
Hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan, menuju kehalalan hubungan di mata Tuhan merangkap agama serta di mata negara.
Hari pernikahan yang ditunggu oleh Sam dan Calvin serta mempelai mereka tentunya telah tiba. Pagi buta mereka sudah bersiap menghadapi acara sakral dalam hidup mereka.
Menikah, satu kata yang cukup mendebarkan. Adalah salah satu fitrah manusia dan perintah Tuhan.
Pernikahan, bergabung dua orang berbeda gender serta berbeda watak, menyelasaraskan perbedaan dan mengisi satu sama lain, sedikit arti pernikahan.
Di Tirta Hotel, semua pegawai dan organizer wedding yang bertanggung jawab lalu lalang mengecek persiapan acara berhubung ini acara pernikahan ganda dan ijab qabul serta resepsi diadakan dalam hari dan tempat yang sama.
Acara dimulai pukul 10.00, sedangkan untuk resepsi dimulai pukul 14.00. Waktu sekarang menunjukkan pukul 08.30.
Kini, Lila dan Raina tengah berada di ruang rias. Duduk menghadap cermin besar di depan mereka dengan beberapa orang yang mulai merias mereka.
Karina tentu saja bergabung, duduk di sofa yang tersedia dengan bersilang kaki dan memainkan handphone. Di samping kanannya ada Li dan Gerry serta Sasha dan Aleza sebagai pendamping calon mempelai wanita.
Sedangkan Arion serta dua orang tuanya menghampiri keluarga calon mempelai pria yang notabenya adalah sahabat mereka. Sam dengan kulit putih sehabis dilulur tampil dengan wajah berseri-seri.
Hal itu tidak juga terjadi pada Calvin, sebab ayah dan ibunya terus nyerocos memberinya petunjuk pada saat ijab qabul dan malam pengantin. Apalagi godaan dari kakek dan neneknya, membuat wajahnya memerah dan alhasil itu mengundang gelak tawa sahabatnya.
***
"Li, di mana Darwis, Rian dan Satya?" tanya Karina melihat ke arah pintu setelah menunggu beberapa lama, batang hidup ketiga orang itu tak muncul-muncul.
"Jika Rian dan Satya kemungkinan akan tiba sebentar lagi. Untuk Darwis, dia pergi ke kediaman Argantara menjemput calon istrinya itu. Argantara kan diundang dalam acara ini dan Darwis sebagai pendamping Joya," jelas Li.
"Oh. Kalau Joya datang, berarti Rian dan Satya harus jaga jarak dengan kita, jangan sampai Joya curiga. Aku mau itu menjadi salah satu hadiahku pernikahannya kelak," ujar Karina. Menunjukkan senyum miringnya.
Rencana apa lagi yang dibuat Queen? batin Aleza melirik sekilas Karina dan tenggelam kembali pada laptop di hadapannya.
"Salah satu hadiah?" gumam Gerry, ia menatap Karina dengan tanda tanya namun dibalas dengan senyum penuh misteri Karina.
Habislah kau Joya. Pasti kau banyak mendapat hadiah besar di pernikahanmu kelak dari Queen. Aku berdoa semoga jiwa dan ragamu sanggup menerimanya, batin Gerry tersenyum sinis dalam hati.
Sasha diam saja tak bergabung dengan obrolan itu. Ia beranjak dan menuju ruang ganti. Mencari pakaian yang akan ia gunakan. Kebetulan semuanya adalah buatan desainer terbaik KS Tirta Grub di bidang fashion.
"Kak Li, kau menikahkan siapa dulu? Aku apa Raina?" tanya Lila melirik Li. Wajahnya tak boleh berpaling dari cermin.
"Menurut kartu keluarga, aku akan menikahkan Raina dulu. Sebab dia adalah kakakmu," jawab Li.
"Oh," sahut Lila.
"Nona, apa Anda merasa gugup saat menjelang ijab qabul?" tanya Raina menoleh ke arah Karina.
Rasanya dimake up sangatlah membosankan baginya. Untung saja ia sudah siap berhias. Biasanya ia hanya menggunakan make up tipis, natural dan simple tak berlebihan, itu juga ia terapkan pada hari ini.
Lila yang telah selesai dimake up pun mempunyai riasan yang sama. Anggota jatuh tak jauh dari pimpinannya. Selera bawahan pun tak jauh dari pimpinan. Datar, simple dan tak mau ribet.
Jika tak diganggu maka mereka akan menyimpan taringnya rapat-rapat, tetapi jika mereka merasa terganggu ataupun tersinggung, taring mereka siang mengoyak musuh dengan brutal. Baik fisik maupun mental hingga musuh memohon mati daripada hidup.
"Tidak juga. Hatiku masih es kala itu. Untuk apa gugup toh kita melakukan kebaikan bukan kejahatan," jawab Karina santai.
