Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 171


__ADS_3

Rona jingga mulai terlihat di ufuk barat. Tak lama setelah itu matahari terbenam kembali ke peraduannya. Seusai magrib, satu persatu orang yang Arion dan Karina undang tiba di kediaman Karina. Dimulai dari Li, Gerry, Elina, Darwis juga Joya.


Diikuti Maria, Amri, Sam, Lila, Calvin dan Raina. Faisal dan Riripun sudah hadir. Tinggal Siska dan Ferry saja yang masih dalam perjalanan.


Halaman depan rumah yang luas sudah disulap menjadi tempat untuk acara BBQ. Para member masih berada di kamar masing-masing. Belum menampakan diri mereka. 


"Kak, habis Isya kah acaranya mulai?" tanya Sam menoleh ke arah Karina.


"Hmm," sahut Karina datar.


Sam mengangguk paham. Ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Li dan Elina yang asyik berdua, seakan dunia hanya berisi mereka berdua. Sam menyipitkan matanya melihat Li yang dengan irama teratur mengusap perut Elina.


"Kak Li istrimu hamil kah?" tanya Sam, membuat semua kecuali Karina, Arion, dan Gerry menoleh ke arah Li dan Elina. 


Li dan Elina terkesiap karena menjadi pusat perhatian. Tak lama mereka berdua tersenyum bahagia.


"Benar, Eli sedang hamil," jawab Li menatap lembut Elina.


Hal itu membuat semua bahagia. Ucapan selamat pun diberikan pada mereka berdua. Karina memberikan sebuah kado yang telah ia siapkan sebelumnya pada Elina. Elina menerima dan menyimpan kado itu dengan perasaan sangat bahagia. 


Namun, setelah kehebohan itu selesai, ada yang raut wajahnya berubah menjadi muram. Mereka tak lain tak bukan adalah Sam, Lila, Calvin dan Raina. 


Kedua pasangan itu saling pandang dan menghela nafas pelan.


"Padahal kami duluan yang menikah, tetapi Kak Eli duluan yang hamil," keluh Calvin. 


Keluhan itu ditanggapi oleh Karina yang sibuk dengan handphone-nya. 


"Memangnya usia pernikahan menentukan kehamilan? Aku saja tujuh bulan nikah baru hamil. Kalau sudah tahunan gak dapat-dapat baru bisa mengeluh. Ini baru sudah satu bulan, umur jagung pun belum tua, huh," ucap Karina sinis.


"Benar itu. Yang penting kalian jaga kesehatan, berdoa dan berusaha sebaik mungkin. Insyaallah akan diberikan kemudahan untuk harapan kalian. Mama paham betul apa yang membuat kalian berempat ini sibuk masalah kehamilan. Pasti orang tuamu kan, Sam, Calvin?" timpal Maria tersenyum.


"Benar Ma," jawab Sam, diangguki oleh Calvin.


"Ya sudah nanti Mama yang akan ngomong sama Mama kalian masing-masing untuk tak mendesak kalian, okey," ucap Maria.


Sam dan Calvin yang telah menganggap Maria dan Amri sebagai orang tua mereka, tersenyum cerah dan mengangguk.


"Jadi jangan sedih lagi." 


Keduanya kembali mengangguk. Mereka menggenggam erat jemari tangan istri mereka.


"Oh ya karena semua target untuk perjalanan bisnis kalian berdua tahun ini, maka kalian aku cutikan selama 2 hari. Terserah kalian mau ngapain tapi kalian dilarang bekerja baik selama dua hari itu biarpun di rumah, jelas?" 


Karina menatap bergantian Lila dan Raina. Lila dan Raina saling tatap, melihat wajah tegas nonanya, membuat keduanya mengangguk patuh.


Ini pasti cara kakak agar kami bisa beristirahat dan menjernihkan pikiran kami dari pekerjaan. Tak apalah, lagian kami juga bukan single seperti sebulan lalu, batin Lila dan Raina.


Tin … tin, suara klakson mobil dari luar gerbang, meminta agar gerbang dibuka. Pak Anton dengan sigap membukakan gerbang lebar-lebar. Karina tahu mobil siapa itu, tentu saja mobil Siska. 

