Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 241


__ADS_3

Karina dan Arion berada di kamar mereka, hari minggu malas gerak agaknya mereka lakukan. Televisi hidup. Karina dan Arion duduk sofa, mata mereka menatap televisi dengan senyum puas. 


Mereka menonton acara siaran konfrensi pers keluarga Anggara mengenai kabar pernikahan yang sempat berada di publik.


Terlihat, tempat konfrensi pers berada adalah lobby perusahaan Anggara. Hari libur, pasti akan menyebalkan bagi staf yang harus datang ke kantor mengurus acara itu.


Sam dan Lila dengan baju couple mereka dan di bangku ketiga, Dayana duduk dengan wajah menunduk. Kilat lampu flash silih berganti. 


"Aku yakin wajah Sam akan bengkak seperti pig jika tidak menggunakan obat dariku," tutur Karina.


Arion mengangguk menyetujui, ia sendiri sudah merasakannya.


"Tapi kau percaya diri sekali wajah Sam akan bengkak," ujar Arion penasaran.


"Jelas, pertama dia mendapat tamparan dari Lila, bogem mentah dari Gerry, dan hadiah spesial dari Papanya, komplit kan?" jawab Karina santai.


"Hm, dari mana kamu tahu?"


Karina mengambil handphone-nya dan menunjukkan sebuah video padanya. Mata Arion menatap hal itu dengan beragam ekspresi.


"Amazing! Ternyata Gerry suka maskeran ya," kagum Arion.


"Ya, Gerry memang bisa membuat make up sendiri," beritahu Karina.


Arion mengangguk dan mengembalikan handphone Karina. Tatapannya kembali kepada layar televisi. Karina setia dengan cemilan sehatnya.


"Akankah ini hari terakhir mereka?" tanya Arion.


"Tanyakan saja pada Lila," jawab Karina sembari memasukkan keripik kentang ke mulutnya.


Arion mendengus dan mencium sekilas pipi Karina. Karina menatap datar Arion dan kembali fokus pada layar televisi.


*


*


*


Para petinggi Pratama Company tengah pusing dengan menghilangnya keluarga Pratama. Mereka mengerahkan kekuatan mereka untuk menemukan keluarga Pratama. Jelas saja tidak ketemu, lawan mereka adalah tiga keluarga besar di kota S. 


Saat rapat, tiba-tiba saja ada yang menerobos masuk dan memberitahu sesuatu.


"Nona Dayana ada di Anggara Company, aku melihatnya di televisi. Dia melakukan konfrensi pers bersama Tuan dan Nyonya Muda Anggara," ujarnya cepat, kemudian menghela nafas panjang.


"Benarkah? Perlihatkan!" pekik pemimpin rapat. 


Layar besar di hadapan mereka dengan posisi sedikit lebih tinggi, siaran live acara konfrensi pers berlangsung. Mereka menatap lekat acara itu.


"Berada saya di sini adalah untuk mengklarifikasi berita miring beberapa waktu lalu. Saya mohon maaf atas kesalahahpahaman yang terjadi. Berita pernikahan saya dan Tuan Muda Anggara adalah tidak benar. Ini adalah kesalahan saya sepenuhnya, saya mengira Tuan Muda Anggara masih single, sebab saya baru kembali dari luar negeri. Sekali lagi saya mohon maaf," papar Dayana tegas dengan tatapan menyakinkan.


"Jika begitu, mengapa baru sekarang keluarga Anggara dan Anda menanggapinya? Apakah Nyonya Muda Anggara ikut masuk dalam kesalahpahaman tersebut?" tanya salah seorang wartawan wanita serius.


Lila langsung angkat bicara namun dipotong cepat oleh Sam.


"Karena istri saya sedang tugas luar negeri dan baru kembali pagi ini. Seperti yang rekan wartawan sekalian ketahui bahwa istri saya adalah sekretaris dari Presdir KS Tirta Grub. Saya juga meminta maaf atas keterlambatan pernyataan kami," jawab Sam tegas.