Waktu pernikahannya dulu, wajah datarlah yang ia tunjukkan, hatinya juga diam tak loncat sana loncat sini ataupun berdebar ingin keluar. Malah Arion yang gugup demam panggung.
"Jika Anda kami tak heran. Orang pedang di leher Anda yang siap menyayat, Anda tetap datar bak tak terjadi masalah besar," celetuk Li dengan kekehan khasnya.
"Hmm."
Karina hanya bergumam tak tersinggung sama sekali apalagi marah.
Karina lantas memberi sedikit arahan pada Lila dan Raina tentang dunia rumah tangga, agar mereka tak kesulitan beradaptasi dengan itu.
***
__ADS_1
Tiga puluh menit menuju pengesahan, Lila dan Riana sudah siap dengan gaun pengantin mereka. Lila dengan warna putih sesuai dengan kepolosan dan Raina dengan warna brokat kesukaannya.
"Apa hadiah untuk mereka sudah siap?" tanya Karina memastikan apakah dua helikopter yang dimintanya sudah tiba apa belum.
"Sudah, itu akan tiba pukul 15.00 nanti," jawab Gerry.
"Baguslah," ucap Karina. Mereka bertiga termasuk Li sudah berada di luar ruang rias. Berjalan menuju tempat utama ijab qabul. Di sana terdapat satu meja dengan satu kursi di sisi depan untuk Penghulu dan dua kursi di belakang untuk calon mempelai. Dan masing-masing satu kursi di sisi kanan dan kiri.
Para keluarga mempelai lelaki tak terkecuali mempelainya sendiri duduk di kursi mengelilingi meja ijab qabul. Terlihat lagi, Calvin yang diampit kakek dan neneknya.
"Cu, nanti kalau ijab jangan sampai ngulang tiga kali," ujar kakek Calvin, Satrio, akrab disapa kakek Tio.
"Kenapa Kek?" tanya Calvin tak mengerti.
"Nanti kalau itu terjadi, kamu kayak nenekmu, gagal kawin sama mantannya dulu," jawab kakek Tio melirik Asmina, istrinya.
Asmina terkekeh mendengarnya. Karena gagal ijab, menandakan kebelumsiapan lahir dan batin membuat Asmina mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya dulu. Dan mereka berpisah secara damai. Semua berakhir tanpa dendam dalam hati. Jadilah perpisahan termanis.
"Sepertinya pepatah telah berubah, sebelum janur kuning melengkung di depan rumahmu kau masih bisa di tikung, nah kali ini walaupun janur kuning dan tenda biru terpasang di rumahmu engkau masih bisa ku tikung," celetuk Sam yang mendengar pembicaraan kakek, nenek dan cucu itu.
"Itu namanya kalau jodoh gak bakal kemana," timpal Arion.
"Benar itu, walaupun telah ku terima undangan bertuliskan namamu dan dia, tetap saja orang lain menghadiri pernikahan kita berdua, benarkan Mina," turur kakek Tio menatap Asmina.
"Benar. Kaulah takdir dan belahan jiwaku," sahut nenek Asmina menatap lembut kakek Tio. Wajahnya yang sudah menua terlihat berbinar.
"Em … Kakek, Nenek, tolong jangan pamer kemesraan. Tunggu sampai aku dan Sam menikah bentar lagi baru kita battle kemesraan," kesal Calvin melihat kakek dan neneknya bertatapan penuh cinta sedang dia berada di antara keduanya.
Hamdan dan lainnya terkekeh melihat itu.
"Sudah. Acara akan kita mulai. Calvin, cepatlah ambil tempat. Kau dan Raina dulu yang menikah. Baru Sam dan Lila selanjutnya," ujar Karina yang telah lama tiba namun diam menyaksikan tingkah Calvin dan kakek neneknya. Karina diampit Li dan Gerry yang bersilang tangan. Menatap datar Sam dan Calvin.
"Sayang," seru Arion mendekati Karina.
Li dan Gerry menyingkir memberi ruang bagi Arion dan Karina. Seperti biasa, Arion merengkuh pinggang Karina dalam pelukannya. Acara kecup kening pun berlangsung.
Sedangkan Li dan Gerry masih mempertahankan tatapan tajamnya pada Sam dan Calvin yang membuat kedua calon mempelai itu seperti dilucuti.
"Hei kenapa mata kalian menatap anakku? Kagum sama ketampanannya yang tak sebanding dengan kalian?" seru Rasti tak suka melihat tatapan Li dan Gerry.
Li dan Gerry terbelalak dan hampir muntah karenanya. Akting saja.
"Hei Nyonya, kamu bukan kagum dengan ketampanan anakmu itu. Kami hanya meneliti calon adik ipar kami. Tak ada yang salah kan?" sahut Li kesal.
Sam dan lainnya kecuali bagian keluarga Wijaya terkejut.
"Jangan membual. Lila tak pernah mengatakan dia punya kakak. Jika ada mengapa Anda berdua baru muncul saat ini?" protes Sam.
