
Ferry belum juga sadar. Betah sekali di alam koma. Padahal banyak yang menantinya sadar. Di ruang rawatnya kini, Siska duduk di samping brankar ranjang rumah sakit dan seperti biasa mengusap telapak tangan Ferry.
"Fer, cepatlah sadar. Sampai kapan kau membuat kami khawatir? Kau berjanji hari Minggu besok membawaku jalan-jalan. Kau mengatakan akan memberiku kejutan. Ferry cepatlah sadar," pinta Siska meneteskan air matanya lagi.
Kedua orang tua Ferry dan Wulan mereka pulang sebentar ke apartemen Ferry. Siska tiga hari belakang ini hanya masuk kerja sampai selesai jam makan siang. Setelah itu, Siska ke rumah sakit menemani Ferry sampai pukul 20.00, barulah Siska dengan motor maticnya pulang ke rumah. Itu semua atas persetujuan Karina.
Ini masih jam 19.00, artinya masih ada satu jam lagi waktunya. Orang tua Ferry dan Wulan tentunya sudah kembali datang ke rumah sakit. Tak lupa membawakan makanan untuk Siska. Siska yang hanya dikenalkan melalui cerita Ferry dan video call melalui handphone sudah mendapat tempat di hati mereka. Tak ada keraguan untuk merestui hubungan keduanya.
Mereka tahu, bahwa hari Minggu nanti Ferry akan melamar Siska menjadi istri Ferry. Nah, di hari itulah, keluarga Ferry akan datang dari negara F untuk bertatap muka secara langsung tanpa pembatas layar.
Sayang, insiden yang tidak pernah terlintas ataupun diharap terjadi. Mereka berharap lamaran tetap terjadi.
Ferry cepatlah sadar, harap mereka.
"Sis, ayo makan dulu. Kita makan malam bareng," ajak Mama Ferry.
"Iya Ma," jawab Siska beranjak dari kursinya. Mengecup singkat tangan Ferry dan menghampiri Mama Ferry dan keluarga.
"Kak, kakak lanjut ke pelaminan kan sama kak Ferry? Ulan sudah nyaman sama kakak. Kakak harus jadinya sama kak Ferry," ujar Wulan semangat.
Siska tertegun dan melempar pandang pada Ferry di ranjang dan orang tua Ferry di hadapannya. Rasa gugup seketika menyelimuti.
Siska Sayangku, cita-cita hubungan ini adalah kita putus, ujar Ferry kala mereka jalan berdua di taman. Tentu saja Siska kesal, sedih dan kecewa kala itu.
Dan membangun hubungan lagi di atas janji suci pernikahan. Dari kekasih menjadi istri, kau mau kan menjadi pendamping hidupku? Teman hidupku sampai menutup mata? lanjut Ferry yang membuat Siska membelalakan matanya. Secara tak langsung Ferry melamarnya.
Tentu saja jawabannya iya. Lamaran secara tak langsung itu adalah salah satu langkah sebelum melakukan lamaran serius di depan keluarga Ferry dan Siska, siapalagi kalau bukan Karina dan lainnya.
"Ya Wulan. Kakak akan lanjut ke sana," jawab Siska mantap.
Kedua orang tua Ferry tersenyum. Wulan memeluk Siska erat. Mereka lanjut mengobrol. Tak terasa sudah lebih tiga puluh menit dari rencana pulang Siska. Akhirnya Siska pamit pada mereka.
Tak lupa pamit pada Ferry walaupun tak ada respon. Kecup kening dan tangan Siska berikan. Kecup bibir? Belum boleh. Kata Ferry tunggu kata sah terucap barulah first kiss dilancarkan. Sebelum itu, kesucian bibir mereka masih harus tersegel.
***
"Masih sakit rusuk dan tangan kamu?" tanya Karina saat mereka sudah berada di kamar bersiap untuk tidur.
"Hmm … gak. Kamu kan baik-baik saja. Jadi aku juga baik-baik saja," jawab Arion tersenyum menatap awang-awang.
"Serius Ar," pinta Karina tegas.
"Serius Sayang. Kamu kan diciptakan dari tulang rusuk aku jadinya selama kamu baik aku juga baik," jawab Arion.
Karina menghela nafas.
"Iya deh. Maksud aku tulang kamu yang di dalam," ujar Karina menyentuh bagian tubuh Arion yang terbalut perban. Arion meringis tertahan.
"Tuh kan, masih sakit," ucap Karina.
"Iya. Masih sakit tapi tak seberapa kok," jawab Arion pelan.
