
Menjelang sore, Li dan Elina datang dengan membawa tiga koper besar. Karina dan Arion saling tatap dengan wajah tertegun.
Mau berapa lama mereka tinggal di sini?
Begitulah arti tatapan mereka.
Li dan Elina duduk di sofa ruang tengah, tersenyum lebar pada Karina dan Arion. Karina mendengus.
"Karina, Miu mana?"tanya Elina celingak-celinguk menjadi kucing jantan kesayangannya.
Karina menunjuk ke arah pintu samping. Elina yang tidak paham tata letak ruangan kediaman Karina mengikuti arah tunjuk Karina dengan wajah tidak mengerti.
Karina melirik Li. Li berdiri.
"Ayo," ajak Li yang paham arti tunjukan Karina.
Selain itu Li juga lumayan paham mengenai kediaman ini.
Li dan Elina meninggalkan ruang tengah menuju samping rumah, menuju belakang.
Karina memanggil pelayan untuk membereskan koper Li dan Elina ke kamar tamu.
"Ar … ku dengar perusahaanmu ikut dalam tender yang diadakan oleh Kusuma Grub, apakah itu benar?"tanya Karina, mulai membahas mengenai pekerjaan mereka.
Arion mengangguk.
"Presentasinya besok siang. Doakan aku menang ya, Sayang," ujar Arion, menggenggam dan mencium kedua telapak tangan Karina.
"Always, my husband. Ah ya boleh aku lihat persentasinya?"tanya Karina.
"Tentu. Aku juga berniat meminta pendapatmu. Tapi sebelumnya … perusahaan kamu nggak ikut tender itu kan?"
Karina menggeleng.
"Aku telat mengirim proposalnya. Kusuma Grub punya disiplin yang sangat tinggi terhadap waktu. Kusuma Grub tidak akan mentolerin ketelatan sedikitpun.Tidak masalah. Lagipula itu hanya tender biasa," jelas Karina.
Lagipula biasanya perusahaan Karinalah yang membuka tender untuk perusahaan lain. Mengikuti tender yang dibuat oleh perusahaan lain jarang sekali Karina lakukan kecuali pada beberapa tender yang menyandang mega proyek dengan profit melewati angka milyaran.
Arion terkesiap dengan penjelasan Karina. Tertawa dengan hal itu. Bagi Karina itu memang tender biasa tapi bagi perusahaan lain itu adalah proyek dengan nilai ratusan milyar. Tak masalah. Bagi perusahaan sekelas KS Tirta Grub itu memang proyek biasa.
"Baiklah. Aku akan menunjukkannya nanti di kamar. Aku yakin kamu puas dengan apa yang aku siapkan," ujar Arion percaya diri.
Karina memberikan senyum tipis.
"Aku tidak percaya sebelum melihatnya sendiri," sahut Karina yang tetap dibalas senyuman lebar Arion.
*
*
*
Selesai magrib, Arion mengambil laptop dan meletakkannya di atas meja sofa. Karina duduk di samping Karina, menunggu Arion yang masih membuka file persentasi.
"Ini dia. Bacalah."
Arion mengarahkan layar laptop ke arah Karina. Karina menarik laptop lebih dekat dengannya. Membaca isi file dengan teliti dan seksama.
"Jika aku adalah presdirnya aku akan cukup puas dengan ini. Akan tetapi ada beberapa yang perlu diperbaiki. Aku sudah menandainya. Hal ini bisa menimbulkan pertanyaan bagi mereka dan memberikan peluang bagi lawan," ucap Karina setelah memahami isi file tersebut.
"Jika kamu presdirnya apakah akan memilih ini?"
Arion bertanya sebab mengingat kali pertamanya ia menjalin kerjasama dengan Karina. Mengingat saat proposalnya ditolak kemudian Karina menawarkan bantuan dan proposalnya akhirnya disetujui.
"Aku tidak bisa memutuskannya sebelum melihat presentasi yang lain. Tapi aku punya firasat bahwa kamu akan menang. Aku berdoa untuk itu. Jadi semangat selalu dan tetaplah positive thinking!"
Karina menepuk pundak Karina memberi semangat.
"Pasti. Fighting!"
*
*
*
Selesai makan malam, Karina, Li, dan Elina berkumpul di ruang tengah. Tentu saja Miu ikut di dalamnya. Anak-anak dan pasangannya telah tidur, waktunya ia yang bersantai.
