
Sepasang pengantin baru itu telah memulai prosesi malam pertama mereka. Gerry sangat aktif menyentuh tubuh Mira, sedangkan Mira menerima dan menikmati sentuhan yang Gerry berikan.
Dari kening, turun ke mata, lanjut ke bibir dan leher. Mira mengalungkan kedua tangannya pada leher Gerry. Melenguh saat ciuman Gerry semakin turun.
Gerry, hatinya sangat bahagia. Penantian selama ini akhirnya terbalas, ia sudah lama menunggu waktu ini.
Gerry tercengang saat merasa menabrak sesuatu, diikuti oleh Mira yang meringis. Gerry merasakan punggungnya perih. Mira mengajar punggung Gerry.
Pasti karena sudah lama enggak berhubungan, terlebih mereka menikah hanya seminggu. Mungkin saja ini efeknya, itunya kembali menyempit, pikir Gerry.
Tapi pemikirannya terbantahkan saat itu juga saat ada darah segar yang mengalir dari itu Mira. Gerry seketika membulatkan matanya.
"Mir, kamu masih perawan?"
Gerry bertanya dengan hati-hati. Mira yang menutup mata hanya mengangguk.
Sungguh fakta yang mengejutkan. Hadiah yang paling berharga. Sungguh Tuhan berpihak padanya.
Janda tapi perawan, thank God, walaupun aku ikhlas Mira pernah menikah, tapi aku bahagia karena ia masih suci. Terima kasih telah memberiku kesenangan dan kenikmatan ini, batin Gerry.
Mira membuka matanya, ia tersenyum lebar melihat wajah Gerry yang berseri bahagia. Jauh lebih bahagia setelah janji suci di gereja tadi.
"Kau suka kejutanku?"tanya Mira pelan.
Tentu saja Gerry mengangguk. Gerry menunduk.
"Kita lanjutkan," bisik Gerry di telinga Mira.
Perlahan tapi pasti, Gerry kembali melanjutkan yang tertunda. Mengurangi rasa sakit yang Mira rasakan, Gerry menjamah bagian atas tubuh Mira.
Percintaan mereka diakhiri dengan lenguhan panjang setelah keduanya mencapai pelepasan. Mira menarik nafas menetralkan nafasnya yang masih memburu. Gerry memejamkan matanya dalam-dalam menikmati sisa pelepasan.
"Terima kasih telah menjaganya untukku," bisik Gerry, beralih turun dari atas tubuh Mira ke samping Mira.
Gerry bersandar pada kepala ranjang, selimut menutupi bagian bawahnya.
"Aku rasa kita memang ditakdirkan bersama, meskipun tidak yang pertama," ujar Mira, menaikkan selimut menutupi tubuh polosnya.
"Hm, bagaimana bisa? Aku penasaran," tanya Gerry, penasaran.
"Masalah wanita, aku lupa kalau hari pernikahanku adalah siklus bulananku, alhasil kami hanya saling raba tanpa ada penyatuan," jawab Mira, sangat santai.
Tapi di dalam matanya, tersirat rasa tidak enak hati pada Eko. Gerry menyadari hal itu, raut wajah Mira juga berubah sendu. Gerry meletakkan tangannya di pundak kiri Mira. Mira menoleh.
"Takdir, tidak dapat diubah ataupun dicegah. Semua sudah ketetapan. Jangan pernah merasa bersalah, sekarang kamu adalah isteriku, wanitaku, dan milikku," tegas Gerry.
Mira tersenyum, ia memeluk Gerry dari samping. Bersandar pada dada polos Gerry.
"Kita lanjutkan? Jujur, tubuhmu membuatku candu," goda Gerry.
Mira menunduk malu, memukul lengan Gerry, tetapi mengangguk mau kemudian. Gerry terkekeh dengan sikap Mira.
"Kau menyebalkan," gerutu Mira tapi tertekan kemudian dengan desahan nikmat yang ia keluarkan.
Hati dan fisik, keduanya tidak dapat berbohong, batin Gerry.
*
*
*
"Guys, aku pulang duluan ya," pamit Riska pada teman-teman SMP-nya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Ini rekor baru ia pulang malam tanpa ada keluarga bersamanya.
