
"Arion My Hubby," panggil Karina saat melangkahkan kakinya memasuki ruangan Arion.
"Eh … Sayang. Kamu kok kemari? Padahal aku bersiap untuk turun." Arion berdiri dari kursi kebesarannya dan merentangkan tangannya meminta pelukan.
Karina meletakkan kotak bekal di meja dan memeluk Arion.
"Memangnya gak boleh?" tanya Karina mendongak menatap Arion.
Arion tersenyum manis.
"Kamu gak boleh lelah Sayang. Mulai besok aku akan turun saja ke cafe," ujar Arion mencolek hidung Karina.
Karina memanyunkan bibirnya.
"Aku mau menu pembuka dulu." Arion berkata serius. Karina memicingkan matanya.
"Aku lupa bawa menu pembuka. Cuma menu utama dan menu penutup," ucap Karina memberitahu. Arion terkekeh pelan.
"Kamu selalu bawa kok menu pembukanya." Arion menunjukkan bibir Karina. Karina terdiam dan sedetik kemudian melebarkan matanya.
"Dasar mesum!" kesal Karina memukul pelan lengan Arion. Arion tertawa renyah.
Karina melepas pelukannya dan bersiap melarikan diri.
Grep.
"Umh?" erang Karina saat Arion menahan dan menarik tangannya. Kini bibir mereka bersatu. Arion segera memangut bibir ranum istrinya. Memejamkan mata menikmati kemanisan yang terasa.
Karina akhirnya pasrah bibirnya menjadi menu pembuka makan siang Arion. Semoga saja menu utama benar-benar makan siang yang ia bawa bukan yang aneh-aneh. Karina Mengalungkan tangannya di leher Arion dan membalas ciuman suaminya.
"Tuan muda, saya permisi ke bawah," ucap Ferry yang ingin makan siang di bawah. Lebih dulu izin agar Arion tak marah-marah nantinya apabila Ferry tak menyahut panggilannya.
Mata Ferry refleks menutup, badannya kaku menyaksikan Tuan dan Nyonya mudanya asyik berciuman.
Ck. Makan siang yang spesial, gerutu Ferry dalam hati. Matanya kembali ternoda.
Ferry segera berbalik dan menutup pintu perlahan melangkahkan kakinya menuju lift turun ke bawah. Menemui kekasihnya dan makan siang.
"Bagaimana rasanya berciuman ya? Apa Siska mau ku ajak berciuman?" gumam Ferry di tengah perjalanannya.
Lima menit kemudian. Arion menyudahi ciumannya. Karina mengelap bibirnya dengan punggung tangan.
"Kok dilap sih?" tanya Arion sedikit tak suka.
"Risih saja," sahut Karina berbalik. Mengambil posisi duduk di sofa. Arion mengikut.
"Sayang … kamu sudah makan?" Arion bertanya sekaligus membantu Karina menyiapkan makan siang di meja.
"Belum. Maunya sama kamu." Karina menjawab enteng. Arion mengulang senyum senang. Dengan cepat ia beranjak dan mencuci tangannya di kamar mandi. Karina cuek.
Tak berselang lama, Arion kembali mendudukan bobot tubuhnya di dekat Karina.
"Kamu dan anak kita makan dulu," ucap Arion mulai menyuapi Karina langsung dari tangannya.
Karina merapikan anak rambutnya yang agak berantakan dan melahap suapan Arion. Selagi Karina mengunyah, Arion menyuapi dirinya sendiri.
Lima belas menit kemudian, selesai sudah makan siang mereka berdua. Tinggal menikmati menu penutup.
"Sayang, aku masih penasaran dengan kelompok yang menyerang kita di pasar malam. Kau belum memberitahuku."
Arion menatap Karina serius. Ia memang mengabaikan masalah itu, sebab masih dalam masa honeymoon, apalagi ditambah hadirnya sahabat dan orang tuanya. Tapi itu beberapa hari kemarin, sekarang ia harus mencari tahu.
"Mereka kelompok Cinnamon. Aku pernah berurusan dengan mereka." Karina menanggapi santai perkataan Arion. Seakan itu bukan masalah baginya.
__ADS_1
"Masalah apa? Ternyata benar kau kebanyakan musuh ya." Arion terkekeh lagi. Pusing dengan istrinya yang banyak musuh. Ini sepertinya terbalik. Harusnya dialah yang banyak musuh, dan Karina yang menjadi incaran.
