
Karina lantas berdiri dan keluar dari ruangan Arion. Karina lupa ada satu orang lagi yaitu Chimmy. Chimmy terbangun kala mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup walaupun pelan.
Mau ke mana dia? batin Chimmy bertanya.
Dengan segera ia bangkit dan mengikut itu. Dengan hati-hati ia mengikut ke mana arah langkah kaki Karina. Koridor rumah sakit lenggang, senyap sunyi, menyisahkan suasana mencekam bagi yang tidak terbiasa. Karina memasuki lift, Chimmy mengitip dan mendekat kala lift sudah tertutup.
Ternyata Karina menuju parkiran, tepatnya lantai 1 bawah tanah. Chimmy dengan segera menekan dan memasuki lift yang terdepat di sampingnya. Rasa penasarannya membuatnya ingin lebih tahu apa yang dilakukan Karina tengah malam begini.
Setibanya di parkiran, Chimmy mengedarkan pandangannya dengan tetap hati-hati dan waspada. Ia bersembunyi kala mendengar suara deru mesin mobil. Tak berapa lama, mercedez benz yang biasa Karina pakai melaju meninggalkan parkiran.
"Mau ke mana dia sih sebenarnya? Itu orang kelakuannya gak seperti ibu hamil muda, malah kayak badgirl," gumam Chimmy heran.
"Aku ikuti gak ya? Khawatir juga aku dengannya, ya walaupun dia itu leader mafia, tetap saja kan dia wanita dan hamil muda lagi," pikir Chimmy langsung menuju mobil yang ia gunakan untuk kemari tadi. Untung saja kunci mobil masih berada di saku celananya, jika tidak pasti akan repot.
Hei Mochi, kau sendiri sudah merepotkan dirimu dengan mengikuti Karina. Kita lihat apakah kau berhasil mengejar Karina yang membawa kendaraan seperti jalan itu milik nenek moyangnya dan seakan nyawanya itu seperti kucing.
"Untunglah dia masih dekat," ucap lega Chimmy yang menemukan mobil Karina berhenti di pintu keluar rumah sakit. Chimmy mematikan lampu mobil dan berhenti di tempat gelap.
Karina berhenti sebab merasa ada yang mengikutinya. Ia melirik kaca spion mobil. Melihat apa yang ada di belakang mobilnya. Sejak tadi Karina memang merasa diikuti, akan tetapi inikah rumah sakit, rasanya wajar dengan hal itu, terlebih lagi ia punya kemampuan melihat dan berbicara dengan para penghuni gaib rumah sakit ini.
"Pindai sekitar dan tunjukkan hasilnya," titah Karina pada sistem mobilnya.
Sistem memindai.
Tak lama, hasilnya terlihat di layar yang terdapat pada dashboard.
"Bukankah itu salah satu mobilku? Hmm … Mochi? Kau mengikutiku?" gumam Karina. Tak lama Karina menarik senyum tipis.
"Kalau begitu. Ayo kita lihat seberapa kencang kau mengemudi," gumam Karina lagi, serta tancap gas ke jalan raya. Chimmy segera mengikut.
Karina dengan gaya santainya menginjak gas mobilnya, mengemudi dengan kecepatan tinggi di mana jalanan yang lenggang menjadi pendukungnya.
Chimmy yang aslinya juga memiliki mobil satu merk dengan mobil yang ia naiki sekarang tak kesulitan mengejar hal itu.
***
Kini Karina memarkirkan kendaraannya di bawah lampu jalan yang bersinar. Posisinya saat ini tak jauh dari posisi kediamam Argantara. Hanya berjarak kurang lebih 50 meter saja. Karina keluar dari mobilnya dengan rambut yang telah ia kucir kuda. Di tangannya terpegang sebuah pena laser yang biasa ia gunakan.
Karina bersandar di body mobilnya seraya merapatkan jaket kala hawa dingin menyapa dirinya.
