Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 390


__ADS_3

Pakaian dan jam tangan couple menjadi hadiah yang dibeli oleh Karina dan anak-anak. Hadiah dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna merah dan diberi hiasan pita biru. Karina membawa bungkusan kado sedangkan belanjaan yang lain dibawa oleh Bintang, Biru, dan Bima. Mereka meninggalkan mall dengan wajah bahagia.


Pak Anton membukakan pintu, Karina dan anak-anak terkejut mendapati Arion berada di dalam, tersenyum lembut menyambut mereka. Kado di tangan, Karina berikan pada Pak Anton untuk diletakkan di bagasi.


"PAPA!"seru mereka berenam, segera naik ke dalam mobil.


"Ar kau di sini? Bagaimana bisa?" Sembari meraih punggung tangan Arion.


"Bukankah sudah janji mau pulang bareng?" Arion mengangkat kedua alisnya.


"Ah aku lupa. Untung saja." Karina tertawa kecil.


"Jadi hadiah apa yang kalian beli. Terus tas yang lain itu isinya apa?"tanya Arion penasaran. Karina duduk di samping Arion, enam anak duduk di belakang. 


"Pakaian sama jam tangan, Pa," jawab Bintang.


"Couple?" Bintang mengangguk. 


"Lalu yang lain?"


"Ada pakaian untuk Bintang sama mainan adik-adik."


"Wah menyenangkan dong belanjanya. Kalau gitu selanjutnya kita harus pergi sama-sama."


"Menyenangkan sih tapi tadi anak nenek lampir, perusak suasana!"sahut Biru, wajahnya berubah kesal. Arion kembali menaikkan salah satu alisnya, bertanya pada Karina tanpa mengeluarkan pertanyaan. Karina mengangkat kedua bahunya, melirik anak-anak.


"Padahal sudah bukan nyonya besar lagi tapi sikapnya sungguh angkuh. Celana mahal? Cih mahalan lagi sendal Mama!"cetus Bintang.


"Mama apa akuisisi itu dirahasiakan dari keluarga yang lain?" Bima mengeluarkan pertanyaan yang mengusik hatinya.


"Tentu. Hanya dengan begitu baru puas menjatuhkan mereka. Kita lihat saja sampai kapan keluarga itu akan angkuh," sahut Karina. 


Arion mengerti masalahnya sekarang. Pantas saja tadi ia melihat seorang wanita diseret keluar dengan meraung ampun. Tidak cemas, ada Karina, istri dan ibu yang hebat. 


"Tapi lebih baik tadi Mama patahkan saja kaki dan tangannya!" Bima mengeluarkan aura membunuh, sorot matanya yang ceria berubah dingin. 


"Uh itu terlalu kejam, Bima. Lebih baik jika sudah sembuh dan dia cari masalah lagi, kita patahkan lagi tangannya, kakinya juga boleh."


Arion menarik senyum tipis. Anak-anak terkesiap.


"Bukankah itu lebih kejam?" Bahtiar bertanya dengan wajah merinding.


"Ingatlah anak-anak, kita boleh rendah hati tapi tidak boleh rendah diri. Kebaikan balas kebaikan, kejahatan balas dengan kejahatan. Siapa yang mengusik kita artinya ia siap menderita." Karina menarik senyum smirk. 


"T-tapi kata Papa, jika ada yang mengusik kita, kita harus memberi mereka peringatan sebanyak tiga kali …." Ucapan Bahtiar disela.


"Benar! Tapi kita sudah memberinya kesempatan untuk berubah tapi ia menolak," sela Biru.


"Adik aku tahu hatimu lemah lembut, tapi jangan sampai menjadi polos dan lemah. Penghuni dunia ini, tidak semua seperti keluarga kita. Kita harus selalu waspada dan saling mempercayai. Kita enam tubuh  satu hati. Aku sudah sering melihat orang munafik, baik di luar busuk di dalam. Kelak saat kalian sudah mengenal kehidupan masyarakat, kalian akan paham," ucap Bintang.


"Mama setuju."


"Papa juga."


Bahtiar diam, mencerna ucapan Bintang. 


"Aku mengerti." Bahtiar mengembangkan senyum. 