"Baiklah, lalu apakah Anda juga yang membungkam dan mendepak berita miring tersebut dari publik?" tanya wartawan lain berjenis kelamin pria.


"Benar, saya tidak akan pernah mengizinkan siapapun menyebarkan berita tidak sedap mengenai keluarga saya. Keluarga adalah harta yang paling berharga. Saya akan melakukan yang terbaik untuk melindungi mereka," tutur Sam menatap manis Lila.


Lila balik menatap Sam. Momen itu jelas tertangkap kamera. Dayana mengulum senyumnya dengan tangan mengepal erat. Ia menatap iri Lila dan Sam.


*


*


*

__ADS_1


"Siapkan mobil, kita akan menjemput Nona!" seru pemimpin rapat Pratama Company.


Dengan segera bawahannya menyiapkan mobil. Dia dan dua orang lainnya bergegas menuju lift dan turun ke lantai bawah. 


Saat tiba di Anggara Company, suasana sudah sepi. Petugas kebersihan hilir mudik membersihkan lobby dari sampah yang mengganggu. 


Pemmpin rapat atas nama Joko itu segera bertanya pada salah satu staf mengenai keberadaan Sam, Lila dan Dayana.


Staf itu menjawab ketiga orang itu sedang berada di ruangan CEO. Dengan segera Joko dan dua rekannya mencari lift dan naik ke lantai ruangan Sam.


Joko mengetuk pintu ruangan direktur. Sekretaris Sam, yaitu Mei lah yang membuka pintu.


Dahinya mengeryit tidak mengenal ketiga orang tersebut.


"Dengan siapa dan ada keperluan apa? Ini di luar hari kerja. Tidak ada jadwal meeting dengan pihak manapun!" ujar tegas Mei.


"Kami dari Pratama Company, kami ingin menjemput Nona kami," jawab Joko dengan senyumnya.


"Nona Dayana kah?" tanya Mei.


Joko mengangguk. Mei mempersilahkan ketiga orang itu untuk masuk. Di dalam, Sam duduk berdampingan dengan Lila sedangkan Dayana duduk sendiri.


"Tuan Muda, perwakilan Pratama Company datang untuk menjemput Nona Dayana," ujar Dayana sopan.


Sam menoleh, Dayana tersenyum melihat orangnya datang.


"Welcome," ucap singkat Sam.


"Terima kasih Tuan Muda," sahut Joko.


"Kebetulan kalian datang, jadi acara ini akan cepat selesai, benarkan Dayana?"


Lila menatap Dayana dengan mengangkat satu alisnya. Dayana menelan salivanya. Ia mengangguk pelan.


"Acara apa Nona? Kau membuat keputusan apa? Dan di mana Tuan, Nyonya dan Tuan Muda Pratama?" tanya Joko bingung.


Lila dan Sam tersenyum puas.


"Anda mengatakan apa Nona? Salah salah dengarkan?"


Joko merasa telinganya bermasalah, begitu juga dengan kedua rekannya. Dayana menggeleng.


"Aku serius, lakukan segera!" tegas Dayana.


Mata Joko membulat, tampak jelas wajah tidak setuju dari ekspresinya. 


"Nona, Anda terlalu sembarang dan gegabah. Anda tidak bisa melakukan ini. Apakah semua ini sudah persetujuan dari Tuan Besar? Kalau tidak, saya tidak dapat melakukanya. Saya harus menemui Tuan Besar untuk memperjelasnya. Nona di mana Tuan Besar?"


Joko tidak mau melakukan perintah Dayana. Dayana mengeraskan rahangnya dan menggebrak meja. Lila terkaget, Sam tetap datar.


