
Karina menghembuskan nafas kasar. Matanya yang tajam menatap dingin ke luar jendela. Tangan Karina mengepal, ada gejolak emosi yang ia tahan. Terakhir Karina hanya bisa mendengus.
"Mood pagiku jadi buruk mendengar ucapanmu, Mira. Kau mengecewakan diriku. Kau memang cerdas Mira, tapi hanya cerdas di satu bidang. Hati dan fisikmu masih lemah. Aku khawatir kau bisa jadi bumerang bagi kami terutama Gerry. Jadi, jangan salahkan aku jika aku memberimu pelajaran yang akan kau ingat seumur hidup!"
Karina menarik senyum smirk.
"Bagai kuda? Ilustrasi yang menarik. Tapi sayangnya, mereka telah merasakan hidup lebih keras dari seekor kuda."
Karina terkekeh. Ia mendengar semua ucapan Mira. Awalnya ia hanya penasaran dengan pembicaraan Mira dan Elina.
Karina tidak tersinggung saat Mira mengkritik dirinya. Ia sudah sering mendengar hal itu.
Bahkan komentar di luar sana terkadang lebih pedas. Tapi jika Mira menghina ataupun mengkritik bawahannya, Karina tidak bisa berpangku tangan.
"Tapi … ada baiknya juga. Setidaknya aku tahu Elina sudah sepenuhnya mempercayai diriku. Elina, kau pantas mendapat hadiah!"
Karina menutup tirai dan jendela. Karina kemudian bangkit dan memutar tubuhnya dengan tersenyum misterius.
Karina terdiam sesaat melihat Arion yang keluar dari ruang ganti hanya dengan menggunakan celana pendek di atas lutut, kau hitam tipis yang sebatas ketiak, tak ketinggalan handuk kecil menggantung di leher.
Kaki jenjang yang putih dengan betis yang padat, lengan yang berotot, dada bidang dan perut yang tampak menerawang, serta fitur wajah rupawan terutama bibir tipis sukses membuat mata Karina terfokus hanya pada Arion.
Bahkan Karina menatap Arion dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Arion tersenyum mendapati Karina yang terpana dengan dirinya. Dengan langkah lebar, Arion melangkah dan berhenti di hadapan Karina.
Sial. Ini terlalu menggoda. Pria berbaju hitam memang mempesona, runtuk Karina seraya memalingkan wajah.
"Sayang, ada apa? Mengapa kau memalingkan wajah? Apa aku kurang menarik?"tanya Arion, pura-pura bingung padahal sedang menggoda.
Dasar kampret! Beraninya kau pura-pura di depanku! gerutu Karina.
Jantungnya terpacu seakan sedang lomba lari. Karina segera memanipulasi ekspresi wajahnya.
"Hm apa?"tanya Karina menatap Arion.
"Hei mengapa wajahmu memerah? Aku kira aku kurang menarik lagi, ternyata kau malu. Ayolah Karina, kau bahkan sudah melihatku luar dalam, mengapa masih malu?"goda Arion, memegang dagu Karina.
Mata mereka bertemu, saling menatap dalam yang mana membuat rona merah yang sudah memudar bersemu kembali.
"Lihat kau merona lagi," ucap Arion tertawa kemudian memberi kecupan hangat pada bibir Karina.
"Ah kau menyebalkan," gerutu Karina, wajahnya berubah kesal seketika.
Arion tetap tertawa.
Belum puas menggoda Karina, Arion melangkah ke belakang Karina dan memeluk Karina dari belakang. Karina terperanjat. Arion meletakkan rahangnya di pundak Karina.
Dengan jahil ia menghembuskan nafas di telinga Karina. Wajah Karina kembali memanas. Telinganya terasa geli. Ia menggeliat.
"Hem … apa kau terangsang Sayang?"bisik Arion.
Ck, suami merakku ini sedang bermain denganku kah?
"Biarpun aku terangsang, aku juga tidak akan melakukan hal itu," sahut Karina.
"Kau sanggup menahannya?"tanya Arion, semakin jahil dengan menggigit telinga Karina.
"Aih hentikan," pinta Karina.
Hatinya memanas, hasrat berkumpul pada satu titik.
"Jika aku melepaskannya, kau tidak akan sanggup!"ancam Karina.
"Nafsu makanmu memang besar Sayang. Aku tidak keberatan, bisa membuatmu senang adalah kebahagiaanku," ujar Arion.
