Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 173


__ADS_3

***


Setibanya di negara mereka, Bangtan Boys segera menaikki mobil yang ditugaskan untuk menjemput mereka. Kondisi tak heboh sebab setiba turun dari pesawat, letak mobil yang Karina tugaskan hanya terletak beberapa meter saja.


Waktu menunjukkan pukul 16.30 waktu setempat, mobil yang membawa mereka segera melaju menuju kediaman mereka. 


***


Waktu berjalan begitu cepat. Tak dapat diubah ataupun diulang. Usia kandungan Karina sudah memasuki usia 16 minggu alias 4 bulan.


Untuk aktivas, Karina masih bekerja baik ke perusahaan langsung maupun di rumah, tak jarang jika senggang Arion membantu pekerjaan Karina di rumah. 


Untuk Joya, hidupnya sudah jauh berubah dari tiga bulan lalu. Kini Joya menjalani hidup yang bahagia bersama Darwis serta orang-orang di sekitarnya. Kabar bahagia pun datang dari Lila dan Raina.


Dengan kesungguhan, doa dan usaha akhirnya keduanya akan segera menjadi ibu. Usia kandungan Lila menginjak 1 bulan sedangkan Lila masih sekitar 3 minggu.


Tak hanya itu, Karina bersama Maria membahas lagi rencana mereka untuk menyatukan kembali hubungan antara kakek Bram dan Amri. Hal itu dikarenakan Nita yang sudah melahirkan satu bulan lalu. Hal ini direncanakan tanpa sepengetahuan Arion dan Amri.


Untuk Riri dan Faisal, mereka benar menikah keesokan harinya setelah acara BBQ-an di KUA dan resepsinya diadakan bersamaan dengan resepsi pernikahan Li dan Elina yang belum dilangsungkan.


Keduanya kini bekerja dalam satu rumah sakit, apalagi kalau bukan Tirta Hospital. Tak jarang mereka melakukan operasi bareng sebab keahlian di bidang yang sama.


Lalu bagaimana dengan Siska dan Faisal? Mereka masih dalam proses menuju pernikahan, rencananya dua minggu dari sekarang. 


***


Selepas shubuh, Karina langsung membuka laptopnya, memeriksa perkembangan pencarian kelompok Robetto yang masih Karina khawatirkan akan kembali mengusik kehidupannya yang tenang. 


Arion juga ikut memeriksa persiapan berkas yang diperlukan untuk meeting di jam 08.00 nanti. Keduanya tenggelam dalam fokus masing-masing.


Kemana sih mereka bersembunyi. Hilang bak ditelan bumi. Gak ada kabar atau tanda-tanda kehadiran mereka. Atau … mereka sudah koid ya? Hmm, aku harus pikirkan kembali tempat yang cocok bagi kelompok bisa berkilau itu sembunyi, batin Karina kesal. Ia lantas menutup handphone-nya dan melihat jam di tangan.


"Pukul 06.00," gumam Karina. Karina mengalihkan perhatiannya pada Arion yang duduk di tepi ranjang, memakai kacamata dan masih memeriksa berkas. 


Karina berdiri dari kursi meja belajarnya dan menghampiri Arion.


"Serius sekali kamu memeriksanya, meeting dengan siapa rupanya?" tanya Karina duduk di samping Arion dan menilik apa yang Arion baca.


"Hm meeting dengan Kusuma Grup. Proyeknya cukup besar jadi gak boleh ada kesalahan dalam meeting nanti," jawab Arion. Telah selesai memeriksa lembar terakhir dan meletakkan berkas di atas nakas.


Karina hanya ber-oh-ria. Arion kemudian menatap Karina serius. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Karina menyipitkan matanya melihat tatapan Arion.


"Kenapa kamu lihatin aku begitu? Mau aku cucuk tuh mata?" tanya Karina ketus, risih dengan tatapan Arion. Arion mencembikkan bibirnya.


"Bukan gitu, Yang. Aku lihatin kamu sebab aku merasa kamu agak gendutan, kandungan kamu juga kelihatan lebih besar dari normalnya usia 4 bulan," jelas Arion tersenyum.


Karina mengerutkan dahinya dan melihat dirinya sendiri. Ia berdiri dan berjalan menuju kaca. Memutar-mutar tubuhnya untuk memastikan ucapan Arion. Arion malah tertawa melihatnya. Tingkah Karina lucu menurutnya.


"Iya-ya, aku memang gendutan. Perasaan dulu aku makan banyakpun gak segendut ini, pipi aku juga tambah," ujar Karina dengan gaya berpikirnya.


"Kamu kan hamil Sayang. Usia kandungan sudah 4 bulan masa' kamu lupa." Arion bangkit dan berjalan menghampi

__ADS_1


ri Karina. Memeluk Karina dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di perut Karina, mengusap lembut perut Karina.


