Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 244


__ADS_3

"Thanks," ucap Enji. Bayu langsung minum. Karina dan Arion menatap Faisal. Faisal meremang melihat tatapan Karina dan Arion.


"Di mana Riri?" tanya Enji.


"Dia di kamarnya, sebentar akan aku panggilkan," jawab Faisal berbalik.


"Tunggu," tahan Karina, membuat Faisal menoleh dan menunjukkan wajah bertanyanya. 


"Biarkan saja ia di kamar. Kami yang akan ke sana," ujar Karina. Faisal mengangguk. Ia kemudian duduk di sofa tunggalnya.


"Bagaimana perasaanmu, Sal? Pasti sulit rasanya kehilangan calon anak pertama, padahal aku bahagia sekali saat melihat kalian akan memiliki momongan," ujar Enji dengan nada sendu. Faisal tersenyum kecut.


"Belum saatnya mungkin, atau mungkin kami selamanya tidak akan pernah menjadi orang tua," tutur sedih Faisal.


Karina, Arion, dan Enji tertegun dengan penuturan Faisal. Tidak perlu ditanya mereka sudah tahu jawabannya. Mereka bertiga menunjukkan wajah simpatik. Bayu mengendikkan bahunya tidak mengerti.


"Apa penyebabnya?" tanya Karina.


"Dokter mengatakan kondisi rahim Riri sangat rentan. Jika dipaksa, keguguran akan terjadi seperti sekarang atau bisa jadi rahim Riri akan diangkat. Faktor lainnya adalah kondisi asam serta hormon yang tidak mendukung. Aku sangat bingung sekali menghadapinya. Di satu sisi aku harus menguatkan diriku sendiri dan di sisi lain aku juga harus menguatkan Riri. Dia terus menangis dan baru berhenti kalau ia sudah lelah dan tidur. Aih," papar Faisal, mengeluarkan isi hatinya. Apa salahnya curhat dengan ketiga orang dewasa itu, toh mereka juga bisa dikatakan dekat.


"Ironis memang," komentar Karina berdiri.


"Dia sedang tidur?"


"Ya."


Ting.


Terdengar suara seperti bel, Faisal menoleh ke arah dapur kemudian izin ke sana. 


Karina lalu berjalan menuju kamar Riri dan Faisal, diikuti Arion dan Enji. Bayu duduk tenang seraya memainkan gawainya. Besok mereka akan ujian semester, rasa cukup mendebarkan sekali. Bayu, harus bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik dan membuat bangga Karina dan Enji padanya.


Faisal datang dengan membawa nampan, di atasnya terdapat mangkuk putih.


"Apa itu paman? Harum sekali," tanya Bayu yang mencium bau sedap, aroma bawang goreng begitu nikmat.


"Makan malam untuk Tante Riri, kau mau? Di dapur ada sedikit lagi. Ambillah, tapi hati-hati, panas," ujar Faisal kemudian berlalu menuju kamar. Bayu meletakkan gawainya dan menuju dapur.


Di dalam kamar, Faisal mendapati Riri yang terbangun dan kini menangis di pelukan Enji. Cemburu dan kesal sih melihat itu. Akan tetapi Faisal sadar, bahwa sebelum bertemu dengannya sesudah perpisahan selama 20 tahunan, Enji sudah masuk dalam kehidupan Riri. Faisal meletakkan nampan di atas lalu mengelus pundak Riri lembut.


"Riri, aku mohon jangan menangis lagi," pinta Faisal, malah ikutan nangis. Karina berdecak lidah, sedangkan Arion merangkul Karina, agaknya pria itu membayangkan seandainya ia yang berada di posisi Faisal.


"Bukankah sekarang sudah zamannya teknologi maju? Kalian lihat negara XX itu, sudah bisa menghidupkan orang mati. Masih ada program dan pengobatan agar kalian bisa memiliki keturunan. Aku tahu rasanya kehilangan anak itu sulit walaupun aku tidak pernah mengalaminya, bukankah kalian tahu, seseorang bisa merasakan kesedihan orang lain hanya dengan tatapan mata?" Karina memberikan dorongan dengan nada datarnya.


"Kalian bukan Tuhan, dokter juga bukan pemegang takdir dan keputusan. Setiap pasangan pasti sangat mendambakan keturunan, semua itu butuh proses. Ada yang tanpa ujian, ada yang diuji ringan sampai berat. Akan tetapi percayalah, masih banyak cara menuju roma, satu pintu tertutup ratusan pintu terbuka," timpal Arion.


"Jangan bersedih lagi Ri. Kamu kan wanita hebat. Kalian bisa menjalani program bayi tabung, atau jika kalian bisa bersabar lebih lama lagi, kalian bisa menunggu sampai beberapa tahun lagi, mana tahu saja keajaiban datang dan Riri bisa mengandung dengan normal," ucap Enji. Riri terisak dan mengeratkan pelukannya. 