"Begitukah?"tanya Karina.
"Ya."
Selesai menjawab, Arion terperanjat kaget sekaligus meringis sakit dengan memegang perutnya. Karina berbalik dan menatap santai Arion.
"Sayang mengapa KDRT lagi? Sikuan ini bisa membuatku cedera," protes Arion.
"KDRT ya? Kau sendiri yang mengatakan bahwa selama aku senang kau bahagia, dasar pelupa!"ucap Karina.
Arion mendengus.
"Sayangku memang berbeda. Ya sudah, aku mau keluar."
Dengan tetap memegang perut, Arion melangkah hendak keluar kamar.
"Tunggu!"teriak Karina.
Arion yang baru saja memegang handle pintu refleks menoleh.
"Ada apa?"
"Mau kemana dengan pakaian kurang bahan itu?"tanya Karina dengan wajah garangnya.
"Jogging, masa' ke kantor?"jawab Arion santai.
Brak!
Karina memukul meja yang berada tidak jauh darinya. Wajahnya sangat kesal. Bersiap untuk meledak.
"Kau jogging dengan penampilan seperti itu? Kau mau olahraga apa menggoda anggotaku hah? Kau mau menodai mata suci mereka? Ganti pakaianmu!"teriak Karina.
Aroma cemburu dan mode posesif aktif dalam diri Karina. Arion menaikkan satu alisnya.
"Bukankah ini normal untuk jogging?"heran Arion.
Aduh, ini peka apa tidak sih? Istri sudah meledak malah pura-pura tidak tahu.
"Normal? Ini kau bilang normal?"
"Ya. Dan ya sudah. Aku akan cepat kembali," ucap Arion, memutar handle pintu.
"Heh? Berani kau keluar dengan pakaian itu, sekalian tidak usah masuk ke dalam kamar lagi! Dasar suami tidak peka!"kesal Karina, mengeluarkan ancaman yang sukses membuat Arion melangkah lebar menghampiri Karina.
"Sayang, jangan marah. Aku hanya bercanda. Jarang sekali melihatmu cemberut seperti ini. Kamu adalah satu-satu wanita dalam hidupku," rayu Arion.
__ADS_1
Karina berdecak sebal.
"Hmph! Keterlaluan!"ketus Karina melangkah menuju ruang walk in closet.
Karina keluar dengan membawa celana olahraga panjang dan kaos yang lebih tebal dengan lengan sesiku.
Karina lalu memberikannya pada Arion.
Wanita cemburu memang luar biasa. Arion tersenyum lebar seraya berganti pakaian, ia tidak canggung berganti di depan Karina.
Selesai berganti pakaian, Arion segera keluar kamar untuk olahraga pagi. Sedangkan Karina sendiri melangkah untuk minum.
*
*
*
"Mengapa kau menunduk Mira? Bukankah tadi kau tadi sangat energik? Kemana hilangnya keberanian itu?"tanyanya.
"Aku … Karina apa kau mendengar obrolanku dan Elina?"tanya Mira tergagap.
"Ini wilayahku. Aku bisa mendengar apa saja yang ingin aku dengar," jawab orang tersebut yang tidak lain adalah Karina.
Secara naluri, Mira langsung berlutut dan meminta maaf pada Karina.
"Kau wanita cerdas Mira. Tapi kau kurang pengamatan dan analisa. Tidakkah kau pernah bertanya bagaimana Elina dan Li bersatu? Mira … aku sudah lama bersama dengan mereka. Tidak ada yang lebih mengerti tentang mereka selain diriku, termasuk Satya. Jika Satya menerima pernikahan tersebut, maka di dalam hatinya hanya akan bertekad untuk membangun rumah tangga yang baik. Tidak semua pernikahan berlandaskan cinta. Tapi cinta bisa hadir di dalam sebuah pernikahan," papar Karina tegas.
Mira tetap menunduk.
"Untuk itu, kau harus belajar lebih dalam mengenai Pedang Biru. Bukan hanya untuk kepentingan dirimu, tapi juga kepentingan bersama. Kau uruslah cuti selama sebulan hari ini. Pembelajaranmu akan dimulai lusa. Sembari belajar, aku harap kau memperbaiki apa yang kurang dan mempertahankan apa cukup!"
Karina menjatuhkan hukuman pada Mira dengan belajar dasar-dasar mengenai Pedang Biru. Mira membulatkan matanya.
