
Satu demi satu tamu undangan mulai berdatangan, memenuhi ballroom Tirta Hotel di mana acara resepsi sudah dimulai. Terlihat Darwis dengan menggandeng Joya memasuki ballroom, di belakang mereka ada Rian dan Satya serta tamu lain yang baru datang. Di depan mereka berdua ada Reza.
Para orang tua mempelai pun sibuk menyambut ataupun sekedar menyapa para tamu. Mempelai hanyut dalam kebahagian, hingga mereka tak menyadari ada yang kurang dalam acara itu. Karina, Arion, Li dan Gerry tak berada di tempat resepsi.
Mereka hanya pamit pada Amri, Maria dan orang tua Sam dan Calvin. Sedangkan pada pengantin, biarlah mereka di mabuk asmara, tak usah diganggu.
Kini Karina dengan mobilnya dan Arion di samping telah tiba di markas Pedang Biru. Diikuti tibanya mobil yang dikendarai Li dan Gerry. Terlihat ada sebuah mobil berjenisu mustang classic berwarna merah terparkir di halaman markas.
Karina yakin bahwa Elina dan ibunya telah tiba. Karina melihat jam tangannya, ia terlambat lima belas menit dari waktu pertemuan. Karina menggerutu kesal pada kemacetan.
"Sepertinya aku harus jadi presiden untuk mengurai kemacetan. Akan ku buat jalan layang bertingkat jika tidak ku suruh mereka naik kendaraan umum," keluh Karina saat melangkah menuju ruang pertemuan dengan tamu ditutun oleh salah seorang anggotanya.
"Cukup jadi bidadari dalam hidupku saja Sayang. Aku tak mau kamu membagi perhatian dengan orang lain. Jika kamu jadi presiden kamu bukan lagi hanya memikirkan aku seorang tetapi juga memikirkan nasib rakyat yang kamu pimpin. Kamu satu untukku bukan satu untuk semua," ujar Arion menggenggam jemari kanan Karina.
"Tapi sekarang kan Anda sudah presiden," ujar Li menautkan alisnya.
Karina menoleh ke belakang sekilas.
"Ya. Presiden direktur," sahut Karina dengan nada santainya.
"Astaga, aku lupa, bahwa kau malaikatku adalah malaikat semua orang. Hmm … kau bukan hanya tercipta untukku tetapi untuk mereka, para anggotamu. I love you," ucap Arion menepuk pelan dahinya.
Arion semakin sadar, Karina tak bisa dikekang, tak bisa dibatasi pergerakannya. Ucapan Li dan Rian membuka pemikirannya. Tugasnya adalah memberi kebahagian pada Karina dan keturunan mereka.
Kini mereka tiba di pintu ruangan dengan nama ruangan pertemuan. Li membuka pintu dengan daun pintu ganda itu. Ukiran pedang dan mawar biru yang menjadi lambang organisasi mafia terukir indah di sana.
Di dalam sudah menunggu Elina dan ibunya, Marlena. Pakaian mereka lebih kepada kasual. Tak memakai pakaian saat berada di kediaman mereka sendiri. Elina memakai celana jeans berwarna biru dongker dengan kaos berwarna putih serta rambut diurai. Aksesorisnya pun dilepaskan, hanya menyisakan kalung taring di lehernya.
Ibunya memakai rok berwarna merah dengan baju mirip seperti kebaya. Rambutnya disanggul dan bibirnya merah, bukan merah listip melainkan merah sehabis menginang.
Ya, Marlena mempunyai kebiasaan menginang, bahkan kotak nginangnya pun tak pernah jauh darinya. Selalu dibawa kemanapun dia pergi. Melihat pintu terbuka, mereka berdua berdiri dari duduknya.
"Welcome Elina," sambut Karina mengulurkan tangannya. Elina tersenyum dan ingin membalas uluran tangan Karina namun ditahan ketika melihat ibunya menatap tajam Karina.
"Hai Madam," sapa Karina pada Marlena, mencoba menjadi tuan rumah yang baik. Karina tersenyum lebar melihat itu. Terlihat jelas api pertentangan di mata Marlena.
