Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 335


__ADS_3

"Kau serius, Ris?"tanya Satya meminta kepastian akan keputusan yang Riska sampaikan padanya.


"Aku serius, Kak. Aku yakin dengan keputusanku!"jawab Riska mantap.


Satya menatap manik mata Riska, mencari keyakinan dan tekad yang setara dengan nada mantapnya.


Hah


Satya menghela nafas, tersenyum dan mengangguk. 


"Baiklah. Aku turut senang kau menjadi bagian dari Pedang Biru," ucap Satya, mengusap kepala Riska.


Setelah makan siang tadi, Karina dan Riska langsung menuju kasino. Di perjalanan, Karina memberitahu hal-hal yang berkaitan dengan keanggotaan Pedang Biru yang dimana jika seorang anggota menikah dengan orang di luar organisasi, maka orang tersebut harus masuk ke dalam organisasi.


Selain itu, setelah masuk harus diberikan tanda keanggotaan berupa chip yang ditanam di dalam tubuh. Karina mengira Riska akan takut dan mundur. Namun, nyatanya Riska langsung mengangguk setuju. 


Tadi juga Satya tampak terkejut dengan wajah Riska yang terluka. Wajahnya tadi sangatlah geram. Tapi dengan penjelasan Riska, Satya hanya menghela nafas dan langsung memberi perintah untuk menambah pengawal untuk Riska.


Kini Karina dan Riska memasuki sebuah ruangan berukuran dua kali dua meter. Di dalamnya hanya ada dua buah kursi, satu meja, dan satu lemari. Ruangan dingin full AC. 


"Duduklah dan rilekskan tubuhmu," ujar Karina. 


Riska mengangguk. Ia mengamati Karina yang memakai sarung tangan serta masker lalu membuka lemari. 


Karina mengambil jarum suntik dan botol kecil. Mengisi cairan pada jarum suntik kemudian menyuntikkannya pada Riska.


Pandangan Riska perlahan kabur. Karina memberi Riska obat bius. Setelah Riska tidak sadarkan diri total barulah Karina melakukan bahkan selanjutnya.


*


*


*


Di ruangan kerja tiga tuan muda, Satya tampak termenung menatap layar monitor yang menyala. Gerry dan Li yang mengerjakan pekerjaan Rian dan Darwis berpandangan heran melihat Satya.


"Hei Ya!"panggil Gerry.


Satya tersadar dan menoleh menunjukkan wajah bertanya.


"Kau kenapa? Khawatir dengan istrimu?"tanya Gerry penasaran.


"Tidak," jawab Satya singkat.


Riska ada di tangan Karina sebagai anggota baru bukan sebagai tahanan. 


"Lantas?"tanya Li.


"Rahasia," jawab Satya dengan wajah tengilnya.


"Oh rahasia," sahut kesal Gerry.


Li hanya menggeleng pelan. Ia lanjut pada pekerjaannya. Gerry mendengus kemudian kembali bekerja. Satya mendengus senyum, terkekeh tanpa suara. 


Aku sudah mengambil keputusan juga, batin Satya.


*


*


*


Karina keluar setelah selesai menanamkan tanda pengenal anggota pada Riska. Riska sendiri masih di dalam, masih belum sadar.


Karina melangkah memasuki ruang kerja tiga tuan muda. Satya, Li, dan Gerry sinyal berdiri dan menunduk hormat pada Karina. 


Karina duduk di sofa, minum, menghela nafas lega.


"Satya, bagaimana misi Rian?"tanya Karina tanpa menatap Rian. 


Karina menyandarkan tubuh di sofa, menutup mata memikirkan mana dulu yang akan ia kerjakan.


"Dia hanya mengirim pesan "misi berjalan lancar"," jawab Satya.


"Oh bagaimana caranya menyelesaikan misi?"tanya Karina penasaran. 


"Akting jadi gay," jawab Satya santai. 


"Gay?"beo Gerry dan Li bersamaan, saling tatap dengan wajah tidak percaya.


"Hm," sahut Satya.


"Serius? Rian harus pura-pura menyimpang? Wow. Bagaimana cara kalian membujuknya?"kagum Gerry, meninggalkan mejanya dan duduk di sudut meja Satya.


"Kriteria pria yang sesuai dengan target. Itu sudah cukup untuk membujuknya," jawab Satya menatap tajam Gerry akan menyingkir dari atas mejanya. 


"Apa yang berbeda dari Rian hingga ia yang pergi? Fisik kalian hampir sama semua. Sifat? Wajah? Suara? Atau apa?"


Li penasaran dengan alasan Rian yang terpilih. 


"Mata."


Bukan Satya yang menjawab melainkan Karina. Karina membuka mata, melempar pandang pada Satya.

