Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 293


__ADS_3

Setibanya di markas, dengan membawa kotak bekal di tangan, Arion langsung bergegas ke lantai empat tempat Karina berada.


Setibanya di lantai 4, koridor tampak lenggang keheningan menguasai. Arion langsung melangkah menuju kamar, mengetuk pintu. 


"Karina, Sayang. Suami tampanmu sudah datang," panggil Arion.


Pintu terbuka, Arion yang sudah merentangkan tangan, berniat memeluk Karina, menyimpan kembali rentangan tangannya. 


"Remote control?" 


"Mengapa tidak masuk?"


Suara Karina membuat Arion melangkah masuk.


"Sayang, Kau tampak begitu lelah?"


Arion meletakkan kotak bekal di atas meja dengan pandangan ke arah Karina yang menatapnya dengan wajah lelah. 


"Aku kelaparan!"ketus Karina.


"Bukankah dapurmu selalu ready?"


Arion sudah tahu, sedikit menggoda dan mengejek. 


"Suruh siapa kau berjanji? Mana?"sungut Karina, tapi tangannya meminta pesanan yang ia minta pada Arion.


Arion tertawa. Ia tidak menyangka Karina benar-benar menunggu dirinya membawa makan malam.


"Mengapa kau tertawa? Ada yang lucu apa?"tanya Karina galak.


"Hahaha … tidak, tidak ada. Baiklah, jangan marah. Aku minta maaf membuatmu menunggu lama. Sekarang ayo makan," jawab Arion, mendekat pada Karina dengan membawa piring yang terdapat dimsum beserta kuahnya. 


Karina tersenyum, raut wajahnya berubah berbinar. Arion duduk di samping Karina tangannya memegang sumpit, bersiap menyuapi Karina.


"Ayo makan, dimsum pesanan isteriku tercinta siap masuk lambung," ujar Arion. 


"Kamu tidak makan Ar?"tanya Karina.


Arion menjawab dengan kembali mencelupkan dimsum bekas gigitan Karina lalu melahapnya.


"Sudahkan?"


"Hm ya," sahut Karina. 


Keduanya bekerja sama menghabiskan seporsi dimsum tersebut. 


"Sudah kenyang?"tanya Arion.


Karina menggeleng.


"Bekal dari rumah? Untuk apa dibawa jika tidak dimakan?"tanya Karina, menunjuk kotak bekal yang masih berada di atas meja. Arion tersenyum lebar.


"Nafsu makanmu memang besar," goda Arion, beranjak menyiapkan makan malam selanjutnya. 


"Hm, aku tahu."


Karina memalingkan pandangannya ke luar, melihat langit yang semakin gelap dan lampu yang semakin terang. 


Sejenak, pikirannya menerawang jauh. Wajah yang semula ceria berubah menjadi datar. Karina lalu mendongak, menatap langit malam. 


"Semakin tinggi posisiku, semakin besar tanggung jawabku. Semakin lebar kekuasanku, semakin banyak rintangan yang mengusik. Tapi aku berharap, jika aku tidak akan pernah kehilangan kebahagiaan ini. Aku bisa kehilangan harta, posisi, kekuasaan, tapi aku tidak bisa dan tidak akan pernah rela kehilangan orang-orang yang ku sayang," gumam Karina.


"Apa yang kau gumamkan sayang?"tanya Arion penasaran.


"Ah? Tidak ada, hanya ingat pembicaraanku dengan Joya tadi," jawab Karina spontan. 


"Benarkah? Wajahmu tampak berbohong," selidik Arion.


"Apa aku pernah berbohong padamu?"balas Karina.


"Hmmm … sering sih."


Arion tersenyum smirk melihat wajah canggung Karina.


"Ah lupakan, itu tidak penting. Aku lapar," ucap Karina cepat, mengambil alih piring di tangan Arion.


"Apapun itu, jangan pernah melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu dan kedua anak kita. Jika itu sampai terjadi, maka aku tidak segan mengurungmu!"tegas Arion.


Karina sedikit mengeryit dengan nada tegas Arion, sedikit takut di dalam hati terlebih dengan tatapan tajam Arion. 


"Aku tahu," jawab Karina mengangguk, lalu berfokus pada santapan di tangan.


*


*


*


Selepas makan malam, keduanya duduk di sofa depan televisi, Karina berbaring dengan paha Arion sebagai bantal.


