
"Kamu harus ingat saat aku mengenalkan diriku," ucap Pria itu serius. Mira mengerutkan dahinya dalam.
Memorinya bekerja keras mengingat siapa Pria di sampingnya ini. Mira bertanya-tanya, apakah dia pernah amnesia ringan? Tapi, Mira penasaran juga dengan nama Pria ini. Mira menarik nafas panjang dan mendaratkan wajahnya.
"Katakan, semoga aku ingat," ucap Mira datar.
Pria itu tersenyum kecut dan menyatukan kedua tangannya, mengepal di antara pahanya.
"Satya Airlangga, itu namaku. Pertama kali bertemu denganmu di panti asuhan Melati dan berpisah saat kamu diadopsi oleh keluarga Adiguna. Haih, bahkan saat kamu meninggalkan panti, kamu tidak berpamitan denganku. Kamu juga tidak pernah mengunjungiku, kau benar-benar kejam Mira," tutur Pria itu dengan wajah sedih.
Mira terpaku dengan penuturan Pria itu yang tidak lain adalah Satya. Pesan-pesan yang masuk ke handphone nya tanpa suara tidak Mira dihiraukan. Semua perhatiannya tertuju pada Satya.
Mira memejamkan matanya memaksa menemukan memori mengenai Satya. Beberapa menit berlalu, Mira membuka matanya dan menatap rumit Satya. Bibirnya tampak bergetar dan jari telunjuk yang hendak menunjuk Satya.
"Apakah kamu Kak Satya? Yang tidak sengaja aku timpahin saat aku jatuh dari pohon mangga? Benarkan? Kamu Kak Satya kan? Pemuda yang memeluk diriku saat pertama kali aku menginjakkan kaki di panti. Pemuda yang memelukku saat hujan dan petir datang, benarkan ini kamu?" cecar Mira bertubi-tubi dengan tatapan tidak percaya. Satya tersenyum tipis.
"Aku puas dengan sambutanmu. Ya, ini aku Mir, Satya," jawab Satya menatap dalam Mira.
Mira, masih menunjukkan wajah tidak percayanya, dan secara nalurinya, Mira mendekat hendak memeluk tapi ada seraut wajah takut. Satya yang merasa mendapat sambutan baik, langsung saja menarik Mira dalam dekapannya. Mira sesaat terpaku kembali sebelum menitikkan air mata di bahu Satya. Satya dengan lembut mengusap punggung Mira.
"Baguslah kamu sudah ingat Mir, lega rasanya diriku," ucap Satya.
Mira memejamkan matanya bersyukur, bisa kembali dipertemukan dengan Satya, seseorang yang cukup berarti baginya. Mira, menganggap Satya sebagai kakaknya, sedangkan Satya, ada cinta dalam diam di sana, kasih sayang yang ia berikan, ada cinta sebagai kekasih, tidak hanya sebagai adik.
"Tapi, bukankah kita bertemu sekitar tiga tahun lalu? Dan itu di taman ini juga kan?" tanya Mira yang merasa heran.
Satya mendatarkan wajahnya, memang benar apa yang dikatakan Mira. Tiga tahun lalu di tempat yang sama, mereka bertemu kembali setelah berpisah sekian lama.
Satya yang setelah kepergian Mira dibawa oleh Karina ke markas, tidak punya waktu untuk mencari Mira, hanya tahu Mira diadopsi keluarga Adiguna. Keduanya juga melepas rindu di taman ini, sayangnya di hari itu, hati Satya hancur sebab sekembalinya dari pertemuan ini, besok Mira sudah menyandang status istri dari pria lain, bukan dirinya.
Satya, kala itu ingin berteriak bahwa ia mencintai Mira, sangat. Akan tetapi, melihat wajah bahagia Mira dan cerita Mira mengenai calon suaminya, Satya mengubur dalam-dalam niatnya. Cintanya akan jadi cinta menyakitkan, jika ia egois dan memaksa Mira untuk menjadi miliknya. Ikhlas, Satya harus ikhlas kala itu. Menatap Mira dan Pria yang sudah menjadi suaminya dari kejauhan lalu melangkah pergi dengan hati yang kacau balau.
