
Karina dan keenam anaknya menjadi pusat perhatian di mall. Ini adalah pertama kalinya Karina menginjakkan kaki di mall setelah kembali beberapa bulan lalu. Banyak pengunjung terkagum dengan mereka. Karina dengan wajah dingin dan sorot mata setajam elang melangkah di belakang ke enam anaknya.
Bintang dengan wajah datar berwibawa, Biru dengan wajah dingin seperti Karina, Bima dengan wajah ceria lengkap dengan senyum menawannya, Brian dengan wajah teduh yang menenangkan, Bara dengan wajah angkuhnya, sedangkan Bahtiar dengan wajah menggemaskan, tersenyum lebar. Mereka saling melengkapi.
Bisik-bisik kagum semakin banyak. Karina acuh, begitu juga dengan yang anak-anaknya. Mereka naik ke lantai 4, tempat khusus pelanggan VVIP. Sayangnya saat Karina dan keenam anaknya tiba di lantai 4, mereka malah dihadang oleh penjaga. Karina mengeryit tipis.
"Mama ada apa ini?"tanya Bahtiar bingung. Bintang, Biru, dan Bima menatap kasihan penjaga tersebut.
"Ada apa?"tanya Karina dingin.
"Maaf Nyonya, mohon tunjukkan kartu pelanggan Anda!"ucap penjaga tegas.
"Tidak ada," jawab Karina.
"Tidak ada? Jika begitu Anda harus turun. Tanpa kartu tidak boleh masuk!" Penjaga mengarahkan telunjuknya ke arah lift turun.
"Aku bisa masuk tanpa kartu!"ucap Karina.
"Maaf Nyonya, ini sudah peraturan. Mohon jangan mempersulit saya, Anda dan anak-anak Anda harus turun," ucapnya sopan.
"Tenanglah, aku tidak akan mempersulitmu. Menyingkirlah, aku tahu apa yang aku lakukan." Karina mendorong penjaga tersebut menyingkir dari jalannya.
"Tunggu Nyonya!"seru penjaga tersebut.
"Anda tenang saja, Pak." Bintang menarik baju penjaga itu.
"Anak-anak kalian tidak tahu ini tempat apa. Jika Mama kalian memaksa masuk bukan hanya kalian yang kena masalah, Bapak juga ikut terseret." Nada cemas yang sopan.
Bintang tersenyum kecil.
"Anda pekerja yang berdedikasi tinggi. Anda sangat sopan. Tunggu saja kabar baik untuk Anda," ucap Bintang, melangkah menyusul Karina.
"Aku yakin ada sampah di sini," ucap Biru dingin, melangkah menyusul Bintang.
"Ya terkadang ada hama yang menganggap dirinya harimau. Ayo adik-adik." Bima menggiring ketiga adiknya menyusul Bintang dan Biru.
Siapa sebenarnya mereka? Mengapa sangat tenang dan berwibawa? Juga Nyonya tadi, dia terlihat arogan tapi bukan tong kosong nyaring bunyinya. Ku harap ucapan mereka benar.
Penjaga itu menghela nafas kasar, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mama apa tidak apa-apa masuk tanpa izin?"tanya Brian cemas. Melirik sekitar yang ramai dengan pelanggan yang sibuk memilih barang.
"Untuk apa takut? Apa masuk ke rumah sendiri butuh izin?"sahut Karina mengedarkan pandangan mencari area pakaian anak.
"Rumah sendiri? Artinya?" Ketiga anak termuda tercengang. Mama mereka benar-benar kaya raya!
"Biru, Bima kalian jaga adik-adik kalian. Mama akan menemani kakak kalian memilih pakaian," ucap Karina.
"Oke, Ma." Keduanya mengangguk.
"Ayo, Bintang," ajak Karina, memegang lengan Bintang menuju area pakaian anak.
"Kakak apa kita hanya berdiam diri di sini?"tanya Bara yang merasa bosan berdiri.
"Tentu saja, tidak. Ayo kita ke area mainan," ajak Biru, kembali mengenakan kacamata hitam yang mana saat masuk tadi ia lepas.
"Let's go," sahut Bima. Biru dan Bima menjaga ketiga adik mereka dadi sisi kanan dan kiri. Melangkah menuju area mainan.
Area yang luas, penuh dengan beraneka ragam mainan. Biru langsung menuju rak dan meja puzzle.
"Adik-adik, kalian bebas memilih mainan apapun dengan satu syarat kalian harus memilih barang yang benar-benar kalian butuhkan dan inginkan. Papa dan Mama memang kaya tapi bukan berarti kita menjadi anak yang boros," tutur Bima. Brian mengangguk, Bara melenggang pergi tanpa menjawab, Bahtiar memegang lengan Bima.
"Bima ikut sama Kakak," ucap Bima.
"Baik. Kalian berdua jangan terlalu jauh. Harus tetap dalam penglihatan kami!"
