Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 259


__ADS_3

Kini Gerry tiba di markas Pedang Biru. Gerry keluar dari mobil dengan wajah datar andalan orang Karina. Sepanjang jalan melewati koridor, para anggota menyapa Gerry. Gerry hanya mengangguk sebagai jawaban. 


Suasana hati Gerry agak kurang bagus. Setelah komunikasi mereka semalam, ia dan Mira belum bertukar kabar lagi, malah kemarin Mira memutuskan chat dengan alasan bertemu dengan teman lama. Gerry risau seandainya teman lama itu adalah Satya. 


Cemburu menyeruak ke hatinya membayangkan Mira dan Satya melepas rindu dengan berpelukan. Gerry sendiri belum pernah memeluk Mira, ralat pernah tapi secara tidak sengaja. 


Bahkan tadi malam ia tidur tidak nyenyak, saat dihubungi, selalu di luar jangkauan. Terakhir gundah gulana pun bersarang di hatinya. Untunglah siaran hatinya sempat membaik saat bertemu Karina, malaikat penyelamatnya itu selalu bisa menjadi moodboshter saat Gerry badmood. Tapi, kini kembali ke suasana badmood. 


Gerry menghentikan langkahnya, menatap Li dan Elina yang sedang bekerja sama di taman. Kedua orang itu tampak selalu bahagia bak tidak ada beban di pundak.


Gerry tidak heran, prinsip di sini adalah tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Selalu ada solusi untuk setiap masalah, kerjakan saja dengan kepala dingin serta bekerja sama. Sesuatu yang dikerjakan secara team, akan terasa lebih ringan ibarat pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijunjung.


Tatapan Gerry berubah menjadi tatapan iri saat Li bebas menyentuh wajah, tangan, bibir, rambut, dan pasti semuanya. Gerry menghela nafasnya.


"Menyenangkah mempunyai kekasih halal Li, Elina?" teriak Gerry, membuat kedua insan itu mengangkat pandangan mereka menatap Gerry yang berdiri di koridor lantai dua dengan tangan bertumpu pada pagar pembatas.


"Tentu," jawab Li dan Elina serentak.


"Cepatlah jadikan Mira istrimu! Kau lambat sekali. Tidak ada gunanya menunda hal baik. Cepat sebelum direbut Satya. Ingat, janur kuning kalian belum melengkung, masih bebas menikung," saran Elina dengan menyelipkan godaan yang menakutkan bagi Gerry.


Gerry menatap kesal Elina dari tempatnya. Yang ditatap malah terkekeh, Li pun sama.


"Hm, menikah memang penting, tapi aku sarankan kamu selesaikan semua pekerjaan dulu. Seingatku, kapal pesiar sudah hampir jadi, cek kapan bisa berlayar. Waktu kita tinggal dua minggu lagi, kau tidak mau kan Queen menggantung kita?" 


Gerry mengeryit menatap sahabatnya itu. Elina tampak terkejut dengan saran Li. Nada bicara Li sangat tenang. Gerry dan Li seakan berbicara melalui mata yang tidak bisa Elina artikan. 


Gerry kembali menghela nafas. Senyum tipis ia terbitkan. Li mendengus senyum.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Elina penasaran. Li menjawab dengan mengendikkan bahunya.


Elina mendengus sebal. Hormon bawaan janin membuatnya lebih sensitif. Elina kemudian pergi meninggalkan Li dengan hentakan kaki yang cukup keras. Gerry menaikkan alisnya menatap Li.


"Biasa ibu hamil. Tidak perlu khawatir. Sudah sana kerjakan pekerjaanku," ucap Li. Gerry mengangguk dan bergegas menuju ruangannya. Sedangkan Li, membawa laptopnya dan Elina kemudian beranjak mencari kemana perginya sang istri tercinta. 


Di ruangannya, Li merogoh ponsel dari saku celana. Ia tersentak kaget melihat banyak panggilan tak terjawab dari nama yang sama, siapa lagi kalau bukan Mira, lengkap disertai dengan pesan. 


Sudah menjadi kebiasan Gerry akan mengaktifkan mode diam pada handphone jika sedang bersama Karina, waktu bersama Karina is quality time.


Gerry membuka pesan yang Mira kirimkan. Senyumnya mengembang melihat isi pesan Mira yang intinya adalah rasa khawatir dan was-was. 