Seminggu berlalu, Satya yang disibukkan dengan pekerjaan dan misinya, mendapat kabar tidak mengenakkan dari bawahannya, apalagi kalau bukan tentang kabar kematian Eko. Jantung Satya berdebar kencang kala itu dengan raut wajah cemas, ia berniat untuk menemui Mira, Satya berkata pada dirinya sendiri bahwa Mira butuh sandaran.
Lagi-lagi ketidakberuntungan cinta berpihak padanya, ia terlambat, Mira sudah pergi ke luar negeri entah kemana tujuannya. Satya berusaha mencari, sayangnya ia tidak pernah mendapat jawaban. Mira bak ditekan bumi saat itu.
Satya menghela nafas panjang dan merapikan rambut Mira yang berantakan. Mira tidak menolak, sebab baginya Satya adalah kakaknya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Satya sendu. Mira tersenyum.
"Aku baik Kak, kalau tidak mana bisa aku berada di sini sekarang, kakak sendiri bagaimana?" jawab Mira disertai dengan tawa ringan nya.
Secara fisik aku baik, secara batin … entahlah, batin Satya.
"Seperti yang kamu lihat. Tapi Mira … maksudku bukan fisikmu tapi hati dan perasaanmu, apakah kamu sudah merelakan suamimu pergi? Oh dan satu lagi, aku juga sakit batin, kamu membuatku tidak tenang selama kita berpisah, cckckck," papar Satya serius.
Mira terdiam, ia menatap Satya dengan tatapan sulit diartikan. Sepeduli itu Satya padanya? Aih, Mira merasa sangat bersalah membuat semua keluarga dan orang terdekatnya khawatir.
"Maaf," ucap Mira tulus dengan penyesalan yang teramat.
"Tidak apa, yang penting kamu baik-baik saja. Kamu sudah membayar tuntas kekhawatiranku," ucap Satya.
"Tapi aku lebih suka kamu tidak pergi Mira. Mendengar kepergiannya, membuatku bertanya-tanya apakah kamu menganggap dirimu sendiri di dunia ini? Apakah kamu tidak mengingatku? Padahal aku selalu sedia menjadi tempat bersandarmu. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Kamu sudah kembali, aku bahagia sekali."
Mira mengangguk pelan. Senyum tipis ia sematkan di bibirnya.
"Sekali lagi aku minta maaf Kak, aku janji akan membayar tuntas rasa khawatirnya, dan aku baik Kak, batinku juga sudah membaik. Rasa ikhlas memberikan ketenangan tidak terbatas. Oh iya, apa statusmu sekarang? Apakah aku sudah jadi aunty?" tanya Mira penasaran sukses membuat Satya terbatuk kaget.
Aku ingin kamu yang jadi Ibu untuk keturunanku, Mir, jawab Satya salam dari.
Ayo lah, usia Satya sudah hampir kepala tiga, tidak ada waktu? Memangnya apa pekerjaan Satya? Itukah yang ada di benak Mira.
"Ya, waktuku sudah habis, aku harus segera pergi. Aku akan menghubungimu nanti, ingat harus kamu jawab dan balas! Aku menyayangimu. Dan janjimu sudah ke pegang erat. Jangan ingkar janji ya!" ujar Satya bangkit dari duduknya, membuat Mira ikut berdiri.
"Baiklah, tapi di mana kamu bekerja? Mana tahu aku bisa mengunjungimu, Kak," ucap Mira.
"Kasino terbesar di sini, aku pergi," jawab Satya segera melenggang pergi, dan diikuti dengan beranjaknya beberapa orang yang memenuhi bangku taman tadi. Mira menatap rumit punggung Satya yang masih terlihat olehnya.
Sebenarnya apa posisinya? batin Mira penasaran.
Tak berselang lama, Riska kembali dengan pakaian yang berbeda. Mira mengeryit melihatnya. Riska duduk dengan wajah kesalnya. Mira yakin ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi pada Riska, rasa bersalah hinggap di hatinya.
"Apa yang terjadi padamu Ris?" tanya Mira. Riska berdecak sebal dan menatap Mira. Kedua tangannya menyilang di dada.
