
Suasana di ballroom universitas XY ramai dengan para alumni yang menghadiri acara reuni akbar hari ini. Ballroom yang dihias sedemikian rupa dengan beragam fasilitas ditambah dominasi warna biru dan putih terlihat sangat indah nan elegan.
Acara reuni dimulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 23.00. Para alumni datang silih berganti. Bagi yang sudah berkeluarga membawa keluarga mereka, bagi yang belum membawa kekasih mereka dan bagi yang single datang sendiri.
Bagian luar ballroom juga ramai dengan papan bunga ucapan selamat. Berbagai kendaraan juga berjejer rapi di tempat parkir yang telah disediakan oleh penyelenggara.
Universitas XY diresmikan sekitar 10 tahun lalu. Berdiri di bawah naungan KS Tirta Grub membawa universitas ini menjadi universitas terbaik di negara ini. Namun hanya segelintir saja yang tahu universitas ini adalah milik Karina.
Lagipula jika disebarkan siapa yang percaya pendiri universitas ini adalah seorang anak perempuan berusia 15 tahun? Ada tapi kebanyakan akan menganggapnya sebagai lelucon.
Karina dan Arion datang sekitar pukul 14.00. Ketika mereka datang, seluruh perhatian tertuju pada pasangan itu.
Sesi dokumentasi langsung saja mengabadikan kedatangan Karina dan Arion. Arion merangkul pinggang Karina. Senyum tipis mereka torehkan.
Mengetahui tamu terpenting dari daftar tamu, rektor langsung menyambut Karina.
Karena ini acara reuni, Arion meminta izin kepada Karina untuk berkumpul bersama rekan-rekan lamanya yang lama tidak bertemu kecuali Sam dan Calvin.
Karina memberikan izin, ia juga harus membahas pekerjaan dengan rektor dan wakil rektor serta dekan. Karina dan para bawahannya itu meninggalkan ballroom menuju ruangan yang terletak di belakang panggung.
Di dalam ruangan itu, ada sebuah meja panjang dengan sepuluh kursi. Karina duduk di kursi yang berbentuk seperti singgasana. Kursi lainnya segera diisi.
Karina mendengarkan laporan langsung mereka dengan teliti. Dahi mengerut tipis tanda tidak mengerti, tatapan mata tajam tanda tidak suka, mata menyipit tanda tidak percaya.
"Ada yang kurang. Ada satu dan paling serius," ucap Karina setelah mendengar semua laporan singkat nan padat mereka.
Wajah mereka menegang dan saling tatap ragu.
"Kenapa? Takut? Heran? Kalian kira aku tidak mengawasi universitas ini? Laporan tertulis dan lisan kalian berbeda dengan keadaan universitas yang sebenarnya."
Sorot mata Karina berubah dingin. Banyaknya bidang yang dinaungi Karina, membuat Karina terkadang lupa ada yang belum sesuai dengan prinsip dan ketentuannya.
"Kalian sangat hebat bisa menutupi bullying di sini. Terhitung sejak kau menjabat, ada 12 kasus pembullyan yang berakibat fatal. Apa gaji kalian kurang? Berapa banyak yang kalian terima untuk menutupi kesalahan para pelakunya hah?!"geram Karina, memukul meja dengan keras.
Tidak ada yang membantah. Semua tertunduk membisu. Mereka tidak mengira bahwa Karina sangat teliti. Mereka mengira karena Karina yang sangat sibuk tidak akan memperhatikan universitas ini.
Tapi ini terjadi sejak pergantian Rektor tahun lalu. Rektor - rektor sebelumnya sangat tegas dalam menjalankan ketentuan yang telah dibuat oleh Karina.
"Tidak ada pembelaan? Kalian mengaku salah?"
Serentak ke sembilan orang itu berdiri dari kursi dan berdiri menghadap Karina. Mereka kemudian membungkuk merasa bersalah.
"Kami salah, Nona," ucap mereka serentak, tegas.
"Jika salah harus dihukum. Kembalikan uang suap yang kalian terima. Pecat para pembully itu dari sini dan pastikan mereka tidak masuk ke universitas manapun. Dan kalian semua akan aku turunkan jabatan menjadi petugas kebersihan!"
Mata mereka membulat sempurna dengan perasaan menyesal yang terdalam.
"Jika kalian tidak terima dengan hal tersebut silahkan angkat kaki dari universitas ini."
