Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 98


__ADS_3

"Maksudnya adalah yang terjadi adalah …," jelas Sam menceritakan apa yang terjadi.


Flashback On.


Sesampainya di depan pintu kamar Sam, Lila mengetuk pintu seraya memanggil Sam. 


"Sam?" panggil Lila.


Tak ada jawaban. Lila mengerutkan dahinya. Sekali lagi ia memanggil Sam dengan suara yang lebih keras dan mengetuk pintu lebih kuat.


"Sam kamu di dalam gak?" panggil Lila lagi. Tetap saja tak ada jawaban.


"Woi Sam kamu di dalam gak? Kalo di dalam buka pintunya kalo enggak aku dobrak nih pintu," seru Lila kesal.


Akhirnya Lila menyentuh knop pintu dan memutarnya, memastikan dikunci apa tidak.


"Gak dikunci?" gumam Lila langsung masuk ke kamar Sam. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.


Ranjang yang kosong dan amburadul. Selimut jatuh teronggok di lantai. Televisi hidup namun dengan volume suara yang rendah. 


Potret keluarga Anggara mulai tergantung manis di dinding di atas ranjang. Di sampingnya ada foto Sam mulai dari kecil hingga tamat kuliah.


Samar-samar Lila mendengar gemircik air. Lila menajamkan pendengarannya seraya mengambil selimut dan merapikan di atas ranjang, membenahi ranjang yang amburadul.


"Nih anak bangun tidur jam berapa? Tempat tidur gak diberesin. Jangan-jangan mandinya pun mandi burung," gumam kesal Lila. Selesai merapikan ranjang, Lila beranjak mendekati jendela, menyibak tirai gorden dan jendela agar udara dan cahaya masuk dengan leluasa.


Tangan kanannya bertumpu pada bingkai jendela, menatap taman yang terbentang di halaman depan kediaman Anggara. 


"Siapa kamu?" tanya seseorang dari belakang. Lila berbalik dan menoleh ke sumber suara. Matanya membulat seketika.


Wajahnya memanas. Ia yakin pasti wajahnya memerah sekarang. Sam keluar dengan menggunakan handuk dengan handuk kecil mengeringkan rambutnya. Tak lama Lila merasa ada yang keluar dari hidungnya. 


"Anggi? Kamu ngapain di kamar aku? Tanpa izin lagi," tanya Sam heran mendekati Lila yang masih terdiam.


"Mimisan lagi kamu? Gak pernah lihat tubuh pria memangnya?" tanya Sam lagi. Lila sontak menggeleng sebagai jawaban tidak.


"Aku ... aku disuruh Papa bangunin kamu. Katanya tadi kamu belum keluar kamar. Lagian dari tadi aku gedor-gedor pintu gak dibukain ya sudah aku masuk saja. Gak dikunci juga kok," jawab Lila berusaha menggapai kotak tisu di meja di dekatnya.


"Owh? Aku kira kamu mau ngintip aku," ucap Sam berhenti selangkah dari Lila.


"Ngapain aku ngintip? Toh bentar lagi juga halal," celetuk Lila masih berusaha menggapai kotak tisu. Bukannya tisu yang didapat, malah tanpa sengaja menjatuhkan cangkir berisi minyak zaitun ke lantai.


Sam memang biasa mengonsumsi minyak Zaitun. Selain itu perawatan kulit dan wajah pada wanita alias untuk kecantikan, minyak zaitun punya segudang manfaat bagi pria. Selain meningkatkan vitalitas juga dapat mencegah kanker, menjaga kesehatan jantung, menurunkan kolesterol, dan lain sebagainya.


Klontang.


Mata Sam membulat. Lila tersenyum canggung. 


"Maaf gak sengaja," cicit Lila memelas.


"Hmm … ya sudah. Kamu tunggu aku di luar. Aku mau ganti baju," ujar Sam berbalik. Mengedarkan pandangannya ke arah ranjang. 


Perhatian juga calon istriku ini, batin Sam tersenyum senang.


 Ia berjalan mendekati walk in closet, mengambil pakaian untuknya. Lila masih diam di tempat dan menghapus darah yang keluar dari hidungnya.


"Kamu ngapain tetap di situ? Mau lihat aku ganti baju? Aku sih gak keberatan,"ucap Sam.

__ADS_1


"Eh gak. Aku keluar sekarang," sahut Lila melangkahkan kakinya beranjak.


