
Karina tidak langsung berangkat ke kantor melainkan ke markas lebih dahulu. Karina tidak lagi menggunakan Didi sebagai sopir. Selama di perjalanan, Karina menonton berita.
Berita kebakaran gudang penyimpanan farmasi Angkasa menjadi trending topik. Gedung yang semula berdiri kokoh kini hanya tinggal pusing hitam.
"Belutnya belum terpancing. Sayang sekali, aku sudah muak bermain-main."
Karina memainkan pisau hadiah dari Arion. Matanya menatap lekat seseorang yang tengah di wawancarai di dalam berita. Pria muda dengan wajah yang cukup rupawan.
"Tapi sayang wajahnya sangat tidak cocok menjadi pimpinan Angkasa Grup. Dia hanya boneka sedarah."
Karina mendengus tawa. Jika layar televisi mini itu adalah sebuah papan sasaran lempar, pasti layar itu sudah retak terkena lemparan pisau.
"K, sudah kalian kumpulkan semua yang aku minta?"
Karina menghubungi tim khususnya.
"Kami masih membutuhkan waktu, Queen. Ada beberapa yang sulit untuk ditemukan," jawab K, hanya nama samaran.
Tim yang beranggota lima orang itu memiliki inisial nama J, K, L, M, dan N.
"Berapa lama?"tanya Karina meminta kepastian.
"Sampai matahari terbenam, kami pastikan semua sudah ada, Queen," jawab K dengan penuh keyakinan.
Karina tersenyum mendengar nada mantap K.
"Baiklah, aku menunggu. Ah satu lagi, kalian akan mendapatkan bantuan dari beberapa bawahan suamiku. Bekerja samalah dengan baik," ujar Karina memberitahu.
Sebelum berangkat, Arion menawarkan bantuan terhadap Karina. Awalnya Karina ingin menolak tapi mengingat banyaknya jadwal, Karina menerimanya.
"Mendadak sekali, Queen?"
Nada suara K terdengar bingung.
"Kami baru saja mendiskusikan itu. Sudahlah, mereka juga orang yang ahli dan terlatih. Kalian bisa meringkas waktu," putus Karina.
"Si, Queen," jawab K, setuju.
*
*
*
Dengan membawa beberapa tangkai bunga krisan berwarna merah muda, Karina melangkah masuk ke ruangan Enji. Karina menatap sendu Enji yang masih terbaring koma di ranjang. Mesin EKG berbunyi teratur dengan garis yang naik turun. Selang oksigen dan infus menjadi perhiasan Enji.
Karina mengganti bunga yang sudah layu dengan bunga krisan segar yang ia bawa.
"Hei, sampai kapan kau terjebak di sana? Apa yang membuatmu enggan membuka mata? Bahkan anakmu pergi saja kau tidak kunjung sadar. Aku juga pusing memikirkan masa depan perusahaanmu," ujar Karina dengan nada menggerutu.
Karina duduk di kursi, kedua tangan memegang tangan kanan Enji. Karina membawa tangan Enji ke pipinya.
"Kau mengatakan akan meringankan bebanku. Tapi nyatakan kau malah menambah bebanku," omel Karina, kesal dengan Enji.
Karina menghela nafas pelan kemudian tersenyum hambar menyadari ia hanya berbicara sendiri.
"Aku tahu kau mendengar ucapanku. Jujur, sekarang aku membutuhkan bantuanmu," lanjut Karina, menyentuh pipi Enji.
"Cepatlah sadar. Semakin lama kau di sana, akan semakin banyak yang berubah. Kau akan kesulitan untuk mengembalikan semuanya. Anakmu telah pergi dan entah kapan akan kembali. Calonmu merasa kecewa padamu. Karyawanmu bertanya-tanya tentang dirimu."
"Ah ya aku hampir lupa. Restuku mengenai hubunganmu dengan wanita itu akan diputuskan beberapa hari lagi. Apakah kau masih ingin di sana atau kembali?"
Karina mengancam Enji dengan Jessica. Sayangnya Enji tetap tidak bergeming.
Rasanya dikacangi itu menyebalkan. Karina mendengus, ia lantas memeriksa cairan infus Enji. Tinggal sedikit lagi. Karina melihat jam tangannya. Hari ini sudah cukup berbicara dengan Enji.
Karina berdiri dan segera keluar dari ruangan Enji, menyuruh salah seorang tim medis mengganti cairan infus Enji.
*
*
__ADS_1
*
Aroma jeruk menyeruak masuk ke indra penciuman Darwis kala memasuki kamarnya. Darwis menemukan Joya tengah menyantap bubur.
"Kau sudah kembali?"
Wajah pucat Joya sumringah. Darwis mengangguk dengan tersenyum lebar. Darwis meminta mangkuk bubur dan menyuruh pelayan keluar.
"Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik?"tanya Darwis lembut seraya menyuapi Joya.
Joya mengangguk.
"Kau lihat, aku hampir menghabiskan makan siangku," ucap Joya memegang mangkuk di tangan Darwis yang hanya tertinggal beberapa sendok saja.
"Isteriku sangat pintar," puji Darwis memegang pipi Joya. Joya memejamkan mata.
"Makanlah lagi," ujar Darwis, kembali menyuapi Joya.
Joya mengangguk. Beberapa menit kemudian, bubuk di mangkok habis tidak tersisa. Darwis membantu Joya minum kemudian mengusap bibir Joya dengan tisu.
Joya bersandar pada kepala ranjang, mencari posisi ternyaman. Darwis memanggil pelayan untuk membawa peralatan makan yang kotor.
"Ehm katakanlah apa yang ingin kamu sampaikan," ujar Joya lembut menatap Darwis yang terdiam dengan mata menatap ragu Joya.
Joya sudah menyadari sikap Darwis yang gundah sejak ia sadar. Joya yakin Darwis tidak segera mengutarakan kegundahannya itu karena kondisinya yang masih sangat lemah.
Darwis terdiam karena mengingat pembicaraannya dengan dokter pribadi Joya sebelum masuk ke kamar. Dokter mengatakan kondisi Joya sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya. Dokter juga meminta agar Darwis segera mengambil keputusan.
Darwis menarik nafas panjang, kedua tangan memegang kedua tangan Joya. Joya sudah tahu apa yang akan disampaikan Darwis adalah sesuatu yang kurang baik.
"Kamu, anak kita harus segera lahir untuk menghidari terkena efek kanker," ujar Darwis, dengan nada sedikit bergetar.
Joya terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Lahir sebelum waktunya? Apa tidak berbahaya bagi anak kita?"tanya Joya lemah.
"Jika tidak segera lahir, maka kalian berdua akan dalam bahaya. Joya aku meminta keputusanmu. Apakah kau bersedia melahirkan dalam waktu dekat?"tanya Darwis serius.
Bibir Joya bergetar. Sejak ia hamil, ia selalu ingin melahirkan secara normal. Tapi sejak kanker ini ada, Joya mengubur keinginannya tersebut, karena itu mustahil. Melahirkan secara caesar adalah satu-satunya cara. Sebenarnya mau melahirkan dengan cara apapun, tetap nyawa Joya yang sangat terancam.
"Darwis, berjanjilah padaku. Kau akan mengutamakan keselamatan anak kita. Jika terjadi hal-hal tidak terduga di kemudian hari, selamatkanlah anak kita terlebih dahulu. Aku sudah mempertaruhkan nyawaku demi anak kita, aku akan berusaha bertahan semaksimal mungkin. Darwis, aku ingin melahirkan sesuai dengan jadwalnya. Tapi jika itu tidak memungkinan, maka kaulah yang memutuskan nasib kami. Berjanjilah, kau akan menyelamatkan anak kita baru diriku," pinta Joya.
Sejak awal mengetahui penyakitnya, Joya sudah bertekad untuk mempertahankan bayinya. Apapun yang terjadi, bayinya harus selamat dan lahir ke dunia ini. Ke sepuluh jemari Joya berada di pipi Darwis.
Air mata dengan lancang lolos dari pelupuk mata keduanya. Darwis memeluk Joya dengan lembut.
"Aku tidak tahan melihatmu menderita. Aku bisa gila," tangis Darwis.
"Kau semakin lemah, Sweetheart," lirik Darwis.
"Ya aku memang semakin lemah, suamiku. Tapi bukankah ada dirimu untuk menguatkanku? Jangan menjadi gila. Kalau kau gila siapa yang akan menemaniku? Jangan menderita, itu hanya menambah penderitaanku. Kau tahu, rasa sakitnya selalu datang tanpa diduga. Sangat menyakitkan. Terkadang seperti kepala yang ditusuk paku, terkadang seperti dikuliti, terkadang nyeri tiada tanding. Apa kau tahu? Sangking sakitnya, aku merasa mati rasa. Jadi aku mohon, kuat dan bersabarlah. Aku masih optimis sembuh. Aku tidak akan mengabaikan perjuangan kalian."
Joya mengatakan semuanya dengan nada dan wajah yang tenang. Darwis menatap manik mata Joya.
"Aku yang lemah, Joya. Aku yang lemah. Kau sangat hebat. Kau tidak lemah sama sekali," ucap Darwis.
"Berjanjilah," pinta Joya.
"Aku berjanji!"jawab mantap Darwis. Keduanya kembali berpelukan.
Tolong beri aku kesempatan. Aku mohon angkatlah penyakitku ini. Aku mohon berikan aku dan orang-orang disekitarku kekuatan. Aku mohon, ya Tuhan, doa Joya.