"Bagus!" Biru dan Bima serentak menepuk pundak Bahtiar. Bahtiar hampir terjatuh, ditahan oleh Brian. Bukannya kesal, Bahtiar malah tertawa. 


Kecuali Bara, Karina, dan Arion, yang lain saling pandang, tak lama ikut tertawa.


"Eh ngomong-ngomong pipi kamu masih sakit nggak?" Brian menoleh ke arah Bara. 


"Ya dia tidur," ucap Brian, tersenyum merapikan anak rambut Bara.


"Hah aku mengantuk, Ma, Pa bangunkan aku jika sudah sampai ya," ucap Biru, menutup matanya.


"Aku juga." Brian ikut tidur. 


Karina dan Arion menggeleng pelan. 


"Sayang ngomong-ngomong kau membeli sesuatu untukku?" Arion bertanya dengan wajah berharap.


"Uh itu aku cuma beliin kamu dasi," jawab Karina, menyentuh telinganya dengan wajah canggung.


"Dasi? Seriously?" Mata Arion menyipit, Karina mengangguk.


"Bagus! Aku suka itu!"ucap Arion girang. 


"Uh syukurlah." Karina melirik Bintang. Bintang menaikkan bahunya tidak mengerti.


"Ya jelaslah Papa suka. Kan Mama yang beliin. Apapun yang Mama belikan pasti Papa suka," cetus Bima. 


"This true!" 


Arion bertos ria dengan Bima. 


"Hah Mama lupa." Karina tersenyum. 


"Huh Papa kebanyakan modus sama Mama. Malam ini Bintang tidur sama Mama," putus Bintang.


"No!" Arion langsung melarang.

__ADS_1


"Why?" 


"Yes!" Karina setuju dengan Bintang. 


"Satu ikut semua ikut!" Bima menimpali yang disetujui oleh Brian. 


"Satu lawan empat. Papa kalah!"ucap Bintang dengan senyum puas.


"Huh!" Arion mendengus sebal. Wajahnya cemberut dan memalingkan wajah melihat gedung-gedung tinggi.


"Shut, jangan marah. Markas lebih lebar rumah," bisik Karina, mencium pipi Arion.


"Hm." Arion tersenyum tipis.


*


*


*


Karina, Arion, dan anak-anak tiba di markas. Anak-anak mengikut langkah orang tua mereka. Karina menyuruh Bintang membawa adik-adiknya ke lantai pribadi mereka. Bintang mengangguk.


Karina dan Arion berjalan berdampingan dengan tangan bergandengan, menyusuri koridor menuju pendopo. Di sana sudah menunggu Li, Gerry, dan Emir. 


"Akhirnya kalian datang juga." Emir dan Arion berjabat tangan. 


"Memangnya ada apa? Bukankah semua persiapan sudah finish?"heran Karina.


"Tidak ada. Kakak, aku sangat merindukanmu." Emir memeluk Karina. Karina membalas pelukan itu. 


"Hei-hei jaga sikapmu!"ketus Arion. 


"Sikap yang mana? Hei tuan pencemburu, hubungan kami sekarang bukan asmara tapi kakak dan adik. Kau tak perlu cemburu, lagipula siapa yang berani merebut Kakak darimu." Emir merangkul Karina. Karina tertawa pelan melihat Arion yang siap meledak.


"Aku memang pencemburu!" Arion menarik lengan Karina, menyandarkan kepala Karina di dadanya. 


"Sudah-sudah. Hentikan pertengkaran kalian!"lerai Li, menarik Emir menjauh sedikit dari Arion. Arion menarik senyum, mendaratkan kecupan pada rambut Karina.


"Oh ya mana anak-anak?"tanya Emir.


"Aku sangat merindukan mereka," lanjut Emir.


"Mereka tengah membersihkan diri," jawab Karina.


"Hari sudah petang, lebih baik pembicaraan kita lanjutkan nanti," saran Gerry. 


"Benar juga. Azan sudah berkumandang," sahut Li setuju. 


"Baiklah. Sampai jumpa saat makan malam," ucap Arion, dengan cepat menggendong Karina meninggalkan pendopo menuju lantai pribadi mereka. 


"Ya itu sudah biasa," sahut Gerry, melangkah meninggalkan mereka. 