__ADS_1


"Mata coklat adalah kesukaan target. Rian adalah pria yang sempurna untuk target. Siapa nama target Rian?"


Satya mengangguk menyetujui. 


"Abraxas," jawab Satya.


"Kapan misinya berakhir? Aku harap setelah selesai ia tidak menjadi gay betulan," ujar Li.


"Misinya hanya sepuluh hari. Sekitar enam atau lima hari lagi ia akan kembali. Aku juga berharap begitu," sahut Satya.


"Hm. Aku akan kembali nanti malam. Kalian berdua lekas selesai pekerjaan itu. Satya ikut aku sebentar," ucap Karina, berdiri kemudian melangkah keluar.


Satya menatap Li dan Gerry dengan tatapan bertanya. Yang ditanya serentak menaikkan bahu tidak tahu. Satya berdecak lidah dan segera menyusul Karina.


"Abraxas, sepertinya aku pernah mendengar nama itu," ujar Gerry menatap Li.


"Aku ingat dia adalah ketua baru dari kartel narkoba di Meksiko," jawab Li.


"Ah ya … aku ingat sekarang," ujar Gerry.


*


*


*


Karina melangkah menuju salah satu ruangan yang dilengkapi dengan keamanan tinggi. Satya sedikit heran dengan Karina yang tahu seluk bekuk kasino tanpa tersesat sedikitpun.


Kini mereka berada di dalam ruangan yang berisi aneka ragam senjata dan emas batangan. Ini adalah salah satu ruangan terpenting dari kasino. Ruang senjata dan emas.


Karina menyuruh Karina mengambil nampan.


Karina melangkah menuju jajaran pisau kecil dan tajam. Memilih dan mengambil pisau kemudian meletakkannya di atas nampan.


"Untuk apa?"tanya Satya heran.


Seingatnya Karina punya beberapa set senjata pisau terbaik.


"Kau akan tahu nanti," jawab Karina. 


Sekarang di nampan sudah terdapat tiga jenis pisau berbeda ukuran dan bentuk.


Karina kemudian duduk dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Sebuah jam tangan. Tunggu. Satya mengenali jam tangan tersebut. Itu jam tangan milik Riska. Ah. Satya paham maksud Karina. 


*


*


*


"Ah aku ingat," gumam Riska, turun dari ranjang.


Riska kemudian keluar dari ruangan itu. Di luar ternyata Elina sudah duduk menunggu dengan membawa nampan berisi bubur dan susu. 


"Eh Kak Eli," sapa Riska.


"Makanlah dulu kemudian kita pulang ke mansion," ujar Elina.


Riska duduk di kursi yang kosong, menyantap bubur dan susu tersebut.


"Untuk saat ini kemungkinan tubuhmu belum bereaksi terhadap chip tersebut. Chip tersebut akan bereaksi menyatu dengan tubuhmu setelah enam jam. Malam nanti tubuhmu akan terasa sangat sakit," ucap Elina yang membuat Riska berhenti makan dan menatap Elina kaget.


"Benarkah Kak? Apakah sangat sakit?"tanya Riska takut.


"Tidak perlu takut. Cukup peluk erat saja suamimu. Rasa sakit itu tidak akan terasa," ujar Elina sebagai seseorang yang sudah pernah mengalami hal tersebut.


"Lantas jika belum menikah bagaimana? Siapa yang akan dipeluk?"


Riska telah lega setelah mendapat tips dari Elina. 


"Ranjang," jawab Elina singkat.


"Guling juga boleh, atau batang pisang?"


Elina kini malah berpose berpikir.


"Barang pisang? Aku rasa aku telah masuk ke organisasi yang unik," gumam Riska, penasaran lebih jauh mengenai Pedang Biru. 


*


*


*


Karina, Elina, dan Riska pulang lebih dulu, meninggalkan Li, Gerry, dan Satya yang masih berkutat dengan berkas. 


Di mobil, Karina memeriksa laporan mafia yang belum ia koreksi sama sekali. Dahinya mengerut tipis jika ada laporan yang janggal. Mata dingin saat membaca laporan yang tidak sesuai dengan targetnya serta tersenyum tipis saat laporan tersebut sesuai.


Elina bukannya duduk diam, ia juga mengerjakan pekerjaannya. Memeriksa pesanan senjata dari berbagai negara.


Riska sendiri duduk diam mengamati Karina dan Elina. Riska kagum dengan keduanya. Walaupun dalam kondisi hamil tua, keduanya tetap semangat bekerja dan tetap fokus.

__ADS_1


Setibanya di mansion Karina menyuruh Elina untuk turun lebih dulu. Karina ingin berbicara empat mata dengan Riska. 