Senyum smirk Karina berikan. Merinding. Dipecat sama saja mengubur mereka hidup-hidup. Siapa yang mau menerima mereka jika dipecat dari sini? Tidak ada. Karena dipecat dari sini mereka akan dianggap sampah. Mereka kepala keluarga, mereka punya banyak tanggungan.
Karina bertopang dagu.
"Kami menerimanya, Nona!"
Mereka kembali menjawab tegas.
"Berperilaku baiklah, mungkin nasib kalian bisa berubah. Aku tidak ingin mempermalukan kalian dihadapan universitas tapi kalian sendiri yang mempermalukan diri sendiri!"tegas Karina.
"Aku mengerti, Nona. Mohon maafkan kami."
Ucapan yang sama dan serentak lagi. Karina mengeryit tipis, apa mereka itu sebuah pasukan yang kompak? Ah ya pasukan penerima suap. Karina mendengus.
Karina meraih handphonenya ketika ada pesan masuk. Karina tersenyum lebar membaca pesan tersebut.
"Bagus!"gumam Karina.
"Waktu kalian hanya sampai besok pagi untuk mengembalikan uang suap serta memecat mereka. Jangan macam-macam. Mataku kini mengawasi kalian dua puluh empat jam!"
Karina memasukkan handphone ke dalam tas kemudian keluar dari ruangan tersebut. Kesembilan orang itu menghela nafas kasar.
"Mengapa aku begitu bodoh?"gumam rektor dengan raut wajah frustasi.
Duduk lemas di kursi.
"Aku tidak pernah membayangkan hal itu terjadi," ujar salah seorang wakil rektor.
"Aku menyesal. Aku akan berkerja sejujur mungkin mulai sekarang," sahut salah seorang dekan.
__ADS_1
"Nasi sudah jadi bubur. Kita bermain-main dengan orang yang salah."
*
*
*
Karina mengedarkan pandangan mencari keberadaan Arion. Wajahnya menggelap melihat Arion yang tertawa lepas dengan rekan-rekan kuliahnya dulu. Apalagi kebanyakan adalah wanita. Karina cemburu.
Karina langsung mengambil handphone dan menghubungi Arion. Tersambung. Dilihatnya Arion mengambil handphone dan sedikit menjauh. Karina mencembikkan bibirnya.
"Kita pulang. Aku menunggu di mobil!"tegas Karina, langsung mematikan panggilan.
Karina langsung melangkah menuju pintu keluar ballroom. Arion menatap bingung layar handphonenya.
Pulang?
Tapi kok suaranya kesal? Kesal dengan siapa?
Arion menggeleng pelan. Kembali bergabung dengan rekan-rekannya untuk berpamitan pulang. Kebanyakan sih kecewa karena Arion terlalu cepat pulang. Arion hanya tersenyum dan segera melangkah menuju pintu keluar.
Setibanya di mobil, Arion menarik pintu mobil bagian kemudi.
Loh kok enggak bisa dibuka?
Arion mengetuk kaca jendela. Karina menurunkan kaca jendela.
"Masuk!"
Karina ternyata duduk di kursi penumpang.
"Pintunya dikunci dari dalam, Sayang. Bagaimana bisa aku menyetir jika aku berada di luar?"heran Arion.
"Duduk di sampingku, Ar!"
Nada bicara yang ketus. Arion segera masuk dan duduk di samping Karina, ia rusak mau jadi pusat perhatian karena berdebat dengan Karina.
"Kau kenapa?"tanya Arion heran.
"Jalan!"
Si putih melaju perlahan meninggalkan tempat parkir.
"Kau bersenang-senang tanpaku ya. Senyum dan tawamu lepas sekali," sindir Karina dengan nada ketus.
"Maksudnya?"
Arion tadi memang tertawa bersama rekan - rekan kuliahnya tapi itu karena ada mengingat hal lucu semasa kuliah.
Tunggu.
Arion mengerti. Karina cemburu dengan hal tersebut. Arion tersenyum lebar dan langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Karina.
"Aku senang kau cemburu," ucap Arion.
"Cemburu? Aku tidak cemburu. Aku kesal!"bantah Karina cepat, memalingkan wajah menatap bangunan tinggi nan megah.
"Di wajahmu terukir jelas kata "aku cemburu". Kau tidak bisa menutupinya. Maafkan aku yang tidak peka," ujar Arion membantah bantahan Karina.
