
"Aku sangat kenal betul Joya. Mau sampai jadi abu pun aku mengenalinya. Dia punya tanda lahir di telinga kanannya. Bagi yang tidak memperhatikan jelas pasti tak akan melihatnya. Selain itu, aku tahu dari marganya yaitu Argantara. Hanya ada satu keluarga bermarga Argantara di duna ini. Dan untuk masalah mengapa ia tak mengenaliku, itu karena dulu semasa aku sekolah aku menyamar dengan topeng perubah wajah dari Queen," jawab Darwis menerawang ke masa lalu.
"Bicara soal Queen. Aku jadi merindukannya. Sudah 5 tahun Trio Tampannya ini tidak pulang," ujar Rian sedih.
"Hmm … apakah dia masih saja dingin? Aku tak dapat kabar darinya. Apa dia masih marah ya jika ada yang berbuat mesum di sekitar ya?" tanya Satya bertopang dagu.
"Apapun itu. Aku sangat menyayanginya," sahut Darwis. Rian dan Satya mengangguk menyetujui.
"Aku ingin pulang kesana. Bagaimana dengan kalian?" tanya Rian.
"Aku juga. Bagaimana jika kita kembali minggu depan?" tanya Satya.
"Oke. Aku setuju kita pulang minggu depan," ujar Darwis mengenakan kembali pakaiannya. Rian, Darwis serta Satya adalah tiga tuan muda dari kasino Heart of Queen. Kasino ini sangat terkenal di seluruh negara K.
***
Seperti biasa, tepat pukul 20.00 jika tidak ada halangan Arion tiba di kediaman Wijaya. Wajahnya tampak kusut mengingat kelakuan istri. Sedangkan Amri, Maria, Bayu dan Karina tentunya sudah menunggu di meja makan.
Mereka menunggu Arion kembali dari kantor. Amri dan Maria mengerutkan dahi mereka melihat Arion yang duduk dengan wajah ditekuk. Ia malah menatap kesal Karina. Sedangkan Karina ya cuek, namun dalam hati tertawa.
"Ar kamu kenapa?" tanya Maria.
"Gak papa Ma," jawab Arion melepaskan jasnya.
"Terus kok wajah kamu kusut kayak belum disetrika? Kenapa? Apa ada masalah dalam perusahaan?" cerocos Amri.
"Bukan Pa," jawab Arion.
"Ya terus kenapa?" tanya Maria ngegas.
"Diare. Sehabis mengkonsumsi obat pencahar," jawab Karina. Mereka semua terkejut.
Jujur banget istriku? batin Arion.
"Obat pencahar??" tanya Maria dan Amri bersamaan.
Karina mengangguk. Arion semakin kesal.
"Memangnya kenapa Karina? Kok suamimu kamu ini bisa makan obat itu? Kan biasanya kamu sangat-sangat teliti dalam segala bidang?" tanya Maria penasaran.
"Sengaja. Habisnya dia nuduh aku hamil sama orang lain. Padahal kan kami belum pernah melakukan hubungan apapun. Bagaimana caranya bisa hamil?" sahut Karina polos.
Serentak Amri dan Maria menjatuhkan rahang mereka. Arion sudah ingin menangis darah. Bagaimana bisa Karina mengatakan hal itu. Hilang sudah harga dirinya. Mama dan papanya pasti kembali mengira dia gay ataupun impoten.
"Arion!! Kamu tuduh menantu kesayangan kami selingkuh??" teriak marah Maria. Arion tak berani membantah sebab itu adalah kenyataannya.
"Pantas saja Karina gak hamil-hamil. Ternyata kalian belum malam pertama," ucap Amri menatap Arion sinis.
Hehehe maaf ya suamiku Sayang. Aku masih kesal sama kamu, batin Karina tersenyum lebar tak ada niat membantu suaminya.
"Mulut aku dirasuki setan Ma," cicit Arion. Kini mama dan papanya lebih menyayangi Karina dan Bayu ketimbang dirinya. Padahal siapa yang anak kandung? Karina menahan tawanya.
"Ar apa yang Mama tanyanya beberapa bulan lalu itu benar? Kamu gay kalau tidak impoten? Makanya kamu belum lakukan itu dengan Karina," tanya serius Maria. Arion terlonjak kaget.
"Ma. Sudah Arion katakan dari dulu. Arion bukan gay atau semacamnya," tegas Arion.