Tanpa sengaja, kakinya terpeleset karena lantai yang ketumpahan minyak zaitun yang belum dibersihkan. Otomatis Lila terjatuh menghantam kerasnya lantai. Kepalanya terantuk lantai. Sam menahan tawanya. Kecerobohan Lila adalah salah satu poin yang membuatnya jatuh hati.


"Auh … sakit banget. Siapa sih yang kurang kerjaan numpahin minyak di sini?"cgerutu Lila berusaha duduk.


"Kan kamu tadi yang numpahin? Lupa kamu ya?" tanya Sam menyilangkan tangannya. Handuk kecilnya ia sampirkan di bahu.


"Iya juga ya? Ceroboh banget sih aku,"ucap Lila terkekeh pelan. Lila segera berusaha bangkit. Sayangnya ia kembali jatuh. Pergelangan kaki kanannya agaknya terkilir.


"Sam bantuin. Kaki aku terkilir," rengek Lila berkaca-kaca.


Sam mendekati Lila dan menggendongnya.


"Eh? Kok malah digendong sih? Bukannya pijitin?" keluh Lila.


"Iya bawel. Pijatnya di sofa saja," jawab Sam menurunkan Lila di sofa, kemudian mengganti pakaian dan mencari minyak urut.


Lila memijat pelan pergelangan kaki kanannya. Berharap rasa sakitnya reda. Tak lama Sam kembali dan mulai memijat pergelangan kaki Lila. Dan terjadi suara-suara yang disalahpahamkan oleh Rasti dan Hamdan yang menguping. 


Untuk teriakan Sam yang mengatakan akhirnya Gol, saat yang bersamaan Lila dan Sam juga menonton acara pertandingan sepak bola. Di saat tim kesayangan Sam mencetak gol otomatis ia bersorak senang dan tanpa saja menduduki kaki Lila yang terkilir.


Flashback Off.


"Oh … begitu ya? Ya sudah deh Papa sama Mama ke bawah lagi," ujar Rasti kecewa. Sam mengangguk. Rasti segera menarik suaminya pergi.


Tak lama Lila keluar dengan wajah tanpa dosanya. 


"Siapa tadi?" tanya Lila.


Lila ber-oh-ria saja. Mereka langsung turun ke bawah menuju ruang keluarga, menyusul Rasti dan Hamdan. Membahas persiapan pernikahan mereka yang akan dilangsungkan kurang dari sembilan hari lagi.


***


Pukul 16.00, Karina dan Arion menaiki tangga pesawat Wijaya dengan tangan menarik koper. Sesuai rencana mereka akan bulan mandi selama dua hari kedepan. Tujuan mereka adalah negara A, yang terkenal dengan destinasi wisatanya yang mendunia.


Negara A identik dengan pantainya yang menawan. Terumbu karang yang tumbuh subur dan indah, serta hamparan pasir putih yang membentang sepanjang pantai. Jika cuaca mendukung maka sangat cocok untuk diving.


Setelah dua jam tiga puluh menit mengudara, akhirnya mereka tiba di negara A. Langit cerah benderang. Tak ada tanda-tanda berawan ataupun mendung.


Perbedaan waktu sangat terasa. Jika di negara Y sekarang pukul 06.30, maka di negara A masih jam 04.00, jam yang sama saat mereka lepas landas dari negara Y.


"Kamu ada tempat tinggal di sini?" tanya Karina saat memasuki mobil.


"Gak ada sih. Tapi aku sudah reservasi hotel di hotel langganan aku," sahut Arion santai mulai melajukan mobilnya.


"Oh … padahal kan ada hotel aku. Kita bisa tinggal di penthouse atau pun di rumah aku," ucap Karina.


"Iya-iya. Tapi kan aku sudah reservasi bagaimana jadinya?" tanya Arion bingung.


"Ya sudah. Kita ke hotel saja. Sayangkan uangnya jika dibatalkan. Kasihan juga rekan kamu itu," jawab Karina.


"Oke Sayang,",sahut Arion.


Dasar orang kaya, asetnya ada di seluruh dunia. Apa dia punya rumah di setiap negara?batin Arion melirik Karina  yang membuka handphonenya.


Nona saya Anda harus hati-hati.

__ADS_1


Pesan dari Raina membuat Karina menaikkan alisnya. Karina mulai menggerakkan jarinya mengetik balasan.


