Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 396


__ADS_3

"SASHA! AKU BERHAK KARENA AKU KAKAK KANDUNGMU! AKU KAKAKMU, SAKTI!"teriak Helian, langsung berlari mengajar Sasha. Mendengar itu, Sasha menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tatapannya semakin rumit melihat Helian mengejarnya dan kini menariknya dalam pelukan Helian. Kakak membeku kaku. Aldric juga tercengang, Gerry hanya menaikkan alisnya.


"Aku kakakmu, Sha. Aku kakak kandungmu!" Helian mengeratkan pelukannya. 


"Kakak kandungku?" Ingatan Sasha melayang jauh mengingat masa lalu. Saat kecil, keluarganya mengalami kecelakaan dan yang ia tahu setelah sadar, seluruh keluarganya telah tiada termasuk dua kakak laki-lakinya. Sejak saat itu, Sasha tinggal di panti asuhan sebelum akhirnya ikut dengan Karina.


"Bagaimana mungkin? Seluruh keluargaku tewas dalam kecelakaan. Ini tidak mungkin. Kau berbohong! Kau bukan kakakku!" Sasha meronta tapi Helian tidak mengizinkan Sasha lepas dari pelukannya. Aldric merasa marah dengan pelukan paksa Helian. Gerry menariknya saat hendak menarik Sasha.


"Tuan Gerry?"


"Shut, jangan ganggu mereka," ucap Gerry.


"Ini nyata Sasha. Ini kenyataan. Aku Sakti kakakmu masih hidup. Aku selamat dari kecelakaan itu!"ucap Helian, kini memegang pipi Sasha.


"Tidak. Tidak mungkin. Semua dinyatakan tewas kecuali aku. Tidak!" Sasha masih tidak bisa menerima, ia menepis tangan Helian dan segera lari. Helian tidak ingin kenyataan ini semakin berlarut-larut, dengan cepat mengejar Sasha.


"Jangan ganggu ku bilang. Biar mereka menyelesaikan urusan mereka!" Gerry menarik kerah baju Aldric ke arah berlawanan. 


"Tapi …." Tatapan tegas Gerry membuat Aldric patuh.


*


*


*


Tidak. Bagaimana mungkin? Jika iya mengapa baru sekarang? Mengapa? Padahal selama ini kami begitu dekat, mengapa baru sekarang ia mengaku?! 


Hati Sasha kacau, duduk di bangku taman dengan menunduk. Sasha kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Sasha! Sasha! Sasha!" Sasha hanya mengangkat kepalanya sekilas, bibirnya tetap terkunci. Berusaha mengingat jelas kecelakan itu. 


"Ah!" 


Sasha berteriak sakit saat menemukan memori yang ingin ia ketahui. 


"Apa itu memang benar?"


Kini Sasha ingat. Saat ia terbangun, polisi mengatakan bahwa orang tua dan kakak pertamanya tewas dalam kecelakaan dan sudah dimakamkan. Sedangkan untuk kakak keduanya hilang di jurang dan hanya ditemukan potongan bajunya. Setelah pencarian, tim penyelamat menyatakan bahwa kakak keduanya tewas dengan kemungkinan tewas dimakan hewan buas atau terseret derasnya air sungai. 


Sasha kala itu masih percaya kakaknya selamat. Masih percaya suatu hari nanti kakaknya akan menjemput dirinya pulang dari panti asuhan. Sayangnya harapan itu semakin musnah, Sasha lelah menunggu. Luka di kepalanya juga membuat ingatan akan keluarga semakin buram dari waktu ke waktu. Hanya ingat dari waktu ke waktu bahwa di dunia ini tidak ada keluarga kandungnya lagi.


"Kak Sakti." Nada penuh kerinduan dengan mata yang siap turun hujan. 


"Sasha!" Helian menemukan Sasha dan berlutut di depan Sasha. Menggenggam jemari Sasha dengan tahapan yang sama, penuh kerinduan.


"Apa buktinya kau kak Sakti?" 


"Aku ingat ada tanda lahir di bawah dadamu. Juga ada luka di kepalamu. Itu terluka karena kau jatuh dari sepeda saat berboncengan denganku," ucap Helian.


