
Di sisi lain, Jesicca tengah panik dengan kondisi sang ibu yang kembali drop. Ia mondar - mandir di ruang di depan ruang rawat sang ibu. Ayahnya juga panik dan kacau tapi tetap berusaha tenang, berharap sang istri baik-baik saja.
Pria itu menundukkan kepala dengan mulut meramalkan doa. Jessica berhenti melangkah, ia menatap sang ayah yang di matanya tampak tertekan. Jessica menggigit ibu jarinya, mengurangi rasa cemas.
"Erin kau harus baik-baik saja. Bagaimana aku bisa membayar semua perbuatan burukku jika kau tidak sehat? Erin … aku mohon bertahanlah. Ya Tuhan, hamba mohon selamatkan istri hamba," gumam Rudi.
"Ayah."
Jessica memanggil dengan suara parau, ia mendekat dan duduk di samping sang ayah.
"Ibu akan baik-baik saja kan?"
Jessica tetap tidak bisa tenang walaupun ia sudah pernah menunggu seperti ini sebelumnya, sebelum Rudi berubah.
"Ibumu wanita kuat. Ia pasti bisa melewatinya!"ucap Rudi tegas, memberikan semangat untuk Jesicca.
Jessica memeluk Rudi. Dengan lembut Rudi menepuk - nepuk pelan pundak Jesicca.
"Ayah benar! Ibu pasti bisa," ujar Jessica.
Tak berselang lama, dokter yang menangani Erin keluar. Jessica dan Rudi segera berdiri dan mengajukan pertanyaan.
"Ibu Erin harus segera melakukan operasi. Ada penyumbatan di jantungnya," jawab dokter, membuat ayah dan anak itu terkejut.
"Agar bisa segera dilakukan operasi, harap melunasi administrasi terlebih dahulu," ucap dokter itu lagi, melangkah pergi diikuti antek-anteknya.
Jessica yang masih linglung, seketika tersadar.
"Ayah aku akan membayarnya! Ayah tunggu di sini," ucap Jessica, melangkah untuk membayar administrasi.
"Seratus juta?"
Mata Jesicca membulat mendengar nominal yang harus ia bayar. Jessica memeriksa rekeningnya.
"Kemana aku mencari kurangnya?"gumam Jesicca, saldonya tidak mencukupi, bahkan kurang banyak.
Gaji triple yang ia dapatkan sudah ia bayarkan untuk perawatan sang ibu, lebihnya untuk keperluan sehari-hari. Tinggal tersisa sepuluh juta.
"Tidak bisakah saya mencicil? Kurangnya akan segera saya lunasi," pinta Jesicca.
Pegawai itu menggeleng.
"Untuk operasi kami membutuhkan pembayaran lunas, Nona," jawabnya.
"Saya mohon."
Jessica memelas. Tetap saja dijawab dengan menggeleng.
"Maaf Nona, ini sudah prosedur pembayaran di sini. Juga di rumah sakit lain, kecuali jika Nona berada di Tirta Hospital."
Jessica menghembuskan nafas kasar.
Jessica melangkah gontai, ia bingung mau mencari pinjaman kemana. Pada rekan kerja, Jessica belum terlalu akrab, ia segan untuk meminjam. Terlebih ia masih terhitung anak baru.
"Ayah, kemana aku harus mencari sisanya?"tanya Jessica yang blank.
Rudi mengeryit, berpikir siapa yang kiranya bisa.
"Jesi bukankah pacarmu bosmu? Apa kau tidak bisa meminta bantuan padanya? Ayah rasa nominal itu tidak masalah padanya."
Rudi tidak mengatakan calon suami, sebab untuk menyandang gelar calon istri, ia harus bertarung dulu dengan bawahan Karina, sesuai kesepatakan.
"Ayah … bagaimana bisa aku melupakan Tuan Enji? Aku akan menghubunginya."
Segera Jesicca mencari kontak Enji, sayangnya setelah beberapa kali memanggil, tak kunjung dijawab.
"Bagaimana?"
Jessica menggeleng.