__ADS_1
"Madam, Queen saya menyapa Anda. Mohon jaga sikap di wilayah kami," ujar Gerry tegas. Geram dengan Marlena.
"Hmm …," gumam Marlena. Ia membalas uluran tangan Karina. Karina dapat merasakan telapak tangan itu sedikit kasar.
Setelah basa-basi sedikit, mereka segera berunding. Pokok masalahnya adalah tentang adat dan keyakinan kelompok Cinnamon.
"Aku menolak!" tegas Marlena ketika perundingan berlangsung.
"Mengapa? Apa Anda tak mau melihat putri dan anggota Anda bahagia?" tanya Arion datar.
"Putri dan bawahanku bahagia tanpa lelaki, kalian para lelaki adalah ********. Menebar benih namun setelah tumbuh dan berkembang kalian tinggalkan begitu saja," ucap Marlena dengan nada dingin.
Menatap sinis Li, Gerry dan Arion. Karina tetap santai. Alasan di balik ketidaksukaan Marlena pada lelaki adalah akibat masa lalunya.
Ayahnya adalah orang tak bertanggung jawab, menikah dengan ibunya hingga hadirlah dirinya, namun ayahnya tak pernah peduli, malah asyik menebar benih dengan wanita di luar rumah tangga ayah dan ibunya. Ibunya dan Marlena sendiri terlupakan dan terabaikan.
Saat masa pencarian jati diri, ibunya meninggal, orang yang ia suka dan cintai ternyata hanya menggunakan dirinya untuk mendekati salah seorang sahabatnya.
Marlena berkali-kali merasakan sakit hati akibat lelaki, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan menetap di negara B. Mencari para wanita yang merasa sakit hati dan membenci pria sama sepertinya dan membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Cinnamon.
Marlena dengan lainnya menetap di tengah hutan, mereka membangun markas. Marlena yang sejak kecil tertarik dengan senjata sebab ibunya adalah seorang militer mulai mengembangkan ketertarikannya. Mengajarkannya pada anggota lainnya.
Aturan pertama dalam kelompok dan katakan tidak pada lelaki. Hingga pada saat berusia 22 tahun, Marlena teringat akan sesuatu. Ia tetap membutuhkan lelaki sebagai penyambung keturunan. Tidak mungkin ia tak punya keturunan untuk mempertahankan kelompok ini kelak.
Akhirnya tercetusnya ide seperti pepatah, habis manis sepah dibuang. Mereka menculik lelaki yang memenuhi kriteria dan menikahinya secara adat kelompok yang ia buat sendiri.
Dan selanjutnya adalah seperti yang telah dijelaskan di bab-bab sebelumnya.
"Tidak semua lelaki seperti itu Madam. Janganlah pikiran Anda menjadi picik karena satu dua orang lelaki. Mereka yang pernah membuat Anda sakit mungkin ******** lantas bagaimana dengan yang lainnya? Apakah ayah dari putri Anda juga ******** secara di sini Andalah yang menginginkannya dan membuangnya setelah tujuan Anda tercapai," sarkas Li tajam. Membuat Marlena mengepalkan tangannya. Karina tetap dalam mode santainya, belum ingin ikut berbicara. Ia malah menikmati segelas cokelat yang tersedia di atas meja.
"Ibu," ujar Elina memegang tangan Marlena. Marlena menoleh kemudian menghela nafas.
"Madam, cobalah berdamai dengan masa lalu Anda," timpal Arion.
"Saya tahu, rasa sakit hati itu pasti masih tersimpan dalam hati ada. Dendam merubah segala. Saya pun dulu seperti Anda namun lain sejarah, saya memang membenci beberapa lelaki, sangat membencinya. Mereka merebut kebahagianku. Kematian dan rasa sakit menjelang kematian bagi saya adalah alunan lagu kebahagian. Jika Anda dendam dengan mereka maka balaskan dendam Anda dan buat mereka menderita. Puaskan dendam Anda, sampai hati Anda merasa lega dan berdamai dengan masa lalu lalu mengambil jalan menuju masa depan yang lebih indah,' ucap Karina panjang lebar, dengan seringai di tengah ucapan membuat detak jantung yang berada di ruangan itu berdebar.