Karina menoleh ke samping kanannya, dapat ia lihat walaupun samar sebuah mobil berhenti di tempat yang terbebas dari jangkauan cahaya lampu jalan.
Karina tersenyum dan kembali melihat ke depan. Karina menunggu seseorang yang tak lain adalah Elsa. Sudah lima menit Karina menunggu namun Elsa tak kunjung datang.
"Ck! Di mana dia? Apa dia lupa alamat rumahnya sendiri?" gerutu Karina melihat jam tangannya lagi.
Tak sabar, Karina langsung bergerak tanpa menunggu Elsa. Chimmy yang masih belum menyadari bahwa sudah ketahuan pun mengikut.
Tiba di pagar yang memenjara kediaman Argantara agar tak sembarang orang bisa masuk, Karina langsung melompat masuk. Melewati gerbang setinggi tiga meter itu. Karina dengan hati-hati melangkah dan bergerak. Yang harus ia hindari bukan hanya penjaga malam, tetapi juga kamera pengawas. Untung saja Karina pernah memasuki kediaman ini, dua kali malah. Sungguh musuh yang tak waspada.
Hm … aku ini memang aneh. Aku hamil tapi kelakuanku seperti badgirl. Tapi aku lebih aneh lagi dengan calon anakku ini. Sepertinya kau sangat mengerti Mama, Nak.
Kini Karina telah berada di ruangan CCTV yang berada terpisah dari bangunan utama. Karina mengintip dari jendela. Terlihat ada dua orang yang berada di ruangan itu.
Karina menekan tombol pada jam tangannya dan mengeluarkan robot nyamuk yang sama dengan yang Karina terbangkan untuk mengintip Arion dulu. Bedanya ini bisa menggigit. Bukan mengisap darah tapi menyalurkan racun melalui gigitannya.
Melalui celah kecil, kedua robot itu terbang dan hingga di leher kedua penjaga tersebut. Dengan cepat menyalurkan racun pada mereka. Merasa lehernya sakit, keduanya refleks menyentuh leher mereka.
__ADS_1
Karena telah dikembangkan lagi oleh Karina, robot itu tak jadi rusak. Dengan segera robot nyamuk itu kembali pada tuan mereka bersamaan dengan tumbangnya kedua orang penjaga.
Dengan cepat, Karina masuk ke dalam ruangan dan mematikan semua CCTV yang terpasang di seluruh penjuru kediaman Argantara.
Tapi saat hendak mematikan CCTV terakhir, Karina mengernyit melihat ada sesosok wanita yang berpakaian serba hitam. Karina menajamkan matanya untuk melihat wajah wanita itu.
Ternyata dia ambil langkah duluan. Humph. Dasar tidak patuh pada perintah! kesal Karina dalam hati. Setelah semua CCTV Karina matikan, barulah Karina beranjak keluar.
Kini ia tak perlu lagi sembunyi-sembunyi, melenggang santai di tanah orang layaknya di tanah sendiri.
"Hei siapa kau? Berhenti di sana!" pekik penjaga dengan menyenteri Karina dari belakang. Karina menoleh ke belakang dan menarik senyum tipis.
"Aku malaikat mautmu," jawab Karina santai, langsung menarik pistol di balik jaketnya dan menembak penjaga itu.
Bruk.
Penjaga itu tewas seketika. Dengan luka tembak di kepala. Hal itu mengundang perhatian penjaga lain. Melihat rekannya mati dan wanita yang meniup ujung pistol membuat mereka emosi dan menarik senjata masing-masing. Pistol dan pedang, itulah yang mereka gunakan. Jumlah mereka sekitar 8 orang.
Karina menaikkan satu alisnya, tak lupa senyum menyeringai ia tunjukkan.
"Mau main keroyokan? Jantan sekali kalian ini," ledek Karina.
"Kau ini seklek atau apa? Orang keroyokan lawan satu kok jantan? Banci kali," cetus kesal salah satu dari para penjaga.