"Aku membawa lari calon pengantin pria pimpinan mereka," jawab Karina memainkan jari telunjuknya. Arion menjatuhkan rahangnya. Tak ada luapan emosi. Hanya shock dan takjub. Tak lama Arion memicingkan matanya.
"Bagaimana bisa? Lalu di mana dia?"
Karina menghela nafas pelan. Wajahnya meneduh.
"Ceritanya lumayan panjang. Jika di mana dia sekarang, dia berada di tempat akhir jasad manusia beristirahat. Tempat di mana kita berasal. Kau mengenalnya walaupun sebentar," jelas Karina menitikkan air matanya. Arion tercekat.
Aku mengenalnya? Dan dari kata-kata Karina berarti dia sudah tiada? Miris sekali. batin Arion.
Ada rasa cemburu di hatinya. Merasa bahwa orang itu adalah cinta pertama Karina. Padahal Karina secara tegas mengatakan bahwa ia tak punya mantan.
Arion berpikir sejenak. Mancari orang yang tepat sesuai penjelasan samar Karina.
"Apa dia Enji? Adik angkatmu itu?" Arion mencoba menerka dengan ragu. Karina mengangguk.
"Ya dia Enji. Satu hal lagi, jangan sebut dia adik angkat. Dia adikku. Tak peduli dari mana asalnya, akulah yang merawatnya satu dekade lebih," tegas Karina.
"Baik. Maafkan aku," sesal Arion.
"Ada satu hal lagi yang membuatku mengincarku," tambah Karina. Arion mengatur posisinya seserius mungkin.
"Apa itu?" tanya Arion penasaran.
"Aku mengambil Miu dari mereka. Miu adalah hewan kesayangan pimpinan Eli, tetapi karena aku menyukainya aku main comot dan bawa lari saja sih Miu. Lagian diminta baik-baik pun gak bakalan dikasih. Hehehe … aku hebat kan?"
Karina tertawa. Mengingat wajah merah padam dan jengkel pimpinan kelompok Cinnamon, Elina.
Arion mengerjapkan matanya, berusaha mengingat Miu.
Apa aku sudah tua ya? Bahkan aku sering lupa. Miu … Miu … nama yang familiar. gerutu Arion dalam hati.
"Ya. Jika tak salah ingat dia macan kumbang yang kau bawa ke apartemen kan?" jawab Arion mantap.
"Ya," ucap Karina.
"Lantas apa rencanamu?" tanya Arion memundurkan wajahnya agak telat sih.
Karina menarik wajahnya. Duduk dengan bersilang kaki.
"Tunggu saja."Karina menyeringai.
Jangan tunjukkan seringaimu Karina. Kau membuatkanku ciut bak kerupuk disiram kuah. keluh Arion mengusap tengkuknya yang merinding.
Lima menit kemudian, Karina membereskan kotak bekal dan pamit pada Arion.
"Hati-hati Sayangku. Perhatikan langkahmu," peringat Arion pada Karina sebelum Karina benar-benar menutup rapat pintu ruangannya.
"Baik My Hubby," sahut Karina tegas. Arion tersenyum. Ia mengambil handphone dan menghubungi Calvin.
"Ya Ar. Ada apa?" sahut Calvin dari ruang kerjanya. Tentu saja terhubung via panggilan.
"Tolong selidiki kelompok Cinnamon. Gue butuh informasinya secepat mungkin," titah Arion.
"Hah? Cinnamon? Ada urusan apa loe sama mereka?"
Calvin tersentak di kursi kepemimpinanya. Arion menautkan alis bingung mendengar reaksi Calvin.
"Mereka hampir membunuh Kakak iparmu," ujar Arion.
"What? Beraninya mereka. Awas saja jika aku bertemu salah seorang dari mereka. Aku ku jadikan mereka sate. Tapi sayang, mereka cantik semua."
__ADS_1
Calvin terdengar geram. Namun, diakhiri dengan candaan.
"Awas kalau mata loe mata keranjang. Gue aduin loe sama Raina. Biar loe yang digulai sama Raina," ancam Arion.
Bukan apa, Arion lebih takut amarah Karina jika mengetahui calon suami bawahannya matanya jelalatan alias mata keranjang.
"Iya-iya. Gue tahu. Tapi gue cuma setia sama Raina walaupun banyak wanita cantik bertebaran. Btw, loe juga jaga mata dan hati. Kalau enggak gue gak segan-segan laporin loe juga ke kakar ipar. Biar ucapan Kakak ipar terbukti. Loe dijadiin soto. Haha…," ancam balik Calvin memperingati Arion.