__ADS_1


Mobil tersebut segera masuk dan parkir di dekat mobi lainnya. Tak lama keluarlah Siska diikuti Ferry. 


Semua yang hadir di halaman menatap Ferry heran. Ternyata kakinya masih belum sembuh total, jadi Ferry berjalan dibantu oleh tongkat penyangga tubuh.


Arion langsung bangkit dan menghampiri Ferry. Memberinya pelukan hangat.


"Welcome back my ferpect secretary," sambut Arion.


Ferry tersenyum canggung. Ia masih kehilangan ingatannya. Orang tuanya awalnya ragu menginzinkan Ferry kembali ke negara ini. Akan tetapi atas bujukan Ferry serta Siska yang berjanji akan menjaga Ferry dengan baik membuat keduanya luluh.


Ada baiknya juga, Ferry kan banyak menjalani suka duka di negara ini. Semoga saja dengan berada di sini dapat memulihkan ingatannya.


Siska menghampiri Karina dan memberi salam, begitu juga kepada yang lain.


"Duduklah Sis, kau pasti lelah setelah penerbangan yang jauh," tutur Raina.


Siska mengangguk dan langsung mengambil tempat. Ferry dengan Arion masih bercakap dengan berdiri. Ferry masih tampak bingung dengan apa yang Arion ucapankan.


"Tuan berhentilah sebentar. Kepalaku pusing mendengar semua ucapanmu," tegas Ferry, membuat Arion yang masih membahas awal mereka berjumpa diam.


Arion menghela nafas pelan. 


"Baiklah, lain kali akan ku ceritakan lanjutannya. Ayo duduk," ujar Arion.


"Oh ya apa Anda sudah tidak buta lagi?" tanya Ferry.


Arion menggeleng dan terkekeh.


"Benarkah? Kalau begitu aku senang. Ternyata ada perubahan dalam diriku." Ferry tersenyum puas. Ia segera berjalan dan duduk di samping Siska.


"Karina, dari tadi kita ngomong ini itu, tapi Mama belum kenalan sama dua orang ini, dari tadi mereka diam anteng menyimak, bisukah mereka?" 


Maria menunjuk Riri dan Faisal. Riri dan Faisal membelalakan mata mereka. Mereka diam karena mereka tak ada bagian untuk nimbrung. Mereka kan masih orang baru, masih menyimak arah bicara para manusia di sekitar mereka ini.


"Oh mereka Riri dan Faisal, dokternya Enji, mereka gak bisu Ma, cuma malas ngomong, tapi kalau sudah bisa menyatu dengan pembicaraan baru kedua ngomong," jelas Karina.


Maria dan lainnya yang baru mengenal Riri dan Faisal ber-oh-ria.


"Lantas di mana Enji dan Bayu? Mereka juga belum nongol," tanya Amri.


"Mereka masih keluar Pa, entah kemana perginya," jelas Arion.


"Wajarlah Pa, namanya juga baru ketemu, maunya berdua terus, iyakan Ri, Sal?" sahut Karina melirik Riri dan Faisal.


Riri dan Faisal tersenyum malu. Ingatan Riri tentang masa kecilnya telah kembali. Tepatnya setelah mereka menjalani hukuman dari Karina. Saat itu di waktu masih menjalani hukuman, Riri merasakan kepalanya sakit luar biasa. Hingga akhirnya pingsan, hukuman  berhenti otomatis jika yang terhukum sudah kehilangan kesadaran atau hukuman berakhir. Para penjaga yang melihat itu segera membawa Riri ke klinik markas dan mengobatinya. 


"Oh sudah kembali rupanya ingatanmu Ri? Berarti kau benar-benar batal untuk melamarku ya? Uh sedihnya aku. Kau memang pemberi harapan palsu padaku Ri," kesal Enji yang baru tiba dan langsung nimbrung. Bayu langsung menghampiri Amri dan Maria serta Karina dan Arion.


Faisal menatap tajam Enji, sedangkan Riri hanya tertawa. Enji duduk di samping Riri yang membuat darah Faisal mendidih.

__ADS_1


"Menjauh dari tunanganku Zi," tegur Faisal penuh tekanan.


