Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 235


__ADS_3

Dari pagi, hujan mengguyur kota S. Karina yang tidak berangkat ke kantor, mengamati jatuhnya air menghantam bumi sembari menikmati segelas coklat hangat dari balkon kamarnya. Suaminya sudah pergi bekerja. Derasnya hujan, bukanlah halangan. Baru beberapa sesapan, Karina meletakkan gelasnya.


Karina lalu menaikkan pandangannya menatap langit. Kilat petir menghiasi langit. Udara dingin menyapa tubuh Karina. Karina merapatkan selimut menutupi tubuhnya.


Tak berapa lama Karina menoleh ke belakang, mendengar ada yang membuka pintu. Bik Mirna menunduk hormat.


"Ada apa?" tanya Karina datar.


"Saya perhatikan Anda memiliki banyak pikiran. Nona, cuaca dingin tidak cocok untuk Anda dan para pewaris. Saya mohon Anda masuk ke dalam," tutur Bik Mirna sopan. Karina tersenyum tipis.


"Biru adalah warna kesukaanku. Dingin, adalah bagian dari hidupku. Kau yang paling mengerti aku, Bibi. Kau sudah ikut denganku sejak aku tiba di kota ini. Kau yang tahu bagaimana perjuanganku hingga sampai di titik ini. Bibi dan lainnya, adalah keluargaku. Oleh sebab itu, aku akan menurutimu," ujar Karina, berdiri dan tersenyum lebar saat bersampingan dengan Bik. Bik Mirna tersenyum lebar penuh ketulusan.


"Saya merasa terhormat Nona," tutur Bik Mirna.


Karina melangkah masuk dan duduk di sofa. Bik Mirna menutup balkon dan menyalakan penghangat ruangan. Karina memejamkan matanya. Bik Mirna setia menunggu di dekat Karina sebab belum ada perintah untuk keluar.


"Ngomong-ngomong, apa Bibi tidak rindu dengan anak Bibi?" tanya Karina tanpa membuka matanya. Bik Mirna tampak tertegun, tidak pernah menduga Karina akan menanyakan hal itu.


Okey, Bik Mirna dan Pak Anton adalah suami istri. Bik Mirna, Karina pekerjakan saat ia tiba di kota ini. Sedangkan Pak Anton, adalah sopir setia Karina sejak Karina masih bersama pengasuhnya. Bik Mirna sendiri adalah seorang janda dan memiliki seorang putra.


Sayangnya, putra beliau menyinggung Karina dan tanpa terbantahkan, putranya dikirim ke area pertambangan minyak bumi di luar negeri, sebagai hukuman. Kesalahannya yang diperbuat adalah merusak foto keluarga Karina, yang mana itu hanya satu-satunya yang Karina miliki. Bersama Pak Anton, Bik Mirna tidak mempunyai anak sebab rahim Bik Mirna harus diangkat karena peluru yang menembusnya. Penyebabnya adalah, Bik Mirna menyelamatkan Karina.


"Mana ada sih Non, seorang ibu yang tidak merindukan anaknya. Tapi, saya sadar rasa rindu ini harus saya tahan dan hanya bisa saya salurkan melalui doa agar dirinya sehat selalu di sana sampai batas waktu yang Nona tentukan habis. Jujur, saya tidak sabar melihatnya. Bagaimana perubahannya setelah sepuluh tahun," tutur Bik Mirna menyeka air mata yang keluar. Karina membuka mata dan meliriknya sekilas.


"Apakah ada rasa marah Bibi pada saya karena saya memisahkan Bibi dengannya?"


Pandangan Karina lurus ke depan. Tangannya bergerak meraih remote dan menyalakan televisi. Bukan siaran channel, tetapi layar menampilkan video disertai foto di pinggirannya. Bik Mirna tampak terbelalak.


"Itulah anakmu. Anak yang berusia sepuluh tahun yang ku kirim ke sana, setahun lagi dia akan kembali bukan?" Bik Mirna tidak menjawab dan berjalan mendekati layar. Menatap dari dekat gambar bergerak yang menampilkan suasana pertambangan dan para pekerjanya. Anak berusia sekitar 19 tahun dengan kulit gelap sibuk membuka tutup pipa menyalurkan hasil tambang. Bik Mirna menangis dan tangannya bergetak saat menyentuh wajah pria dari layar itu.


"Nona, dia Andri?" Bik Mirna menatap Karina dengan mata sembab dan harapan.


"Ya, dia putramu," jawab Karina. Bik Mirna kembali menangis, tangis bahagia sebab ia bisa melihat wajah sang anak walaupun virtual. Karina mematikan televisi. Bik Mirna berdiri dan mengelap air matanya dengan sapu tangan.