"Tidak peka? Kau tahu Ar, karena tidak peka itulah seseorang pergi," ucap Karina datar.
"Aku tahu. Cinta bisa dipendam dan disembunyikan sedalam mungkin, tapi tidak dengan cemburu. Namun kadang seseorang tidak peka dengan kecemburuan tersebut. Saat keduanya pergi, barulah merasa kehilangan dan penyesalan yang begitu dalam. Maafkan aku."
Permintaan maaf lagi. Karina mendengus senyum.
"Ah benar, mengapa kita pulang begitu cepat? Ada masalah apa?"tanya Arion, duduk tegas menoleh ke arah Karina.
Karina memalingkan wajah menatap Arion. Keduanya terdiam sejenak kala mata beradu pandang.
"Obat untuk Joya telah selesai," ucap Karina.
"Benarkah? Selamat Sayang!"
Arion memeluk Karina.
"Kau senang sekali?"
Mata Karina menyipit curiga.
__ADS_1
"Tentu saja! Jika obatnya telah selesai dan Joya sembuh maka bebanmu akan berkurang. Kau tidak akan pusing memikirkan keadaannya. Tidurmu juga akan lebih nyenyak," papar Arion.
"Oh. Aku kira …."
Tak.
Auh.
Arion menyentil pelan dahi Karina. Mata Karina langsung berubah tajam.
"Kau kira apa? Aku sudah punya kehidupan yang bahagia. Sudah mau punya anak dua. Nggak ada waktu buat mikirin wanita lain. Lagian pawangku harimau mana berani kelinci ini macam-macam," omel Arion.
"Baguslah."
Karina tersenyum lebar.
"Aku akan berangkat malam ini."
"Aku akan ikut denganmu," ucap Arion.
"Baiklah."
*
*
*
Di pertengahan jalan, Karina kembali menerima pesan. Pesan dari Satya. Mata Karina langsung membelalak kaget dengan isi pesan tersebut.
"Ada apa? Mengapa kamu terkejut?"
Arion mengambil handphone yang berada di bawah.
"Joya koma setelah melahirkan?"
Karina tidak merespon, menatap datar ke depan. Pikiran Karina terpecah. Dua saudaranya koma. Pukulan yang cukup keras.
Arion langsung merangkul Karina.
"Sayang, kamu kuat. Tapi menangislah jika itu membuatmu lega," ujar Arion.
Karina menggeleng pelan tapi air matanya telah turun. Suasana hati Karina tergambar dengan langit yang berubah menjadi gelap diikuti dengan gerimis sedang mengguyur bumi.
Arion menepuk - nepuk pelan pundak Karina, menenangkan Karina.
*
*
*
Gibran Raqqilla Firaz, adalah nama yang diberikan Darwis untuk putra kecilnya yang baru lahir beberapa waktu lalu. Darwis menatap anaknya dari kaca pembatas ruangan. Wajah Darwis sangat sendu. Kebahagiaan dan kesedihan di saat bersamaan. Darwis tidak tahu harus tersenyum atau menangis.
Di sana istrinya dalam keadaan koma. Detak jantungnya sangatlah lemah. Di sini anaknya sehat dan sangat aktif.
Darwis melirik sekilas ketika mendengar langkah kaki mendekat. Seseorang berdiri di sampingnya.
"Malam ini Karina akan kemari bersama dengan obat untuk Joya. Sebaiknya kau membersihkan diri. Kau sangat berantakan," ujar Satya.
"Aku masih ingin di sini," tolak Darwis.
"Karina akan semakin terpukul melihat keadaanmu," ujar Satya.
"Senyum Gibran sama dengan senyum Joya. Aku merasa tenang saat melihat senyum itu," ucap Darwis.
"Istrimu juga butuh dorongan darimu," ujar Satya.
"Aku …."
Darwis terdiam. Matanya berubah sayu.
"Kau benar. Sekarang aku memiliki Joya dan Gibran. Terima kasih telah mengingatkanku," ucap Darwis kemudian.
Satya tersenyum, menepuk pundak Darwis.
"Pelayan sudah membawa gantimu. Ada di kamar Joya," ucap Rian.
Darwis mengangguk. Darwis berbalik. Meninggalkan Satya yang masih melihat Baby Gibran menuju ruang rawat Joya.
__ADS_1
"Sehatkah selalu seperti kau sehat di dalam kandungan, Gibran," gumam Satya tersenyum lembut.