"Kalau gitu kenapa belum juga malam pertama? Mama sama Papa sudah ingin menggendong cucu," ujar Maria.
"Ya itu … itu karena …," jawab Arion terbata-bata.
"Sudahlah. Lupakan saja. Tapi Papa minta secepatnya kalian jadi suami istri sebenarnya secepatnya untuk menghindari rumor atau masalah di kemudian hari," titah Amri. Karina menaikan sebelah alisnya mendengar titah ayah mertuanya.
Apa saat itu semakin dekat? Apa aku harus menjalankan kewajibanku selama istri secara batin? dilema Karina dalam hati.
"Tapi Pa…," tolak Arion.
"Sayang … Mama sama Papa sudah ingin sekali menimang cucu. Masa kamu kalah sama kakek kamu. Kakek kamu aja langsung jadi dalam sebulan nenek muda kamu sudah hamil," pinta Maria. Amri membuang muka kesal saat Maria menyinggung ayah dan nenek mudanya itu.
"Jangan sebut-sebut nama mereka," ketus Amri.
Arion menatap Karina meminta persetujuan. Karina mengangkat alisnya sebelah.
"Baik. Dalam satu bulan Karina akan hamil," jawab mantap Karina.
Arion terperangah. Air matanya lolos. Akhirnya Karina bersedia setelah sekian lama menanti. Maria dan Amri mengangguk puas. Sedangkan Bayu mendengarkan dalam diam. Dia malah sudah menghabiskan makan malamnya tanpa menunggu yang lain.
"Benarkan Sayang? Kamu setuju kita punya anak?" tanya Arion memastikan. Karina mengangguk. Arion langsung memeluk Karina erat. Kebahagiaan dan rasa cintanya terbalaskan. Tak sia-sia penantiannya selama ini.
"Sudah-sudah. Sampai kapan kalian mau berpelukan. Apakah kalian tak mendengar sahutan suara perut bernyanyi?" tanya Amri merusak suasana bahagia Arion.
Arion melepas pelukannya dan menatap kesal papanya. Karina terkikik. Akhirnya Arion mendapat dua hadiah hari ini. Satu obat pencahar dan satu lagi Karina bersedia menerima cintanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka makan malam dengan tenang. Sesekali Maria dan Amri melempar candaan yang membuat semua tertawa ria.
***
Pukul 22.00, Karina dan Arion sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang. Tak lama, Karina bersandar pada bahu Arion. Arion mengusap lembut Karina.
"Sayang kamu serius sama yang tadi?" tanya Arion memastikan.
"Serius yang mana?" tanya Karina menatap polos Arion.
"Yang tadi, yang waktu di meja makan," ujar Arion.
"Oh … itu ya … bohongan," jawab Karina yang membuat Arion meradang sedih. Hilang sudah kebahagiaannya. Ia menjauhkan diri dari Karina dan segera tidur duluan tanpa ucapan selamat malam.
"Hisk. Kamu memang ratunya berakting Sayang," lirik Arion. Karina memberengut kesal. Tak lama tawanya pun pecah.
"Hahahahaha … kamu ini lucu banget. Aku bercanda. Aku serius dengan itu. Aku mau punya anak dari kamu," ucap Karina mengusap punggung Arion yang tidur membelakangi dirinya. Arion diam tak merespon. Ia masih kesal dengan Karina.
"Arion sayang. Jangan ngambek dong. Aku kan bercanda. Sayang …," bujuk Karina menggoyang-goyangkan punggung Arion. Arion masih tak bergeming.
Ia mau lihat seberapa usaha Karina membujuknya. Karina memutar otaknya mencari akal. Satu persatu ide nangkring di otaknya. Akhirnya voting tertinggi diduduki oleh ide mencium Arion.
Dengan cepat, Karina mendekatkan wajahnya ke pipi Arion yang masih ngambek dan membelakangi dirinya lalu menciuminya gemas. Arion masih saja jual mahal.
Karina membalikkan tubuh Arion dengan memakai kekuatan tangannya. Arion tersentak saat tubuhnya dibalikkan paksa dengan Karina berada di atas tubuhnya.
"Jangan mengabaikanku," ucap Karina pelan.
Arion membuang muka ke samping. Karina mengembalikan wajahnya Arion kembali dan menatap matanya tajam.
"Aku bilang jangan mengabaikanku," ucap Karina lagi langsung mencium bibir Arion. Arion yang tak siap langsung saja terdiam. Perlahan ia membalasnya. Tak berapa lama, Karina melepas pangutan bibirnya dan beralih dari atas tubuh Arion ke samping Arion.