Itu benar. Helian melanjutkan ucapannya, mengenai biodata keluarga juga kebiasaan mereka sebelum kecelakan itu terjadi. Semua benar. Tidak ada yang salah. Ingatan masa kecilnya kini semakin jelas. Air mata Sasha luruh, menangis terisak di bahu Helian.


"Mengapa? Mengapa baru sekarang padahal kita sangat dekat? Mengapa kak?"tanya lirik Sasha.


"Karena aku baru mendapatkan ingatanku beberapa bulan lalu, Sha. Aku juga harus mencari tahu masa lalu dan keluargaku yang tersisa. Termasuk menyelidik tentangmu," jawab Helian.


"Bagaimana caramu mengenali bahwa aku adikmu?"


"Untuk meyakinkan hatiku bahwa kau benar adikku, aku melakukan tes DNA. Maaf karena aku mengambil sampelmu tanpa izin."


"Adikku, aku mohon maafkan Kakak. Kakak juga tidak bermaksud menutupi semuanya. Tapi Kakak tidak bisa melawan takdir. Kau boleh marah pada Kakak. Tapi jangan pernah membenci apalagi memutuskan hubungan dengan kakak."


"Kakak!" Sasha memeluk erat Helian. Helian merasa hatinya begitu tenang, beban di pundaknya juga terangkat. 


"Kakak! Harapanku terwujud. Kau menjemputku," tangis Sasha.


"Maaf. Maaf membuatmu menderita, Sha. Kakak janji kita tidak akan pernah terpisah lagi!"


Sasha memejamkan matanya, pantas saja ada rasa nyaman saat bersama Helian. Ternyata mereka adalah kakak adik. 


*


*


*


Kabar hubungan Sasha dan Helian adalah kakak adik terdengar oleh Karina. Karina cukup kaget mendengarnya. Hatinya digelitik penasaran. Karina memanggil keduanya untuk  datang menemuinya.


Di ruang kerja perusahaan, Sasha dan Helian berdiri tegak. Karina memberi tatapan menyelidik dan penasaran. 


Kedua orang itu langsung memberi penjelasan. Karina mengangguk paham.


"Akan tetapi untuk bukti lebih konkrit, boleh aku melakukan tes DNA ulang untuk kalian?"tanya Karina.


"Tentu, Nona!" Jawaban mantap. Karina tersenyum puas. Berdiri dan masuk ke dalam kamar, keluar dengan membawa dua jarum dan dua tabung reaksi untuk mengambil sampel darah. Yang pertama adalah Sasha, meringis pelan kala jarum menusuk jarinya. 


Giliran Helian, pria itu malah menunjukkan wajah takut bahkan sebelum jarum menusuk jarinya. Helian memejamkan matanya.


"Lemaskan jarimu!"ucap Karina.

__ADS_1


Sasha tersenyum simpul. Dari kecil, Helian memang paling takut disuntik. Biasanya saat sakitpun Helian yang minum obat tanpa disuntik.


"Auh!" Memekik kaget saat jarum menusuk jarinya. 


"Sudah, kalian boleh keluar!" Sasha membawa Helian keluar. 


"Loh-loh kok kayak anak kecil sih?"heran Lila yang melihat Helian memasukkan jari yang diambil darahnya tadi ke mulut.


"Awas infeksi. Pakai alkohol saja!"tegur Raina.


"Kakak!"


Sasha menarik jari Helian dan menyuruhnya duduk. Sasha kemudian mengambil plester lalu membalut jadi Helian.


"Duh-duh GM Helian yang terkenal playboy ternyata takut disuntik," ejek Lila.


"Memangnya tidak boleh?"sahut Helian santai.


"Dan ya aku bukan lagi playboy!"tegas Helian.


"Ah lupa kan sekarang playboy KS Tirta Group ini lagi jomblo. Hahaha kau kejam sekali Helian, kasihan pengagummu di luar sana," tawa Raina.


"Bukan urusanku, Sekretaris Raina. Intinya aku mau cari yang serius."


"Yang serius banyak, tinggal dirimu sendiri yang mau serius atau nggak!" Karina muncul dan bersandar pada bingkai pintu.


"Nona?!"


