
"Ayah … Ayah mengancamku jika aku tak menikah ia akan membuat orang-orang disekitarku terancam. Arion hanya kau satu-satunya orang yang aku cintai. Aku mohon selamatkan aku," pinta Joya memegang kerah kemeja Arion.
Arion berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Joya. Satu ide pun muncul di pikirannya.
"Aku akan mengantarmu pulan," seru Arion.
"Tidak! Aku tidak mau pulang. Kau setuju aku menikah dengan Pria idiot itu?" tangis Joya memeluk erat Arion.
"Bukan begitu. Haih ... jika kau tak mau pulang, aku akan memesan kamar hotel untukmu bermalam. Besok pagi aku akan menjemputmu," saran Arion.
"Tidak! Bagaimana jika orang-orang Ayahku berhasil menemukanku di sana?" tolak Joya. Arion berpikir sejenak.
"Lalu bagaimana? Tidak mungkin aku membawamu pulang ke rumahku?" tanya Arion.
Wajah Joya sumringah seketika.
"Aku akan ikut denganmu. Apapun resikonya," ujar Joya yang membuat Arion membulatkan matanya.
Arion ingin menolaknya. Ia tak ingin membuat Karina semakin dingin jika Joya bermalam di apartemen. Tapi melihat wajah Joya yang ketakutan dan mata yang penuh harapan membuat Arion mengesampingkan ketakutan akan Karina.
"Baiklah. Ayo kita pulang," pupus Arion.
Joya tersenyum. Dengan cepat Arion menarik tangan Joya ke mobil dan melajukan mobil pulang ke apartemen.
***
Sudah setengah jam lebih Karina menunggu Arion pulang. Walaupun mereka tak saling mencintai apa salahnya menjalankan kewajiban seorang istri kecuali satu hal yaitu mahkota Karina. Karina masih belum mau menyerahkan mahkotanya pada Arion.
Makanan yang tersaji di meja makan sudah mulai dingin.
Karina melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 19.40.
"Kemana dia ? Apakah dia lembur? Biasanya jika di rumah mama lima belas menit yang lalu dia sudah pulang. Seharusnyakan sekarang sudah tiba setengah jam yang lalu?" gumam Karina. Ia melacak keberadaan Arion melalui nomor handphone Arion.
"Ternyata sudah di parkiran," gumam Karina.
***
Di parkiran bawah tanah apartemen, Arion heran melihat mobil Karina terparkir manis di sana.
Bagaimana cara dia mengambil mobil di rumah Mama? Apa dia ke rumah Mama ya?tanya Arion dalam hati.
Melihat pandangan Arion yang terfokus pada salah arah membuat Joya ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
Mata Joya membulat menemukan mobil yang Karina pakai ada di sana tanpa lecet sedikitpun.
"Apa itu mobil istrimu? Apa kalian tinggal di sini sekarang?" tanya Joya menyadarkan Arion dari lamunannya.
"Ah … iya aku baru pindah hari ini. Aku hanya heran saja mobil istriku ada di sini," jawab Arion.
"Sudah ayo naik. Pasti Karina sudah menungguku," ajak Arion.
Joya tersenyum masam mendengar nama Karina. Ia kira ia akan berdua saja dengan Arion namun ternyata Karina juga ada.
Arion dan Joya menaiki lift menuju apartemen Arion.
Ting Tong.
Ting Tong.
Suara bel pintu berbunyi membuat Karina segera membuka pintu. Senyumnya terpancar mendapati Arion di depan pintu.
Sedetik kemudian dahinya mengerut melihat Joya keluar dari belakang Arion.
"Mengapa kau bawa dia?" tanya dingin Karina.
__ADS_1
Nafsu membunuh Karina mulai keluar melihat orang yang mau meleyapkannya kini berdiri tepat di hadapannya. Matanya menatap tajam Joya. Joya bergidik takut melihat tatapan Karina seakan hendak memakannya. Begitu juga dengan Arion.
"Joya akan menginap di sini. Bukankah kau bilang kau tak melarangku berhubungan dengan Joya," jawab Arion masuk ke dalam menghindar dari Karina.