"Aman itu. Intinya jaga semuanya hanya untuk pasangan kita. Jangan pernah berpaling apalagi selingkuh dan mendua. Rasanya sakit tapi tidak berdarah," bijak Arion.
"Tapi ada loe yang berdarah. Misalnya kalau ada yang frustasi biasanya kan banyak yang mencoba mengakhiri hidupnya," ralat Calvin mengomtari kata-kata Arion.
"Jangan sampai lah. Kasihan jika meninggal. Arwahnya gak diterima di manapun. Sudah sakit hati, mati gak diterima di mana pun, ditambah lagi kena murka Tuhan. Paket komplit deh. Sudah jatuh tertimpa tangga tertimpa siksa lagi."
Arion bergidik ngeri membayangkan ucapannya sendiri. Sedangkan di ruangannya, Calvin termenung meresapi perkataan Arion.
"Kok jadi ngelantur toh? Kita kan bahas masalah Cinnamon?" tanya Calvin.
"Gak papalah," sahut Arion.
"Bagaimana. Bisa kan?" tanya Arion.
"Oke. Akan gue selidiki," jawab Calvin.
"Thanks Vin," ucap Arion tulus.
"Iya," balas Calvin singkat. Arion mengakhiri panggilan.
Ia mendesah pelan dan beranjak menuju kursi kepemimpinnya. Mulai berkutat lagi dengan dokumen dan berkas di atas meja.
****
"Sialan. Sepertinya penyakitku ini butuh pelampiasan. Tapi di mana? Gak mungkin aku melakukannya pada orang yang tak bersalah?" gumam Karina.
Lebih baik aku keluar dulu. Mencari tempat untuk pelampiasan, putus Karina dalam hati. Menyambar kunci mobil dan tas selempangnya.
"Sis jaga cafe. Saya pergi dulu," ujar Karina saat melewati meja Siska.
"Oke Bos," sahut Siska mengacungkan kedua jempol tangannya.
Karina segera menuju mobilnya. Menghidupkan mesin dan melajukannya entah ke mana. Mengikuti saja arah kata hatinya. Satu jam berlalu. Karina menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Tahan Karina. Ada saatnya kau menghabisinya.
Karina gemetar dalam diamnya, memejamkan mata dan bersandar. Tak lama Karina membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke sekitar wilayah di mana dia menepi.
Ada sebuah bangunan masjid di sisi ia menepi. Karina ingat. Ini adalah masjid raya kota.
Dengan cepat Karina membawa mobilnya memasuki halaman masjid menuju parkiran. Karina langsung membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya menuju tempat berwudhu. Bersiap mengaduh dan bersujud pada Sang Khaliq.
Hanya kepadamu lah aku mengadu dan memohon pertolongan. Engkaulah sang maha penyembuh. Hamba mohon bantulah hamba menghilang kan penyakit ini. Bantulah hambamu yang penuh dengan dosa ini. Hamba ingin meninggalkan dunia hitam dan menjadikan Pedang Biru sebagai mafia yang bersih dari bisnis gelap.
Duhai Sang Maha Kuasa, bimbinglah hamba agar tak gelap mata lagi. Bantulah hamba menahan diri agar tak menjadi malaikat maut bagi Paman hamba sendiri. Hamba lelah berkutat dengan dendam. Tetapi hati tak bisa menerima. Tak terhitung lagi jumlahnya laranganmu yang hamba langgar.
Ya Tuhan, tempatkanlah kedua orang tuaku sebaik-baiknya di sisimu. Sayangi lah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil dan di dalam kandungan. Amin.
Karina mengakhiri doanya. Kelegaan ia rasakan. Walaupun dia mafia, keyakinannya tetapnya islam. Sejak usianya menginjak 22 tahun, Karina mulai fokus belajar tentang keyakinannya. Belajar dari pemuka agama baik di kota ini maupun di luar.
Karina selalu berusaha melupakan dendamnya, namun apa yang ia rasakan selama ia hidup dan kejinya para pembunuh keluarganya membuat hatinya masih saja membatu.
Tapi, Karina pernah membaca tentang Ibnu Hajar. Ya mana sebesar dan sekokoh apapun batu, akan kalah dengan tetesan air yang menghantamnya. Jika sekali memang tak berefek, namun jika berlangsung terus-menerus pasti batu itu akan hancur dengan sendirinya.
"Semoga saja, aku bisa berdamai. Aku lelah," gumam Karina meninggalkan bangunan utama masjid, memakai alas kakinya dan kembali menuju mobil.
__ADS_1
_____________________________________