Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 398


__ADS_3

"Aldric terima kasih." Gerry menundukkan kepalanya pada Aldric. Aldric langsung merasa canggung, dengan pelan menggerakkan tangan kanannya ke kanan dan kiri. 


"Tidak. Tidak Tuan. Itu sudah seharusnya aku lakukan. Anda tidak perlu sungkan," ucap Aldric.


"Bagaimana bisa aku tidak sungkan, Aldric? Kau hampir kehilangan nyawamu karena melindungiku. Syukurlah kau selamat jika tidak penyesalan akan tetap bersarang di hatiku," sergah Gerry.


"Benar Aldric. Jangan merasa sungkan, sudah sepantasnya kami mengucapkan terima kasih. Bahkan ucapan terima kasih saja rasanya tidak cukup. Bagaimana jika kau menjadi adik kami saja? Kau mau bukan?"imbuh Mira, menatap harap Aldric. 


Aldric terdiam, bingung mau menjawab apa. Melirik Li dan Elina yang wajahnya menyatakan persetujuan. Menatap Gerry yang menatapnya dengan harapan.


Ia adalah anak yatim sedari kecil. Besar di kelompok Anfa dengan susah payah. Berkerja keras agar kehadirannya diakui dan ia dipandang. Satu - satunya orang yang paling dekat dengannya hanyalah Emir. Itu pun Emir hanya menganggapnya sebagai bawahan. 


"Kau menolak permintaan kami, Aldric? Kau tidak ingin jadi adik kami?" Mira menunjukkan wajah sedihnya. Aldric semakin bingung.


"Aku …."


"Tidak ada alasan untuk menolak itu, Aldric. Terima saja." Karina masuk bersama dengan Arion dan anak-anak, juga Amri, Maria, dan Enji.


"Queen?"


"Baiklah. Aku bersedia." Senyum Gerry dan Mira mengembang. 


"Bagus!"


"Paman Aldric, kau baik-baik saja kan?" Bastian, Bara, dan Bahtiar menunjukkan wajah khawatir.


"Saya baik-baik saja, Tuan Muda."


"Ku bilang juga apa, Paman Aldric ini keras kepala. Benturan kecil itu mana berefek padanya. Lihat saja setelah operasi, kondisinya cepat sekali pulih. Ingatannya juga tidak terganggu," ucap Bara.


Benturan kecil? Aldric tersenyum simpul mendengarnya.


"Itu terjadi karena tindakan Papa yang cepat. Jika tidak, aku yakin Paman Aldric pasti belum bangun sekarang," sahut Biru.


"Ah." Aldric teringat ucapan Ali tadi.


"Tuan Arion, terima kasih banyak atas pertolongan Anda. Jika bukan darah dari Anda, yang dikatakan Tuan Muda Biru pasti terjadi." Aldric menunduk mengucapkan terima kasih. 


"Sudah sepantasnya. Jangan sungkan," jawab Arion.


"Aldric, darah suamiku sudah masuk ke dalam tubuhku, artinya secara tak langsung kau adalah adik suamiku." Ucapan Karina mengagetkan seisi ruangan, kecuali Arion.


"A-apa maksud Anda, Queen?" Aldric merasa salah dengar.


"Apa kau tuli?"


"Ta-tapi saya tidak pantas. Menjadi adik dari Tuan Arion secara tak langsung juga menjadi adik Anda. Saya yang rendah dan kasar ini mana mungkin …."


"Siapa yang rendah dan kasar Aldric?" Arion menunjukkan wajah tidak suka.


"Semua manusia itu sama derajatnya. Bukankah dalam keyakinan kita itu tertulis jelas? Haruskah aku mengirimmu ke sekolah, Aldric?" Karina menatap marah Aldric.


"Tidak, bukan begitu Queen …."


"Jika bukan begitu maka aku kau sudah menjadi adik suamiku. Bukan begitu, Ar?"


"Benar." Arion tersenyum. Aldric mau tak mau mengangguk. 


"Baiklah."


"So aku sudah memiliki berapa anak?" Maria menunjuk dirinya sendiri. 


"Tak terhitung karena Mama sudah dianggap Ibu oleh banyak orang," sahut Karina.


"Aigo. Ternyata menjadi ibu tidak selalu tentang melahirkan anak." Maria menyunggingkan senyum lebar. 


"Menjadi keluarga juga bukan selalu mengenai hubungan darah. Takdir adalah pemersatu yang sesungguhnya," ujar Enji, merangkul Karina yang langsung membuat mode posesif Arion aktif.