Joya ikut melangkahkan kakinya namun ditahan oleh Karina.
"Apa karena gagal membunuhku kau membuat rencana lain, Nona Joya?" tanya ketus Karina. Joya hanya tersenyum dan melepaskan cekalan tangan Karina lalu mengikut Arion yang masuk ke dalam kamar.
Karina menahan amarahnya. Andai saja di sini tak ada orang, pasti dinding-dinding di sampingnya sudah ternoda oleh bercak darahnya.
Dengan langkah emosi, Karina berjalan cepat menuju kamar. Di dalam kamar, Joya mencium bibir Arion rakus.
Arion pun tampak tak keberatan malah membalas ciuman Joya. Karina memejamkan matanya sejenak menahan emosi yang membara. Kemudian mendekati Arion dan Joya.
Grep ....
Karina menarik kasar Joya yang tengah duduk di pangkuan Arion. Karina menyeret Joya keluar kamar. Arion kaget dan langsung bangkit mengejar Karina.
Bugh ….
Karina menghempaskan kasar Joya ke lantai.
"Auh …," ringis Joya menyentuh sikunya.
Arion tertegun melihat Joya terjatuh. Dengan cepat ia membantu Joya berdiri.
"Apa yang kau lakukan? Dasar wanita jala*g!" umpat Joya berdiri di bantu Arion.
Plakkk ....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Joya. Kini tergambar jelas cap lima jari di pipinya. Joya dan Arion terdiam.
"Jika ada yang jala*g maka itu kau! Apa kau tak punya otak masih saja menganggu suami orang? Bahkan menginap dan masuk ke kamar tanpa izin dariku?" geram Karina menunjuk Joya.
"Apa yang salah? Bukankah kau sudah memberi izin untuk aku berhubungan dengan Joya?" tanya Arion membela Joya.
Plakkk ....
Karina yang naik pitam juga menampar Arion keras. Arion tertegun dan memegang pipinya yang panas akibat tamparan Karina.
"Kau menamparku? Berani sekali kau!" emosi Arion naik. Arion melayangkan tangannya hendak menampar balik Karina namun sebelum menyentuh wajah Karina, Karina lebih dulu menampar Arion dan Joya lagi dan lagi.
"Yang kau katakan memang benar. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku tidak akan melarangmu mau berbuat apa dengannya tapi jangan di sini. Aku paling benci melihat ataupun mendengar orang yang bercinta serta berbuat mesum di rumah di tempat aku tinggal. Jadi, silahkan suruh dia pergi," jawab Karina santai namun penuh tekanan. Tangannya terasa kebas namun hatinya puas kerena emosinya terlampiaskan.
Wajah Joya dan Arion terlihat bengkak akibat tamparan Karina. Bahkan untuk berbicara saja mereka sulit.
"Tunggu apa lagi? Cepat suruh dia pulang! Memang dia tak punya rumah?" ketus Karina.
Arion mengelengkan kepalanya menandakan ia tak mau menyuruh Joya pulang. Joya memegang erat lengan Arion.
"Hmm … baiklah jika begitu. Kau tidur di situ dan kau ayo masuk," putus Karina menunjuk sofa di depan televisi dan menarik Arion masuk ke dalam kamar.
Arion yang tak siap langsung tertarik dan menyebabkan Joya kembali terjatuh. Joya mengumpat Karina dalam hati.
Dasar wanita sialan. Berani sekali dia menamparku sampai membuat wajahku seperti ini, umpat Joya dalam hati.
Perlahan Joya bangun dan berjalan menuju sofa. Joya mendaratkan tubuhnya di sana. Ia meringis saat tangannya menyentuh bekas tamparan Karina.
Sedangkan di kamar, Karina menatap dingin Arion. Arion hanya duduk terdiam di pinggir ranjang.
"Kau sudah makan?" tanya Karina. Arion menggeleng pelan.
"Tetaplah di sini jangan berani kau keluar. Akan ku ambilkan kau makan malam dan es batu untuk mengompres tamparanku," ujar Karina datar keluar dari kamar.
