
"Karina keluar kau!" pekik Joya membuka kasar pintu ruang rawat Arion.
Yap, Joya terbangun pukul 02.00 dini hari. Prediksi dokter meleset. Dengan perlahan ia bangkit dari ranjangnya dan dengan emosi menggebu, Joya berjalan menuju di mana Arion dirawat. Joya tahu informasi itu dari Darwis yang cerita kala di penerbangan.
Karina yang tidur di ranjang portabelnya, terbangun dan menatap tajam ke arah pintu. Joya masih berdiri dengan nafas yang menderu serta wajah memerah.
Arion hanya menggumam, sedangkan Kuki yang menemani Karina juga ikut terbangun.
"Ada apa kau berteriak memanggilku?" tanya datar Karina seraya bangkit dari ranjangnya. Kuki mengusap wajahnya kasar.
"Kau pembunuh! Kau kan yang membunuh kedua orang tuaku!" seru Joya menunjuk Karina. Lagi-lagi dengan teriakannya. Karina menatap tajam Joya dan melirik melihat ranjang Arion.
Arion terdengar mengerang tak suka, namun tetap tidur. Golden maknae membulatkan matanya mendengar kata pembunuh.
"Urusanmu denganku, jadi ayo bicara di luar!" ucap Karina datar, menarik tangan Joya keluar ruangan, tak lupa mengaktifkan mode kedap suara kamar.
Kuki ingin menguping namun tak bisa sebab pintu dikunci dari luar.
Sial! Tapi apa maksud wanita tadi? Karina membunuh orang tuanya? Kalau iya sih tak mengherankan, dia kan mafia. Atau jangan-jangan alasan kepergiannya pagi tadi sama Jimin Hyung adalah untuk ini. Berarti Jimin Hyung tahu tentang ini. Aku bertanya padanya besok. Sekarang lebih baik aku lanjut tidur, batin Kuki, kembali melangkah dan membaringkan tubuhnya di atas sofa.
***
Karina menarik Joya menuju pojok tersembunyi koridor, menatap Joya tajam. Joya membalas tatapan Karina dengan emosi. Menghempaskan tangan Karina saat Karina menghentikan langkahnya.
"Kau ini sudah tahu hamil tak bisa jaga emosi, mau bayimu itu mati dalam kandunganmu?" tanya datar Karina. Joya mendecih.
"Kau pun sama, kau hamil tapi kau menghabisi nyawa kedua orang tuaku. Apa kau tak takut anakmu yang kena karma akibat perbuatanmu nanti jika ia lahir," balas Joya.
"Aku tak membunuh mereka. Mereka sendiri yang membunuh diri mereka dengan berurusan denganku."
Karina menyilangkan kedua tangannya dan menatap Joya dengan senyum tipisnya.
Dari mana Joya langsung menebak pelakunya Karina? Sebab Joya hanya tahu bahwa Karina lah yang tahu ibunya masih hidup, dan ibunya sangat dendam pada ayahnya. Tak mungkin ibunya yang baru mengenal senjata itu mampu mengalahkan semua penjaga sendirian. Pasti Karina ikut bersamanya.
"Apa? Apa masalah orang tuaku padamu hah? Mengapa kau menghancurkan kebahagianku? Mengapa kau merenggut nyawa ibuku?" tanya Joya, tubuhnya bergetar hebat namun tatapan matanya tajam pada Karina. Agaknya Joya lupa atas pertanyaan Karina beberapa waktu lalu.
"Karena itu adalah jawaban atas semua pertanyaanku untukmu. Kau lupa aku siapa dan kau siapa? Kau lupa kah hubungan kita? Dan kau tahu sifatku, jadi terima kenyataan, bahwa mereka tiada karena ulah mereka sendiri."
Karina dengan santai berucap. Melihat ekspresi Joya yang berubah, Joya terdiam dan termangu.
Joya menggeleng pelan. Masih tidak bisa menerima kenyataan. Karina tersenyum sinis dan segera berbalik, hendak meninggalkan Joya dan kembali ke kamar Arion.
"Berhenti Karina! Jika mereka mati karena ulah mereka, maka kau akan mati karena ulahmu sendiri yang membantu ikut terlibat di dalamnya!" seru Joya menarik pistol dari balik bajunya dan menodongkannya ke kepala Karina yang terletak dua meter di depannya.