"Sayang, aku yakin kita bisa memiliki keturunan. Sekalipun jika sampai akhir tetap tidak diberi, aku akan menerimanya dengan ikhlas dan selalu bersamamu. Aku tahu apa yang kamu takutkan, aku mencintai kamu apa adanya Ri. Aku menerima kekurangan dan kelebihanmu, apapun itu. Percayalah, aku tidak akan berpaling hanya karena vonis dokter itu, mari kita berusaha," ucap tegas Faisal, meminta Enji menyingkir.


Enji mendengus dan beranjak dari ranjang. Kini, Riri menangis di pelukan Faisal. Tak lama Riri melepas pelukannya dan menatap satu-persatu wajah Enji, Arion, Karina dan terakhir menatap dalam Faisal.


"Kau sungguh-sungguh?" tanya Riri serak.

__ADS_1


"Iya," jawab Faisal serius.


"Sampai mati tidak akan berpaling?"


"Selamanya denganmu."


"Sekalipun aku tidak bisa memberimu keturunan?"


"Aku berjanji, mereka saksinya. Aku rela mati di tangan mereka jika seandainya aku berbohong." Faisal memegang kedua pipi Riri.


"Terima kasih." Riri tersenyum. Entahlah, kelegaan ia dapatkan. Tapi, masih terselip rasa ragu.


"Ayo makan Ri." Enji menyodorkan suapan pada Riri. Faisal menatap Enji tajam. Ia merebut cepat mangkuk yang dipegang Enji. Enji berdecak sebal. Suapan Enji langsung dilahap Riri.


Mereka menemani dan melihat Riri makan malam. Setelah habis, mereka berbincang sebentar, memberikan kata motivasi dan penyemangat bagi Riri dan Faisal. Setelah Riri tertidur, barulah mereka keluar kamar. Di ruang tengah mereka mendapati Bayu yang tertidur dengan satu mangkuk dan piring bekas makan di atas meja. Enji melirik segan pada Faisal.


Faisal hanya tersenyum. Bayu ternyata menyantap habis buburnya juga tambah dengan nasi dan lauk-pauk yang ia letakkan di lemari. Anak yang blak-blakan. Tamu adalah raja sangat Bayu aplikasikan.


Mereka segera pamit pulang pada Faisal, Faisal mengantar sampai depan pintu. Dengan Bayu di gendongannya, Enji berjalan mendahului Karina dan Arion.


Kedua mobil itu keluar parkiran bersamaan dan melaju membelah jalanan malam. Lampu jalan dan lampu kendaraan menjadi penerang malam. Mereka berpisah di perempatan. Enji langsung ke apartemennya. Karina dan Arion langsung pulang ke rumah mereka.


Faisal memasuki kamar dengan wajah yang lega. Akhirnya ia bisa tenang sebab Riri sudah bisa rela dan ikhlas. Serta satu masalah yang sempat mengganjal pikirannya juga terselesaikan.


Besok pagi, sebelum berangkat ke rumah sakit, Faisal akan mengantar Riri ke markas Pedang Biru. Di sana Riri akan ditemani seorang ahli untuk membantu Riri cepat sembuh. Faisal ragu dan khawatir jika meninggalkan Riri sendiri di rumah, sebab di rumah ini hanya tinggalin oleh mereka berdua.


*


*


*


Pagi ini, agenda pertama mereka adalah menghadiri pemakaman keluarga Pratama. Mereka tiba di rumah duka sekitar pukul 08.00. Acara pemakaman yang dilangsungkan pagi hari.


Terlihat, halaman kediaman Pratama yang cukup luas penuh dengan kendaraan pelayat. Para pelayat adalah tetangga sekitar, jajaran pimpinan di lingkaran bisnis kota S serta para karyawan Pratama Company. Cukup banyak pelayat yang hadir, bahkan kendaraan sampai merembeh ke pinggir jalan keluar kediaman.


Karina dan Arion yang sama-sama memakai pakaian berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitam mereka, turun dari mobil dan menatap datar sekitar. Tenda besar untuk para pelayat berdiri kokoh di depan rumah. Papa bunga ucapan bela sungkawa dari berbagai perusahaan turut memenuhi halaman, juga sampai pinggir jalan. Karina juga mengirimkan satu. 


Hal itu cukup mengejutkan beberapa pihak, terutama Arion. Sebab Pratama Company belum pernah bekerja sama dengan KS Tirta Grub. 


"Ayo," ajak Arion. Karina mengangguk. Karina dan Arion melangkah kaki mereka mencari tempat duduk. Mereka bergabung dengan beberapa pelayat lainnya. Wajah para pelayat yang sebagian besar adalah para pemilik perusahaan mencuri pandang terhadap Karina dan Arion. Karina dan Arion acuh dan memilih tenggelam dalam aplikasi email mereka. 


Tak berapa lama, terdengar suara ribut mobil jenazah. Karina, Arion dan para pelayat lainnya mengarahkan pandangan mereka ke arah gerbang masuk. Empat mobil jenazah  datang dengan beriring dan berhenti berjajar. Para pria, mendekati mobil jenazah untuk membantu menurunkan peti jenazah dan membawanya ke dalam rumah untuk disemayamkan sebelum dikuburkan.