Khawatir Gerry yang tidak menjawab telepon dan membalas pesan, was-was takut Gerry ngambek karena kemarin memutus chat dengan terburu-buru. 

__ADS_1


Gerry segera melakukan panggilan balik pada Mira. Sayangnya, setelah ditunggu tidak kunjung dijawab. Gerry menatap layar handphone nya dengan bingung. 


Sekali lagi ia mencoba menghubungi Mira, sama saja operator dengan suara khasnya menjawab panggilan Gerry. Gerry berdecak sebal, terakhir Gerry hanya mengirim pesan suara. Berharap Mira akan segera menghubunginya jika sudah membuka pesan suaranya. 


"Hufft, kepalaku pusing sekali."


Gerry memijat pelipisnya. Kemudian beralih meraih botol wine dan meminumnya perlahan. Seusai itu, Gerry kembali berkutat dengan pekerjaannya.


*


*


*


"Bang, Mira pamit ya, sudah sore. Takut Mama dan Papa khawatir," pamit Mira pada Satya.


Mira memang kini berada di ruangan besar tempat ketiga Tuan Muda kasino Heart of Queen berada. Darwis, Joya, dan Rian juga berada di sana. Ketiganya menatap kedekatan Mira dan Satya dengan sesekali menimpali obrolan mereka. 


Darwis juga memang membawa Joya kemana pun ia pergi, termasuk bekerja, rasanya tidak nyaman dan tenang meninggalkan Joya di rumah walaupun dengan pengamanan lengkap. Lebih tenang rasanya membawa Joya, lagipula di sini Joya tidak kebosanan. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di ruangan ini. Menonton, menulis, membaca, juga melihat aktivitas kasino yang selalu ramai dengan pengunjung. Tentu saja jika keluar ruangan ditemani dengan penjaga.


"Baiklah. Besok kita akan bertemu lagi. Jaga dirimu. Aku menyayangimu," ucap Satya sepenuh hati sembari mengacak-acak rambut rapi Mira. Mira berdecak sebal dan menampik tangan Satya. Satya terkekeh dan mencubit kedua pipi Mira.


"Bang!" kesal Mira menunjukkan wajah tak bersahabatnya. 


"Mengapa? Apa kau mau pergi?" tanya Mira yang membuat Satya tertegun dan terdiam. Mira menatap Satya meminta jawaban.


"Mana mungkin. Aku akan tetap di sini, pulanglah," ucap Satya kembali tersenyum. Mira menghela nafas walaupun matanya masih menatap curiga. 


Segera ia berdiri dan berpamitan pada Darwis, Rian, dan Joya. 


"See you next time Mir. Makasih juga sudah periksa kandungan aku," ucap Joya. Ya, saat Mira melangkahkan kakinya masuk ke ruangan ini, Darwis sudah mengenali Mira sebelum Satya mengenalkannya. Dokter yang menangani Joya saat drop sewaktu kabar duka kematian Reza adalah Mira. 


Mira tersenyum dan mengangguk. 


"Hei Mir, siapa kan tempat yang bagus untuk kami. Ingat, ketiga Tuan Muda dan Nyonya Muda Kasino Heart of Queen akan hadir besok," ujar Rian memperingati.


"Kalian adalah tamu kehormatan," sahut Mira. 


"Selalu berpegang teguh lah dirimu," ucap Darwis, Mira mengeryit tak lama mengangguk. Mira segera melangkah keluar, melewati jalan VIP menuju parkiran. Sangat sesak jika lewat jalan biasa, lantai satu padat dengan ratusan kepala. 


Di dalam ruangan, Satya menunduk sedih mengingat ucapan Mira. Rian yang peka langsung mendekat dan menepuk pundak Satya. Joya dan Darwis hanya saling tatap.

__ADS_1


"Aku telat lagi. Mengapa aku terlambat lagi?" tanya Satya sendu. 


"Kau buruk dalam urusan cinta Ya, mungkin Mira bukan jodohmu," ucap Rian yang membuat Satya berang, ia menatap Rian tajam.


"Tidak! Kali ini Mira akan jadi jodohku. Kali aku tidak akan menerima nasib, aku akan melawannya. Mira, dia akan jadi isteriku, milikku apapun caranya!" teriak Satya lantang.