"Aku akan ke apartemennya," ucap Jessica, berlari menuju parkiran.
Jessica mengemudikan mobil bak kesetanan. Ada cela sedikit ia langsung memotong, yang ada di pikirkannya hanya mendapatkan uang untuk membayar biaya operasi.
Jessica berlari memasuki lift menuju lantai apartemen Enji. Begitu tiba, Jesicca tetap berlari, ia menekan bel pintu apartemen Enji.
Sayangnya, sama seperti saat menghubungi Enji. Kosong, tidak ada jawaban. Jessica yang tahu password apartemen, segera menekan deretan angka.
"Kosong? Kemana Tuan Enji?"
Jessica sangat frustasi.
"Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Aku akan ke rumah Nona Karina, dia pasti mau memberiku pinjamam!"
Jessica menekan bel di gerbang rumah Karina. Pak Anton yang kebetulan berapa di pos, melihat siapa yang berkunjung.
"Aku ingin bertemu dengan Nona Karina," ucap Jessica.
"Maaf sekali Nona. Nona dan Tuan tidak berada di rumah," jawab Pak Anton.
"Kalau begitu bisakah Anda menghubunginya? Saya mohon. Katakan padanya Jessica butuh bantuan," pinta Jesicca.
"Akan saya coba."
Pak Anton menghubungi Karina. Sayangnya tidak juga dijawab.
"Sepertinya Nona tidak bisa diganggu, begitu juga dengan Tuan. Lebih baik Anda kembali besok pagi saja."
Apa? Kembali besok pagi? Tidak mungkin.
"Baiklah. Terima kasih!"
__ADS_1
Jessica kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan gerbang kediaman Sanjaya.
"Aneh," gumam Pak Anton.
Kemana? Kemana lagi? Ingat Jessica … ayo ingat!
Jessica memukul kemudi, ia menepikan mobil. Rambutnya berantakan, matanya terpejam.
Benar! Tuan dan Nyonya Wijaya pasti bisa.
Jessica kembali mengemudi, menuju ke kediaman Wijaya, meminta bantuan pada Amri dan Maria.
Di tengah perjalanan, handphone Jesicca berdering. Handphone yang tersambung dengan mobil, langsung Jessica jawab.
"Halo Jessi kamu di mana? Cepat ibumu semakin kritis!"pekik Rudi, nada bicaranya takut dan cemas.
"Apa? Ayah sebentar lagi aku kembali," jawab Jessica.
Jessica semakin menekan pedal gas. Ia mengerem saat tiba di depan gerbang kediaman Wijaya. Tak peduli lagi sopan santun, Jessica menekan bel membabi-buta seraya menggedor pintu gerbang.
"Nona, ada keperluan apa?"tanya penjaga gerbang dengan nada galak.
"Tolong pertemukan saya dengan majikan kalian!"
"Jessica. Katakan pada mereka namaku Jesicca," pekik Jessica.
Penjaga gerbang menyuruh temannya untuk memberitahu Amri dan Maria. Setelah mendapat persetujuan, Jeiscca masuk dan langsung berlari memasuki rumah.
"Nyonya, Tuan, saya saya mohon bantuan kalian!"ucap Jessica yang membuat Amri dan Maria merasa heran.
"Kamu kenapa Jesi? Mengapa kacau sekali? Bik ambilkan minum!"
Maria menyuruh Jessica untuk duduk. Bik Susan datang dengan membawa air minum untuk Jeiscca.
"Minumlah dulu," ujar Maria. Jessica meninum tandas.
"Bantuan apa?"tanya Amri setelah merasa Jesicca cukup tenang.
"Uang. Saya ingin meminjam uang untuk operasi ibu saya," jawab Jessica cepat.
Maria dan Amri saling pandang dengan wajah yang menunjukkan keprihatinan. Mereka memang tahu mengenai keluarga Jesicca.
"Berapa banyak Nak?"tanya Amri.
"Seratus. Seratus juta."
"Baiklah."
Jessica tersenyum lega saat permintaan pinjaman disetujui.