"Kakak," panggil seseorang, saat Karina menatap lekat peti-peti jenazah itu digotong masuk. Karina menoleh, Sam, Lila, Riana, dan Calvin dengan pakaian berwarna gelap mereka datang menghampiri Karina dan Arion.


"Kalian juga datang?" tanya Arion, cukup terkejut. 


"Tentu, bagaimana mungkin kami tidak datang di acara kematian mantan musuh kami, benarkan Lil?" sahut Sam merangguk Lila lengkap dengan senyuman khasnya.


"Karina, kita di pukul 10.00 ada meeting dengan perusahaan Kusuma," ucap Raina mengingatkan.


"Kalian yang tangani," titah Karina tegas.

__ADS_1


Riana tersenyum, dalam hati menjerit malang. Niat mengingatkan, malah menjatuhkan diri sendiri, untunglah para pekerja Karina dididik untuk tahan banting, jadi ini bukan masalah besar.


"Ngomong-ngomong, kau juga hadir, ada angin apa?" Karina menatap Calvin dengan alis terangkat.


"Hanya memastikan," jawab Calvin singkat, Karina paham.


"Sudah jelas, apa perlu kita lihat isi petinya? Ku dengar tubuh mereka gosong semua," saran Arion. Kelima orang itu mengangguk menyetujui.


Mereka melangkah masuk dan mendekati peti jenazah yang di masing-masing peti disenderi foto masing-masing korban. Sam dengan perlahan membuka peti dengan foto Dayana. Baru dibuka sedikit saja, bau khas daging terbakar menusuk penciuman, Lila merasa mual seketika dan berjalan cepat keluar.


Sam menyusul Lila tanpa menutup rapat peti. Calvin mengambil alih. Ia membukanya dan hanya menunjukkan kain putih kafan. Bau daging terbakar lebih kental. Karina melihatnya dengan wajah yang Arion sulit artikan. Hei, ayolah siapa yang tahu apa yang Karina pikirkan. Raina menatap datar hal itu, sedangkan Calvin tersenyum tipis dan langsung menutup rapat peti.


"Sangat disayangkan," gumam Karina datar, tatapannya kemudian memandang random para pelayat yang mamanjatkan  doa keempat korban ini.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang," bisik Arion.


"Tidak ada," jawab Karina cepat.


"Kita keluar?" ajak Calvin.


"Ayo," sahut Arion.


Di luar mereka melihat Sam yang memijat tengkuk Lila. Setelah itu memberikan Lila minum.


Saat menatap itu, ada yang menyapa mereka. Ternyata keluarga kusuma, pembahasan sekitar bisnis pun berlangsung sejenak. 


Kusuma segera pamit ke dalam, disusul dengan datangnya Enji. Enji menyerahkan kunci mobil Arion pada Arion. 


Mereka lalu duduk di kursi dan berbincang mengenai ekonomi. Sekitar 60 menit kemudian, Joko sebagai perwakilan mengumumkan bahwa jenazah akan segera di makamkan.


Keempat peti kembali dimasukkan ke dalam mobil jenazah. Diiringi dengan suara sirene dan para pelayat yang mengantar, keempat mobil jenazah itu melaju menuju lokasi pemakaman.


Karina memandang itu dengan ekspresi yang sama. Sam, Lila, Raina, dan Calvin pamit duluan. Kedua pria itu harus mengantar wanita mereka bekerja. 


Enji menatap Karina dengan tatapan bertanya.


"Kak, lekat sekali kamu menatapnya? Ada yang salah?" tanya Enji serius. Karina tersenyum tipis.


"Sayang, aku juga heran. Tidak biasanya kamu berniat melayat terlebih dengan mereka yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita." Arion juga ikut menyuarakan isi hatinya. 


"Kalau ku katakan mereka keluargaku bagaimana?" tanya Karina dengan wajah santai, dibalas kernyitan heran Arion dan Karina.


"Keluarga dari mana? Kakak jangan bercanda, mana mungkin kakak satu keluarga dengan rubah-rubak licik itu," protes Enji.


"Dari silsilah siapa? Apakah dari kakekmu?" Karina membenarkan ucapan Arion.


"Tepatnya, adik perempuan bungsu kakekku, dia menikah dengan keluarga Pratama dan melahirkan Tuan Pratama. Akan tetapi, mereka sudah melupakan keluarga Sanjaya sebab, bagi dunia keluarga Tirta Sanjaya sudah tidak ada lagi di dunia ini," terang Karina menjawab keheranan mereka berdua.


Enji bungkam, tampaknya single daddy itu belum ngeeh dengan kebenaran yang Karina ucapkan.


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?"


"Sejak kapan? Tentu saja sejak aku menjejakan kaki di kota ini. Mereka menganggap keluarga musnah, maka aku juga menganggap mereka orang lain." Karina mengendikkan bahunya enteng.

__ADS_1


Arion mengangguk mengerti. Enji hanya menghela nafas mendengar penjelasan Karina.


__ADS_2