Karina menarik nafas kasar dan menatap datar.


"Nona, terima kasih. Anda telah mengobati rasa rindu saya. Kalau begitu saya permisi keluar," ujar Bik Mirna membungkuk hormat.


"Hm, keluarlah!" sahut Karina datar. Setelah Bik Mirna keluar, Karina beranjak dan duduk di depan cermin.


"Kadang aku merasa sangat takut pada diriku. Aku takut, aku akan kehilangan orang-orang yang menyayangiku karena masa laluku. Tanganku yang berlumuran darah, adalah jalanku mencapai kedudukan di dunia bawah. Karma? Apakah benar penyakit yang menimpa Joya itu karma? Apakah penyakit lambung akut dan psiskopatku ini juga karma?" monolog Karina dengan wajah tanpa ekspresinya. Suhu kamar yang hangat, tiba-tiba saja menjadi dingin saat Karina menyeringai.


Bik Mirna langsung menuju pavilium tempatnya dan Pak Anton tinggal sambil berlari. Pak Anton terkejut saat melihat Bik Mirna membuka kasar pintu dan langsung memeluknya. Pak Anton yang tidak paham, langsung membalas pelukan Bik Mirna seraya mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Dia tampan Pak. Aku sudah melihatnya. Sayangnya, tubuhnya kurus," ucap Bik Mirna di sela tangisannya. Dahi Pak Anton mengeryit.


"Dia siapa Bu?" tanya Pak Anton bingung.


"Anak kita, Andri. Ibu melihatnya tadi di kamar Nona dari siaran live," jawab Bik Mirna. Pak Anton tertegun. Jelas ia tahu siapa Andri, anak tirinya bukan?


"Kok bisa Nona melakukan itu Buk?" tanya Pak Anton menatap wajah Bik Mirna.


"Ibu juga enggak tahu Pak. Tapi, Ibu merasa Nona melakukan itu karena ada titik rasa bersalah. Samar, Ibu lihat mata dingin Nona terpatri penyesalan," jawab Bik Mirna. Pak Anton tampak tidak percaya dan dengan lembut menghapus air mata Bik Mirna.


"Apapun itu alasannya. Bapak senang lihat Ibu senang. Setahun lagi bukan? Percayalah, itu waktu yang singkat. Tanpa kita sadari, sebentar lagi bulan akan berganti dan tahun juga akan berganti. Ternyata tidak mahkluk hidup saja ya yang menua, bumipun ikut menua," tutur Pak Anton, mencubit gemas hidung Bik Mirna agar tangisan istrinya itu berhenti.


"Aduh, sakit Pak!" keluh Bik Mirna, Pak Anton terkekeh dan langsung menarik kembali Bik Mirna dalam pelukannya.


"Bu, bolehkah Bapak meminta hakku?" tanya Pak Anton ragu dan penuh harap.


Wajah Bik Mirna memerah malu dan memukul dada suaminya.


"Masih pagi ah Pak, kalau Nona manggil gimana? Bukannya nikmat, ambyar iya," ucap Bik Mirna malu-malu tapi mau.


"Enggak bakalan Bu. Ayolah," rayu Pak Anton mengedipkan matanya menggoda.


"Hm, gimana ya?" Bik Mirna masih tanpa ragu. Setelah pertimbangan, Bik Mirna mengangguk pelan. Pak Anton tersenyum puas dan hendak mencium bibir istrinya. Sedikit lagi menempel, suara Karina yang dingin memanggil Pak Anton. Keduanya menghela nafas kasar dan saling tersenyum masam. Bik Mirna menaikkan bahunya melihat wajah kecewa Pak Anton.


"Ayo sana. Nanti Nona ngamuk loh," suruh Bik Mirna.


*


*


*


Karina mendengus kesal melihat pekerjanya yang mau hangat-hangatan di suhu dingin pada jam kerja. Dengan segera ia memanggil salah satunya dan menyuruh datang menemuinya di ruang tengah.


"Saya Nona," ucap Pak Anton tegas dan sopan.


"Sebentar lagi sepertinya hujan reda. Siapakan mobil, saya mau ke mall!" titah Karina tegas. Pak Anton mengangguk dan segera menuju garasi memanaskan mobil.


Karina berdecak lidah menatap kepergian Pak Anton.


"Daripada aku pusing, mendingan aku shopping," gumam Karina membuka tasnya dan mengambil blackcard yang Arion berikan.