Belajar?
Ini hukuman kah?
Karina memang sulit dipahami.
Akhirnya Mira sedikit paham ucapan Elina.
"Aku menerimanya, Queen!"jawab mantap Mira.
"Sudah seharusnya!"sahut Karina, melangkah meninggalkan Mira.
Mira berdiri saat Karina menjauh. Ia bergegas kembali ke kamar.
Cara Karina dalam menghukum bawahan yang melakukan kesalahan bukan hanya hukuman fisik.
Karina lebih sering menghukum dengan mengirim mereka mengikuti pembelajaran tertentu sembari mengoreksi diri sendiri.
Jadi bukan hanya rasa takut dan hormat yang bertambah, tapi ilmu dan pengalaman juga bertambah. Jadi sebuah hukuman tidak akan menghambat perkembangan seorang anggota.
*
*
*
Bayu menutup kepala dengan bantal, ia masih ngantuk berat. Tak lama ia tertidur, sudah azan. Selesai salat subuh, Bayu kembali tidur dan kini tidurnya diganggu oleh seseorang.
Ahhhhgggkkkk … siapa yang mengganggu tidurku? pekik Bayu dalam hati, semakin memejamkan mata.
Sedangkan di luar, Syaka terus mengetuk pintu kamar Bayu. Ia hanya mengetuk, enggan untuk memanggil.
Jika bukan karena perintah Tuan Li, malas aku membangunkan harimau berwajah kucing ini!gerutu Syaka.
Wajahnya saja sudah kusut.
Ini anak tidur apa mati? Tahan sekali ia dengan suara ribut ini? Apa Bayu punya telinga badak?
Syaka sedikit heran pintu tak kunjung terbuka.
"Woi Bayu bangun loe! Matahari sudah naik woi. Loe mati atau gimana?"teriak Syaka yang sudah jengah menunggu, menggedor pintu.
Benar saja, pintu langsung terbuka. Bayu keluar wajah kusut dan kesal. Syaka menatap Bayu, pakaian kusut, mata panda, rambut tidak rapi dan secuil kotoran di sudut mata.
"Ada apa hah?"tanya Bayu seraya menguap.
Syaka sontak menutup hidung. Anak ini termasuk tipe pembersih.
"Queen memanggil kita berdua. Aku disuruh Tuan Li membangunkan dirimu, lalu bersama ke ruangan Queen," jawab Syaka.
Bayu yang setelah itu hendak meledak langsung membuka lebar mata.
"Oh … aku bersiap dulu," ucap Bayu hendak menutup pintu tapi ditahan oleh Syaka.
Tanpa meminta izin, Syaka masuk ke kamar Bayu.
"Hei siapa yang mengizinkan kau masuk?"pekik Bayu mengejar langkah Syaka.
"Jam berapa kau tidur? Matamu sudah melebihi mata panda," tanya Syaka sembari mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.
Hanya ranjang saja yang seperti kapal pecah. Sprei acak-acakan, bantal yang hampir lepas dari sarungnya serta selimut yang jatuh ke lantai. Bayu yang kini berdiri di samping Syaka berdecak sebal.
"Bukan urusanmu," sahut Bayu, ketus.
"Keluarlah dari kamarku. Kalau mau nunggu, tunggu saja di depan jangan di dalam," usir Bayu, berusaha mendorong Syaka.
"Kau cepatlah bersiap, aku akan merapikan ranjangmu," suruh Syaka.
"Kau memerintahku?"
"Aku melaksanakan tugasku, selama seminggu menjadi pelayanmu," jawab acuh Syaka.
Ia berjongkok untuk mengambil selimut.
"Heh?"
"Cepatlah, Queen bukan orang penyabar," ucap Syaka, melipat selimut.
__ADS_1
"Hmhp!"
Bayu segera bersiap. Mandi dan berpakaian. Sedangkan Syaka mulai merapikan ranjang.
Tak butuh waktu lama, ranjang sudah rapi. Syaka duduk di tepi ranjang. Ia menoleh ke arah nakas saat mendengar suara notifikasi.
Ada sebuah handphone di sana, layarnya menyala. Dapat dipastikan itu milik Bayu. Hati Syaka berbisik penasaran. Ia mengambil handphone tersebut.
Ah sial!
Syaka lupa bahwa tidak mungkin barang milik Bayu dapat dengan mudah disentuh orang lain.