Di luar kamar Karina tidak langsung menuju dapur melainkan singgah dulu ke sofa. Karina mengerutkan dahinya melihat Joya yang mulai tidur meringkuk.
__ADS_1
"Ini adalah balasan kecil akibat tadi sore kau mau membunuhku," gumam Karina kecil namun dapat didengar oleh Joya yang masih belum terlelap.
"Tapi ya sudahlah. Karena aku pada dasarnya berhati mulia aku mengizinkanmu menginap malam ini di sini," ucap Karina meninggalkan sofa dan beralih ke dapur untuk mengambilkan makan malam Arion.
Karina mengambil dalam porsi banyak. Lalu membawa es batu dan juga air minum kembali ke kamar.
Sebelum masuk ke kamar, Karina menatap sejenak Joya yang tertidur di sofa.
Haih … bagaimana pun dia sepupuku, batin Karina.
"Di meja makan ada makanan. Makanlah jika kau lapar. Aku yakin kau belum makan malam," ujar Karina datar. Ia tak peduli apakah Joya mendengar atau tidak.
Karina langsung masuk ke kamar setelah mengatakan itu. Arion memegang bekas tamparan Karina dan meringis pelan.
"Apa tanganmu itu besi?" ucap pelan Arion sambil menahan rasa sakit di pipinya.
"Ya. Otot kawat tulang besi," jawab Karina santai. Tangannya bergerak mengompres pipi Arion dengan es batu yang dilapisi kain. Dingin. Itu yang Arion rasakan pada kedua pipinya. Karina dengan telaten melakukannya.
"Mengapa kau mengobatiku? Bukankah kau yang membuatku seperti ini?" tanya Arion menatap mata Karina.
"Biar bagaimana pun kau suamiku," jawab Karina.
"Bagaimana sudah agak mendingan?" tanya Karina.
"Hmm … iya," jawab Arion.
Karina meletakkan es batu di baskom dam mengambil piring berisi makanan.
"Makanla," ucap Karina menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Arion. Arion membuka mulutnya.
Karina langsung menyuapi Arion. Arion makan perlahan karena masih merasa sakit pada pipinya.
Karina ikut makan dengan tempat yang sama. Arion menyatukan alisnya.
"Kau makan di bekasku?" tanya Arion.
"Mengapa tidak? Kita kan suami istri. Wajarkan?" tanya balik Karina. Diam-diam sudut bibir Arion naik.
Ada perasaan asing di hatinya. Sepuluh menit kemudian Arion dan Karina menyelesaikan acara makan malam sepiring berdua.
"Apa kau tak masak hari ini? Ini bukan masakanmu kan?" tanya Arion sebelum Karina keluar dari kamar menuju dapur.
"Lidahmu jeli juga ya? Kau benar aku tak masak," jawab Karina langsung keluar dari kamar.
Di meja makan Karina melihat piring kotor beserta gelas yang masih terdapat airnya. Karina mengalihkan pandangannya ke arah ruang tengah.
"Ternyata kau cukup perhatian pada tubuhmu," gumam Karina. Karina mengambil piring kotor itu dan mencucinya di wastapel beserta piring bekas makannya tadi.
Selepas mencuci piring, Karina mengelap tangannya dengan serbet dan kembali ke kamar.
"Mengapa kau tak masak? Akukan ingin makan masakanmu," tanya Arion langsung terdengar setelah Karina masuk ke dalam kamar.
"Aku tak belanja," jawab Karina duduk di meja rias.
"Mengapa?" tanya Arion heran.
"Kau tak memberiku uang untuk belanja. Jika aku berbelanja, aku bayar belanjaan pakai apa? Pakai daun?" ketus Karina.
Mata Arion membulat. Ia menepuk pelan dahinya.
"Astaga. Aku lupa. Baiklah ini kartu kredit tanpa batas untuk belanja dapur dan juga keperluanmu," ujar Arion meletakkan kartu kredit gold namun statusnya masih di bawa kartu gold Karina.
Karina mendekati ranjang dan mengambil kartu itu dan melihatnya.
"Oke. Aku terima. Besok kau temani aku belanja. Besokkan kau tak bekerja," ucap Karina langsung berbaring dan tidur.
__ADS_1