Darwis, Rian dan Joya tertegun dengan teriakan Satya. Tatapan Satya berbeda, penuh hasrat dan ambisi. Pria yang hangat itu kini terlihat menyeramkan dengan seringainya. 


"Kau sadar ucapanmu, Ya?" tanya Darwis. 


"Pasti! Aku tidak akan mengalah!" sahut Satya kemudian melangkah keluar entah kemana. 


Rian memijat dahinya. Joya masih terdiam, baru kali ini ia melihat Satya emosi. Darwis menghela nafas kasar.


"Jika Gerry yang dimaksud Mira bukan Gerry kita bukan masalah jika Satya bertindak. Tapi-" ucap Darwis yang segera dipotong oleh Rian.


"Tapi jika memang Gerry Herlambang, maka akan menjadi masalah besar. Sebisa mungkin kita menjaga agar tidak ada perpecahan. Karina akan sangat marah jika sesama anggota nya bertengkar hanya kerena wanita," potong Rian dengan wajah cemasnya.


"Karina sangat menyeramkan jika emosi. Aku saja tidak mampu berhadapan dengannya jika Karina dalam keadaan emosi," timpal Joya dengan wajah takutnya memegang erat lengan Darwis. Darwis merangkul Joya menenangkan.


"Lebih menyeramkan lagi Jika Karina diam, Joya. Kamu hanya mengenal Karina sebentar," imbuh Rian.


"Sudahlah. Sekarang kita harus pastikan dulu siapa Gerry tunangan Mira," tukas Darwis yang disetujui Rian.


*


*


*


Di ruangan lain, tepatnya ruangan gym , Satya melampiaskan emosi yang ia pendam sejak Mira memberitahu hubungannya dengan pria lain. Samsak pun menjadi korban pelampiasan Satya, ditinju, ditendang, disiku dengan kaki. Untung samsaknya tahan banting dan sabar tiada batas, kalau enggak dihajar balik kamu Satya.


Tidak puas dengan samsak, Satya meninju dinding sampai cairan merah keluar dari sela-sela darinya yang terbalut kain. Tak lama, teriakan frustasi pun Satya lakukan. Berjalannya bergema dalam ruangan. 


"Sial! Sialan! Mengapa aku selalu kecolongan? Ahk … Mira tidak tahukah dirimu hatiku sakit mendengar kau menyebut nama pria lain dengan begitu lembut dan bahagia? Tidak ada kah diriku di hatimu? Mira aku mencintaimu!" pekik Satya menjambak rambutnya sendiri. Tidak peduli dengan darahnya. Tubuh Satya kemudian luruh menyentuh dingin nya lantai. Matanya berkaca-kaca. Setitik kristal bening lolos dari mata emeraldnya. Hati Satya tidak menentu, merasa kecewa, lambat, pengecut, tidak terima dengan hubungan Mira dengan pria lain. 


"Tidak sadar kah kamu selama ini aku menanti dirimu Mir? Aku selalu menunggu kesempatan untuk meminangmu. Tapi ... tapi mengapa saat ada kesempatan kamu sudah mengikat janji dengan pria lain, siapa Gerry? Gerry siapa? Mengapa kamu tidak peka hah?"seru Satya melepas rasa kecewanya.


Jujur saja, Satya sudah mau mengeluarkan cincin yang selalu ia bawa untuk melamar Mira. Tapi terhenti saat melihat wajah tidak tenang Mira yang bolak balik melihat gawai di tangan. Penasaran, Satya pun bertanya dan jawaban Mira berhasil mengurungkan niat Satya serta membuat hati Satya retak. Sebisa mungkin Satya menahan kesedihannya saat Mira dengan bahagianya menceritakan siapa yang berhasil membuatnya cemas. Satya tidak ingin melihat Mira kecewa dengan reaksi tidak terimanya, Satya memilih menahan daripada mengumbar saat itu.


Luka tidak berdarah, sakitnya sungguh menusuk. Bahu Satya bergetar, pria itu kembali melemah. Ditatapnya darah yang masih keluar, Satya menarik senyum kecut.

__ADS_1


"Kamu hanya milikku Mir. Milikku!"desis Satya dingin disusul dengan wajah dinginnya.


Aku tahu mencari tahu, batin Gerry.


__ADS_2