Riska menunduk tidak berani menatap mata Karina.


"Aku yakin Elina sudah memberitahumu mengenai efek penanaman chip tadi," ujar Karina.


Riska mengangguk.


"Aku bukan ingin membahas hal tersebut. Aku hanya ingin bertanya mengenai rencana hidupmu bersama dengan Satya. Sebagai salah seorang tuan muda kasino Heart of Queen, Satya mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pewaris terhadap kasino. Aku yakin kau paham maksudku."


Riska meremas ujung bajunya. Paham maksud Karina.


"Posisi tuan muda berikutnya akan diwariskan kepala keturunan Darwis, Satya, dan Rian. Anak-anak kalian kelak akan bertanggung jawab kepada anakku kelak. Riska, aku tahu kau merasa dirimu belum cukup umur untuk menjadi istri Satya seutuhnya. Akan tetapi, pahami lagi tanggung jawabmu sebagai seorang istri," tegas Karina menatap tajam Riska.


Riska mengangguk pelan. Saat ini ia berhadapan dengan pimpinan tertingginya.


"Aku mengerti, Queen," jawab Riska menunduk.


"Aku menunggu kabar baik dari kalian," ujar Karina.


Karina kemudian mengeluarkan sebuah kotak kado dengan pita biru dan putih. Riska menerimanya dengan wajah penasaran.


"Bukalah," suruh Karina.


Riska membuka kado tersebut.


"Eh jam tanganku?"


Riska baru saja jam tangannya tidak ada di pergelangan tangannya.


"Aku sudah menambahkan alat pelacak dan pengirim sinyal bahaya yang terhubung langsung dengan kasino dan mansion. Di dalamnya juga ada sebuah yang sudah dicelupkan ke dalam cairan racun. Arahkan ke musuh, kemudian tekan saja tombol merah, jarum itu akan langsung keluar. Ingat jangan pernah menyentuhnya jika tidak dalam bahaya," jelas Karina.


"Aku mengerti, Queen," jawab Riska.


"Pisau untuk serangan jarak dekat. Ingat itu sangat tajam. Jangan sampai melukai dirimu sendiri," ucap Karina.


*


*


*


Selesai makan malam, Karina, Arion, Li, Elina, dan Gerry meninggalkan mansion menuju rumah sakit. 


Satya dan Riska tidak ikut sebab Riska mulai merasakan efek dari yang Elina katakan tadi.


Arion tadi pulang setelah magrib setelah semua urusannya di perusahaan cabang selesai. Saat pulang Arion membawakan Karina bunga sebagai bentuk permintaan maaf karena tidak bisa menemani Karina.


Kini mereka telah berada di ruang rawat Joya. Kondisi Darwis sudah lebih baik dari tadi malam. Darwis duduk di samping Joya dengan menggendong Gibran. Bayi itu tampak begitu nyaman dalam gendongan Gibran dan di dekat sang ibu yang koma.


"Darwis, aku harus segera pulang," ujar Karina.


"Sekarang?"


Darwis sedikit tidak rela.


"Hm. Aku sangat sibuk, begitu juga dengan mereka. Gerry akan tetap di sini membantu pekerjaan Satya selagi kau menjaga Joya dan Rian yang dalam misi," ujar Karina.


"Aku akan mulai bekerja besok," ucap Darwis.


"Baikkah. Itu keputusanmu. Anakmu tampan, aku berharap dia menjadi seseorang yang dapat diandalkan," ucap Karina.


"Dia adalah salah satu pilar pewaris Anda, Queen."


Karina tersenyum kemudian berbicara dengan Joya.


"Cepatlah sadar atau aku akan membawa anakmu pergi," bisik Karina.


Karina kemudian melangkah menjauhi ranjang, duduk di sofa.


"Hei Wis, kau harus merapikan diri lagi," ujar Arion.


"Hm?"


"Wajahmu berjerawat," beritahu Arion.


Kikir saja Arion canggung memulai pembicaraan dengan Darwis. 


Darwis mengerjap.


"Benarkah?"


"Hm."


Arion mengalihkan tatapan kepada Gibran.


"Tumbuhlah menjadi anak yang hebat dan kuat, Nak," ujar Arion mengusap lembut pipi Gibran.


Arion kemudian beralih lagi menatap Joya.


"Cepatlah sadar," ucap Arion dengan nada datar, melangkah dekat menghampiri Karina.


Darwis tersenyum tipis.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Karina dan rombongan segera meluncur menuju bandara. Darwis menatap kepergian mereka dari jendela ruangan Joya.


"Terima kasih," gumam Darwis, mendaratkan ciuman pada kening Gibran. 


__ADS_2