
Malam pun tiba. Langit berhiaskan bintang yang bertebaran serta rembulan. Sinarnya menyapa samar-samar memantul di jendela kamar Arion dan Karina.
Kediaman Wijaya tampak bersinar di luar, sebab hanya lampu gerbang, taman dan bagian luar bangunan rumah yang bercahaya. Akan tetapi bagian dalam gelap sebab memang sengaja dimatikan. Tidur lebih nyenyak dalam keadaan gelap. Sekaligus menghemat pemgeluaran pembayaran listrik, maybe.
Menerangi kamar yang gelap, hanya bercahaya lampu kamar. Waktu menunjukkan pukul 23.20, di jam seperti ini seharusnya setiap insan sudah menuju alam mimpi. Mengistirahatkan tubuh untuk menyambut hari esok. Berdoa agar ketika matahari terbit, mata masih bisa membuka serta nyawa masih berada di dalam raga.
Oleh karena itu, biasakan berdoa sebelum tidur. Namun, lain halnya dengan Karina, kini ia berada di dalam mobilnya membelah jalanan menuju markas Pedang Biru.
Si putih selalu menjadi kendaraan favoritnya. Dengan Arion di sampingnya, Karina melajukan si putih dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang sepi menjadi salah satu faktor pendukungnya.
Sangking kencangnya, Arion sampai harus berpegangan pada pegangan yang terletak di atas kepala.
"Sayang hati-hati!" pekik Arion melirik Karina yang menampilkan raut datar. Fokus pada kemudi dan jalanan.
"Gak bisa. Jiwa bar-barku meronta ingin diekspresikan."
Karina menjawab tanpa menoleh malah semakin menginjak gas semakin kencang.
"Sayang ingatlah anak kita. Atau aku saja yang menyetir," bujuk Arion.
Ia meruntuki keputusannya menyetujui ajakan Karina. Teringat lagi pembicaraan sewaktu di kamar.
Flashback saat di kamar.
Ya seperti hari-hari kerja sebelumnya, tepat pukul 20.00, terdengar suara pintu kamar dibuka. Sesosok pria tampan dengan jas berada di lengannya dan dua kancing atas kemeja maroonnya yang terbuka.
Pria itu mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu di kamarnya. Senyumnya terukir melihat apa yang ia cari tengah duduk bersandar santai di ranjang.
Rasa lelah setelah seharian bekerja hilang seakan diangkat ke udara dan dihempaskan pergi.
Pria itu tak lain adalah Arion. Dengan langkah riang Arion mendekati Karina yang matanya terfokus pada handphone.
"Sayang, tumben kamu hanyut main game? Biasanya telinga kamu kan langsung bereaksi mendengar suara pintu terbuka," tanya Arion mengecup singkat kening Karina.
"Hmm …."
Karina hanya bergumam sebagai jawaban. Tangannya masih lihai bergerak mengendalikan hero yang ia pakai dalam game. Apalagi kalau bukan game battle online. Mabar bersama Li, Gerry dan Gerry.
"Hahaha … kena juga kepalanya," girang Karina saat hero yang ia kendalikan berhasil merenggut nyawa musuh.
"Sayang …," panggil Arion lagi merasa diabaikan. Pesonanya hilang ditimpa pesona game yang Karina mainkan.
"Sayang," panggil Arion lagi. Dengan nada agak keras. Karina menoleh sekilas dan menaikkan kedua alisnya. Dan seperkian detik kemudian kembali fokus pada layar handphonenya.
"Sebentar lagi My Hubby. Lebih baik kamu mandi dulu gih sembari menungguku selesai nge game," ucap Karina.
Arion berdecak sebab. Namun, tetap menurut. Arion meletakkan jas dan tas kerjanya di atas ranjang di samping Karina. Menggapai handuk dan masuk ke kamar mandi. Selesai berbersih, Arion keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Rambut ia sibakkan mengusir air dari rambutnya.
"Ini," ujar Karina menyodorkan pakaian ganti Arion. Hati Arion menghangat. Dengan senang hati menerimanya dan segera berganti.
"Kuy turun makan malam," ajak Arion merangkul pinggang Karina setelah selesai berpakaian.
"Yuk," sahut Karina.
Akhirnya mereka turun menuju ruang makan untuk makan malam. Selepas makan malam dan berbincang ringan dengan anggota keluarga lainnya mereka kembali ke kamar.
"Ar, aku mau battle sama kelompok Cinnamon malam ini. Kamu mau ikut apa enggak?" ujar Karina saat mereka berdua berada di atas ranjang. Arion membelalakan matanya. Tercekat dengan ucapan Karina.
Iya kali, izin battle sama kelompok dunia gelap dengan kondisi berbadan dua dan Karina juga mengajaknya. Yuhuu ini mau battle apa kondangan?