Karina berhenti merasakan ada bahaya. Ia menghela nafas sekaligus mendengus kesal.
Karina memejamkan matanya dan berbalik dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Karina membuka matanya dan memberikan senyuman santai terhadap Joya
__ADS_1
"Kau mau balas dendam padaku? Begini saja, kita ini di posisi yang sama bukan? Cuma aku lebih dulu merasakannya Joya. Kau tahu bagaimana rasanya tanpa kasih sayang orang tua kandung selama aku hidup? Kau tahu rasanya melihat jenazah orang tua diletakkan di dalam liang kubur? Kau tahu siapa yang membuatku jadi begini? Ayahmu! Semua karena dia! Jadi semua ini adalah kesalahannya!"ujar Karina pelan namun penuh tekanan. Joya menggeleng.
"Kita berada di posisi yang sama Joya. Yang ku lakukan kemarin adalah hal yang sama yang kau lakukan saat ini. Kita imbang, jadi jika kau mau balas dendam, silahkan! Tapi kau pasti tahu akibat dari perbuatanmu ini."
Dengan nada tegas namun tetap lembut Karina memberikan senyuman manis pada Joya. Joya mulai ragu. Ia bimbang.
Joya tahu apa yang selama ini ayahnya lakukan. Pandangannya tertunduk namun pistolnya tetap ia todongkan pada Karina. Jarak mereka hanya sejauh satu rentangan tangan.
Karina diam saja tak melakukan apapun. Membiarkan Joya bergelut dengan semua isi hati dan pikirannya.
Setelah lama menunduk, Joya kembali mengangkat pandangannya. Karina menaikkan satu alisnya.
"Aku akui Ayahku memang pantas mendapatkan hal itu. Tapi apa salah ibuku padamu? Bukankah ia tak terlibat dalam pembunuhan itu?" tanya Joya pelan.
"Ibumu punya beberapa kesalahan. Yang pertama dia tahu kejadian itu, tapi tetap bungkam. Yang kedua adalah ia berkhianat padaku. Aku tahu dan paham sekali alasannya berubah pikiran, akan tetapi sayang aku bukanlah orang yang menerima penghianatan itu. Jadi dia lari dengan membawa Ayahmu, aku mengejar dan menembaknya," jawab Karina santai.
"Ternyata ibu berkhianat padamu," gumam Joya, menjatuhkan tangannya yang hendak menembak Joya.
Joya lantas mundur dan berhenti saat membentur dinding. Tubuhnya ia merosotkan menyentuh dinginnya lantai. Tatapan matanya kembali kosong. Karina mengamati hal itu dan sedikit khawatir. Pandangan kosong dapat membuat seseorang nekat melakukan hal gila.
Benar saja, Joya menatap pistol di tangan kanannya dan mengangkatnya perlahan. Setiap gerakannya terlihat sangat lambat dan dengan tubuh gemetar.
"Apa? Apa yang mau kau lakukan Joya? Jangan bodoh!" pekik Karina mendekati Joya.
"Berhenti di tempatmu Karina. Biarkan aku menyusul orang tuaku. Aku juga turut andil dalam hal itu. Aku tahu tapi aku tetap diam. Aku bersalah!" seru Joya menatap Karina. Matanya memanas namun tak ada air mata yang keluar.
Karina berhenti dan menggelengkan kepalanya erat. Kini jarak antara pistol dan kepala Joya hanya sejauh panjang jari telunjuk tangan.
Dor!
Satu suara tembakan bergema di koridor, membuat semua orang yang dirawat dan bertugas di sekitar koridor ini terbangun dan mencari asal suara tembakan.
Joya tertegun, ia tak merasakan apa-apa.
"Joya!" pekik Darwis langsung berlari menghampiri Joya yang berjongkok di dekat dinding serta memegang kepalanya. Sedangkan pistolnya teronggok tak jauh darinya. Darwis langsung memeluk Joya, belum sadar bahwa Karina ada di dekatnya.
"Kau tak apa? Apa yang kau lakukan?" tanya Darwis khawatir. Ia terbangun tak lama setelah Joya tiba di kamar Arion. Dengan bantuan CCTV setelah beberapa saat mencari, Darwis langsung on the way ke lantai ini.