Karina hampir saja tersedak gara-gara itu. Ketujuh rekan penjaga itu memelototi rekannya itu dengan kesal.
"Kau ini sudah tahu dia meledek kita malah kau benarkan! Dasar pea'k," ketus pria berbadan paling besar.
"Kan memang begitu. Jika ada orang salah harus diberitahu yang benar!" sahut penjaga yang membalas ledekan Karina tadi.
"Ck. Terserahmu saja!"
"Apa katanya tadi?"
"Dia itu penyusup atau apa? Tak ada tanda takut atau panik?"
"Kalian ini pikun semua ya? Dia bunuh Joko artinya ia itu musuh. Ayo kejar dan habisi dia."
"Tapi jangan keroyokan. Satu lawan satu saja. Nanti kita dibilang jantan lagi dia."
Semua rekannya mendengus kesal dan mengejar Karina. Karina yang masih jalan santai terhenti sebab hadangan kedelapan orang tadi. Empat diantara mereka menodongkan pistol ke arah Karina dan empat lagi mengacungkan pedang mereka. Karina mundur selangkah dan menatap tajam mereka satu persatu.
"Angkat tanganmu dan ikut kami!" titah penjaga yang Karina duga adalah yang tertua.
"Jika aku tak mau?" tanya Karina datar.
"Kau akan mati detik ini juga!" jawabnya.
Karina memejamkan matanya dan mengangkat kedua tangannya. Saat dua di antara kedelapan penjaga ingin memegang Karina, dua orang di antara enam lagi ambruk dan tewas.
Sontak keenam lagi yang masih hidup mengalihkan fokus terhadap rekan mereka yang tumbang. Kesempatan bagi Karina menarik pedang lasernya dan menebas musuh di hadapannya.
Bau anyir darah tercium, enam kepala terpisah dari tubuh keenam penjaga tersebut.
"Huek!" Karina mendengar suara orang hendak muntah. Di balik pohon cemara, karina melihat ada bayangan orang. Awalnya Karina mengira itu si Mochi, tetapi setelah orang itu keluar, Karina malah tertawa.
"Ternyata itu dirimu Nyonya Elsa. Lucu sekali dirimu," tawa Karina meledek Elsa yang wajahnya memerah menahan mual.
__ADS_1
"Kau ini apa tak bisa membuat tubuh mereka utuh? Aku ngeri melihatmu tadi," keluh Elsa.
"Tidak! Lebih indah begini. Kalau waktuku banyak aku berencana mengambil jantung mereka. Tapi sayang, waktuku bersenang-senang hanya sampai fajar menyingsing," sahut Karina yang membuat Elsa membulatkan matanya.
Karina lantas mengajak Elsa memasuki rumah Argantara. Mereka bekerja sama menebas musuh yang menghalangi mereka.
Di lain sisi, Chimmy masih dengan usahanya. Mencoba memajat pagar pembatas yang melingkupi kediaman Argantara. Ia sendiri heran dan kagum. Melihat Karina yang dapat dengan mudah melompati pagar tiga meter itu. Sedangkan dia, masih berusaha.
Bukan Chimmy namanya kala mudah putus asa. Ia memutar otak mencari cara. Satu ide lumayan gila nangkring di pikirannya. Dengan berlari kecil, Chimmy menuju mobil yang ia bawa tadi, mengemudikannya dan memarkirkannya berhimpit dengan pagar kediaman Argantara.
Setelah itu Chimmy keluar dan naik ke kap depan mobil lalu naik ke atas atap mobil. Untung saja yang satu buatan pabrik sendiri jadi kualitas body-nya juga yang nomor satu.
"Akhirnya berhasil juga. Kok gak dari tadilah gue buat kaya gini," gumam Chimmy. Ia lantas segera mencari Karina. Karena pandangannya ke depan, kakinya tanpa sengaja menendang sesuatu. Chimmy menoleh ke arah kakinya. Ia terdiam.
"Mama!" pekik Chimmy takut.