"Baik." Brian menyusul adiknya yang kini melihat-lihat mobil mainan.
"Kakak kita akan kemana?"
__ADS_1
"Rak rubik," jawab Bima. Keduanya melangkah menuju rak rubik.
"Kau tertarik?"
Bahtiar mengangguk.
"Minnor rubik cocok untuk pemula. Kau ingin beli baru atau …."
"Jika ada di rumah untuk apa beli lagi? Kata Kakak kita nggak boleh boros," jawab Bahtiar. Bima tersenyum.
"Baiklah. Jika begitu Kakak akan beli yang segi enam sama yang piramida." Bima mengambil kedua jenis rubik tersebut.
"Nanti kakak ajari cara mainnya. Main rubik itu ada rumusnya," ucap Bima, mengusap lembut kepala Bahtiar. Bahtiar mengangguk penuh semangat.
"Hei apa yang kau lakukan?!" Bima dan Bahtiar terkesiap mendengar teriakan Biru. Segera keduanya mencari sumber suara.
"Apa yang terjadi?"tanya Bima.
"Dia memukul Bara!"jawab dingin Biru menunjuk seorang wanita yang berwajah angkuh, menatap rendah Brian, Bara, dan Bima.
"Cih! Siapa yang membawa anak-anak pengganggu ini kemari?!"ucapnya congkak.
Bima menatap Bara. Anak itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, diam sembari memegang pipinya.
"Beraninya kau!"geram Bima menunjuk wanita itu.
"Hei salahkan adik kalian yang mengotori pakaian mahalku! Di mana orang tua kalian, kalian harus tanggung jawab!"ucapnya marah.
Memang benar, celana bagian bawah wanita itu kotor dan ada tumpahan minuman di lantai, mengotori barang di dekatnya.
"Mama tak perlu turun tangan. Katakan berapa harganya, kami akan menggantinya!"ucap Biru.
"Heh? Kalian yang menggantinya? Apa kalian punya uang? Anak-anak ingusan seperti kalian hanya tahu menangis dan meminta uang! Panggil orang tua kalian atau aku akan memanggil manager untuk mengurus masalah ini!"gertaknya.
"Aku serius! Katakan berapa harganya!"tegas Biru.
"Diamlah!" Biru yang sudah termakan emosi membentak Bara. Bara terdiam. Brian mengerjap, ini pertama kalinya ia mendengar Biru membentak.
"Dasar bermulut besar! Apa kau tahu berapa harga pakaianku ini? Dengan tampilan kalian aku yakin kalian tidak akan mampu menggantinya! Dan kau anak sialan beraninya kau menyalahkanku! MANAGER!"
Wanita itu benar-benar memanggil manager lantai empat. Biru mendengus. Bima menggeleng pelan. Bahtiar mencengkeram erat lengan Bima.
"Jangan takut," bisik Bima.
"Nyonya Clara, ada masalah apa?" Manajer datang, seorang wanita bersikap sangat sopan pada wanita bernama Clara ini.
"Anak ini mengotori pakaianku. Lihat dia juga mengotori barang mall!"ucapnya menuju celananya dan barang-barang yang terkena cipratan minuman itu.
"Dasar anak-anak nakal! Panggil orang tua kalian kemari!"ucapnya dengan nada marah. Bara menatap tajam manager itu.
"Nyonya Clara tolong jangan marah. Anak-anak dan orang tua mereka kemungkinan member baru, mereka belum paham kebiasaan orang-orang kelas atas," ucapnya sopan dan merendah pada Clara.
"Huh, aku mau mereka tanggung jawab. Kartu member mereka juga harus ditarik. Tempat berkelas tak pantas dimasuki oleh sekelompok jelata!"ucap Clara.
"Sungguh arogan!"ketus Bima.
"Heh jelata? Apa tidak terbalik, Nyonya?" Biru dengan nada menyindir, tertawa mengejek Clara.
"Anak seorang wanita dari keluarga terpandang tapi sikap Anda sungguh berbanding terbalik. Anda terus menyatakan adik saya yang salah, walaupun saya tidak melihat kejadiannya saya percaya dengan adik saya. Aku berubah pikiran, manager, mall ini full CCTV, bukan? Kita bisa melihatnya untuk melihat kebenaran!"
Clara dan manager tersebut terkejut. Clara berkeringat dingin. Manager toko tampak berpikir keras. Biru menarik lengkung sinis.
"Jika Anda tidak berani artinya Anda yang salah!"
"Manager jangan …."
"Baik. Kita akan lihat CCTV, tapi sebelumnya tunjukkan kartu member orang tua kalian!"
"Kakak gawat!"bisik Bahtiar.
__ADS_1
"Aku tak punya kartu member, tapi aku berhak melihat rekaman CCTV!"
"MAMA!"