__ADS_1
"Gak boleh. Kamu gak boleh battle. Aku gak bakalan ikutan. Kamu tetap di rumah, bobo cantik dalam pelukan aku saja," tolak Arion tegas. Membuat Karina mendengus kesal.
"Jika aku tak battle aku khawatir mereka akan menyerangku lagi dan kemungkinan mereka mengincar pernikahan Lila dan Raina. Kamu mau aku hidup dalam bayang-bayang maut?" tanya Karina serius.
Membuat Arion mengerutkan kening berpikir sejenak. Jika mereka menyerang duluan ada kemungkinan satu hambatan hilang.
Lagian juga ada alasan yang kuat untuk itu. Pernikahan Sam dan Calvin tinggal menghitung malam ini dan malam besok berakhir.
Tapi, kondisi Karina hamil. Masih muda lagi. Arion tak meragukan kemampuan Karina. Akan tetapi, tetap saja rasa khawatir membumbung tinggi bak kebakaran ditiup angin ditaburi cuaca panas.
"Hmm … kamu aku izinin. Aku juga ikut," ucap final Arion yang membuat senyum Karina terbit. Terlonjak senang memeluk Arion.
"Thanks My Hubby," ucap Karina.
"Hmm … tapi jangan sampai celaka. Semoga tidak. Jam berapa kita beraksi?" tanya Arion membelai rambut Karina.
"Jam 23.00," jawab Karina mantap.
Flashback Off.
***
"Anakku kuat. Tidak lemah. Masalah kecepatan tinggi dia harus biasa. Dia calon pewarisku," tegas Karina menoleh sekilas ke arah Arion.
Arion menghembuskan nafas kasar. Lupa sesaat Karina adalah Queen dan CEO dari perusahaan dan mafia. Belum lagi bisnis lain.
Iba dengan calon anaknya, masih di dalam rahim sudah mendapat tanggung jawab yang besar di pundaknya. Semoga saja calon anaknya ini kuat dan sabar melihat kelakuan Mamanya.
"Sayang, dia juga pewarisku. Kasihan dia," ucap Arion masih berusaha membujuk Karina.
Karina diam tak menjawab. Melirik perutnya yang masih datar. Karina lantas menarik senyum tipis.
"Baiklah. Aku menurut kali ini. Lain kali jangan ikut. Kau bawel sekali."
Arion memanyunkan bibirnya. Karina yang mengajak, Karina juga yang mencibir. Ibu hamil memang aneh.
Pegangan tangan di atas sudah ia lepaskan. Ia bawel untuk keselamatan, anak dan istrinya. Ia ikut karena khawatir dengan istrinya, ya walaupun kebanyakan jika menilik ke belakang, ia selalu dibius, entah pakai obat tidur maupun dupa bius. Untung saja bukan granat bius.
Sekaligus juga ingin melihat bagaimana Karina bertempur? Apakah masih dengan gaya santainya ini? Psiskopat dan kejam atau malah tak ikut campur seperti saat membumihanguskan mafianya dulu? Sungguh rasa khawatir, kesal dan penasaran menjadi satu.
Arion memegang tangan kiri Karina. Menyentuhnya lembut yang membuat Karina menoleh. Senyum manis Karina suguhkan.
"Apa?" tanya Karina dengan nada lembutnya. Menatap manik mata Arion serius. Meleng dari jalanan yang dilaluinya.
"Gak papa. By de way kita pernah gak ciuman di mobil kamu? Perasaan sejak kita menikah ini pertama kalinya aku naik mobil kamu," jawab Arion membelai pipi Arion. Karina mengerutkan keningnya mendengar ucapan Arion yang terakhir.
Sedikit rasa bersalah berlabuh di hatinya, memang itu benar, Karina tak mengizinkan satu orangpun menyentuh mobilnya, kecuali Didi yang sekarang trauma berkendara dengan Karina yang menyetir.
"Kayaknya pernah. Apa mau diulang?" sahut Karina mengerling menggoda Arion. Arion menelan ludah kasar.
Andai saja di kamar, sudah pasti Karina berada dalam kungkungannya. Ya pasti dengan protokol keselamatan dalam berhubungan.
Sesaat mereka berdua lupa bahwa mereka tengah berada di dalam mobil yang melaju. Mereka asyik bertatapan dengan Arion yang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Karina hingga suara deru nafas mereda terdengar jelas.
Belum sampai mencapai tujuan, mata Arion sontak membulat.
"Karina lihat depan. Kamu menyetir!" seru Arion melihat ke depan. Karina ikut mengalihkan pandangannya ke depan dengan berdecak sebal plus mendengus kesal.
"Ck. Kau berlebihan. Jalannya kosong sekosong pikiranmu," ketus Karina mengubah mode mobil menjadi mode suara dan dapat mendeteksi belokan, tikungan serta apa yang harus dilakukan jika bersimpangan ataupun bersinggungan dengan kendaraan lain.