Li dan Gerry terkekeh.
"Tak pernah mengatakan bukan berarti tidak ada kan? Dan untuk mengapa kami baru hadir ya tentu saja untuk menjadi saksi dan wali nikah adik kami," jawab Gerry dengan santai.
"Tapi mengapa kalian tak ada kemiripan satu sama lain? Beda pabrik ya? Terus kemana kalian saat Lila dan Raina bertunangan?" protes Santi melayangkan pertanyaan.
"Karena memang kami tak kandung, bukan juga tiri tetapi saudara senasib. Kami sama-sama yatim piatu, diselamatkan oleh Nona dan disatukan dalam ikatan kartu keluarga. Dan jadilah kami saudara kakak beradik," terang Li menatap Karina sekilas. Karina tersenyum tipis.
"Untuk kami tak datang, sebab kami ada tugas penting di Kutub Utara," tambah Gerry.
"Ngapain?" tanya kakek Tio penasaran.
"Ngasih makan beruang kutub," jawab Gerry.
"Hah?" bingung kakek Tio.
__ADS_1
"Sudahlah. Lebih baik perkenalan diri dulu. Saya Li Angkasa, kakak pertama Lila dan Raina," ujar Li tegas memperkenalkan dirinya.
"Saya Gerry Herlambang, kakak kedua bagi Lila dan Raina," sambung Gerry tegas berwibawa.
"Angkasa? Herlambang? Seperti pernah mendengar nama keluarga itu," gumam Hamdan.
"Oke. Kamu Li dan kamu Gerry. Salam kenal," tutur Santi.
Ck. Ternyata dua manusia itu kakak Lila, kesal Sam sedikit tak terima dengan kenyataan.
"Salam hangat Kakak ipar," ujar Calvin.
"Hmm ...," balas Gerry datar.
"Ya," jawab singkat Li.
Gila. Satu keluarga datar semua, batin Angga.
Percakapan segera berakhir, mereka segera mengambil posisi dan tempat yang telah disediakan. Acara lima menit lagi akan dimulai. Calvin mengambil tempat yang pertama atas intruksi Li.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Raina Syaraswati dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai."
Calvin akhirnya berhasil mengucapkan kata-kata ijab qabul dengan lancar dan mulus di kesempatan kedua.
Kata sah dan ucapan syukur terdengar bergantian. Penghulu membaca doa dan mengucapkan selamat pada Calvin dan Raina yang telah resmi menjadi pasangan halal.
Mereka segera menandatangi buku nikah, tak lupa sang photograper sibuk mengabadikan momont sakral itu sebagai kenangan. Acara menyematkan cincin di jari manis telah selesai.
"Sudah pamernya. Gantian gue sama Lila pun mau halal," ucap Sam dengan nada menyindir.
Raina dan Calvin mengangguk dan segera menuju kursi pasangan yang tersedia sebelum naik pelaminan pukul 14.00 nanti.
"Sudah cepat sana," suruh Rasti pada Sam. Sam mengangguk dan segera menuju kursi untuknya mengucap janji.
Tak berapa lama Lila dengan Sasha sebagai pendampingnya datang. Gaun putih dan riasan sangat cocok pada Lila di mata para tamu.
Untuk ijab qabul hanya anggota keluarga inti saja yang hadir dan tamu undangan yang diundang datang pada acara ini. Rian, Satya dan Darwis yang membawa Joya memutuskan hadir pada acara resepsi saja. Karina hanya mengiyakan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Samuel Anggara bin Hamdan Anggara dengan adikku, Lila Anggriani binti Rusdi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 50 gram dibayar tunai," ucap Li tegas menjabat tangan Sam.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lila Anggriani binti Rusdi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Sam tegas dalam satu helaan nafas.
"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu mengedarkannya pandangannya.
"Sah. Tentu saja sah. Anakku, Mama bangga padamu," seru Rasti melonjak dari tempat duduknya.
Membuat Hamdan mendelik kesal dan malu, langsung menarik Rasti agar duduk dengan tenang.
"Sah." Suara gemuruh menyusul.
"Alhamdullillah," ucap syukur Penghulu. Ia segera membacakan doa.
Tanda tangan surat nikah dan menyematkan cincin yang menjadi agenda selanjutnya telah terlaksana. Mereka beranjak menuju kursi di sebelah Calvin dan Raina yang asyik berbincang, tak ada rasa canggung lagi.
"Wih, mantap loe, langsung lancar," puji Calvin menepuk pundak Sam.
"Tentu saja. Anaknya siapa dulu," sahut Sam bangga.
"Anak Mama Rasti dong," ucap Rasti.
Ya, acara ijab qabul telah selesai. Pernikahan gabungan berhasil dan lancar. Kini pewaris perusahaan Alantas dan Antara itu sudah resmi melepas masa lajang. Begitupun dengan Lila dan Raina. Kebahagian tentunya melingkupi mereka.
__ADS_1