"Huft, syukurlah kau tak apa!" ucap lega Karina menghela nafas.
Darwis mengalihkan pandangannya dan menatap Karina khawatir juga. Joya pun ikut menatap Karina.
"Kau tak apa Karina?" tanya Darwis. Karina menggeleng.
"Bawalah pulang istrimu. Jangan dirawat di sini. Nanti akan ku beritahu langkah selanjutnya!" tegas Karina.
"Kalian juga bubarlah. Tidak ada yang terluka akibat tembakan tadi. Maaf mengganggu waktu kalian," ujar Karina pada orang-orang yang melihat kejadian ini.
__ADS_1
Dengan patuh, kecuali Joya dan Darwis yang masih diam, bubar menuju tempat masing-masing.
"Tunggu apa lagi? Cepatlah pulang sebelum aku berubah pikiran," suruh Karina.
"Kau, kau serius tidak apa-apa?" tanya Joya ragu dengan keadaan Karina.
"Tidak apa sepupu!" jawab Karina.
Darwis dengan kode mata Karina segera merangkul Joya dan membawanya pergi. Setelah punggung keduanya hilang di balik dinding, barulah Karina meringis merasakan sakit pada telapak tangan kanannya ia ia sembunyikan sedari tadi di balik baju hitamnya. Darahnya menetes membahasi baju Karina tapi belum jatuh ke lantai.
Karina melihat telapak tangannya, tepat di bagian tengah, peluru yang Joya tembakan tadi bersarang.
Sialan! Andai saja kau bukan sepupu dan istri dari anggotaku sudah ku kirimkan kau menyusul pada kedua orang tuamu itu! batin Karina.
Dengan cepat Karina berjalan menuju kamar Arion, tak mau ke ruangan dokter. Karina membuka kunci pintu dan masuk ke dalam.
Karina membuka tas selempang doraemonnya, mengambil satu tas lebih kecil yang berisi beberapa alat dan obat untuk luka tembak.
"Bangun! Juki bangun kau!" Karina menggoyangkan badan Kuki yang tertidur lelap.
"Hm? Ada apa?" tanya Kuki setelah beberapa saat.
"Bantu aku mengobati lukaku. Ayo keluar!"ajak Karina.
"Luka?" Kuki menatap tangan kanan Karina yang dilebarkan.
Ia membulatkan matanya hendak berteriak namun segera dibekap oleh tangan kiri Karina.
"Jangan teriak. Ayo cepat dan bawa tas itu!" tegas Karina.
Kuki mengangguk. Karina melepas bekapannya dan berjalan mendahului Kuki. Kuki bangkit dan mengikut Karina.
Karina duduk di kursi koridor diikuti Kuki. Karina menjulurkan tangannya pada Kuki. Dengan arahan Karina, Kuki berusaha keras mengambil peluru dalam telapak tangan kanan. Sesekali Karina meringis sakit dan mengomel pada Kuki. Kuki diam saja tak menjawab. Dijawab pun makin runyam nantinya.
Setelah peluru keluar, darah semakin banyak keluar. Karina mengoleskan ramuan untuk menghentikan darah.
Setelah selesai barulah Kuki memperbannya dengan hati-hati dan rapi tentunya.
"Kenapa kau bisa tertembak Karina?" tanya Kuki yang sedari tadi diam tak berucap.
"Yang pastinya karena ada masalah. Sudahlah jangan dipikirkan. Sudah tak sakit lagi kok, hanya nyeri sedikit saja," ujar Karina.
"Apa karena wanita itu? Bukankah dia istri dari bawahanmu? Atau kau bersama Jimin Hyung kemarin membunuh orang tuanya? Karina kau membunuh orang lagi?" Kuki menjauhkan tubuhnya ngeri pada Karina. Karina hanya tersenyum tipis.
"Kau kira si sexy itu sanggup membunuh orang? Lihat serangga saja sudah kalang kabut mau lihat darah berceceran."
Ia bangkit dan membawa tasnya, kembali masuk ke dalam ruangan Arion. Kuki terdiam dan mengerjap, memikirkan ucapan Karina.
__ADS_1
"Kalau rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut, apapun bisa dilakukan," gumam Kuki. Malas bangkit lagi, Kuki tidur di bangku koridor.
***