"Gue antar ya Ris," tawar salah seorang pria muda yang wajahnya paling tampan di antara teman pria SMP Riska.
Teman-temannya, baik pria maupun wanita riuh dengan tawaran itu. Mereka heboh, pasalnya selama yang mereka tahu, Pria itu sudah menyukai Riska sejak SMP, tetapi terlalu kurang percaya diri.
Alhasil ia hanya memendam rasa, hari ini berani sedikit mengungkapkan, kemajuan pesat bagi tema-temannya. Riska menggeleng.
"Enggak usah Xel, gue sudah dijemput di bawah. Makasih tawarannya. Gue balik ya, good night," tolak Riksa halus, dan segera beranjak keluar ruangan, tak lupa melambai pada teman-temannya.
Pria bernama Ecxel itu menatap kepergian Mira dengan hati yang kecewa.
"Sabar, masih banyak waktu," ujar temannya, menepuk pundaknya keras, membuat lamunan Ecxel buyar.
Ia tersenyum kecut kemudian mengangguk.
"Riksa memang begitu Xel, sulit banget dideketin. Di sekolah saja, ia begitu tertutup sama yang namanya laki-laki. Gue heran kenapa dia enggak mau pacaran."
Salah seorang teman perempuan Riska, yang kebetulan satu kelas dengan Mira di SMA, menyangga dagunya berpose berpikir.
__ADS_1
"Namanya juga anak jenderal, ketat aturan keluarga mereka. Lagian Riska juga bukan elo, wanita seribu mantan!"sahut anak perempuan yang menggunakan dress putih polos seraya memainkan handphone.
"Namanya gue cari yang paling terbaik. Sampelnya juga harus banyak kan?"
"Tapi enggak mungkin juga, wanita secantik Riska enggak ada yang punya. Gue yakin pasti Riska punya kekasih, setidaknya ia taksir lah."
"Iya juga ya, pasti dia sudah ada jodoh yang ditetapkan keluarga. Orang kaya, perjodohan mah biasa. Saudara gue, dari lahir sudah ditunangkan sama anak sahabat Papa gue."
"Berarti loe juga dong Lis?"
"Hm."
"Wih, cakep enggak tunangan loe Lis? Kenalin dong."
"Dia kuliah di luar negeri, dua tahun lagi baru balik. Gue saja enggak tahu rupanya kayak apa."
"Ck, elo terlalu bodo' amat sama diri loe Lis."
Begitulah, mereka bergosip dan saling melempar pertanyaan, mengupas tuntas apa yang terjadi pada mereka setelah lulus dari SMP. Tak jarang, gelak tawa dan wajah kesal tercetak diantara mereka.
*
*
*
Riska berjalan santai di koridor lantai 3. Suasana koridor sepi, hanya ada satu dua orang yang lewat. Sebenarnya Riska tidak pulang ke rumah, ia menginap di sini. Sekarang Riksa ini ke lobby untuk check in satu malam.
Di rumah pun tidak ada keluarga, Tuan Adiguna dan Intan tadi mengabarinya bahwa mereka akan keluar negeri selama dua hari. Mumpung sekolah sudah libur, Riska ini suasana tidur baru.
Riska bernyanyi kecil lagu favoritnya. Langkahnya terhenti, Riska mengeryit melihat seseorang yang ia kenal berjalan sempoyongan dengan berpegang pada dinding.
"Om Satya? Dia kok sendirian? Mabuk lagi sepertinya, datangi enggak ya?"
Riska bergulat dengan batinnya. Ia tidak tega melihat Satya yang hampir jatuh walaupun sudah berpegang pada dinding.
Satu sisi, jiwa penolong Riska mendesak ingin membantu Satya, tetapi sisi lain mencegah.
Riska khawatir seandainya nanti Satya malah mencelakainya, Satyakan sedang mabuk, dan biasanya orang mabuk sulit mengontrol diri mereka.
Tapi biar bagaimanapun dia sahabatnya Kak Mira, juga salah satu dari Tuan Muda besar, aku percaya mereka punya kontrol diri yang tinggi, batin Riska berjalan mendekati Satya yang sudah terduduk lemas di lantai.
Kepala Satya menunduk, menengadah saat melihat sepasang kaki di depannya.