Arion merengkuh pinggang Karina dan membawanya dalam peluknya. Enji mendengus, tak ingin kalah dan kini merangkul kedua orang itu dari belakang. 


Karina terkekeh sedangkan wajah Arion datar kesal dengan Enji. 


"Terima kasih semuanya. Kalian memperlakukan aku begitu baik padahal aku barulah bergabung dengan Pedang Biru. Tidak ku sangka masih ada orang lain yang menganggap orang lain sebagai keluarganya terlebih di negara maju dan bebas seperti ini," tutur Aldric.


"Aldric, negara yang bebas dan maju belum tentu kehilangan jati diri yang sebenarnya. Bukan suatu negara yang menentukan sifat penghuninya melainkan penghuninya sendiri. Manusia itu beragam sifatnya. Terlebih di sini, Pedang Biru semua adalah keluarga, tak peduli dari mana asal maupun rupanya!"tegas Karina.


"Aku mengerti." Aldric mengusap air matanya. 


"Well. Lantas apa lagi yang kita bahas? Ah tadi ku dengar kalian sudah bertunangan." Li menatap Aldric dan Sasha. Keduanya mengangguk.


"Wah sudah tunangan ya, lantas kapan kalian akan menikah? Nanti sore, besok, atau kapan?" Kedua orang itu tercengang dengan pertanyaan Enji. 


Kapan nikah?


Keduanya saling tatap. Lamaran baru diterima saja sudah lega, mengenai menikah belum terlintas kapan. Tapi bukankah nanti sore atau besok itu terlalu cepat? 


"Err tidak secepat itu juga dong, Zi," jawab Sasha. 


"Ah bagaimana jika setelah Aldric pulih total?"saran Helian.


Keduanya saling tatap, saling meminta persetujuan, anggukan sebagai keputusan. 


*


*


*


Selesai makan siang, Karina dan keluarga kecilnya menghabiskan waktu di perpustakaan markas. Ali dan Laith juga ikut di dalamnya. 


"Wah lukisan Kakak bagus banget, tumben?" Bara menatap buku gambar milik Bima. 

__ADS_1


"Oh tumben ya? Iya untuk dipajang dimanding sekolah," sahut Bima.


"Dipajang?" Karina menatap Bima dengan alis terangkat.


"Iya. Kepsek yang minta khusus sama Bima. Bima nggak enak mau nolak. Ya sudah Bima setujui saja," jelas Bima.


Karina ber-oh-ria.


"Bima Sakti?" Dalam sekali lihat Arion tahu apa yang Bima lukis.


"Iya."


"Huh Kepsek penipu!"cetus Bintang.


"Penipu?"


"Iya. Ini cuma cara halusnya untuk mengikutsertakan Bima dalam lomba lukis antar sekolah. Bima sih main terima saja."


"Jika wajahku tidak dipublikasikan aku tidak masalah. Aku mau jadi pelukis misterius saja seperti Mama."


"Begitu rupanya. Jadi kalian mau hanya nama saja yang dikenal publik, bukan rupa kalian?"


"Yups. Menjadi perhatian publik itu menyebalkan. Apa-apa disorot. Apa-apa dikomentari. Mending kalau tidak diikuti paparazi," ujar Biru.


"Jika itu keinginan kalian, Mama dan Papa tidak bisa melarangnya," ujar Arion.


"Ya sudah. Lanjutkan aktivitas kalian."


"Mama rumus main rubik nya ada lagi?"


Karina mengeryit tipis pada Bahtiar.


"Yang kemarin Mama ajarkan sudah kamu kuasai?" Bahtiar mengangguk.


Uh benar juga. Punya anak yang cerdas ada suka dukanya. Tapi tidak masalah, itu adalah sebuah anugrah.


Karina kini memangku Bahtiar, dengan sabar mengajari Bahtiar rumus-rumus bermain rubik. Arion sendiri sibuk mengajari Bintang dan Biru, sekarang perannya adalah sebagai guru matematika bagi kedua anak itu.


Bara tenggelam membaca ensiklopedia tentang hewan purba sedangkan Brian membaca buku yang di dalamnya memuat informasi tanaman herbal.


*


*


*


"Hei Zi, Mama selalu bertanya-tanya kamu kapan Mama punya menantu dari kamu." Enji yang minum langsung tersedak. 


"Menantu dariku?"


"Iya. Sudah setua ini mau kapan lagi kamu berumah tangga?"


"Tua? Umurku baru 28 tahun. Wajahku masih baby face. Jangan asal sebut dong, Ma!"rengek Enji.


"Ya itu lain cerita."