"Hehehe itu maksud saya Nona. Juga sebelum serius menjalin hubungan, saya ingin menghabiskan waktu bersama dengan Sasha, mengganti waktu yang terbuang karena perpisahan."


"Oh terserahmu." Karina kembali masuk. 


"Sudah sana kembali bekerja, GM Helian!"ucap Sasha mendorong Helian agar masuk ke lift turun. 


*


*


*


Beberapa hari kemudian, hasil tes DNA keluar dan hasilnya sudah pasti Sasha dan Helian saudara kandung. 


Karena Helian adalah kakak kandung Sasha, maka tantangan Helian waktu itu disanggupi oleh Aldric. Lukanya sudah sembuh. Sejak tahu bahwa Helian benar calon kakak iparnya, Aldric berlatih keras untuk bisa menundukkan Helian. 


Tiba sudah hari pertarungan. Dua pria itu berdiri di atas arena dengan memegang pedang masing-masing. Sasha harap-harap cemas, menunggu dengan hari was-was di pinggir arena. Li, Elina, dan Gerry berada di dekatnya. 


"Bukankah ini pertarungan mendapatkan restu?"heran Elina melihat keterkejutan Sasha. 


"Aku-aku tidak tahu. Aku belum memikirkan hubungan sampai ke pernikahan. Rasanya itu terlalu cepat," ucap Sasha.


"Terlalu cepat apa? Yang penting hatimu sudah yakin dengan keputusanmu. Dan apa kau lihat berapa hubungan kakak-kakakmu ini sampai ke pernikahan?"


"Aku …."


"Sudahlah Li. Jangan tekan Sasha. Biarkan itu menjadi keputusannya sendiri," ujar Gerry.


*


*


*


Hasil adu pedang antara Aldric dan Helian dimenangkan oleh Aldric. Helian mengaku kalah saat pedang Aldric berada di lehernya, juga Aldric yang dengan cepat menendang jatuh pedang Helian. Helian tersenyum puas. 


"Aku restui hubunganmu dengan adikku!" Helian menurunkan kedua tangannya. 


"Terima kasih, kakak ipar." Aldric tersenyum penuh arti. Keduanya lantas berpelukan.


Sasha masih dilema. Terlebih saat Aldric melangkah menghampiri dirinya lalu berlutut.


"Sasha, maukah kau menikah denganku?" Sasha terdiam mendengar lamaran Aldric. Ini benar-benar terlalu cepat. Aldric menatap Sasha penuh harap. Helian tersenyum menyetujui. 


Li, Gerry, dan Elina juga  menunjukkan wajah setuju. 


"Aku …."


Sasha masih bingung. Satu sisi ia masih ingin bebas tanpa tanggung jawab ataupun kewajiban terhadap orang lain kecuali Karina, sedangkan satu sisi lagi ia tidak ingin mengecewakan Aldric. 


"Sasha?"


"Aldric … aku … aku butuh waktu," ucap Sasha dengan nada lirik. Tatapan Aldric meredup, ada kekecewaan di sana. Aldric tetap tersenyum, berdiri dan memegang lengan Sasha.


"Baiklah. Aku akan menunggu jawabanmu," ucap Aldric, memutar langkah kemudian pergi menjauh. 


"Sasha apa yang kau lakukan?!"


Helian menatap bingung Sasha yang masih tanpa sangat bersalah.


"Kakak aku…."

__ADS_1


"Mengapa kau menolak lelaki sebaik Aldric? Ada apa denganmu?" 


Sasha semakin terperangkap dalam rasa bersalah.


"Cukup Helian! Jangan salahkan Sasha! Daripada mengomelinya lebih baik kau intropeksi dirimu sendiri!"ucap Li.


"Apa maksudmu?"


"Hei playboy cap katak, apa yang dilakukan adikmu masih lebih baik ketimbang kau yang mengecewakan banyak wanita di luar sana!"kecam Gerry.


"Playboy cap katak? Julukan menyebalkan apa itu?" Helian misruh-misruh kesal dan langsung pergi dengan wajah yang ditekuk. Elina terkekeh geli, menepuk pundak Sasha.