Arion tidak ikut. Ia keluar untuk bertemu dengan Calvin dan Sam. Sudah cukup lama ke tiga sahabat itu tidak bersua.
__ADS_1
"Pelayaran dua kapal pesiar baru besok pukul 10.00. Karina apa kau akan ke sana untuk melepas pelayaran itu?"tanya Li.
Peresmian kapal pesiar dilakukan seminggu yang lalu. Li dan Gerry yang menjadi penanggungjawab serta juga yang meresmikan atas mandat Karina.
"Sepertinya tidak. Aku masih terlalu sibuk untuk mengurus pekerjaan di luar perusahaan. Untuk sementara kau, Eli serta Gerry yang mengurusnya," jawab Karina, meraih cemilan dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Aku tidak ikut. Kau dengan Gerry saja yang pergi. Pekerjaanku masih banyak," ujar Elina, meminum jus jambu yang Li tuangkan dari teko.
"Ah ya hampir saja aku lupa, kemarin kan kau terburu-buru pergi menemui Joya. Para dokter bertanya apakah obat itu akan dikembangkan atau kita musnahkan?"
Karina mengubah raut wajahnya menjadi serius. Ia lupa mengenai hal itu. Jika tersebar luas akan menimbulkan kegemparan bahkan kerusuhan. Para dokter-dokter di luar sana pasti akan berbondong-bondong datang untuk meminta obat tersebut, untuk meneliti dan uji coba. Selain itu jika obat tersebar luas, dikhawatirkan akan ada obat tiruan yang hanya memberikan sedikit efek, yang harusnya bisa sembuh dalam satu suntikan menjadi banyak, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Karina menggeleng pelan.
"Pergunakan obat secara diam-diam dalam dosis kecil dengan biaya yang sama. Akan jadi tanda tanya jika penyakit yang dikenal tidak memiliki penawar sembuh hanya dalam seminggu. Obat itu hanya bisa digunakan dalam lingkup rumah sakit kita," ucap Karina tegas.
Li mengangguk.
"Aku mengerti."
"Ah ya bagaimana kondisi Enji?"tanya Karina mengingat Enji yang masih koma.
"Kondisinya stabil," jawab Li.
Karina menghela nafas pelan.
"Syukurlah."
"Ah aku hampir lupa, kita mendapat undangan dari aliansi bawah untuk pertemuan bisnis, tiga bulan dari sekarang," beritahu Li, mengambil handphone dan mengirim file pdf modul undangan.
Karina membuka file tersebut di handphonenya.
"Pesertanya lebih banyak dari tahun kemarin. Kira-kira apa yang akan kita pamerkan? Senjata? Racun? Atau …?"
"Miniatur," sela Karina cepat.
"Miniatur?"beo Li dan Elina heran, tidak mengerti.
Karina mengangguk.
"Buat miniatur setiap markas atau perusahaan yang ikut dalam pertemuan itu. Buat sedetail-sedetailkan!"
"Benar. Selain itu juga dapat menimbulkan rasa tidak senang pada mereka. Kita akan dituduh memata-matai dan menyusup ke dalam markas mereka," timpal Li.
"Tidak. Ini akan menarik dan menghasilkan keuntungan yang banyak. Lakukan saja perintahku!"tegas Karina dengan sorot mata tidak bisa dibantah.
"Berani beda itu penting," lanjut Karina.
Li dan Elina saling tatap, mengangguk pasrah.
*
*
*
Pembicaraan mereka belum selesai padahal waktu menunjukkan pukul 22.00. Pembicaraan itu baru ditutup saat Arion pulang, sekitar pukul 22.30.
Dengan tatapan kesal, Arion mendekati Karina yang tersenyum lebar.
"Mengapa belum istirahat hm?"
"Menunggu kamu pulang," jawab Karina, menaikkan kedua tangan, minta digendong.
Arion mendengus, menggeleng pelan. Dengan lembut menggendong Karina ala bride style. Karina melambaikan tangan pada Li dan Elina, mengucapkan selamat malam.
"Kurus-kurus kuat juga ya?"kagum Elina melihat Arion yang sanggup menggendong Karina yang hamil tua anak kembar.
"Kalau nggak kuat mana mungkin sanggup bertahan dari peluru yang aku tembakkan," sewot Li yang kesal melihat binar kagum di mata Elina untuk Arion.