Mereka tidak menonton televisi melainkan membicarakan apa saja yang terjadi hari ini. Mulai dari berpisah di pagi hari sampai pulang kerja. 


"Oh jadi Calvin sudah sembuh?"tanya Karina, Arion mengangguk.


"Baguslah. Raina tidak akan terlalu lelah," ucap lega Karina.


"Bekerjalah dari rumah," ucap Arion tiba-tiba.  


"Hah ? Apa?"


"Bekerjalah dari rumah, atau ambillah cuti. Ini sudah bulan ketujuh, aku tidak mau kamu terlalu lelah. Aku khawatir dengan kalian. Sejak kamu hamil, aku sering merasa tidak tenang saat kamu berada di perusahaan. Bekerjalah dari rumah, kita tinggal di rumah Mama dan Papa. Aku akan sangat tenang jika itu terjadi," papar Arion, menatap Karina dengan penuh ketegasan.


"Ugh?"


Karina yang biasanya langsung menolak kini bingung harus menjawab apa. 

__ADS_1


"Serahkan urusan perusahaan pada sekretaris dan asistenmu. Toh sebelum aku tahu kamu pemilik KS Tirta Grub, kamu selalu memimpin di balik layar, tidak setiap hari ke perusahaan. Nanti kalau kamu sudah melahirkan dan sudah pulih baru kembali ke perusahaan," lanjut Arion. Ini tidak seperti permintaan, lebih kepada perintah.


Karina menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Akan ku pikirkan," jawab Karina.


"Ya aku paham, segeralah beri jawaban," sahut Arion.


Raut wajah sedikit tidak tega mendesak Karina. Tapi rasa khawatirnya lebih tinggi. 


"Aku lelah," ucap Karina.


Arion tersenyum, memindahkan kepala Karina dari pahanya lalu berdiri dan menggendong Karina menuju ranjang. Membaringkan Karina dengan lembut.


"Maka tidurlah, besok kita free bukan?"suruh Arion.


"Ku rasa," jawab Karina, memejamkan mata. Arion menghela nafas pelan.


"Akan lebih aman jika kamu tetap di rumah Sayang. Akupun sama denganmu. Sanggup kehilangan apapun tapi tidak dengan mereka yang ku sayang. Aku tahu kamu wanita hebat, tapi itu tidak menutup kenyataan bahwa seorang suami adalah penjaga untuk seorang istri. Tidak peduli sehebat apapun seorang wanita, pasti tetap membutuhkan perlindungan seorang pria. Tidurlah, redakan rasa lelahmu," gumam Arion yang ternyata mendengar gumaman Karina.


Arion mengecup kening Karina lalu menuju ke sisi ranjang yang kosong, ikut membaringkan tubuh menyusul Karina tidur.


*


*


*


Karina terbangun di kala waktu menunjukkan pukul 02.00 lewat dinihari. Inilah yang terjadi jika Karina tidur siang atau sore. Ia akan terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur kembali. 


Karina berniat membangunkan Arion, menemaninya mengobrol. Tapi melihat wajah damai itu tertidur, Karina menarik kembali tangannya.


Dengan hati-hati ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Menuju lift, turun ke lantai dasar.


Markas tidak sepi sepenuhnya. Ada sebagian anggota yang masih bertugas. Karina berjalan menyusuri koridor lantai dasar menuju perpustakaan.


Karina berharap membaca bisa kembali membuatnya mengantuk.


Setibanya di perpustakaan yang tidak pernah tutup, Karina mencari buku yang ingin ia pelajari.


Anggota yang berpapasan dengan Karina menunduk hormat. Karina hanya tersenyum tipis.


"Kakak kau tidak tidur?"


Karina menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.


Terlihat Bayu duduk di meja tempat membaca. Karina yang sudah mendapatkan buku langsung mendekati Bayu.


"Kau sendiri?"tanya balik Karina.


"Aku tidak bisa tidur. Ucapan Kak Arion tentang perjodohan itu membuatku gelisah," jawab Bayu, dengan wajah lesu.


"Akupun sama," sambung Karina.


"Sama tidak bisa tidur!"tegas Karina.


"Oh. Aku salah."


"Kak," panggil Bayu.


"Hm?"


"Jangan  terima perjodohan itu ya, aku tidak mau," pinta Bayu memelas.


"Apa kau lupa ucapanku?"


Bayu menggeleng.


"Mengapa kau takut?"