Setelah mendapatkan uang, Jessica bergegas kembali ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit, Jessica menghampiri sang ayah dulu. Akan tetapi, perasaannya kacau kala langkahnya semakin dekat dengan ruangan sang ibu.
Perasaan takut semakin menjadi saat melihat Rudi menangis di depan pintu. Lutut Jessica terasa lemas. Handphone yang ia pegang erat, jatuh begitu saja ke lantai, menimbulkan suara benturan.
"Ibu," ucap lirik Jessica.
Enji semakin bingung dan khawatir mendapati Bayu tidak ada di panti dan tidak pernah ke panti setelah dibawa oleh Karina.
Saat tiba tadi, saat ibu panti mengatakan bahwa Bayu tidak ada di sini, Enji seperti orang gila memeriksa setiap sudut panti seraya memanggil - manggil nama Bayu.
Syaka memijat dahi, sakit kepala melihat tingkah anak dan ayah. Ibu panti beserta penghuni panti lainnya juga merasa cemas mengenai kemana perginya Bayu.
"Anak itu keras kepalanya tidak pernah berubah. Ibu rasa sudah keturunan," ujar Ibu panti.
Syaka menoleh.
"Ya, memang benar. Bayu hanya takut pada Queen," timpal Syaka.
"Kamu apanya Nyonya Karina?"tanya Ibu panti.
"Saya anggota baru Bu, saya diperintahkan oleh mengikuti ayah dan anak yang tingkahnya seperti anak kecil," jawab Syaka.
Ibu panti tersenyum.
"Ibu tidak menyangka ayahnya setampan ini. Sejak awal memang Nyonya sudah mengetahui, pantas saja ia mau membawa Bayu," ujar Ibu panti.
Kali ini Syaka mengangguk setuju. Mereka menoleh ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki. Enji keluar dengan wajah lelah juga bingung.
Di sini aku punya backingan kuat, tapi aku tidak bisa menggunakannya. Ahhgk sial! Bagaimana bisa aku melupakan tanganku sendiri?
Rasa cemas dan khawatir, membuat seseorang lupa hal yang paling dekat.
Enji mencari handphonenya, ia meruntuk kesal lupa bahwa handphone ada pada Bayu. Untung saja jam tangannya mempunyai fungsi yang sama dengan handphone.
Dan Enji mendengus kembali, ia lupa dengan fungsi lain jam tangannya.
Enji menghubungi para bawahannya yang berada di sini. Setelah selesai, Enji sedikit bernafas lega. Setidaknya para bawahannya bisa diandalkan.
Ibu panti menyuruh salah seorang anak mengambilkan minum. Enji menerima dengan memberikan senyum.
"Tuan," panggil Ibu panti.
"Hm?"
"Bukannya saya ingin berpikiran negatif, akan tetapi akhir-akhir ini sering terjadi penculikan anak usia. Saya khawatir Bayu menjadi salah satu korbannya. Modus penculikan kini sangat beragam, dan saya mendengar dari pihak terkait bahwa penculikan ini mempunyai pola. Dan setelah beberapa hari setelah penculikan, korban ditemukan tewas dengan organ yang tidak lengkap," papar Ibu panti.
Mata Enji dan Syaka membulat.
"Perdagangan organ tubuh?"tebak keduanya.
Ibu panti mengangguk.
__ADS_1
"Bagaimana Anda tahu?"
"Nyonya Karina memberikan penjagaan untuk panti ini. Dan penjaga tersebut memperingati saya," jawab Ibu panti.
"Kakak jika sudah melakukan sesuatu pasti sampai tuntas," gumam Enji.
"Syaka, kamu di sini saja. Ingat jangan beritahu Queen. Saya akan menghubungi kamu untuk lebih lanjutnya."
Enji menepuk pundak Syaka. Syaka mengangguk.
"Ibu, saya pergi. Titip Syaka ya," ucap Enji.
Ibu panti mengangguk. Enji masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
"Ibu, apa Kak Bayu baik-baik saja?"tanya Amel, anak yang pernah mengatakan pada Bayu untuk berkunjung ke panti.