Karina tinggal memberitahukan tujuan mereka. Arion berdecak kagum. Kagum dengan teknologi dan interior si putih. Arion menduga pasti ada senjata tersembunyi di setiap body mobil.
__ADS_1
"Mari lanjutkan apa yang tertunda," ajak Karina kembali menatap Arion.
"Baiklah," jawab Arion.
Akhirnya bibir mereka kembali bertemu. Hanya ciuman tak ada yang lain. Ciumannya hanya berlangsung singkat, sebab mereka telah tiba di gerbang utama Pedang Biru.
Gerbang terbuka lebar. Si putih melaju masuk. Jajaran anggota yang berada di gerbang berdiri tegak hormat. Setelah mobil Karina melintasi mereka barulah mereka melanjutkan aktivitas mereka.
Si putih berhenti di lobby markas. Li dan Gerry menyambut Karina. Karina keluar dengan wajah datar andalannya. Li dan Gerry mengeryit saat pintu sebelah kiri penumpang terbuka dan keluarlah Arion.
"Queen?" panggil Li menyatakan pertanyaannya.
"Pedang Biru dan Black Diamond kan sudah berkolaborasi. Dia juga suamiku. Ini adalah langkah selanjutnya penyatuan PBM dan BDM," jelas Karina menggandeng tangan Arion yang tampak canggung.
Li dan Gerry mengangguk mengerti.
"Selamat datang, Ketua," sambut Li dan Gerry menunduk hormat sesaat.
"Eh?" kaget Arion.
"Hmm … terima kasih. Saya harap kita bisa menjadi rekan yang solid," harap Arion memegang pundak Li dan Gerry bersamaan.
"Kami juga," sahut Li.
"Sudah siap semua?" tanya Karina saat mereka berjalan di koridor menuju ruangan pemantauan.
Di sana sudah menunggu Rian dan Satya. Sedangkan Darwis tidur nyenyak memeluk guling setelah dikasih obat tidur oleh Rian. Hehe … siapa lagi jika bukan perintah Karina.
"Sudah Queen. Kita tinggal berangkat menuju lokasi. 50 pasukan elit bersenjata lengkap siap diturunkan. Jika ada tambahan, maka kendaraan perang yang ada di markas terdekat siap diluncurkan," jelas Gerry.
Arion lagi-lagi kagum. Seperti tak cukup rasa dan kata kagum saja untuk Karina. Harus ada kata yang lebih hebat lagi. Sekarang, adrenalin Arion terpacu dengan semangat battle membara.
Setibanya di ruang pemantauan, Rain langsung menunjukkan lokasi di mana kelompok Cinnamon bermukim. Karina mengangguk paham. Satya menyodorkan topeng serta jubah biru dengan lambang mawar dan dua pedang.
Tak lupa, Arion pun disodorkan topeng dan jubah berwarna hitam. Arion menerimanya ragu, namun lirikan mata Karina membuatnya yakin. Dengan cepat ia memakai atribut itu di tubuhnya.
Karina selesai memakai jubah, membuat tubuhnya hangat di tengah hawa dinginnya malam.
"Bawa kembali topengnya. Aku tak memakainya," ujar Karina.
Satya mengeryit.
"Ada yang salah Queen?" tanya Satya was-was jikalau Karina tak suka dengan topeng yang ia ambil.
Karina menggeleng.
"Tidak ada. Cuma malas saja. Lagian mereka sudah tahu wajahku," sahut Karina santai.
Karina berjalan mendekati satu meja yang berisi aneka senjata api, baik laras panjang maupun laras pendek. Karina mengambil pistol jenis Desert Eagle.
Arion menghampiri Karina.
"Pilih senjatamu dan ambil amunisinya," ujar Karina. Arion menggeleng.
"Tidak perlu. Aku membawa pistol kesayanganku," tolak Arion. Karina hanya mengangguk.
"Ayo. Kita mulai!" teriak Karina lantang sembari mengangkat tangan kanannya ke atas setelah menyimpan pistolnya di balik badan.
"Ayo," sahut mantap semua yang ada di ruang pemantauan. Karina segera keluar dari ruang pemantauan, kembali menuju mobil. Diikuti Arion, Li, Gerry, Rian dan Satya.
Li, Gerry, Rian dan Satya satu mobil, menaiki mobil Mitsubishi Pajero Sport. Sedangkan pasukan elit yang diturunkan menaiki empat bus mini yang sudah terparkir manis, dengan satu bus berisi lima orang anggota beserta persediaan senjata dan aminisi.
__ADS_1
Kini rombongan itu meninggalkan markas utama menuju lokasi yang dituju dengan semangat empat lima yang membara.