Bayu kembali menggeleng.


"Aku hanya khawatir Ayah menerimanya," jelas Bayu.


"Tidak akan," ucap Karina meyakinkan.


"Tapi Kakak punya saran agar kamu terlepas dari bocah itu," ucap Karina dengan senyum khasnya.


Bayu yang masih lesu berubah menjadi penasaran. 


"Apa itu?"


"Bergabung dengan Pedang Biru," jawab Karina.


"Bergabung dengan Pedang Biru?"beo Bayu, Karina mengangguk.


"Seperti yang kamu ketahui, Kakak punya pendidikan sendiri untuk para anggota Kakak. Mereka yang masih baru akan Kakak tempa sampai menjadi anggota yang memenuhi syarat. Salah satu contohnya adalah Syaka. Dia sebentar lagi akan Kakak kirim ke tempat pembelajaran. Jika kamu bergabung, kamu akan sekelas dengannya. Kalian akan ditempa menjadi pemuda yang akan menjadi harta Pedang Biru, bagaimana?"papar Karina.


Bayu tertegun.


"Hm apa maksudnya aku sekelas dengan Syaka? Kami berbeda usia, harusnya kelasnya kan berbeda?"tanya Bayu.


"Tidak ada diskriminasi terhadap umur, disini otaklah yang menentukan!"jawab Karina.


Bayu tampak berpikir, sangat dalam. Satu sisi Bayu merasa ini tawaran yang bagus dan sesuai dengannya, tapi disisi lain ia kan tidak suka dengan Syaka.


Haruskah digabungkan? Apa Karina mau mendengar kabar pertengkaran mereka terus?


Bayu mendongak, menatap Karina. Mata Karina tertuju pada tulisan pada buku yang ia baca. 


Tapi jika tidak diterima, tidak masalah juga. Tapi Bayu akan tetap bertemu dengan Lia, terlebih pasti isu perjodohan ini sudah tersebar di beberapa keluarga besar lainnya.


Bayu tidak ingin menjadi bahan omongan. Ia juga tidak mau melihat Lia yang semakin berharap serta akan jatuh di saat yang berdekatan. 


"Lebih baik sekalian menjatuhkannya sampai ia tidak akan pernah lagi berharap padaku!"gumam Bayu.

__ADS_1


"Baik!"


Karina menutup buku dan menatap Bayu dengan alis terangkat.


"Itu pilihanmu. Ingat satu hal ini, pendidikan kalian tidak akan tetap di satu tempat, jadi seandainya ia mencarimu ke negeri manapun, belum tentu dan sulit untuk menemukan kalian. Selain itu, kamu juga akan berpisah sementara dengan kami, apa kamu siap?"tanya Karina, memastikan. 


"Ugh? Begitu ya?"


Bayu agaknya belum tahu hal ini.


"Bagaimana? Kamu bisa memikirkannya kembali."


"Tidak! Aku yakin. Salam hormat, Queen!"jawab tegas Bayu, turun dari kursi dan berlutut di samping Karina, memberi salam.


Karina menutup mata sejenak lalu mengembuskan nafas pelan.


"Baiklah. Persiapkan dirimu, selesai tahun baru kalian akan pergi. Aku juga harus menyelesaikan beberapa hal mengenai ini."


"Dimengerti," jawab Bayu.


Bayu kembali duduk. 


"Besok ikutlah denganku ke kediaman Graham."


"Hm okay."


"Tapi Kak …."


"Tapi apa?"potong Karina cepat.


Bayu tampak ragu untuk mengatakannya. Ia memainkan jemarinya dengan tatapan mata ke bawah. 


"Bayu tapi apa? Kakak harap tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hatimu. Jika ada selesaikan secepatnya," lanjut Karina tegas. 


Bayu menarik nafas, mengumpulkan keberanian. Sorot matanya berubah, menjadi penuh keyakinan.


Karina bosan menunggu mulut Bayu terbuka dan mengatakan sesuatu. Wajahnya sudah menunjukkan kekesalan, menatap Bayu dengan penuh tanda tanya.


"Sebelum pergi, aku ingin ziarah ke makam ibu. Kakak masih ingatkan apa yang ku katakan beberapa waktu lalu? Jika selesai tahun baru aku langsung berangkat, maka waktuku hanya tinggal seminggu. Dengan siapa aku ke negara A?"jelas Bayu.