"Sudahlah Mama. Anak ini kalau mau menikah pasti kan bilang." Enji menaikkan jempolnya untuk Amri. 


"Iya. Asal jangan sampai ada perempuan yang datang ke rumah dengan berbadan dua ataupun bawa anak yang sudah lahir!" Maria bersungut-sungut sebal membayangkan jika hal itu terjadi.


"Tidak akan pernah terjadi, Ma. Biar aku begini, pantang bagiku menyentuh wanita yang bukan isteriku." Enji membentuk V di jarinya.


"Pantang-pantang! Bukti nyata sudah ada. Dasar!"sahut Maria. Enji tertawa ringan sedangkan Amri sendiri sibuk membaca majalah sembari menikmati angin pantai di sore hari.


*


*


*


Hahaha


Tawa bahagia terdengar begitu jelas dari keluarga kecil yang tengah saling kejar mengejar di tepi pantai. Dengan masing-masing membawa sendal, keluarga kecil itu meninggalkan jejak kaki yang segera terhapus oleh ombak.


"Aduh!" Langkah mereka terhenti saat salah satu jatuh tersungkur di pasir.


"Kakak!" 


Bintang mengangkat wajahnya, menatap satu persatu adiknya yang tampak cemas.


"Kakak kau baik-baik saja?"tanya Bahtiar cemas. Bintang mengangguk, berdiri dibantu oleh Bima dan Bara.


"Cuih rasa pasir tidak enak!" Bintang meludahkan pasir yang masuk ke mulutnya. 


"Memangnya pasir makanan?"tanya Biru dengan wajah kesal.


"Ck!" Bintang berdecak sebal.


"Kakak kau itu manusia bukan bebek," kekeh Bima.


"Apa Kakak kekurangan makan hingga makan pasir?" Bara ikut meledek.


"Ah lupakan saja ucapanku tadi!"sungut Bintang kesal.


Hahahaha 


Karina dan Arion menggeleng pelan melihat lima anak laki-kaki yang tertawa sedangkan anak perempuan yang menggepalkan tangan kesal.


"Cukup! Nggak ada yang lucu! Kakaknya jatuh bukannya diobati malah diledeki! Dasar adik nggak berperasaan!"gerutu Bintang.


"Memangnya kau terluka?" Biru bertanya dengan wajah polos.

__ADS_1


"Nggak. Aku nggak terluka!"sahut Bintang, melangkah pergi mendekati Karina dan Arifin. Sayangnya belum saja dua langkah, Bintang kembali jatuh dan kini menyentuh pergelangan tangannya. Arion dan Karina langsung mendekat. 


"Terkilir?"tanya Karina memastikan. Arion mengangguk, memberi pijatan di pergelangan kaki Bintang. Bintang meringis pelan, tidak menangis.


"Huh dasar kebanyakan gengsi!"celetuk Biru.


"Dasar adik nggak peka!"balas Bintang yang otomasi membuat lima anak itu terdiam. Biru dan Bima saling lirik, menghela nafas pelan.


"Sudah-sudah. Jangan berdebat terus. Ayo kita pulang," lerai Arion.


"Oke."


Arion kemudian menggendong Bintang sedangkan Karina menggiring lima anaknya lagi, mengawasi dari belakang langkah langkah dan arah mereka.


*


*


*


Dari hari ke hari kondisi Aldric semakin membaik. Di bawah perawatan Sasha, hubungan keduanya semakin erat dan semakin mantap untuk segera menikah.


Dua bulan setelah kecelakaan, akhirnya diputuskan tanggal pernikahan mereka. Seminggu dari sekarang, hari jumat pagi di KUA. Tidak ada resepsi di gedung atau ballroom, hanya ada perayaan sederhana di markas. Itu adalah murni keinginan Aldric dan Sasha.


Malam ini adalah malam terakhir mereka sebelum resmi menjadi pasangan sah di mata agama dan negara. Aldric dan Sasha menghabiskan malam dengan melihat bintang dari taman. 


"Sasha apa kau bahagia?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku bahagia!"tegas Sasha. Aldric tersenyum lembut.


"Sebelumnya tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan menikah dengan wanita yang lebih tua dariku juga yang berbeda kampung halaman denganku. Juga tidak pernah terlintas akan menjadi bagian dari Pedang Biru yang tersohor di mana-mana," papar Aldric. 


Sasha tertawa menanggapi pemaparan Aldric.


"Jadi kau menyesal ingin menikah denganku?" Nada ringan yang membuat jantung Aldric berdebar lebih cepat.