"Tak perlu merasa bersalah. Tenangkan dirimu dan pikirkan lagi jawabannya dengan baik. Keputusan apapun yang kau ambil, sangat mempengaruhi masa depanmu. Sasha aku percaya kau akan mengambil keputusan yang terbaik!"ujar Elina menyemangati Sasha. Sasha menatap Elina penuh arti, mengangguk pelan. 


*


*


*


Malamnya Sasha termenung memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil. Berserah pada yang kuasa meminta petunjuk. Sasha ingin memantapkan hatinya. 


Di dua pertiga malam, akhirnya Sasha memutuskan sesuatu. Hatinya berkata bahwa ia menerima lamaran Aldric. Benar kata Helian, Aldric pria yang baik. Lagipula ia yang lebih dulu menyatakan rasa, lucu rasanya jika ia juga yang menolak lebih dulu.


Tapi sebelum  ia menyatakan dengan gamblang menerima lamaran itu, Sasha butuh waktu bicara dengan Aldric, bicara dari hati ke hati mengenai hubungan mereka. Sasha menutup matanya setelah menemukan keputusan yang ia rasa adalah yang paling baik. 


Keesokan paginya, sebelum berangkat ke markas, Sasha menyempatkan diri untuk berdandan lebih. Dengan drees bersama hijau botol, rambut digerai serta mengenakan high heels, ditambah beberapa perhiasan, Sasha meninggalkan apartemen menuju markas. 


"Sasha di mana kau?" Pertanyaan langsung setelah Sasha menjawab telepon Helian.


"Di jalan. Kenapa, Kak?"


"Cepatlah pulang, aku di depan apartemenmu!"


"Tapi aku sudah tiba di gerbang markas," sahut Sasha.


"Markas? Kau ke markas?"


"Lantas? Ke markas saja jika ingin bertemu denganku. Jangan sampai lumutan menungguku di sana!"


"Ck! Harusnya kau memberitahuku dari awal!"


"Hehehe."


*


*


*


Sasha menyusuri markas mencari keberadaan Aldric. Sayangnya setelah mencari kesana kemari, Aldric tak kunjung ia temukan. Ternyata Aldric tugas lapangan bersama dengan Gerry. Sasha menghela nafas pelan, memilih menghabiskan waktu di ruang latihan. Untung saja Helian cepat datang. Bisa mengusir rasa bosan Sasha yang jengah menunggu kepulangan Aldric dan Gerry. 


"Jadi kau menerimanya?"


Sasha mengangguk.


"Syukurlah. Aku lega mendengarnya. Maafkan aku yang kemarin memarahimu," ucap Helian.


"Tidak apa. Itu salah keraguanku." Sasha menatap sendu pedang di tangannya.


"Tidak. Tidak ada yang salah dengan perasaan.  Menyakinkan hati itu bukan kesalahan hanya saja terkadang seseorang bisa salah paham."


"Kakak benar. Ku harap Aldric bisa mengerti." Tatapan Sasha berubah menjadi berharap.


"Tenang saja. Ada Gerry sebagai mak comblang kalian. Semua pasti sesuai keinginan." Helian merangkul Sasha. Kakak adik itu kemudian saling melempar senyum.


*


*


*


Waktu sudah hampir gelap, akan tetapi Gerry dan Aldric tak kunjung pulang. Sasha bertekad untuk tetap di markas menunggu kepulangan Aldric. Helian tidak bisa memaksa. Selesai makan malam, Aldric dan Gerry juga tak kunjung pulang. Entah mengapa perasan Sasha tidak tenang. Ia mondar - mandir gelisah di depan asrama pria. 


"Sasha gawat!" Dari kejauhan, Elina berlari dengan wajah panik arahnya. 


"Ada apa, Kak?"tanya Sasha cemas.


"Gerry! Gerry dan Aldric kecelakaan!"seru Elina yang membuat Sasha terkejut. Sasha mencerna apa yang terjadi.


"Lalu bagaimana keadaan mereka?"


"Belum tahu pasti. Ayo kita segera ke rumah sakit!"ajak Sasha.


Sasha tanpa aba-aba langsung menarik Elina menuju mobil, diikuti Helian yang sudah mendengar kabar itu.


*


*

__ADS_1


__ADS_2