Karina tertegun sesaat, kemudian tersenyum lembut.


"Tentu saja dengan ayahmu. Terlebih apa pernah aku melarangmu ziarah? Pergilah besok dengan Enji. Satu lagi, itu adalah hakmu. Aku tidak ada hak untuk melarang. Biar bagaimanapun, ibumu meninggal karena kelalaianku. Aku tidak bisa mengawasi Enji dengan baik hingga ia berani melakukan hal gila itu. Andai saja aku … haih lupakan saja. Semua sudah terjadi. Masa lalu tidak bisa diubah. Bayu … maafkan aku," ucap Karina panjang, menyesal di akhir.


Karina mengangkat kepala saat mendengar suara isak tangis. Hati kecilnya berdenyut melihat air mata Bayu. Biar bagaimanapun ia sudah pernah berada di posisi Bayu. Hidup tanpa orang tua di sisinya. Hanya saja masih lebih beruntung nasib Karina ketimbang Bayu.


"Hisk … hisk … hisk, ini semua bukan salahmu Kak. Semua sudah menjadi suratan takdirku. Dulu memang aku marah … aku selalu bertanya mengapa aku dibuang. Mengapa mereka membuatku hadir di dunia ini jika pada akhirnya aku dibuang. Perasaan itu campur aduk. Tapi setelah aku bertemu dengan Ayah, rasa itu mulai memudar, dan kini sirna sepenuhnya. Aku tahu, aku paham kesulitan Ayah dan Ibu, juga orang tua Ibu. Jadi tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Semua sudah takdir," ungkap Bayu dengan masih terisak.


Tangan kecilnya mengusap air mata yang keluar.


"Ya kamu benar. Semua sudah takdir, masa lalu jika bisa diubah hanya dengan kata andai, kamu anak yang kuat Bayu," ujar Karina, tersenyum penuh kelembutan pada Bayu.


Lengkungan setuju Bayu berikan. 


Tanpa disadari, pembicaraan ini membuat Bayu tenang dan mulai mengantuk.


Karina yang melihat hal itu, langsung memanggil salah seorang anggota untuk membawa Bayu ke kamar.


"Tidurlah," titah Karina.


Bayu mengangguk. Dengan digendong, Bayu meninggalkan perpustakaan menuju kamar. Karina melihat jam tangannya. Sebentar lagi waktu bangun untuk Pedang Biru.


"Lebih baik aku kembali ke kamar," gumam Karina.


Beranjak keluar perpustakaan dengan membawa buku yang ia baca. 


Di tengah perjalanan, saat memasuki lift, Karina berpapasan dengan Gerry yang sepertinya baru kembali dari lapangan.


"Queen?"


Mata ngantuk Gerry hilang seketika melihat wajah dingin Karina yang menatapnya serius. Karina hanya mendehem.


"Ada di sini?"


"Hm."


"Mengapa Anda di luar?"tanya Gerry lagi.


"Terbangun, kau sendiri?"tanya Karina balik.


"Baru kembali," jawab Gerry.


"Oh."


"Ada yang ingin kau tanyakan?"


Karina menangkap ekspresi ragu Gerry. Dan benar, Gerry terkesiap lalu terkekeh pelan. 


"Saya hanya penasaran dengan kelanjutan hubungan Satya dan Riska, semenjak kembali dari sana, belum ada secuil kabar dari mereka. Jujur hal itu mengusik ketenangan saya. Maaf jika saya lancang," jelas Gerry.


Lift berhenti di lantai 2. Karina melangkah keluar diikuti Bayu. 


"Mengenai mereka, aku juga belum menerima kabar. Tapi bisa aku pastikan pernikahan itu akan terlaksana. Tenanglah Ger, itu sudah dalam genggamanku. Kamu percaya padaku bukan?" 


"Tentu! Tentu aku percaya padamu. Baiklah jika begitu, aku bisa bernafas lega. Dan sekarang, kembalilah ke kamarmu. Ibu hamil bukannya istirahat malah jalan-jalan malam. Aku juga mau ke kamar," suruh Gerry, menunjuk lift.


Karina berdecak sebal.


"Jangan bangun kesiangan, awas saja kau!"ancam Karina.


Gerry hanya terkekeh dan melambaikan tangan saat pintu lift tertutup.


Di dalam lift, Karina menarik senyum tipis.


"Mereka, sangat istimewa," gumam Karina.

__ADS_1


__ADS_2