpa balasan setimpal? Ck, sambutan ini berubah menjadi buruk!"


"Karina kami tidak berencana seperti itu," ucap Gerry.


"Apapun itu semua sudah berakhir. Jangan bahas apapun mengenai mereka!"tegas Karina. 

__ADS_1


"Darwis apa kau tahu alasan aku mengatakan kau lebih lemah dari suamiku?" Karina kembali menatap Darwis, dingin. Darwis menggeleng, ia sangat ingin tahu.


Karina tersenyum tipis. Semua menanti jawaban Karina. Arion menatap punggung Karina dengan tatapan rumit. Enji yang penasaran, keluar dari kolong meja, hanya kepalanya saja.


"Baiklah. Aku akan memberitahumu. Yang pertama, Arion mampu bertahan dengan segala sikap dan perilakuku. Pria yang kuat adalah pria yang mampu menerima masa lalu, menerima musuh lama sebagai pasangan hidup, melupakan dendam, memupuk cinta dan hasilnya kami bahagia. Dendam adalah racun hati dan kami berhasil menawarnya," ucap Karina. Diam, tidak ada yang menjawab. Semua diam, mencerna ucapan Karina. 


"Yang kedua, keteguhan, keyakinan, kepercayaan, dan kesabaran tinggi. Darwis saat Joya koma kau bahkan tidak bekerja dengan baik dan sibuk menemani Joya. Keterpurukanmu karena Joya lebih lama dari keterpurukan Arion saat aku hilang, tidak tahu hidup atau tidak. Merawat satu anak kau membutuhkan pengasuh sedangkan Arion merawat ketiga anak kami dengan tangannya sendiri. Keteguhan hati Arion untuk tidak mendua, sekalipun mertuaku menyinggung mengenai hal itu berkali-kali, Arion tetap kekeh pada pendiriannya, dia pria yang menepati janjinya." 


Maria merasa tersindir, menyembunyikan wajah di balik punggung Amri.


"Kepercayaan akan aku akan kembali, tetap ia pegang teguh. Ia menerima dan menjalani cobaan ini dengan ikhlas. Aku sudah melihatnya, rumah tetap sama seperti dulu. Menerima dan menggenggam semua waktu yang kami lalui bersama sebagai benang biru. Arion bisa mengurus ketiga anakku dengan baik, ia menjalankan apa yang aku pesankan terahir kali, dia bisa menjadi ibu dan ayah sekaligus. Arion sedih , terpukul tapi tidak melupakan tanggung jawabnya, sengaja CEO dan orang tua!"lanjut Karina. 


Dari mana Karina tahu semua itu? Tentu saja, Li. Li sudah menjelaskan secara rinci mengenai Arion dan anak-anaknya saat ia tidak di samping mereka.


"S-Sayang kau tahu itu?" 


"Tentu." Karina menoleh sekilas pada Arion, tersenyum lembut.


"Yang ketiga, yang paling utama, aku sangat mencintai pria bod*h itu." Karina menunjuk Arion. Arion terdiam kaku. 


"Hal itu mengalahkan alasan apapun! Aku tak peduli jika dia lemah dan bod*h. Ada aku yang melindunginya. Aku tak peduli jika ia ditinggalkan oleh semua orang, ada aku yang selalu merangkuknya. Aku tidak peduli apa kata orang, aku yang menjalaninya bukan mereka. Aku tidak peduli jika kalian menentang, aku akan tetap bersama dengannya! Hubunganku dengannya bukan untuk mencari kekuasaan melainkan kebahagian!"


Karina menatap Arion lemah lembut, penuh cinta. Sejenak, Arion merasa dunia terbalik. Harusnya kan Arion yang mengatakan semua itu, tapi ini sebaliknya. Ah lupakan saja. Toh mereka pasangan yang lain dari yang lain. 


"Dan yang terakhir, bahkan saat aku kembali membawa bekas luka dan berita mengejutkan, ia tetap percaya padaku. Ia tidak mempermasalahkannya! Aku benar-benar mencintai pria ini. Cinta yang sejati dan abadi, itulah cinta kami."


Karina merentangkan tangannya. Tanpa diminta, Arion langsung menghambur dalam pelukan Karina. Keduanya berpelukan erat. Arion menitikkan air mata atas semua pembelaan Karina padanya. 


"Terima kasih, Sayang," ucap Arion. 


Karina melepas pelukannya, menoleh heran pada Darwis yang berlutut dengan kepala tertunduk. 


Joya, Rian, Sam, dan Gerry ikut berlutut, menunduk. Lila terkejut, menatap bingung Sam. Untuk apa Sam ikut berlutut?