Syaka berniat kembali meletakkan handphone. Namun wallpaper layar kunci Bayu menarik perhatian Syaka.
"Ini keluarga lengkap Queen dan Bayu kah?"
Foto itu adalah foto yang diambil waktu peresmian panti asuhan, dengan pakaian couple.
"Apa yang kau lakukan?"
Syaka menoleh ke samping. Bayu yang sudah dengan wajah tidak bersahabat segera menyambar handphone miliknya.
"Keluargamu sangat harmonis, tapi aku melihat ada yang kurang. Di mana ibumu?"tanya Syaka.
Ia tidak tahu mengenai latar belakang Bayu. Wajah Bayu berubah drastis. Ia menunduk, terlihat sedih.
"Ah … aku minta maaf. Aku sungguh tidak tahu," sesal Syaka.
"Tidak apa. Dia meninggal saat melahirkanku," jawab Bayu.
"Aku sungguh minta maaf."
"Lupakan. Ayo kita ke ruangan Queen," ucap Bayu.
"Baiklah."
*
*
*
Li tiba duluan di ruangan Karina daripada Elina. Ia penasaran ada hal apa yang menyebabkan ia dan istrinya dipanggil kemari.
Tak berapa lama Elina tiba dengan raut wajah tegang. Ia menatap Li, Li menggeleng.
Sejak Li masuk, Karina tidak buka suara dan tetap fokus pada tumpukan dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani.
"Sudah datang?"
Karina mengangkat pandangannya, menatap bergantian Li dan Elina. Kedua orang itu mengangguk.
"Apakah kami melalukan kesalahan?"tanya Li, khawatir.
"Menurut kalian?"
"Aku tidak tahu," jawab Li.
"Aku merasa tidak melakukan hal yang salah. Atau?"
Mata Elina membulat.
"Kau mendengar obrolanku dan Mira tadi?"
Karina mengangguk.
"Itu salah satunya."
"Apa aku mengatakan hal yang salah? Aku kan membelamu?"
Elina tidak terima serta bingung. Li yang sudah mendengar pertengkaran Mira dan Elina, tidak ingin ikut campur. Li hanya mengamati.
"Kalian menggosipkan diriku," jawab Karina acuh.
"Kau?!
"Eli," ucap Li menahan emosi Elina.
Karina malah tersenyum lebar.
Elina menghembuskan nafas kasar. Sungguh ia tidak akan pernah mengerti jalan pikir Karina.
"Jika begitu, aku akan menerima hukuman darimu."
Elina menunduk. Karina mengalihkan tatapan kepada Li.
"Laporan acara peresmian kapal itu belum juga ada? Apa kau berleha-leha Li?"
"Mengenai itu, aku masih mengurusnya. Tolong beri aku sedikit waktu untuk menyelesaikannya," jawab Li, menunduk.
"Baiklah. Hari Selasa harus kau kirim. Dan untuk hukuman kalian berdua …."
Karina menarik laci dan meletakkan dua benda di atas meja. Elina dan Li mengangkat wajah, penasaran.
"Kalian bebas dari segala urusan pekerjaan khusus hari. Pergilah bersenang-senang. Gunakan kartu ini untuk pengeluaran kalian, ini unlimited di semua cabang toko KS Tirta Grub," ucap Karina, mendorong kartu berwarna gold ke hadapan Li.
Elina dan Li tentu saja mengerutkan dahi bingung.
"Dan ini adalah kartu akses untuk masuk ke lantai VVIP. Kalian bebas memilih kendaraan di garasi. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin," lanjut Karina, mendorong kartu berwarna hitam dengan tulisan berwarna gold, sangat elegan.
"Ini madu sebelum racun?"tanya Li, merasa tidak nyaman dan tidak percaya.
"Aku lebih suka memberi racun sebelum madu," sahut Karina.
"Adakah hukuman seperti ini?"tanya Elina.
"Tidak usah banyak tanya. Segeralah bersiap. Waktu kalian terbatas. Have a nice day," tegas Karina, kembali fokus pada dokumen di tangan.
Keduanya orang itu saling tatap, berdiskusi kemudian mengangguk.
"Terima kasih Queen," ucap kedua.
__ADS_1
Karina hanya memberikan senyum tipis. Kedua orang itu bergegas keluar dari ruangan Karina.
"Kalian juga butuh waktu berdua dan bebas dari tanggung jawab," gumam Karina.