
Pukul 15.00, Darwis dan Joya berpamitan pada Karina dan rekan mereka. Mereka akan terbang satu jam dari sekarang. Karina yang baru selesai melatih anggotanya hadir untuk melepas kepergian keduanya. Mereka melakukannya di halaman markas.
Darwis menunduk hormat sedangkan Joya enggan melakukannya. Karina tersenyum.
"Hati-hatilah di perjalanan. Jangan lupa singgah ke markas kota N," ujar Karina.
"Baik," sahut Darwis.
"Aku tunggu jawabanmu untuk pertanyaan keduaku Joya. Pikirkan juga lain jawaban pertanyaan satu dan dua. Aku kurang puas dengan jawabanmu tadi," tegas Karina pada Joya.
"Hmph!"
Joya mendengus. Darwis memegang tangan Joya dan mengajaknya tunduk hormat lagi sebelum pergi.
Karina membalasnya dengan mengangguk. Darwis dan Joya segera berbalik dengan menyeret koper mereka.
"Sampaikan salamku pada nyonya Elsa," teriak Karina.
"Baik Karina," jawab Darwis.
Karina melambaikan tangannya kala kedua sudah memasuki mobil dan bersiap melaju. Sang sopir membunyikan klakson beberapa kali tanda berpamitan. Karina tersenyum. Mobil yang membawa Darwis dan Joya melaju meninggalkan markas utama Pedang Biru.
"Akhirnya tak ada lagi pemandangan yang membuat mataku panas," ujar lega Gerry mengelus dadanya.
"Masih ada Kak Gerry, tuh Elina dan kak Li," ucap Karina melirik Li dan Elina yang saling tatap.
Gerry menoleh ke arah Li dan Gerry. Ia menghela nafas panjang.
"Kau benar. Tuhan kirimkan aku bidadari sesuai dengan kriteriaku. Aku mohon," pinta Gerry menengadahkan wajah dan kedua tangannya menatap langit biru di atasnya.
"Tuhan sudah memberimu jodoh Gerry. Tinggal kamu yang berusaha menemukannya," ujar Elina.
"Benarkah? Lalu di mana dia? Mengapa belum muncul hingga sekarang?" tanya Gerry heran. Li, Elina dan Karina malah tertawa. Membuat Gerry penasaran dan bingung.
"Dia akan segera hadir jika kau mencarinya. Apa harus aku yang menemukannya untukmu, Kak?" tanya Karina.
"Carikan saja Karina. Menunggu Gerry mencari gak bakalan terjadi. Orang dia keluar markas saja kalau ada tugas. Jika tidak yang ngandang saja di markas," ucap Li mengerling menggoda Gerry yang tersipu.
"Aku setuju dengan Li. Menunggu dia menikah, sama halnya menunggu Bangtan menikah. Tak tahu kapan dan dengan siapa," tambah Elina.
"Benarkah kak? Aku saja yang mencari ya?" Karina menggoda Gerry dengan senyuman manisnya.
"Tidak! Biar aku yang mencari. Kalian tunggu saja kabar dariku!" tegas Gerry berlalu pergi masuk ke dalam.
Karina, Li dan Elina tersenyum lucu.
"Anak itu di umur segini masih perjaka, salut deh," ucap Li.
Karina dan Elina setuju dengan itu.
Dari arah belakang mereka, Arion bersama Blue Boys datang menghampiri.
"Sayang kita pulang?" tanya Arion lembut.
"Hm iya. Kalian mau di sini atau kembali ke rumahku?" tanya Karina pada Blue Boys.
"Tentu saja kami ikut pulang denganmu," jawab Koya.
"Kalau begitu ayo," ucap Karina.
Arion menyerahkan beberapa barang Karina. Tiga mobil yang akan membawa mereka pulang telah menunggu manis. Kali ini Karina lebih memilih menyetir sendiri. Pak Anton langsung disuruh pulang naik taksi kemarin.
"Hati-hati di jalan. Kamu jangan kebut-kebutan, oke," ucap Li memperingati.
"Hm gak janji," sahut Karina, menuntun Arion agar masuk mobil. Li menghela nafas.
Blue Boys khususnya Koya dan Kuki saling pandang.
"Em Karina bisakah kau ubah kecepatan sistem mobil itu?" tanya ragu Koya.
__ADS_1
"Ubah saja sendiri. Kalau sistem suara ya pakai suara. Katakan saja turunkan kecepatan, pasti akan diturunkan. Nama kalian berdua telah tercatat dalam sistem mobil itu. Jadi dia akan menuruti ucapan kalian berdua," jelas Karina.