"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?"
"Dulu. Sudah lama sekali. Jauh sebelum mereka menikah. Aku hanya ingat pernah menembaknya di dada," papar Li.
"Wah jadi ceritanya ini musuh tapi menikah? Tapi kalian hebat juga ya bisa mengubur permusuhan menjadi pertemanan," kagum Elina kepala Li dan Pedang Biru.
"Karena semua bisa berubah. Cinta dan dendam adalah hal fana yang bisa berubah kapanpun," ucap Li, membungkuk di depan Elina.
Menggendong lembut Elina. Elina mengalungkan satu tangan pada leher Li.
__ADS_1
"Lantas apakah cintamu padaku juga fana?"
"Tidak! Cintaku padamu sejati dan abadi. Seperti kisah cinta para nabi dan rasul," jawab Li, melangkah menuju kamar.
"Apakah kau yakin bahwa aku akan setia seperti Rahmah saat nabi Ayub diuji dengan penyakit kusta?"tanya Elina.
"Mengapa tidak? Aku yakin kau pasti lebih tahu jawabannya daripada aku," sahut Li.
Elina tersenyum lebar, memberikan ciuman manis pada pipi Li.
*
*
*
Rian keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi, mau berangkat kerja. Melangkah menuruni tangga menuju meja makan.
"Morning," sapa Rian menarik kursi di depan Satya.
"Morning too," sahut Darwis, Satya, dan Riska bersamaan.
"Tumben kau bangun cepat," ejek Satya yang mendapat tatapan kesal dari Rian.
"Tumben matamu. Aku selalu bangun pagi kecuali di hari-hari tertentu," sahut kesal Rian.
"Iya kah?"
Satya menujukkan wajah tidak percaya.
"Yang ada itu kau yang selalu bangun setelah alarm kamarmu menggangu seisi rumah. Dasar kebo," kecam Rian dengan senyum smirknya.
Riska terperangah. Ia mengerti ucapan Rian yang dalam bahasa indonesia. Riska juga menguasai dan mahir berbahaya Indonesia sebab bahasa itu adalah mata pelajaran bahasa kedua setelah inggris.
"Itu dulu. Sekarang aku sudah punya istri!"balas Satya, menekankan kata istri.
Rian tertegun, mengerjap menatap Satya yang tersenyum puas. Darwis terkekeh, mengerti sindiran Satya.
"Mengapa bawa-bawa istri? Mentang-mentang kalian sudah menikah berhak gitu meledekku?"ketus Rian, menatap kesal Satya dan Darwis.
"Elu kan sudah bawa wanita pulang. Gue nggak yakin loe cuma sekedar kasihan. Ada rasa kan loe sama siapa itu … Angela ya? Cinta pandangan pertama," goda Satya, membuat telinga Rian panas dan memerah.
"Mana ada. Jangan seenaknya menyimpulkan. Gue bawa dia pulang karena kemampuannya," elak Rian dengan wajah meyakinkan.
"Iya kah?"
Mata Satya menyipit.
"Iya atau enggaknya kita lihat saja nanti," putus Darwis.
"Gue yakin loe punya rasa sama Angela. Dan gue yakin bentar lagi kita loe bakalan kayak kita," yakin Satya.
Rian mendengus, tapi dalam hati tersenyum.
*
*
*
Sebelum ke kasino, Rian mampir dulu ke perpustakaan mansion. Membuka pintu perlahan, mendapati Angela tertidur pulas di atas meja dengan buku-buku berserakan di sekitarnya. Ada selimut yang menutupi tubuh Angela.
Rian melangkah mendekati Angela, melihat apa saja yang ada di meja.
"Darwis memang keras," gumam Rian.
"Tapi itu sudah resikonya," gumam Rian lagi.
Rian tidak membereskan buku yang berserakan di atas meja. Ia kan hanya berniat melihat Angela.
Setelah puas melihat Angela, Rian melangkah keluar perpustakaan, berpapasan dengan pelayan di depan pintu.
"Tuan," sapa pelayan menunduk hormat pada Rian.
"Jangan bangunkan dia. Biarkan bangun sendiri. Buku-buku juga biar dia sendiri yang merapikan," pesan Rian.
Pelayan tersebut hanya mengangguk walau hatinya ingin bertanya.
Rian kembali melangkah, menuju garasi di mana mobilnya berada.
__ADS_1