Arion membulatkan matanya melihat notifikasi atas penggunaan blackcard yang ada pada Karina.

__ADS_1


"Gila! Belanja apa dia sebanyak itu? Jangan katakan jika itu hewan enggak jelas!"


Arion meletakkan kasar handphone-nya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Arion hanya kaget, bukan mengeluh. Toh, memang kartu itu ia berikan untuk Karina, terserah Karina mau dibuat apa dong.


Selama ini, juga Karina tidak macam-macam. Sifat Karina yang tertarik dan cocok ya dibeli kalau enggak yang lewati. Orang sudah dilihat dan ditanya harganya saja enggak jadi beli.


"Memangnya kalau bertanya dan menawar harga sudah pasti beli?"


Begitulah jawaban Karina saat Arion memprotesnya.


"Memangnya kalau banyak uang gak boleh menawar?"


Itu juga jawaban Karina saat Karina menawar harga barang yang menurutnya terlalu tinggi.


*


Malam ini malam minggu, Karina dan Arion memutuskan untuk makan malam di luar. Seusai Isya mereka langsung on the way menuju restoran tempat mereka hendak makan.


Suasana restoran yang romantis, ditambah dengan alunan melodi romantis juga, membuat Karina dan Arion sangat menikmati suasana. Konsep atap kaca yang transparan, membuat para pengunjung restoran yang hanya berlantai satu ini dapat melihat anak langit malam yang unjuk diri. Kerlap-kerlip bintang ditambah sinar rembulan, menambah suasana romantis. Restoran ini juga menyediakan lantai dansa. Terlihat, beberapa pasangan berdansa dengan gerakan yang indah dan menawan. Menuai decak kagum dari para pengunjung lagi.


Karina dan Arion menikmati suasana sembari menyantap makan malam mereka. Tak peduli tatap mata yang menatap mereka, Arion terus menyuapi Karina begitupun dengan Karina yang menyuapi Arion. Untungnya, restoran ini khusus bagi yang sudah berpasangan, bukan single or jomblo. Jadi, tidak akan ada yang ternistakan dengan kemesraan yang tercipta.


"Yang, lihat deh bintang dan bulan itu, serasi bukan?" ujar Arion, mengarahkan telunjuk kanannya menunjuk bulan dan bintang yang tampak jelas dari tempat mereka duduk.


Karina mengikuti arah tunjuk Arion. Wajah datarnya, kini menampilkan senyum tipis.


"Hm," gumam Karina.


"Sangat serasi, dulu aku mengibaratkan matahari adalah ayah dari bintang dan bulan adalah ibunya. Aku berimajinasi, bahwa matahari dan bulan berpisah. Bintang memilih ikut bulan, meninggalkan matahari sendiri. Makanya, bintang hanya muncul malam hari bersama bulan," oceh Karina menceritakan kenangan masa kecilnya. Arion menaikkan satu alisnya dan menatap Karina.


"Siapa yang mengajarimu tentang itu? Ada-ada saja. Mereka kan benda langit dengan pergerakan yang sudah diatur oleh Allah. Tapi, lucu juga ibaratnya. Apa kau membuatnya dari sifat matahari yang panas, hingga bulan dan bintang tidak tahan untuk tetap bersama?" komentar Arion. Karina mengangguk pelan. Arion terperangah, tak lama tertawa renyah.


"Sudah! Jangan tertawa lagi, kau membuatku malu!" ujar Karina kesal dengan tawa Arion. Arion langsung diam. Namun, senyum geli masih disematkan.


Karina mendengus sebal dan meminum jus kiwinya. Entahlah, sejak insiden ia dilarang minum kopi di warung itu, Karina malah tertarik dengan buah kiwi.


"Yang, jangan ngambek dong," rayu Arion meraih tangan Karina. Karina menatap acuh. Suasana hening di antara mereka berdua. Arion putar otak untuk mengembalikan mood Karina.


"Yang, kamu tahu gak bedanya aku dengan tumbuhan?" tanya Arion dengan nada menggombal. Karina menggerakkan alisnya sedikit tertarik. Arion tersenyum manis. Karina ikut tersenyum.


"Tentu saja tahu. Tumbuhan tidak bisa hidup tanpa cahaya, sedangkan kamu tidak bisa hidup tanpa aku, benarkan?" Karina menaikturunkan alisnya. Arion terkesiap, dan kembali tertawa renyah.


Niatnya ingin menggombali Karina, malah jadi garing sebab Karina menjawab tepat.

__ADS_1


"Aku juga ada," ujar Karina.


"Apa itu?" tanya Arion penasaran.


__ADS_2