"Kurang ajar! Ayah, Ibu dan kakakku berada di tempat yang aman! Ayah menyerahkan semua keputusan padaku dan akan mendukungku. Jadi jika aku katakan jual, maka jual! Kau itu hanya bawahan Ayahku, tidak ada hak untuk menghalangi! Toh Pratama Grub tidak akan bangkrut karenanya. Paman, aku tahu kau sangat setia pada kami, tapi aku mohon lakukan hal ini. Aku dan keluarga memutuskan untuk keluarga dari dunia bisnis, terlalu banyak kecurangan yang kami lakukan. Kami akan keluar kota setelah urusan jual beli ini selesai," jelas Dayana. Joko mengeryit.


"Itu keputusan konyol Nona, saya tetap tidak set-."


"Kalau kau tidak melakukannya, maka kami dan seluruh keluargamu akan mati, cepat selesaikan. Aku membawa stempel perusahaan, apakah ini sudah cukup?" ancam Dayana. 


Joko tampak berpikir sejenak. Ia memikirkan tentang perubahan sikap nona mudanya itu, serta keputusan tidak terduga keluarga Pratama. Setelah bergelut dan adu opini, terlebih dengan stempel kepemilikan asli di tangan Dayana, Joko mengangguk menyetujui.


"Kalau begitu gunakan komputer kami untuk membuat surat jual belinya. Saya yakin Pratama adalah keluarga yang siaga," ujar Sam mempersilakan Joko dan kedua rekannya menuju komputer Mei. 


Ketiga orang itu segera bergegas. Keadaan kembali hening. Dayana mengangkat kepalanya ragu.


"Kalian harus menepati janji kalian. Kalian tidak akan membunuh kami serta melepaskan keluarga kami," ucap Dayana.


"Tentu, kami orang yang amanah," sahut Sam, mencolek hidung Lila.


"Hiduplah dengan damai di sana nanti. Suasana pegunungan sangat menyenangkan loh. Jadi petani juga mengasyikan. Kalian bisa berteman dengan alam," tutur Lila dengan semangat. Dayana tersenyum simpul sebagai jawaban.

__ADS_1


*


*


*


Beberapa jam sebelumnya. "Aku tidak bisa melukainya, dia masih harus melakukan sesuatu," jawab Lila menatap Dayana dengan penuh maksud. Dayana meremang.


"Apa itu?" tanya Sam.


"Dia harus melakukan sesuatu, yakni mengklarifikasi tentang berita pernikahan kalian sebelumnya. Opini publik masih simpang siur dengan itu. Jadi, dia harus membuat pernyataan dengan konfrensi pers. Agar semua clear, bagaimana Sam?" 


Lila menatap Sam seraya melepas lakban Dayana dengan kasar.


"Aku, aku akan melakukannya. Aku akan mengklarifikasi semuanya. Tapi, aku mohon bebaskan kami semua," ucap Dayana cepat.


"Berani sekali kau membuat penawaran?" geram Lila.  


"Aku salah. Aku tahu aku bodoh mencari masalah dengan kalian. Aku mohon, kasihanilah diriku dan keluargaku," pinta Dayana lagi, bayangan pisau menyayat pipinya membuatnya sadar sepenuhnya. Kini, mereka sudah tamat.


"Wah, seorang Dayana mengakui kesalahannya, padahal beberapa hari lalu kamu sangat cakap, ckckck," ledek Lila.


Dayana tidak peduli. Ia tetap merengek dan membujuk Lila dan Raina. Lila menatap Sam. Keduanya lantas menjauh dari keempat orang itu. Setelah berdiskusi dengan cepat, keduanya kembali menghampiri Dayana. Sam memerintahkan agar penutup mulut dan mata keluarga Dayana lainnya dibuka.


"Apa yang harus kami lakukan agar kalian melepaskan kami?" tanya Tuan Pratama. 


"Ada tiga, yang pertama Dayana harus mengklarifikasi tentang berita miring yang kalian sebarkan. Kedua, kalian harus menjual semua saham atas nama kalian pada kami, ketiga kalian harus meninggalkan kota ini dan tinggal di perdesaan. Kalian tidak boleh masuk dalam lingkaran bisnis lagi, bagaimana? Mudahkan?" sahut Sam.  Mata keempat orang itu terbelakak kaget. 