"Ayo kita berdoa untuk keselamatannya," ajak Ibu panti.
Seluruh anak panti masuk. Syaka duduk di kursi depan.
"Bayu sebenarnya kamu di mana?"gumam Syaka, merasa ada yang kurang.
Sepertinya telah tercipta ikatan antara ia dan Bayu. Ikatan persahabatan.
Di sebuah ruangan yang cahayanya redup, sesosok tubuh kecil terbaring di lantai dengan leher yang dirantai. Tubuh itu dikurung di sebuah kandang besi.
Di luar kandang, dua orang dewasa sibuk memeriksa sebuah tas dengan wajah tersenyum lebar. Tawa bahagia mereka gemakan. Ruangan ini adalah ruang bawah tanah.
"Wah ikan besar memang anak ini. Lihat banyak sekali kartu debitnya. Lihat juga jam tangan, dan handphone … ahh memang anak sultan," ucap salah seorang dari mereka.
"Coba lihat saja pakaiannya. Itu edisi terbatas," sahut rekannya, melihat anak kecil yang masih tidak sadarkan diri.
"Eh ada paspor, Enji Tirta Sanjaya? Bayu Tirta Sanjaya? Apa mereka keluarga terkenal itu? Keluarga Sanjaya?"
"Coba aku lihat."
"Hm banyak nama keluarga Sanjaya. Lagipula keturunan mereka sudah tidak ada. Tapi melihat betapa kayanya mereka lebih baik kita press dulu baru …."
Keduanya tertawa, terdengar menyeramkan.
"Oi tapi ini dilindungi, coba kau pecahkan!"
"Goblok. Ambil Sim Card nya kan bisa!"
"Hehehe aku terlalu bersemangat."
"Kalau Anda ingin anak Anda selamat, siapkan apa yang kami minta!"
Enji kira ini adalah Bayu. Sebab hanya beberapa orang satu yang mempunyai koneksi ke jam tangannya.
"Siapa kalian? Di mana putraku?"tanya Enji marah.
"Wah sabar dulu Tuan. Anak Anda baik-baik saja. Kami hanya meminta tebusan."
Terkekeh, Enji mendengar suara kekehan. Ia mencengkeram erat kemudi mobil.
"Berapa yang kalian inginkan?"tanya Enji.
Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Bayu.
"Tidak banyak, hanya 10 milyar."
10 milyar? batin Enji.
"Baik."
Tanpa pikir panjang Enji setuju.
"Tapi aku ingin melihat putraku!"ucap Enji.
Panggilan diakhiri berganti dengan panggilan video.
"Brengs*k! Kalian apakan anakku? Lepas rantai itu baj*ngan! Kalian kira anakku binatang hah?"bentak Enji emosi melihat kondisi Bayu.
"Ingin dilepas? Maka turuti kami. Di sini kami adalah pemegang kendali. Turuti kami maka anak anak selamat."
Enji mengeram kesal.
"Baik. Kirim lokasi dan waktunya!"
Enji memukul kemudi, meluapkan rasa kesal, marah, sedih melihat kondisi Bayu.
Anakku yang ku jaga bagai mutiara diperlakukan bak binatang? Aku tidak terima.
Enji menghubungi bawahannya setelah mendapatkan lokasi dan waktu.
Tak lupa Enji juga menghubungi Syaka, jaga-jaga seandainya ada hal yang tidak diinginkan.
Ia sudah coba melacak keberadaan Bayu di warnet tadi, sayangnya tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Bayu.
Bawahannya pun melaporkan bahwa ada dua kemungkinan tidak bisa menemukan lokasi Bayu sekarang, antara ponsel dan alat pelacak yang dimatikan, atau ada alat pemancar sinyal yang mampu memblokir sinyal.
Sepertinya mereka bukan penjahat amatir. Aku harus mempersiapkan semuanya dengan matang.
Kalian awas saja! Kalian harus mati, berani menculik dan menyiksa anakku!
Mata Enji berkilat mata. Para penjahat tersebut telah membangkitkan harimau yang telah lama berhibernasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...