Ternyata itu penggalan kepala yang belum dibereskan. Matanya terbuka menatap Chimmy. Chimmy memejamkan matanya tak berani melihat dan segera melangkah lagi. Beberapa kali kakinya menyenggol mayat. Apalagi bau anyir darah, sungguh membuat ingin muntah, tapi hanya air liur yang keluar.
Chimmy membuka matanya kala merasa bau anyir darah telah tak tercium lagi olehnya. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati pintu rumah utama terbuka lebar.
Dua mayat tergeletak di sana. Untung saja bukan penggalan tubuh. Chimmy menghela nafas. Ia menuruti langkah kakinya, walaupun sebenarnya hatinya takut.
Lampu lantai utama menyala. Beberapa mayat lagi Chimmy temukan. Di balik sofa di ruang tengah, Chimmy mendengar suara. Ia mendekat dan melihatnya.
Bik Asi dengan dua pelayan wanita terikat dan mulutnya disumpal kain. Chimmy dengan cepat melepas sumpalan kain mereka bertiga. Ketiganya masih nampak syok, terutama Bik Asi.
"Nyonya masih hidup? Tapi mengapa berubah menjadi kejam? Bukan Nyonya yang ku kenal dulu?" gumam Bik Asi menatap kosong ke depan.
"Tuan tolong ikatan kami juga," pinta Sri, pelayan termuda di antara ketiganya.
"Maaf aku hanya butuh petunjuk dari ucapan kalian, bukan gerakan. Jadi di mana Karina?" tanya Chimmy dengan bahasa koreanya.
Pelayan itu bengong. Ia tak tahu arti ucapan Chimmy. Chimmy tahu ucapan pelayan tersebut namun tidak dengan pelayan itu.
"Bukankah dia Park Jimin? Anggota BTS?" bisik pelayan satu lagi pada Sri. Sri mengamati lagi wajah Chimmy.
Tak lama ia membulatkan mulutnya juga matanya.
"Kau benar! Oppa please buka ikatan kami," pinta Sri lagi.
Chimmy acuh dan melihat ke arah tangga. Ia kembali menyumpal mulut ketiga pelayan itu dan berjalan menuju tangga.
Satu demi satu anak tangga Chimmy naiki dengan perlahan. Beberapa waktu kemudian ia tiba di atas tangga. Langkahnya berjalan menuju pintu ruangan yang terdengar suara gaduh dari dalam. Chimmy mendekatkan telinganya pada daun pintu dan menguping.
Sedangkan di dalam ruangan yang merupakan kamar Reza. Reza tengah meringis merasakan tamparan Elsa yang dilakukan penuh emosi dan kekuatan. Tangan Elsa saja sakit dan kebas rasanya. Bibir Reza mengeluarkan darah, ia menatap Elsa yang berdiri di hadapannya dengan sorot mata tajam.
Karina malah duduk di kursi santai Reza. Kedua kaki ia silangkan.
"Tamparan ini rasanya belum cukup untuk semua perbuatanmu padaku, Mas!" desis Elsa mengatur nafasnya yang memburu.
"Apa kau tahu rasanya apa yang aku alami?" tanya Elsa dingin. Elsa mengusap darahnya dan menatap ke arah Karina.
"Bisa dijelaskan apa arti ini semua, Nyonya Karina?" tanya Reza.
Saat nyenyak tidur, ia dibangunkan dengan cara disiram air super dingin, saat membuka matanya ditodongkan senjata oleh Elsa.
Mau melawan ia malah membeku melihat siapa yang menodongkan senjata padanya. Terlebih dengan kehadiran Karina, tambah bingung ia jadinya.
__ADS_1
Menekan tombol darurat gak ada yang datang. Malah suara kekehan Karina dan Elsa yang ia dapatkan.
"Biarlah Nyonya Elsa juga yang berbicara dengan Anda. Selanjutnya baru saya!" jawab Karina tersenyum.