"Terima kasih telah menjelaskannya, Queen. Saya buta tidak melihat apapun yang Anda sebutkan. Anda benar, sayalah yang lemah. Saya bersalah, mohon Anda menghukum saya," ucap Darwis, tegas.


"Aku mengatakan hal ini bukan untuk menghukummu, Li. Aku mengatakannya agar kalian semua tidak sembarangan mendikte suamiku," tolak Karina.


"Tidak. Aku bersalah. Jika Anda tidak menghukum saya, maka saya akan menghukum diri saya sendiri!"kekeh Darwis, menyatukan kedua tangannya memohon pada Karina.


"Baik! Aku akan menghukummu! Darwis, salahmu bukan padaku melainkan pada Arion. Minta maaflah padanya maka hukumanmu selesai," putus Karina. 


"Baik!" Darwis berlutut menghadap Arion.


"Tolong maafkan saya," ucap Darwis.


"Darwis, aku tidak pernah marah atas ucapan dan tindakanmu tadi. Kita semua setara, tidak ada yang lemah apalagi bod*h. Tolong berdirilah, jangan membuatku malu seperti ini," ucap Arion, memegang pundak Darwis membawanya berdiri. Darwis tetap menunduk.


"Mohon maafkan saya!"ucap Darwis. 


Ah Arion baru ingat. 


"Aku memaafkanmu, Darwis," ujar Arion.


"Terima kasih." Arion membalas dengan memberikan pelukan pada Darwis. Darwis memejamkan mata, tersenyum lega.

__ADS_1


"Tapi kau harus memasak makan malam untuk menebus pukulan ini," bisik Arion. Mata Darwis membulat.


"Dasar!"gerutu Darwis pelan, tetap tersenyum.


"Lantas ada apa dengan kalian?" Karina menatap heran empat orang yang masih berlutut.


"Karina, ucapanmu tadi benar apa adanya. Aku juga ikut mendikte Arion tadi, aku juga bersalah. Mohon hukumlah aku," jawab Joya, mantap.


"Hehehe sepupuku Sayang, minta maaflah pada Arion. Aku sudah memberimu hukuman saat awal pernikahanmu lalu."


"Ar …."


"Sudah-sudah. Aku maafkan. Kalian berdua juga berdirilah. Untuk apa kalian berlutut seperti itu?"


Gerry teringat saat ia tidak percaya pada Karina, Sam teringat saat ia begitu bod*h bisa dijebak oleh wanita yang entah siapa namanya itu, sedangkan Rian teringat saat dirinya menjadi pecundang, pecundang cinta.


"Masa lalu biarlah berlalu. Jadikan itu pelajaran. Sekarang, jangan ada lagi keraguan di hati masing-masing. Saat ada yang bermasalah, temukan akarnya dan selesai dengan kepala dingin. Aku sudah kembali, terima kasih untuk kalian semua yang telah mengambil alih tanggung jawabku. Aku tahu itu tidak mudah tapi kalian bisa melewatinya, kalian berhasil mewujudkan ucapan kalian. Aku bangga dan kagum pada kalian!"


Rian, Gerry, Joya, dan Sam berdiri. Senyum mengembang dari semua orang. Enji sudah keluar dari kolong meja, berdiri di samping Amri. 


"Saatnya pulang!"ucap Arion. Dan dalam sekali gerakan, Karina kini berada dalam gendongan Arion, melangkah duluan meninggalkan yang lain. 


"Mama!"


" Papa!"


"Ibunda!"


"Ayah!"


Keenam anak itu berlari menghampiri Arion yang menggendong Karina. Elina menyusul.


"Ibunda sakit lagi?" Bahtiar menatap cemas Karina.


"Ar … turunkan aku," pinta Karina dan Arion menurut. 


"Ibunda baik-baik saja, Tiar," jawab Karina.


"Brian, Bara, Tiar," panggil Arion, berjongkok dengan merentangkan tangannya. Brian dan Bahtiar langsung menghambur dalam pelukan Arion. Arion dengan rasa haru mencium pucuk rambut dua anak itu.


"Bara?" Arion menatap Basurata heran. 


"Huwah … Ayah!" Menghambur dalam pelukan Arion, menangis haru.


"Anak-anak … apakah kalian tidak merindukan Mama?" Karina ikut berjongkok.


"Mustahil!"bantah Biru cepat sedangkan Bintang sendiri sudah menghambur dalam pelukan Karina.


"Mama kami sangat merindukanmu!"ucap Biru, memeluk Karina dengan air mata berlinang.


"Bima?"


"M-Mama …." 


"Kemarilah. Mama sangat merindukan pelukan kalian bertiga," ucap Karina. 

__ADS_1


Dengan cepat, Biru memeluk Karina. Akhirnya, keluarga kecil itu telah lengkap.


__ADS_2