__ADS_1
Saran Karina sangat mengejutkan, hanya bagi Arion, Elina dan Marlena.
Li dan Gerry hanya mengulas senyum miring. Bunuh barulah berdamai. Merenggut barulah puas.
"Maksud Anda saya membunuh lelaki yang pernah menyakiti saya begitu?" Suara Marlena tercekat dan kaget bersamaan.
"Ya. Bunuh saja jika itu membuat hati Anda bisa berdamai dan Anda bisa merubah adat kelompok Anda agar kita bisa bergabung. Anda dapat menilai sendiri keuntungan bergabung dengan kami, senjata buatan Anda dan kelompok sangat bagus, pikirkan bagaimana jika itu digabung dengan teknologi kami. Anda dapat menggambarkannya sendiri," tutur Karina santai, mengoyangkan gelasnya.
Marlena diam. Ia melirik Elina. Ia juga mengedarkan pandangannya pada Karina, Arion, Li dan Gerry. Matanya seakan menguliti ketiga pria itu, namun tatapannya dibalas tatapan santai ketiga pria itu.
"Nak, apakah kau mencintai anak itu?" tanya Marlena pada Elina dan menunjuk ke arah Li, Li mengerjapkan matanya dan menatap Elina dengan hati penuh harap. Elina mengangguk malu setelah diam sesaat. Hati Li melonjak senang. Ia tersenyum penuh arti.
"Apa kau mau membantu ibumu ini menuntaskan dendam dan sakit hati yang selama ini ibu pendam? Bukan kah kau ingin ibu merubahnya?" tanya Marlena serius. Merlena terpengaruh ucapan Karina. Hati batunya seakan mulai muncul retakan.
"Tentu ibu. Asalkan kamu dan kita semua bahagia, aku pasti akan melakukannya. Tetapi apakah ibu juga akan balas dendam pada ayah?" jawab mantap Elina. Namun, diakhiri dengan keraguan di akhir jawaban. Marlena tersenyum simpul.
"Ayahmu tak bersalah. Maafkan masa lalu dan kekerasan hati ibu selama ini," ujar Marlena. Merlena kemudian menatap Karina.
"Anda benar. Pangkalnya adalah dendam dan sakit hati, maka ini harus saya akhiri," ujar Marlena pada Karina. Karina mengangguk. Sebentar lagi kata sepakat tercapai. Keyakinan bahwa rencana bergabungnya ini akan tercapai adalah Karina yang menyelidi masa lalu Marlena melalui Sahsa, makanya waktu di ruang rias Sasha sibuk dengan laptopnya.
"Apakah dengan begini kita resmi bergabung?" tanya Karina.
"Tentu. Kita bergabung," jawab Marlena.
"Apakah Anda akan merubah adat dan keyakinan Anda untuk itu? Saya tak mau kisah cinta kamu terhalang adat," tanya Li menatap lembut Elina. Elina tersipu.
"Hmm … tentu. Saya bersedia. Tetapi tunggu saya selesai dengan dendam saya maka kami akan datang kembali lagi kemari. Berikan saya waktu satu minggu," ujar Merlena mantap.
Sedetik kemudian, tepuk tangan bergema sebagai apresiasi atas berhasilnya kesepakatan. Marlena bukanlah orang jahat, dia berubah karena sakit hati dan cara merubahnya adalah menghilangkan rasa sakit hati dengan membalaskan jika tak bisa berdamai.
***
"Kami pamit ya," ujar Elina menjabat tangan Karina. Mereka kini telah berada di samping mobil mustang classic yang mereka bawa.
"Lebih baik kalian menginap saja di sini. Bukankah kau mau ziarah ke makam Enji? Kau juga belum bertemu dengan Miu," ujar Karina. Waktu menunjukkan pukul 18. 00. Cukup lama juga mereka berunding.
__ADS_1
Elina membulatkan matanya dan menepuk dahinya pelan. Lupa. Marlena mengerutkan dahinya. Merasa pernah mendengar kedua nama itu.