Mata Satya yang sudah meredup, sedikit membuka dengan alis terangkat.
"Siapa kamu?"tanya Satya.
"Anak bungsu Tuan Adiguna," jawab Riska.
Satya membuka lebar matanya seketika, ia meneliti wajah Riska seraya mengingat. Ia kemudian mengangguk pelan dan menerima ukuran tangan Riska.
Riska membantu Satya berdiri. Karena tubuh Satya yang lemah, Satya malah jatuh ke pelukan Riska. Untung pertahanan kaki Riksa kuat, sehingga mampu menahan tubuh besar itu.
Wajah Satya tepat berada di pundak Riska. Riska meremang merasakan deru nafas Satya di telinganya.
Kedua tangan Riska, tanpa sadar memeluk Satya. Setelah sadar dari keterkejutannya Riska segera mengganti posisi. Ia meletakkan satu tangan Satya di pundaknya, satu tangannya merangkul pinggang Satya.
Satya sedikit membuka matanya, melihat Riska yang agak kesulitan membantu dirinya.
"Om, kamar Anda di mana? Kita sudah di depan lift," tanya Riska, nafasnya sedikit tersenggal.
"Lantai 5, 222," jawab Satya serak.
Di dalam lift, tanpa Riska sadari, Satya menatap lekat wajahnya. Mata pria itu mengerjap perlahan, dengan senyum di bibir.
Setibanya di lantai 5, Riska segera mencari kamar nomor 222, yang mana kamar ini berderet dengan kamar dua pasangan lain, termasuk Gerry dan Mira.
"Kuncinya Om."
"Lepaskan aku," ucap Satya.
Riska melepas rangkulannya, Satya terduduk di samping pintu.
"Ambil di saku celanaku, kartu warna kuning," ujar Satya, menutup matanya.
Riska dengan ragu dan canggung, berjongkok memeriksa kantong celana Satya.
Mata Satya membuka sedikit, melirik wajah Mira yang menunduk mengambil dompetnya.
Setelah dapat, Riska langsung menempelkan kartu kuning itu ke kunci pintu. Pintu terbuka seketika. Riska kembali membantu Satya berdiri dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Riska mendudukan Satya di pinggir ranjang. Seusai itu, Riska menarik nafas lega. Ia tersenyum lembut. Mata Satya yang memerah, menatap Riska, matanya mengucapkan terima kasih.
"Kalau gitu Riska keluar ya Om. Malam Om," ujar Riska berbalik, saat hendak melangkah, tangannya ditahan oleh Satya.
Satya yang menunduk, menatap Riska dengan senyum aneh. Perasaan Riska tidak enak seketika. Ia menoleh ke arah Satya, wajahnya protes.
"Temani aku malam ini," ucap Satya tegas.
Menarik tangan Riska cepat, tubuh mungil Riska tertarik, menimpa dada Satya. Satya berbaring di ranjang dengan mata menatap manik mata Riska. Sesaat Riska terpesona dengan mata emerald Satya.
Hanya sesaat, Riska berontak. Seketika Riska menyesali keputusannya. Satya mengeratkan pegangannya pada kedua tangan Riska.
"Om lepaskan aku Om. Aku enggak mau nemeni Om. Om kan tampan, kaya, cari wanita lain saja Om. Riska masih pelajar, belum cukup umur. Riska juga anak jenderal, Om mau ditembak mati sama Papa aku? Lepaskan ya Om," pinta Riska ngelantur, rasa takut membuatnya mengucapkan apa yang terlintas di pikirannya.
Satya menyunggingkan senyum, tangannya beralih memeluk Riska. Kini dada Riska tetap terhimpit dengan dada Satya. Riska semakin gelagapan. Ia semakin gencar berontak.
"Kalau Om nekat, aku akan teriak, biar om dipukuli sama massa!"ancam Riska.
"Daripada teriak, mengapa tidak menelpon orang tuamu saja? Aku penasaran rasa peluru dari Papa mu, anak kecil!"sahut Satya.
Riska tertegun sejenak. Ia mendengus sebal, teringat baterai handphone yang sudah habis.