Karina menangkupkan kedua tangannya pada pipi Arion. Menyatukan kening mereka. Karina menatap dalam Arion. Arion hanya bisa merasakan tatapan itu melalui mata hati dan hembusan nafas serta rasa gugup yang menyertainya.
"Sayang?" panggil Arion.
"Hm," sahut Karina.
__ADS_1
"Anak kita gimana? Kamu sudah periksa?" tanya Arion.
"Belum, tunggu kamu pulang dari sana kan rencananya, tapi malah ada insiden ini," jawab Karina. Arion tersenyum simpul.
Arion memundurkan kepalanya hingga dahi mereka berpisah, Arion memutar tubuhnya dan meraba mencari sesuatu di atas ranjang.
"Salah pegang. Kamu cari apa sih?" seru Karina saat tangan Arion neplok bentar di dadanya.
"Paha kamu," jawab Arion terus meraba.
"Ih, kamu mesum," kesal Karina.
"Mikir apa sih kamu? Aku mau tidur di paha kamu. Masa gak boleh?" sahut Arion heran. Pasti Karina memerah malu.
Karina lantas membimbing Arion agar segera tidur di pahanya. Agar tak meraba sana-sini. Arion langsung memeluk pinggang Karina dengan tangan kirinya. Membenamkan wajahnya di perut Karina.
Karina dengan lembut mengusap rambut Arion dan memperhatikan tangan kanan Arion yang belum lepas pen.
"Kamu punya tiga usaha, aku punya dua, berarti kita harus punya empat anak dong," ujar Arion enteng dan mendongak. Karina membulatkan matanya.
"4 Ar? Gak salah?" tanya Karina.
Arion diam sejenak.
"Iya salah. Maksudnya 5 sama mafia aku," jawab Arion meralat ucapannya tadi.
Karina makin membulatkan matanya. Niatnya minta kurang tetapi malah nambah.
"Ar, kamu serius. Masa kita harus sering begadang sih ke depannya. Terus jarak umurnya berapa?" tanya Karina.
"Satu tahun saja," jawab Arion.
"Iya. Gak papa kan?" sahut Arion santai menyibak baju Karina dan memasukkan tangannya mengusap lembut perut Karina. Karina memejamkan matanya nyaman dengan hal itu.
"Terus kalau sudah kecapai lima gimana? Berhenti produksi kan?" tanya Karina lagi.
"Gak. Kan bisa pakai pengaman. Kalau kebablasan terus jadi ya rezeki. Gak bisa ditolak kan?" jawab Arion.
"Hmm … terserah deh. Tapi kalau mau begitu kamu harus cepat sembuh," ucap Karina.
"Tentu," jawab Arion mantap.
"Hei, jangan naik. Kamu ngelus perut atau apa?" keluh Karina memukul tangan kiri Arion. Arion cengengesan.
"Dua-duanya. Satu kan sudah punyaku dan satu lagi hasil perbuatanku, gak masalah kan?" Arion menjawab santai.
"Ya iyalah perbuatan kamu. Masa aku bisa hamil sendiri," ketus Karina.
"Hmm," gumam Arion.
"Tidur yuk, besok lagi," ucap Karina.
"Oke," sahut Arion. Karina membantu membenarkan posisi tidur Arion. Setelah benar, Karina langsung memeluk Arion dari kiri, sebab semua luka berada di kanan. Tidur dengan nyenyak setelah empat malam di rumah sakit.
***
Kediaman Wijaya. Amri dan Maria masih menikmati alur kisah sinetron yang mereka ikuti baru-baru ini. Nonton sambil berpelukan ditemani cemilan sehat tak buat gendut membuat suasana malam yang dingin menjadi hangat.
__ADS_1
Pukul 23.45, barulah ceritanya bersambung. Amri mematikan televisi. Sedangkan Maria beranjak naik ke atas ranjang.
Amri segera menyusul. Mereka hanya berbaring dan mengobrol sebab mata belum mau diajak tidur.
"Pa, sebenarnya Mama masih penasaran sama menantu kita. Hebat sekali bisa menjadikan jaguar seperti kucing manis. Malah nurut lagi. Heran Mama jadinya," ucap Maria mengingat kejadian tadi siang. Kala tiba di rumah Karina, mereka malah disambut tatapan tajam Miu. Sontak mereka mengerut takut.
"Miu jangan begitu. Beri salam sana," suara Karina mampu membuat jaguar hita itu menurut.