Tak usah khawatir. Doakan saja aku akan selamat dari rencana busuk mereka dan semoga aku selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.


"Pesan dari siapa?" tanya Arion penasaran. Ia sedikit kesal, acara bulan madunya masih disertai dengan tugas atau pekerjaan. 


"Raina," jawab Karina.


"Masalah apa?" tanya Arion lagi.


"Raina bilang aku harus hati-hati. Tapi gak tahu hati-hati sama siapa?" jawab Karina seraya melemparkan pertanyaan kemudian menaikkan bahunya acuh. Arion tersentak kaget. Jantungnya berdebar kencang. Setetes keringat ia keluarkan.


"Kamu kenapa? Kok tegang gitu? Kamu tahu ada apa sebenarnya?" tanya Karina polos.


"Eh? Mana aku tah Sayang. Aku tegang khawatir sama kamu," sahut Arion. Karina menyipitkan matanya, menatap Arion penuh selidik.


Tatapannya seperti aku ingin mangsa apa? Tapi apa dia tahu rencana aku? Tapi gak mungkinlah. Jika dia tahu pasti sudah kembali perang kami, batin Arion menduga dan menentang opininya sendiri.


Karina mulai menghilangkan tatapan selidiknya dan mengubahnya menjadi senyuman manis. Karina malah memegang pundak Arion dan bersandar di sana. Memejamkan matanya tidur sejenak.


Arion menghela nafas lega. 


"Maaf Karina," liriknya.


Arion mendengus kesal saat terjebak macet lalu lintas. Wajar saja, ini hari libur dan besok hari minggu, otomatis banyak keluarga yang menghabiskan waktunya untuk rekreasi.


Arion mengaktifkan mode kedap suara agar suara bising tak mengganggu tidur Karina. Arion mengecup puncak kepala Karina cukup lama. Lima belas menit kemudian akhirnya mobil Arion terbebas dari jebakan macet ibu kota.


Tak sampai sepuluh menit kemudian Arion tiba di lobby depan hotel. Setelah menarik tuas rem tangan, Arion berniat membangunkan Karina. Namun, tak tega melihat wajah pulas Karina. Arion lantas melepaskan pegangan tangan Karina dan membenarkan sandaran Karina di sandaran kursi. Karina menggumam pelan merasa tidurnya diganggu namun tetap tertidur.


Arion membuka pintu mobil dan segera bergegas menuju pintu mobil Karina, membukanya dan menundukkan badannya sedikit. Tangannya bergerak menggendong Karina. Menyandarkan kepala Karina di dada. 


"Tolong bawakan koper saya dan istri saya ke kamar saya," ujar Arion pada petugas hotel yang terdapat di depan lobby.


"Baik Tuan," sahutnya.


Arion segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel.


"Selamat datang di Praja Hotel Presdir Arion dan Presdir Karina," sambut para pagawai hotel berjajar rapi. Arion memelototkan matanya kesal.


"Shut. Jangan berisik. Istri saya sedang tertidur," ucap Arion memberi peringatan. Serentak mereka mengangguk patuh.


"Selamat datang kembali, Tuan Arion," sambut pemilik Hotel, Praja Yudha. Usianya seumuran dengan Arion.


"Hmmm … tidak biasanya. Jangan berisik," sindir Arion. Yudha terkekeh pelan. 


"Hmm … saya menyambut istri Anda sebenarnya. Jika Anda kan sudah biasa," ujar Yudha.


"Tunjukkan kamarku," titah Arion melangkahkan kakinya memasuki lift diikuti oleh Yudha dan pegawai hotel yang membawa koper mereka.


Sesampainya di depan kamar hotel Arion, Yudha membuka pintu kamar dan mempersilahkan Arion masuk. 


"Silahkan Tuan Arion. Tipe kamar president suite menanti Anda. Semoga Anda puas dengan pelayanan kami," ujar Yudha ramah. Arion mengangguk dan segera masuk. Membaringkan Karina di ranjang kemudian mendekati Yudha yang masih berada di daun pintu.


"Kunci kamar," ucap Arion. Yudha memberikannya dan segera menutup pintu. 


What? Dasar! Tapi gue juga gak berani bantah. Perusahaan dia masih berada di atas perusahaan gue. Ditambah lagi KS Tirta Grub milik istrinya. Fix. Mereka akan jadi penguasa pasar, batin Yudha meninggalkan depan kamar Arion.

__ADS_1


__ADS_2