"Om jangan makan Riska ya. Masa depan Riska masih panjang. Riska punya orang tua yang menaruh harapan besar pada Riska. Mereka akan kecewa jika Riska tidak suci lagi. Riska akan dikucilkan, Riska enggak mau Om. Kehilangan kehormatan tanpa ikatan adalah hak paling memalukan Om. Niat saya baik membantu Om, mengapa Om hendak membalasnya dengan air tuba? Kalau seandainya Om punya anak atau adik perempuan ataupun wanita yang paling om sayang, apa Om tega seandainya mereka berada pada posisi saya sekarang? Om orang berpendidikan, rendahan sekali Om memaksa saya menemani Om di sini. Tahukan Om, bahwa **** di usia sini menyebabkan banyak masalah di kemudian hari? Apa Om tega, membuat saya begitu? Selain itu nama Om juga akan jelek," cecar Riska panjang lebar, berusaha membuat Satya sadar.
Satya menaikkan kedua alisnya.
"Sayangnya aku tidak punya, mereka semua sudah menikah. Dan yang masih dini adalah dirimu, bukan diriku. Jadi, memakanmu adalah kenikmatan tersendiri bagiku. Kau masih gadis bukan? Aku tidak sabar membobolnya," sahut Satya, matanya menatap lapar Riska.
Riska tercengang. Matanya sudah memerah, Riska memalingkan wajahnya ke samping.
"Tolong! Tolong!"
Riska berteriak kencang, teriakkan itu menggema di kamar. Satya berdecak lidah, telinga rasanya berdengung.
Bodoh! Ini kedap suara! kesal Satya.
Dengan gerakan cepat, Satya membalik tubuh Riska jadi di bawahnya. Tanpa aba-aba, Satya mencium bibir Riska. Riska tertegun, matanya membulat, kemudian menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
Satya menahan laju gerakan kepala Riska, Riska kini pasrah, dadanya bergemuruh geram dan marah. Marah pada Satya dan dirinya sendiri.
Hanya sebentar, Satya melepas ciumannya. Satya merasa bersalah melihat air mata Riska yang turun mengalir membasahi pipi.
Aigo, padahal aku hanya mengerjainya, mengapa jadi nangis betulan? Repot deh ah.
Walaupun mabuk, Satya punya kontrol diri yang kuat. Ia bisa menahan nafsunya.
Satya beranjak dan berbaring di samping Riska. Satu tangannya menyeka air mata Riska.
"Jangan menangis anak kecil. Aku bercanda. Kamu masih terlalu dini untuk dimakan, sekarang ayo tidur. Malam semakin larut," tutur lembut Satya.
Riska diam, tidak menjawab. Kejadian tadi masih terlalu besar baginya. First kissnya diambil oleh Satya.
"Anak kecil, jangan menangis," pinta Satya.
Perlahan menarik Riska dalam pelukannya. Wajah Riska tetap di dada Satya.
Satya menarik selimut, menyelimuti tubuh mereka berdua.
"Maaf membuatmu takut. Aku bersalah. Kamu bisa menghukumku besok pagi. Sekarang tidurlah, tenang kan pikiranmu," ujar Satya.
"Om, enggak akan menerkam saya kan?"
Riska bertanya dengan suara bergetar. Satya menyentuh rambut Riska.
"Kalau kamu tidak menutup mata, kemungkinan itu akan terjadi," jawab Satya, menggoda.
Riska takut, ia segera menutup mata dengan perasaan yang masih berkecamuk. Satya tersenyum dan menutup matanya.
Ada perasaan asing yang menyelusup ke hati, ada debaran aneh saat memeluk Riska. Entahlah, Satya tidak ambil pusing.
*
*
*
"Sayang, kamu tidak berencana menyatukan mereka kan?"
Arion merinding melihat senyum Karina. Keduanya melihat jelas apa yang terjadi di kamar Satya lewat CCTV.
Karina yang agak was-was dengan Satya memang memantau Satya. Jujur, ia sedih melihat Satya yang frustasi di ruangan makan tadi. Tapi sekarang, Karina sudah punya untuk mengatasi hal itu.
"Yap, benar. Seperti kita harus menunda kepulangan kita besok," jawab Karina.
__ADS_1
"Ya kamu benar. Dan aku rasa, mereka juga tidak akan menolak, walaupun awalnya iya," tambah Arion.
Keduanya sama-sama tersenyum lebar.