"Tidak mau, enak saja kau suruh aku menjauh dari Ratuku yang cantik ini, kak restui kami menikah ya, kan pepatah bilang sebelum janur kuning melengkung masih bebas menikung. Jadi kakakku Sayang panggikan aku penghulu sekarang," pinta Enji menatap Karina. 


Riri refleks membulatkan matanya dan menggeleng. Sedangkan yang lain kecuali Karina, Faisal dan Bayu menjatuhkan rahang mereka.


Ini anak memang jantan, terlalu jantan atau terlalu jantan kuadrat. Berani sekali melamar tunangan orang di hadapan tunangan prianya, batin mereka.


Karina menunjukkan senyum tipisnya, tangannya meraih handphone hendak menelpon namun langsung ditahan oleh Faisal.


"Tidak! Enak saja kau. Dia itu ratuku, putri selendangku. Tapi boleh juga panggil penghulu untuk menikahkanku dengan Riri, lakukan saja Nona, aku sudah siap lahir batin untuk menjadi suami sah Riri agar tak ada lagi yang berani meningkungnya," ucap Faisal melirik sinis Enji. Enji menaikkan satu alisnya dan tersenyum tipis.


"Zi jangan buat orang salah paham, kau tahu kan siapa yang aku cinta, aku rindu dan aku ingat selama ini. Jadi yang lalu jika aku buat baper kamu jangan dimasukki ke dalam hati ya," pinta Riri.


Enji tersenyum  ke arah Riri dan memegang kedua tangannya.


"Aku tahu itu Ri. Kau kan tahu aku cuma bercanda, gak serius. Kamu juga jangan baper kalau aku baperin. Hehe mana ada yang gak baper kalau dibaperin, sudahlah kalau begitu, kak telepon penghulu markas, telepon dinas pencatatan sipil dan kementrian agama, kita nikahkan mereka malam ini juga, kalian pasti sudah ada surat-suratnya kan?" 


Enji berkata dengan semangat. 


"Wah ternyata Enji jadi berondong ya?" ucap Sam.


"Bukan berondong tapi Single Daddy, berondong apaan, sudah punya anak begitu," sahut Raina.


"Wah ternyata kita kalah sama anak ini. Usianya baru 23 anaknya sudah 6 tahun." Calvin tertawa menatap Enji. Enji acuh. Tak peduli kata orang.


"Ayah, ini acara BBQ untuk kesembuhan kak Arion dan kehamilan tante Elina. Bukan mau acara kawinan mereka berdua. Mereka besok pagi saja. Suruh pergi ke KUA, kan masuk masih menyandang status tunangan keluar kan sudah jadi suami istri," seru Bayu tidak setuju.


"Astaga Bayu, dari mana kamu dengar kata-kata itu? Masih kecil sudah tahu urusan asmara," heran Maria, ia merasa tak pernah membahas hal sensitif jika bersama Bayu.


"Ada dong Ma," sahut Bayu tersenyum.


Karina dan Arion kompak menggelengkan kepala mereka. Karina menyetujui ucapan Bayu. Tak berapa lama, suara azan Isya berkumandang. Mereka langsung tutup mulut. Dari yang mulainya ramai hening seketika.


Selepas azan, mereka beranjak dan bersiap menjalankan kewajiban. Hanya Siska serta Raina lah yang tidak. Keduanya tetap tinggal di halaman dan mengobrol.


Darwis dan Joya yang sedari tadi berada di ruang tengah Karina pun ikut melakukan sholat berjamaah. Sebagai iman, mereka menunjuk Amri sebagai yang tertua.


Ternyata hal itu tanpa sengaja menarik perhatian para member yang lewat hendak turun ke bawah. Ruangan untuk sholat berada di dekat tangga, jadi dapat dilewati oleh siapapun.


"Mereka sedang apa?" tanya Chimmy yang mengintip.


"Aku pernah lihat di video yuotube Daud Kim itu namanya sholat kalau tidak salah ya," ujar Koya.


"Oh, mereka sedang ibadah ya?" sahut RJ.


"Iya, sudahlah ayo kita menuju halaman, gak bagus juga kita mengintip," ajak Kuki.


"Hm," sahut keenam hyungnya.

__ADS_1


***


__ADS_2