"Lanjutin," ucap Arion mulai mencium Karina lagi. Satu tangannya meluncur membuka restleting dress Karina dan meremas dada kanan Karina. Karina mengalungkan tangannya pada leher Arion.
Arion kembali melepas ciumannya dan menjelajahi leher jenjang Karina, tanganya semakin asyik bermain dan bergantian meremas dada kanan-kiri Karina.
"Ahhh … Ar ...," desah Karina.
"Yes. Sayang," sahut Arion meninggalkan beberapa tanda kemerahan di leher Karina.
"Emmmm … ahhkkggg …," pekik Karina sebab Arion menarik paksa dress yang Karina hingga koyak dan melemparkannya ke sembarang arah. Dengan cekatan, Arion melepas bra Karina, dan mencuatlah dua gunung kembar yang selama ini ia remas gemas. Ukurannya sangat pas di tangan.
"Kau menyukainya? Mengapa tak dari dulu?" tanya Arion menghentikan aktivitasnya. Karina mengangguk. Hasrat Birahinya naik drastis, namun Karina lupa jika ia sedang datang bulan.
Ia baru sadar saat tangan kanan Arion meluncur ke bawah.
"Jangan," pekik Karina.
Tangan Arion berhenti dan menatap Karina bingung.
"Kenapa?" tanya Arion.
"Apa kau lupa aku sedang datang bulan?" tanya Karina berusaha duduk.
Tangan Arion meluncur ke bawah dan menyentuh milik Karina. Ada yang mengganjal di sana.
"Aku lupa," jawab Arion berahil ke samping Karina. Karina memakai kembali branya, dressnya sudah koyak dan terlempar entah kemana
"Bisakah kau yang tak mengoyaknya tadi?" ketus Karina membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang hanya memakai bra dan cd.
"Kelepasan. Habis aku semangat 45 saat kamu setuju tadi," sahut Arion yang masih berpakaian lengkap. Ia ikut menelanjangi tubuhnya menyisakan celana dalamnya saja
"Nah kalau beginikan kita adil," seru Arion menarik selimut dan memeluk Karina. Adik kecilnya menempel pada pinggul Karina. Ia malah risih dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Tidak bisakah kamu tidak mesum hari ini?" ketus Karina merasakan adik kecil Arion.
"Tidak. Aku akan selalu mesum sama kamu. Ahhh …," ujar Arion mendesah tertahan.
"Kamu kenapa?" tanya Karina polos.
"Jangan lasak. Adik kecilku merespon gerakanmu," pekik Arion.
"Ohhh …," jawab Karina tersenyum licik. Ia malah semakin menggerakkan pinggulnya lasak. Arion kembali mendesah tertahan.
"Sayang … jangan bangunkan dia. Bahkan jika kau sedang datang bulan atau berubah jadi singa pun aku akan tetap memakanmu," ujar Arion.
"Baiklah," jawab Karina berubah jadi anak baik. Ia berhenti bergerak dan memeluk Arion lalu tertidur pulas.
Arion menghela nafas.
"Aih … walaupun sikapnya berubah dia tetap saja jahil," lirik Arion.
__ADS_1
***
Seperti biasa, Karina berangkat bersamaan dengan Arion, mereka mengendarai mobil masing-masing. Karina memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang ia bangun. Arion segera menuju parkiran khusus CEO dan segera naik menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya, Ferry langsung membacakan jadwal Arion hari ini.
"Hmm … TE terus maju semenjak di pegang oleh KS Tirta Grub. Bahkan kini mereka sudah membuat berbagai penelitian dan inovasi yang diaplikasikan dengan otomatif," ucap Arion membaca berita bisnis.
"Anda benar Tuan," sahut Ferry.
"Hmmm … aku yakin perusahaan ini akan semakin maju. Buktinya setelah mendapat kerja sama dengan perusahaan itu keuntungan perusahaan mulai naik," ucap Arion.
"Tuan …," panggil Ferry pelan.
"Hmmm …," jawab Arion.
"Bolehkan saya mengatakan sesuatu dengan Nyonya Muda?" tanya Ferry takut.
"Apa itu?" tanya Arion menoleh ke arah Ferry.
"Apa Tuan tak pernah curiga dengan identitas asli Nyonya Muda?" tanya Ferry dengan suara sangat pelan.
"Sempat," jawab Arion.