"Aku kesal sekali! Kau tahu Kak, aku keliling taman ini mencari penjual es krim, dan sialnya lagi ada orang yang menyebalkan membuat bajuku basah kuyup sama genangan air saat di pinggir jalan tadi. Untung dia mau tanggung jawab, kalau enggak aku suruh Papa menangani nya. Malah es krimnya juga ikut kotor lagi. Makanya aku lama, harus ke butik beli pakaian baru. Dan yang membuatku makin kesal lagi, lelah aku antri gitu giliranku es krimnya habis, malah penjualnya langsung tutup stan lagi, padahal kan itu es krim favorit aku," omel Riska dengan nada kesalnya. Mira tertegun sesaat, apakah ini ulah Satya? Mira semakin penasaran apa posisi Satya di kasino itu, mengapa bisa berani mencari masalah dengan anak jenderal? Mira menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Kamu enggak papa kan?" tanya Mira memastikan. Riska menggeleng.
"Maaf ya Kak, Kakak nunggu kelamaan," ucap sesal Riska. Mira tersenyum.
"Tidak masalah, yang penting kamu fine. Ya sudah ayo kita kembali, Mama pasti sudah cemas, kita terlalu lama keluar," ucap lega Mira yang diangguki Riska.
Keduanya lantas segera bergegas menuju di mana mobil mereka diparkir. Saat hendak membuka pintu, Mira mengeryit melihat ada plastik yang tergantung di kaca spion mobil.
"Ada apa Kak?" tanya Riska yang melihat Mira termenung.
"Ada orang iseng Ris, memangnya spion mobil tempat cantolan barang apa?" sahut Mira segera mengambil plastik tersebut lalu masuk ke dalam mobil, dan membuka isinya.
Mira mengeluarkan isinya yang berupa sebuah kotak berwarna biru muda. Riska menatap penasaran dan meminta agar Mira segera membuka kotak tersebut. Mereka mengeryit mendapati isi kotak tersebut adalah dua buah es krim rasa coklat dan mocha. Keduanya bertatapan bingung. Mira kembali melihat plastik dan mendapati sebuah tulisan.
Untuk permintaan maafku pada adikmu. Mira sepertinya tahu siapa pengirimnya.
"Boleh dimakan enggak Kak?"
Riska menunjukkan wajah ingin nya dengan air liur berusaha ia tahan agar tidak keluar. Mira mengangguk. Riska mengambil rasa coklat dan Mira mocha. Mira tanpa ragu yang menyantapnya sedangkan Riska yang tadinya sangat ingin menatap ragu.
"Enggak ada racunnya kan? Kan tidak lucu ada kabar tentang putri dan menantu jenderal Adiguna ditemukan tewas di mobil karena keracunan es krim," tanya Riska.
"Makan saja. Urusan hidup dan mati serahkan pada Tuhan," sahut Mira santai. Dengan perlahan, lidah Riska menyentuh permukaan es krim. Lambat laun, Riska menjadi enjoy menikmati es krim coklatnya. Setelah habis, barulah Mira mengemudi menuju kediaman Adiguna. Mood Riska juga sudah membaik.
...****************...
...****************...
...****************...
Dalam perjalanan menuju kasino, Satya tersenyum lebar, ia lega memastikan Mira baik-baik saja. Sebenarnya, ia ingin menyatakan perasaannya saat itu juga, akan tetapi waktu yang super sempit membuatnya menahan niatnya. Padahal cincin sudah berada di celananya. Faktor lain adalah keyakinan, Satya masih takut bahwa Mira akan menolaknya dan malah menjauhinya.
Satya bertekad untuk masuk lebih jauh ke hati Mira bukan sebagai kakak, tapi sebagai kekasih. Satya harus membuat rencana agar keinginan hatinya tercapai.
Satya, agaknya lupa satu hal, selain keinginan hati tercapai, Satya juga harus menangani mertua Mira. Ketidaktahuan Satya akan hubungan Gerry dan Mira membuatnya malah semakin bersemangat. Ia yakin dan berharap, kali ini keberuntungan dan takdir cinta berpihak padanya.
Satya tidak sabar melepas masa lajangnya bersama Mira. Pohon harapan semakin lebat. Penantiannya akan menjadi kenyataan. Semoga takdir memang berpihak padanya.
__ADS_1
Setibanya di kasino, Satya langsung menuju ruang kerjanya. Menyapa Rian yang menatapnya dengan heran. Tapi, Satya tidak menghiraukan tatapan heran Rian dan mengerjakan pekerjaannya dengan semangat membara.