Memberikan salam dengan goyangan ekor dan dibalas ragu lambaikan tangan Amri dan Maria.
"Papa sebenarnya juga Ma. Biasanya hewan seperti itu dipeliharan sama orang besar dalam dunia bawah. Walaupun Papa gak ikut tetapi Papa tetap harus tahu perkembangannya dong," jawab Amri.
"Dunia bawah? Jangan katakan Papa tebak Karina adalah Mafia?" tanya Maria membulat matanya.
"Bisa jadi. Auranya sangat kental dan mendominasi jika sudah serius. Apalagi dengan hewan peliharaannya, kalau iya sih tak heran," ujar Amri.
"Ih, ngeri-ngeri sedap Pa jika Karina beneran mafia. Harus benar-benar jaga sikap dan perilaku kita." Maria bergidik ngeri.
"Kan selama ini kita jaga sikap. Karina juga jaga sikap. Ya walaupun sempat dulu cekcok tapi bukan masalah, hmm Papa dapat menilai Karina. Karina akan menggunakan kekuasaan dan kekuatannya di waktu dan tempat yang tepat. Sebelum kita tahu dia CEO, dia kan cuma ngeluari auranya bukan kekuatannya," terang Amri. Maria manggut-manggut mengerti.
"Sudah, ayo kita tidur. Jika sudah saatnya satu persatu rahasia akan terjawab dengan sendirinya. Tinggal kita saat yang harus pandai-pandai mengambil sikap. Jangan sampai salah langkah," tambah Amri.
"Iya Pa. Mama mengerti," balas Maria. Mereka akhirnya lanjut menuju alam mimpi. Bulan yang berada di atas langit memancarkan cahaya, membias masuk ke dalam kamar mereka. Menyapa mereka yang tertidur.
Lain tempat lain acara. Li dan Elina yang sudah sah di mata agama dan negara tengah asyik memadu kasih di kamar mereka. Kamar yang masih harum semerbak dengan bunga mawar menghiasi perjalanan mereka. Pukul 00.30 barulah mereka selesai dan langsung terlelap.
Kala waktu tahajud tiba, Li membuka matanya. Menghidupkan lampu kamar yang dimatikan hingga kamar mereka terang benderang. Merasa ada terpaan cahaya yang mengganggu. Elina bangun dan mengucek matanya. Selimut tetap membungkus tubuh polosnya.
Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Melihat samping, suaminya tak ada. Melihat jam, pukul dua kurang lima belas.
Lima belas menit kemudian, Li keluar dengan sarung dan baju kokoh lengan pendeknya. Wajahnya tampak bersinar dengan tetesan air wudhu.
"Gih mandi sana. Kita tahajud bareng. Jangan lupa mandi wajib dan niatnya," ujar Li yang melihat Elina masih diam memandangi dirinya.
"Eh, Iya," jawab Elina turun ranjang dan lari ke kamar mandi. Setelah setengah jam kemudian, Elina keluar dengan rambut basahnya.
"Besok puasa dulu ya," ucap Elina sembari memakai mukena hadiah pernikahan mereka.
"Tergantung," jawab Li.
"Tergantung apanya?" tanya Elina.
"Tergantung kamu menggoda atau tidak," jawab Li.
"Ah sudah. Ayo mulai," putus Elina. Mereka akhirnya tahajud berjamaah. Memohon pada yang kuasa agar dimudahkan segala urusan mereka.
***
Hal yang sama juga terjadi di kediaman Karina. Karina menuntun Arion masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Tanpa bantuan Karina, Arion dapat berwudhu sendiri.
Aku buta bukan lumpuh, Sayang. Itulah yang Arion katakan saat Karina hendak membantu Arion.
Selepas berwudhu keduanya langsung menuju tempat yang telah disiapkan terlebih dulu. Karena masih dalam keadaan sakit.
Arion sholat dengan posisi duduk. Mereka sholat berjamaah dalam kekhusukan. Berdoa agar Arion lekas sembuh, donor mata cepat didapat serta menemukan titik terang kecelakaan ini.
Tak lupa meminta pengampunan atas segala dosa dan kesalahan mereka. Derai air mata mengiringi. Sebagai penutup meminta kebahagian di dunia dan di akhirat. Setelah itu barulah Karina menciun dengan lembut telapak tangan kanan Arion dengan hati-hati.
__ADS_1
Beranjak tidur, itulah yang mereka lakukan selanjutkan setelah tahajud. Menunggu esok hari tiba dan memulai aktivitas yang baru dengan harapan baru.