"Aku sempat curiga dengannya. Pertama kali bertemu dengannya dia sangat misterius. Dia tak kenal takut. Bahkan Joya saja di buat merinding olehnya. Jangankan Joya aku saja ingin menjauh jika diam sudah kesal. Kau tahukan berapa kali aku di kerjai olehnya. Namun anehnya aku tak bisa menolak. Ada rasa takut dari dalam hatiku saat Karina sudah mengatakan sesuatu dengan serius. Ada aura kepemimpinan yang sangat kental dari tubuhnya," jawab Arion panjang lebar.
"Begitukah?" tanya Ferry.
"Ferry Nurwahyu, aku menjadikanmu sekretaris untuk membantu pekerjaanku, bukan mewawancaraiku," kesal Arion menatap marah Ferry.
"Duh gunung api mau meletus lebih baik aku kabur," pekik Ferry langsung lari keluar dari ruangan Arion.
"Huh. Ganggu aja," ketus Arion melanjutkan pekerjaannya.
***
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, Karina keluar dari cafe dan melirik kanan kiri serta kaca ruangan Arion. Setelah memastikan aman, Karina secepat kilat masuk ke dalam mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Internasional Jaya School, sekolah di mana Bayu menempuh pendidikan.
Tepat setelah Karina sampai anak-anak kelas satu sudah pulang, sopir yang biasa menjemput Bayu menunduk hormat saat Karina keluar dari mobilnya.
"Selamat siang, Nyonya," sapa Pak Irman.
"Pagi Pak. Bayu nya mana?" tanya Karina ramah.
"Biasanya den Bayu bentar lagi sampai Nyonya," jawab Pak Irman. Karina mengangguk paham. Tak lama ada terdengar suara yang sangat akrab di telinganya.
"Kakak …," panggilnya yang tak lain adalah Bayu.
"Hai Sayang," sapa Karina. Satu hal tentang Bayu, ternyata benar dugaan Karina, Bayu adalah anak dari Enji dan seorang wanita bernama Alea ibunya meninggal saat melahirkan akibat pendarahan parah.
Ternyata Eh ternyata usia Enji dan Alea saat itu masih enam belas tahun. Karina sempat mengumpat dan memaki kesal Enji yang seenaknya menghamili anak orang, Ya Enji sempat tinggal terpisah dengan Karina selama tiga tahun saat menempuh sekolah menengah atas di negara A.
Dan yang paling Karina marahkan adalah Enji tak pernah bercerita tentang ini dan juga membuang Bayu di panti asuhan. Namun, walaupun sudah mengetahui Bayu adalah keponakannya, Karina menutup rapat rahasia itu.
"Kakak tumben jemput aku?" tanya Bayu polos. Inilah yang Karina gemaskan pura-pura polos padahal anak ini sudah mengerti.
"Kakak mau ajak kamu jalan-jalan," ujar Karina.
"Yeah …," girang Bayu memeluk Karina.
"Pak, Bapak pulang saja duluan. Nanti kalau Mama nanya, katakan saja Bayu pergi sama saya," ujar Karina pada Pak Irman.
"Baik Nyonya," jawab Pak Irman. Karina segera masuk ke mobilnya diikuti Bayu. Perlahan mobil Karina meninggalkan sekolah diikuti dengan kembalinya Pak Irman ke kediaman Wijaya.
***
"Kak tadi anak murid baru loh," cerita Bayu kesal.
"Oh ya? Terus kenapa kamu kesal? Bukannya seharusnya kamu senang?" tanya Karina heran.
"Anak barunya itu, cewek yang sembunyi di kolong meja pas kita di negara A kak," jawab Bayu masih kesal. Karina berusaha mengingat.
"Silsilia Amalia Graham?" tanya Karina memastikan.
"Iya Kak. Silsilah," jawab Bayu kesal.
"Kamu kenapa kesal sama dia? Jangan kesal berlebihan gitu loh. Nanti kamu jadi cinta sama dia," goda Karina. Wajah Bayu merona namun berusaha ditutupi.
"Apaan sih Kakak. Mana ada aku suka sama dia," jawab Bayu. Karina hanya terkekeh pelan.
"Kak kita mau kemana?" tanya Bayu penasaran. Tak biasanya kakaknya ini mengajaknya pergi.
"Kita mau ke perusahaan Kakak. Kamu belum pernah ke sana kan?" tanya Karina. Bayu menggeleng.
__ADS_1