"Sabar-sabar sebentar lagi kau juga bisa bermesraan dengan Aleza dengan bebas!" Li menepuk pundak Emir, melangkah pergi. Emir mengerjap.


"Ya benar juga! Aleza sebentar lagi kau milikku seutuhnya!"gumam Emir.


*


*


*


Selesai makan malam, anak-anak menghabiskan waktu sebelum tidur bersama dengan Emir. Emir bersama dengan anak-anak serta Li, Gerry, Ali, dan Laith menyusuri pantai yang tampak sangat cerah. 


"Aku ada sebuah permintaan," ucap Emir.


"Apa itu?"


"Aku ingin kalian berdua bernyanyi besok," ucap Emir.


"Bernyanyi?" Li dan Gerry tertegun. Emir mengangguk.


"Wah aku setuju. Suara Papa sangat enak!"setuju Ali.


"Tapi suara Papaku cempreng," ucap Laith.


Duh nih anak. Gerry tersenyum canggung.


"Tapi kalau digabung pasti cemprengnya ketutupan," ucap Biru.


"Tidak. Aku tidak bisa bernyanyi. Lebih baik aku bermain alat musik," tolak Gerry.


"Ah benar! Papa hebat dalam bidang itu!"seru Laith.


"Jadi?" Emir menaikkan alisnya.


"Baiklah. Aku akan bernyanyi dan Gerry akan bermain musik. Sekarang lagu akan yang akan kami bawakan?"


"Lagu yang cocok untuk lamaran lah. Dalam bahasa kalian."


"Hm lagu yang cocok untuk lamaran?" Li menyentuh dagunya.


"Aku tahu!" Gerry berseru.

__ADS_1


"Lagu ini santai dan sangat cocok untuk acara besok. Besok kalian saksikanlah penampilan dua  artis dadakan ini!"


*


*


*


Acara dimulai sekitar pukul 10.00. Aula sudah ramai, bangku-bangku terisi dengan anggota yang ingin menyaksikan lamaran ini. Bagi yang tidak bisa masuk, bisa menyaksikan dari siaran live yang dihubungkan pada layar lebar yang diletakkan di beberapa tempat. Karina dan Arion tampil perfect dengan pakaian senada. 


Anak-anak itu memakai pakaian kembar. Tampil cantik dan rupawan. Saat MC membacakan acara selanjutnya yakni hal yang paling utama, acara lamaran. Pintu aula terbuka, serentak dengan tus an piano yang dimainkan oleh Gerry. 


Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang pertama


Dan terakhir


Aleza melangkah masuk didampingi oleh Elina, Sasha dan Mira. Dengan gaun panjang berwarna biru lengan sesiku, Aleza melangkah dengan anggun. Senyumnya mengembang, terharu dengan lagu yang dibawakan Li. Di tengah jalan, taburan bunga menyambut Aleza. Langkah Aleza terhenti sejenak, menatap Karina mengucapkan terima kasih tanpa diungkapkan dengan kata. Karina mengangguk pelan, menyuruh Aleza melanjutkan langkahnya. Aleza kembali melangkah.


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang pertama


Dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Akulah yang terbaik untukmu


Oh oh oh oh oh


Aleza dan Emir kini berhadapan, Elina, Sasha dan Mira turun dan duduk di tempat yang disediakan. Semua perhatian kini tertuju pada dua insan itu. Emir mengeluhkan kotak cincin berwarna merah, berlutut dan membuka kotak tersebut.


"Aleza, will you marry me?"tanya Emir sungguh-sungguh. 


Sorakan agar Aleza menerima langsung riuh. Diiringi tepuk tangan, mereka menyeru Aleza agar mengatakan ya.


Say yes!


Say yes!


Say yes!


"Say yes, Sister Aleza!"teriak Bahtiar semangat. 


Aleza tersenyum.

__ADS_1


"Yes, i will!"ucap Aleza lantang. Sekali lagi tepuk tangan meriah menggema. Segera Emir memasangkan cincin di jari manis Aleza, begitu juga sebaliknya. Keduanya lantas berpelukan, Emir mendaratkan ciuman pada kening Aleza.


"Thank you, Leza."


__ADS_2