"Tentu saja tidak! Usia bukan halangan untuk saling mencintai dan menikah!"jawab Aldric mantap.


"Hahaha. Benar-benar. Kau benar sekali, calon suami berondongku," tawa Sasha.


"Berondong?"


"Ya sebutan untuk pria yang menjalin hubungan dengan wanita yang lebih tua darinya."


"Ada-ada saja." Aldric menggeleng geli.


"Ngomong-ngomong hari pernikahan kita bertepatan dengan ulang tahunmu, bukan?"


"Hm … iya." 


"Baguslah." Sasha tersenyum penuh arti. Aldric mengeryit tidak paham.


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kau tersenyum misterius."


"Oh ini hanya senang karena telah menemukan hadiah yang tepat untukmu," jawab Sasha.


Aldric mengangguk pelan walau masih sedikit bingung.


"Ah iya jika diingat-ingat sudah dua bulan lebih bukan kau jadi adik Tuan Arion?"


"Ya sepertinya, aku juga tidak menghitungnya," sahut Aldric.


"Ternyata begitu rasanya kasih sayang seorang Ibu. Begitu lembut dan murni." Aldric tersenyum lembut.


"Itu benar. Beliau memiliki sifat keibuan yang besar. Anggota di sini pun banyak yang merasakan kasih sayangnya termasuk aku," timpal Sasha.


"Ya aku juga melihatnya. Ibu Maria dan Ayah Amri tidak seperti orang tua lain. Mereka tak segan membagi kasih sayang mereka. Mereka juga tak segan berbaur dengan anggota yang lain. Tak ada rasa jijik apa lagi enggan karena perbedaan status. Inilah keluarga yang sesungguhnya," tutur Aldric.


"Jika kau sudah melihatnya, mengapa waktu itu kau ragu menerima tawaran menjadi adik Tuan Arion?"


"Apa kau tidak tahu alasannya?"


"Hm." Sasha berpikir sejenak. Sebenarnya jawabannya sudah ada di pikirannya.


"Persaingan? Iri dengki? Cibiran? Rasa tidak suka dari anggota lain?"


"Benar. Aku takut itu terjadi."


Sasha langsung tertawa. 


"Wajar. Wajar, sangat wajar kau berpikir seperti itu. Aldric ingatlah kata-kataku ini, di dalam Pedang Biru memang ada persaingan. Tapi persaingan yang sehat. Tidak ada kecurangan apalagi sifat iri dengki. Ya-ya. Mungkin kau tidak percaya begitu saja. Di kelompok kecil saja ada persaingan dan perilaku saling menjatuhkan apalagi di organisasi besar seperti Pedang Biru ini. Tapi ingatlah ini adalah Pedang Biru. Dengan segala peraturan, kewajiban, hak, dan wewenang yang sudah ditetapkan secara tegas oleh Queen."


Aldric mendengarkan dengan serius penjelasan Sasha.


"Saling menjatuhkan hanya akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Persaingan tetap ada tapi persaingan yang sehat dengan dampak yang berguna bagi semua anggota. Bukan hanya berlomba untuk lebih baik tapi bersama-sama berjuang untuk lebih baik."


"Kau tahu mengapa kami semua bisa satu hati?"


Aldric menggeleng.


"Karena Queen yang selalu menasehati dan memperingati kami. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Apa yang dibangun dengan susah payah secara bersama-sama apa mungkin ingin dihancurkan? Pedang Biru adalah satu tubuh dengan Queen sebagai pengatur jalannya anggota tubuh lain. Ah Aldric rasanya terlalu panjang jika aku jelaskan seluruhnya. Ke depannya kau akan mengerti dengan sendirinya."


"Apakah ini yang dinamakan pemimpin bijak yang dihormati dan dihargai oleh bawahannya? Kesadaran diri adalah kuncinya. Kesetiaan adalah penjaga sedangkan kekeluargaan adalah semangat?"


"Ya."


"Tapi biarpun begitu, konflik tentu saja. Hanya saja langsung ditangani oleh bagian hukum. Tidak membuat masalah tampak runyam dan diselesaikan dengan sejelas-jelasnya. Tak jarang, Queen juga turun tangan. Ah di Pedang Biru tidak ada suap menyuap. Jadi jika ada anggota yang terkena hukuman berat ia pasti akan menjalaninya, sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh bagian hukum."

__ADS_1


"Memang terdengar tidak mungkin. Tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini. Aku benar-benar beruntung dan bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga besar ini. Juga bersyukur karena disinilah aku menemukan kekasih hatiku."


__ADS_2