"Tapi itu sudah kembali ke mode manual kok. Asal tak sembarangan tekan. Pasti akan mode manual saja yang ada," lanjut Karina.
Koya dan Kuki menghela nafas lega.
Mereka segera memasuki mobil masing-masing. Perlahan ketiga mobil itu keluar dan meninggalkan markas utama Pedang Biru.
Melihat jalanan yang tak terlalu padat, membuat Karina dengan santuynya menginjak pedal gas menempuh kecepatan tinggi. Arion hanya bisa pasrah. Toh dibilangin juga gak bisa. Percaya saja dengan istrinya ini.
"Apa dia ratu balapan?" tanya Agus yang melihat mobil yang Karina kemudikan.
"Mungkin saja, tadi ku lihat di markas, di garasinya rata-rata mobil sport," ucap RJ.
"Aku penasaran dengan garasi bawah tanahnya," ucap Tata.
"Palingan mobil koleksinya. Aku tebak dia adalah penggila otomotif. Makan apa si dia waktu kecil kok bisa sejenius itu?" heran Chimmy.
"Lebih cocok ibunya dulu ngidam apa," ujar RJ.
"Mobil ini sepertinya juga modifikasi," ucap Mang.
"Bisa jadi," sahut RJ membuka kulkas yang menyatu dengan pintu dan mengambil minuman dingin berwarna merah.
"Sudahlah kita nikmati saja perjalanan kita ini," ujar Tata.
***
"Ma, Pa, kami pamit pulang ya ke rumah kakak," pamit Enji.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan. Kamu bawa Bayu, jangan ugal-ugalan atau balap-balapan. Bahaya," ucap Maria.
"Oke Ma," jawab Enji.
"Ma, Pa Bayu pergi dulu, rindukan aku," ucap Bayu memeluk Maria dan Amri.
"Kalau kami rindu, tinggal datang ke rumah kakakmu atau vc dan panggilan lainnya," ujar Amri mengusap rambut Bayu.
Setelah berpamitan dan mencium tangan kedua orang tua itu. Enji langsung menaikkan Bayu duduk di jok kereta. Helm kecil yang pas di kepala telah Bayu dan Enji kenakan.
Enji menaikkan cagak motornya dan menghidupkan mesin motornya. Setelah beberapa detik, Enji melajukan motornya meninggalkan kediaman Wijaya menuju kediaman sang kakak.
Bayu memeluk erat Enji dari belakang. Enji tersenyum puas. Sangat puas. Akhirnya ia bisa bertemu dan bersatu dengan buah hatinya. Buah hasil kerjanya dengan kekasihnya yang telah lama berpulang.
Untuk saat ini, Enji belum punya niat untuk menikah dan mencarikan ibu sambung untuk Bayu. Enji ingin fokus menghabiskan waktu bersama dengan Bayu. Ingin mengulang masa-masa saat ia belum tahu siapa Bayu.
Masalah menikah, mungkin itu minus terjadi. Bukan tanpa alasan, melihat sikap Bayu yang jutek, datar dan dingin, yang hampir mirip dengan sang kakak, serta cenderung ketus dengan orang yang tak ia suka, membuat Enji harus berpikir matang-matang jika ingin menikah. Satu sisi adalah restu dan izin sang kakak, bukan asal setuju saja, sang kakak pasti akan membuat tes tak terduga untuk menguji calon istrinya nanti, jika hal itu terjadi.
***
"Kakak, adikmu yang tampan dan imut datang padamu," teriak Bayu dengan suara cemprengnya, membuat Enji menggelengkan kepalanya.
Teriakan Bayu membuat Miu yang asyik molor di ruang tengah terbangun dan menunjukkan wajah kesal. Ia lantas bangkit dan menuju ke halaman belakang.
Lebih nyaman di sana, batinnya.
Sedangkan Blue Boys yang juga di ruang tengah, duduk bercengkrama menoleh ke arah pintu masuk. Anak kecil dan Enji di belakangnya, membuat ketujuh member itu mengernyit.
"Kak, Kakak!" panggil Bayu melangkahkan kakinya masuk. Enji mengikut di belakang dengan kedua tangan di saku jaketnya.
"Loh kok banyak orang di rumah Kakak sih?" tanya Bayu pada Enji, heran melihat kehadiran Blue Boys.
"Tamu kak Karina, Bayu" jawab Enji duduk di samping Chimmy.
"Oh."
Bayu menatap satu-persatu wajah para member, ia mengerjap beberapa kali melihat wajah Kuki. Dahi Bayu mengerut. Tak lama mulutnya terbuka membentuk huruf O.
"Are you Blue Boys?" tanya ragu Bayu.