"Tidak! Bagaimana bisa kami tinggal di desa?" pekik Nyonya Dayana tidak setuju.


"Diam!" bentak Tuan Pratama.


"Aku setuju," lanjut Tuan Pratama cepat. Lila dan Sam malah terkejut. 


Alasan Pratama memilih setuju adalah, ia sayang pada nyawanya dan keluarganya. Jika ada jalan lain mengapa harus lompat ke jurang? Lagipula mereka mendapat uang dari penjualan saham dan pasti nilainya cukup untuk hidup bahagia di pedesaan. Jadi petani juga tidak buruk.


"Aku sudah lelah dengan bisnisku sendiri. Itu bukanlah ide yang buruk. Di desa, aku akan menikahkan Dayana dan Reza sebab mereka tidak ada ikatan darah, juga tidak terikat oleh saudara sepersusuan. Akan lebih menenangkan jika bisa hidup tanpa ambisi yang menggebu," terang Pratama.


Mata Reza dan Dayana memanas, Nyonya Pratama menunduk merenung. 


"Aku juga setuju, bisa membina rumah tangga dengan Dayana adalah impian terbesarku," ujar Reza setuju.


"Aku juga, kerena pada dasarnya, yang aku cintai adalah Kak Reza," timpal Dayana. Nyonya Pratama menghela nafas panjang.


"Aku ikut," ujarnya pelan.


Sam dan Lila tersenyum penuh kemenangan


Flash back off.


*


*


*


Proses jual beli selesai dan distempel cap asli perubahasaan serta tanda tangan cap jari Dayana. Dayana dan Joko lantas dibawa menuju salah satu ruangan, di sana terdapat keluarga Dayana dalam keadaan kepala menunduk. Joko segera memeriksa keadaan Tuannya dan menghela nafas  lega Tuan Pratama tidak luka sedikitpun, begitupun dengan yang lain.


Joko lantas segera bertanya dan Tuab Pratama menjelaskannya secara singkat. Joko membulatkan matanya. Ia lalu melirik awas pada Lila dan Sam. Yang dilirik tersenyum simpul. Setelah percakapan itu, Joko pamit pulang. 


Selesai makan siang, Dayana dan keluarga memasuki mobil yang akan mengantar mereka ke desa. Lila dan Sam melambaikan tangan mereka. Mobil melaju perlahan, membawa harapan baru bagi keluarga Dayana.


Tiba di perbatasan kota yang beruba area pegunungan, tiba-tiba saja terdengar suara ban meledak diikuti dengan olengnya mobil. Dayana dan keluarga panik. Sopir berusaha menstabilkan mobil, sayang terdengar lagi suara ban meledak. Dayana dan keluarga menjerit takut, mereka saling berpelukan. Alhasil, sopir tidak bisa mengendalikan mobil dan menabrak pembatas jalan, sangking kuatnya, mobil terpental dan berguling beberapa kali dan berakhir dengan masuk ke jurang. Tak lama, terdengar suara ledakan disertai dengan api yang besar. 


Mobil Dayana terbakar di dalam jurang. Suasana lalu lintas terhenti seketika. Kecelakaan tunggal Dayana, menyebabkan kecelakaan lainnya, mobil yang terkejut saling menghantam satu sama lain. Kemacetan terjadi. Di tengah riauhnya kecelakaan, tanpa mereka sadari dan ketahui, dari puncak salah satu gunung, ada yang tertawa puas. 


"Sam memang menepati janjinya. Tapi, jika kalian dibiarkan hidup, aku ragu kalian akan konsisten, lebih baik kalian damai saja di alam baka," kekeh pria itu yang tak lain adalah Calvin dan beberapa orangnya. Mereka lantas segera meninggalkan tempat.

__ADS_1


__ADS_2