Sesungguhnya hanya kepada-Mu lah kami meminta. Aku mohon, angkatlah penyakit istri hamba. Berikanlah dia kekuatan dan kesempatan, ya Tuhan, harap Darwis.
*
*
*
Beberapa meeting penting yang Karina pimpin berlangsung dengan lancar tanpa kendala berarti. Awal tahun dibuka dengan beragam proyek.
__ADS_1
Pembangunan semakin berkembang. Terlebih ada satu proyek besar pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaannya. Ibukota sudah terlalu padat. Pembangunan besar-besaran yang dilakukan pemerintah juga tidak memperbaiki kondisi ibukota sepenuhnya.
Ibu yang menjadi pusat tidak sanggup lagi menahan bebannya. Ibarat sungai yang kelebihan kapasitas, meluap. Pemerintah berencana memindahkan ibu kota.
Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang tidak memiliki banyak penduduk serta luas yang lebih dari ibukota. Kawasan yang masih hijau dan menyimpan banyak udara segar.
Propinsi A, dipilih sebagai ibukota baru. Pembangunan dimulai di tahun ini. Dalam 3 bulan ke depan adalah rancangan pembangunan ibukota. Mulai dari lokasi dan bentuk istana negara, gedung parlemen, dan gedung lembaga tinggi lainnya.
Karina mengamati layar hologram yang memuat denah lokasi yang masih kosong. Hanya sebidang berwarna hijau. Karina lantas memutar posisi denah.
Karina menyentuh rahangnya dengan dahi mengerut tipis. Bibirnya terbuka sedikit.
"Pusat manusia berada di perut, pusat lingkaran berada di tengah. Pusat tata surya juga di tengah. Ibukota juga berada di tengah, maka letak istana juga harus di tengah."
Muncul sebuah bangunan berwarna putih dengan bendera kebangsaan di tengah bidang.
Karina tersenyum.
"Posisi bangunan lainnya lebih cocok jika mengelilingi istana dengan jarak yang sama. Atau lebih simple jika dibangun dalam satu kompleks. Lebih bagus bentuk lingkaran apa persegi ya?"
Muncul beberapa titik membentuk lingkaran mengelilingi ibukota dengan jarak yang sama. Bangunan berwarna berbeda sebanyak jumlah bangunan lembaga tinggi negara muncul.
Karina menggunakan jarinya untuk menilai.
"Bagaimana jika persegi?"
Di samping Karina ada sebuah meja lagi yang merupakan layar hologram. Karina membuat rancangan lagi dengan bentuk persegi.
Karina mundur beberapa langkah. Membandingkan kedua rancangan tata letak.
"Ah lingkaran lebih cocok!"
Karina menutup layar yang tata letaknya berbentuk persegi.
Lelah menyusun tata letak, Karina menutup layar hologram kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa. Karina menarik dan menghembuskan nafas pelan.
Meminum air hingga tandas kemudian melihat ke arah televisi yang tengah menyiarkan berita.
"Hm terjun bebas? Sepertinya aku menemukan cara untuk mereka," gumam Karina.
Karina menoleh ke arah meja kerja saat mendengar dering panggilan. Karina berdiri untuk mengangkat panggilan.
Ternyata dari Arion. Karina segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Sayang, kau sedang sibuk?"sapa Arion.
"Waalaikumsalam. Aku tengah istirahat Ar, bagaimana denganmu?"jawab Karina.
"Aku lagi di perjalanan, menuju bandara," ujar Arion.
"Bandara? Kau akan terbang ke mana?"tanya Karina penasaran.
"Singapura, ada meeting penting dengan salah satu perusahaan perhotelan di sana. Aku tidak bisa pulang nanti malam, kemungkinan aku akan pulang besok sore," jelas Arion.
"Oh begitu, mengapa lama sekali?"tanya Karina tidak rela.
"Maafkan aku, Sayang. Setelah dari Singapura, aku akan langsung menuju Jerman, kemudian Belanda baru pulang," jelas Arion yang sebenarnya juga tidak rela meninggalkan Karina.
"Perjalanan bisnis, ya? Ya sudah, baiklah. Hati-hati di jalan. Aku tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang. Apa Ferry ikut denganmu?"
"Hm, dia kan sekretarisku. Aku berjanji, doakan aku selalu ya," janji Arion.
"Pasti."
"Ya sudah, aku tutup ya. Ingat jaga kesehatan saat aku pergi. Jangan bertingkah macam-macam. Jika mau bermain, jangan yang berbahaya," pesan Arion.
Karina tertawa ringan.
"Aku tidak janji. Aku tutup duluan ya, Assalamualaikum, My Hubby."
Karina langsung menutup telpon dengan senyum merekah.
__ADS_1