__ADS_1
"Yes, we are Blue Boys," jawab Koya tersenyum manis ke arah Bayu. Bayu menunjukkan raut wajah tak sukanya. Membuat Enji dan para member saling pandang.
"Jangan tunjukkan senyum manis seperti itu padaku Paman, aku ini hanyalah anak laki-laki kecil berusia 7 tahun. Bukan wanita, lebih baik Anda berikan senyum manis Anda kepada para penggemar. Biar mereka histeris," ketus Bayu menggunakan bahasa Inggris fasihnya, melangkahkan kakinya menaiki tangga.
"Sudah banyak yang histeris dengan senyumku anak kecil," sahut Koya.
Haduh, ketusannya keluar deh, ratap Enji dalam hati.
Gila tuh anak kecil, tadi kagum sekarang ketus, batin RJ, Chimmy, Agus dan Mang.
"Dia siapa Zi?" tanya Tata.
"Anakku," jawab Enji.
"Anakmu? Kau sudah menikah Zi?" tanya heran Kuki.
"Belum," sahut santai Enji.
"Lah jadi dia anak di luar nikah? Umur berapa kamu sudah gituan?" heran Koya.
"Umur 16 tahun ya? Wih keren kamu," terka Jin.
"Hm."
"Tapi kan kamu masih sekolah tingkat atas saat itu? Kok sudah berhubungan badan sih? Apa di sini itu gak dilarang?" heran Tata.
"Itu dilarang. Tapi aku melanggarnya. Aku sadari aku telah melakukan zina, tapi aku segera bertaubat. Tapi kalian tahukan setiap manusia tak ada yang lempeng jalan hidupnya. Nah aku pun sama," terang Enji.
"Ya, aku setuju," sahut Kuki.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Karina turun dengan Arion dan Bayu. Bayu yang awalnya tersenyum ceria jadi jutek melihat Koya.
Karina menghela nafas melihat kelakuan Bayu.
"Bayu, jangan begitu. Kamu gak senang ketemu bintang dunia ini?" tanya Karina.
"Hm aku sebal padanya, kakak tahu kan aku bagaimana? Anak perempuan serta wanita selain kakak, dan mama serta pelayan di rumah, kalau senyumin aku, aku risih kak. Apalagi laki-laki," oceh Bayu dengan nada kesalnya.
"Ubah cara pandangmu Bayu," ujar Karina.
Bayu diam, tak lama mengangguk.
"Jadi siapa namamu anak kecil?" tanya Kuki.
"Hello, my name is Bayu Tirta Sanjaya. Salam kenal, nice too meet you," ujar Bayu membungkuk memperkenalkan dirinya.
Bayu tak heran lagi dengan wajah mirip Ayahnya dan Kuki, sudah dijelaskan duluan oleh Enji tadi.
"Hm aku bingung satu hal. Bayu anaknya Zizi, tapi kok manggil Karina kakak? Seharusnya kan aunty?" tanya heran Agus.
"Memang benar. Tapi aku sudah terbiasa panggil kakak dengan kak Karina. Bahkan aku memanggil kedua mertua kakak, Mama dan Papa. Jika memanggil Tante, kakek atau nenek rasanya aneh dan lidahku kelu," jelas Bayu.
Blue Boys ber-oh-ria.
"Bagaimana hubunganmu dengan Lia? Bayu?" tanya Arion yang sedari tadi nyimak saja.
"Kak tolong jangan sebut anak itu," sungut Bayu cemberut.
"Lia siapa kak?" tanya Enji yang tak tahu akan hal itu.
"Anak yang telah bertekad meluluhkan hati putramu ini. Dia anak dari keluarga Kusama. Kamu tahu kan keluarga itu?" jawab Arion.
"Oh anak itu. Eh Bayu ayah sarankan kamu bukan hati deh. Jangan seperti ayah. Jalan cerita cinta ayah juga begitu pada ibumu. Benci jadi cinta," nasehat Enji.
"Enji kamu ini yang benar dong ngajarin anak, usia segini malah dicekoki masalah asmara. Belajar dulu, kalau usianya sudah cocok nanti baru. Jangan sampai meniru kamu melakukan kesalahan terindah hingga terciptalah Bayu," tutur Karina.
"Kak usianya memang masih bocil, tapi otak dan pemikirannya sudah lebih dari usianya," ujar Enji.
"Kakak tenang saja, Bayu akan mengurus masalah asmara kala sudah tamat SMA," janji Bayu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
__ADS_1
Karina mengangguk dan memegang janji Bayu. Yang lain sebagai saksi hanya bisa tersenyum.