Karina dengan menggandeng Bintang masuk ke dalam adegan. Kecuali Biru dan Bima, tiga anak lain menghampiri Karina, berdiri di samping Karina. Bintang menatap datar bekas tamparan pada pipi Bara.
Tatapan Clara dan manager langsung berubah merendahkan. Lebih rendah dari yang tadi.
"Manager apa-apaan ini? Kami harus membayar mahal untuk kartu member tapi wanita ini bisa masuk dengan leluasa tanpa kartu member, Anda merendahkan kami?"bentak Clara.
"I-ini kesalahan penjaga, Nyonya! Anda tenang saja saya akan menyelesaikannya dengan baik!"
"Hei kau jangan harap bisa keluar sebelum membayar kompensasi untuk Nyonya Clara!"serunya pada Karina.
"Oh ya? Aku sudah melihat CCTV, Andalah yang salah mengapa mengalahkan putra saya?" Karina menatap remeh Clara.
"Jadi dari tadi Mama mengawasi," gumam Biru, tersenyum lebar.
"Apa katamu? Kau tidak punya kartu member. Melanggar peraturan mall, sekarang berbicara omong kosong!" Manager menatap marah Karina.
"Apakah ini omong kosong?" Karina menunjukkan rekaman CCTV saat kejadian itu terjadi tepat di depan manajer. Manager itu terdiam, jelas sekali di situ kesalahan Clara. Akan tetapi … ia tak bisa menyinggung Clara. Dengan terpaksa, manager tersebut tetap membela Clara.
"Biarpun begitu, itu tetap kesalahan Anda dan anak Anda! Kalian harus ganti rugi dan angkat kaki dari sini!"ucapnya tegas.
"Huh kau berada di pihak yang salah! Aku dan anakku tidak salah, mustahil untuk meminta maaf."
"Keamanan!"
"Keamanan!"
"Penjaga! Keamanan!"
Manager tersebut bingung dengan keamanan yang tak kunjung datang. Jelas tak datang, orang Karina suruh untuk menjaga orang-orang agar tak mendekati ataupun menonton mereka. Dari mana Karina bisa memerintah mereka? Tentu saja dengan kartu nama dirinya, sudah cukup untuk membuat keamanan berlutut. Kartu nama Karina sangat berbeda dari kartu nama pada umumnya. Di balik kartu ada ukiran pedang dan mawar, juga jenis tinta yang berbeda.
"Percuma saja! Manajer KS Tirta Grub memperkerjakan orang-orang yang berkualitas. Tapi entah mengapa sampah sepertimu bisa masuk! Hanya karena pelanggan kecil kau menyinggung majikanmu. Awalnya aku senang kau bersikap adil tapi keras kepalamu membuatku kesal. Kau tidak tahu siapa aku tapi kau langsung mendikteku. Kau hanya manager kecil apa pantas memaki tuan mudamu hah!" Karina mengeluarkan aura intimidasinya. Kedua orang itu tertekan.
"S-siapa kau?" Manager tersebut gemetar hingga terduduk. Clara masih mempertahankan wajah angkuhnya.
"Berhenti omong kosong! Katakan saja kau tidak mau ganti rugi!"ucapnya angkuh.
"Heh? Ganti rugi itu hal kecil, tapi tamparanmu itu tidak termaafkan!"
"Kau merendahkanku, apa kau pikir keluarga Buanamu itu hebat? Bahkan Nyonya tiga keluarga besar tidak searogan dirimu. Omong kosong? Mall ini milikku, aku berhak atas semuanya. Seharusnya kalianlah yang angkat kaki dari sini!" Karina melempar kartu namanya.
"APA!" Clara dan manager itu terkejut bukan main. Mereka memang tahu bahwa CEO KS Tirta Group sudah kembali tapi mereka hanya tahu kabar bukan rupanya. Pantas saja anak-anaknya tidak gentar.
"Mulai hari ini kau bukan lagi seorang manager melainkan petugas kebersihan!"
"B-baik, Presdir." Menjawab tergagap, menunduk lemas, setidaknya ia tidak dipecat.
"Dan kau … kalian patahkan tangan kanannya! Cabut kartu membernya! Mulai sekarang keluarga Buana dilarang masuk ke mall mana pun di bawah KS Tirta Group!"
"Ahhhh!"pekik Clara saat tangannya dipatahkan. Karina menatapnya datar.
"Seret dia keluar!"
Wanita itu menangis kesakitan, meronta lemah saat diseret keluar.
"Sudah selesai, ayo beli hadiah untuk Emir." Karina mengubah raut wajahnya, tersenyum lebar.
"Oh oke." Biru tersenyum tipis.
"Keluarga Buana, hehehe," kekeh Bima.
"Masih sakit?"tanya Karina lembut pada Bara. Bara menggeleng.
"Ternyata mall ini punya Mama. Pantas saja," gumam Brian.
"Mama hebat!"puji Bahtiar. Karina tersenyum lebar, kembali berbelanja tanpa berpisah.
__ADS_1