"Gak lupa sih, tapi baru nyadar saja. Hm benar juga sih kamu, perut aku sudah seperti usia kandungan lebih dari 4 bulan. Apa mungkin aku hamil anak kembar?" heran Karina melihat perutnya.


"Bisa saja, tapi kalau benar iya, sungguh bahagia sekali rasanya. Sekali buka langsung keluar dua," ucap Arion mencium pipi Karina.


Keduanya memang belum pernah melakukan USG, alasannya Karina selalu menolak dengan berbagai alasan.


"Kalau begitu berarti aku akan menuruni faktor keturunan ayah dan ibuku yang memiliki anak kembar. Kedua kakakku kembar," ucap Karina, memejamkan matanya, berdoa untuk kebahagian keluarganya di alam sana. 


Dahi Arion mengeryit. Tak lama wajahnya berubah menjadi sedih. 


Karina yang telah membuka mata, bingung dengan wajah sedih Arion yang ia lihat dari cermin.


"Kamu kenapa sedih? Apa aku salah ngomong atau kamu teringat sesuatu yang menyedihkan?" tanya Karina.


"Aku sedih karena kamu tak kunjung memenuhi janji untuk membawaku menziarahi makam orang tuamu serta saudaramu. Aku bahkan baru tahu mereka itu kembar," jawab Arion. 


Karina terdiam. Ingatannya kembali pada permintaan Arion waktu di taman kota. 


Tak lama Karina menghembuskan nafas.


Sudah tak ada alasan lagi untuk merahasiakannya. Lagipula dendamku telah usai dan urusanku mengenai kematian mereka juga telah selesai. Semua pelakunya mati di tanganku, batin Karina.


"Kalau begitu kita ziarah hari minggu bagaimana?" tanya Karina.


Wajah Arion langsung sumringah. Jika Karina sudah setuju berarti urusan Karina sudah selesai. Arion mengangguk dan kembali mencium pipi Karina.


"Baiklah aku setuju," jawab Arion.


"Nah sekarang ayo kita bersiap untuk berangkat ke kantor, lihat sudah jam 06.30," ujar Karina. Arion setuju. Keduanya segera bersiap. 


Pukul 07.00 keduanya menuruni tangga dan menuju meja makan. Sarapan dalam keheningan. Diakhiri dengan tenggakan tandas susu kehamilan untuk Karina.


Kini keduanya melangkahkan kaki berbarengan menuju depan rumah. Di sana sudah menunggu manis dua buah mobil.


"Jangan terlalu lelah bekerjanya. Jika kamu merasa lelah istirahat dulu. Aku tahu kamu punya daya tahan tubuh yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku tak bisa melarangmu bekerja walaupun sebenarnya kau tak perlu bekerja. Akan tetapi kamu bukan karyawanku melainkan CEO dari sebuah perusahaan raksasa. Sebagai suamipun aku tak bisa memaksakan kehendakmu. Selagi kamu masih berkata bisa maka aku akan percaya kamu bisa dan mampu," ucap Arion panjang lebar memegang kedua tangan Karina. Karina hanya tersenyum tipis.


"Kandungan ini tidak memberiku rasa lelah Ar. Yang ada hanyalah rasa bahagia dan fit setiap hari. Aku lebih bersemangat bekerja sebab selalu ditemani oleh calon anak kita ini. Setiap aku merasa lelah, aku akan mengusapnya, itu memberiku semangat. Aku akan berhenti berangkat ke kantor jika aku merasa repot dengan kesana kemari dengan perut besar ini, okey?"


Karina tahu betul kekhawatiran Arion. Tapi ia juga tak bisa pisah dari yang namanya pekerjaan. 


"Baiklah aku percaya. Jangan lupa nanti aku akan jemput kamu buat check up bulanan sekalian USG, aku penasaran dengan dugaanku tadi." Arion mengusap rambut Karina. Karina mengangguk.


Karina segera mencium tangan kanan Arion. Sopir Arion yang sudah berdiri dengan kaki goyang sana goyang sini dengan tangan memegang pintu yang terbuka langsung tegap kala Arion masuk ke dalam mobil.


Dengan cepat sopir Arion tersebut menutup pintu untuk Arion dan berlari kecil menuju kursi pengemudi.


"Hati-hati di jalan," ujar Karina.


"Kamu juga," sahut Arion.

__ADS_1


Setelah mobil Arion hilang dari gerbang, barulah Karina masuk ke dalam mobilnya. Pak Anton dengan segera melajukan mobil meninggalkan kediaman Karina menuju Gedung pusat KS Tirta Grub.


Sepanjang perjalanan, Karina tenggelam dalam pemikirannya. Ia masih memikirkan di mana kiranya kelompok itu bersembunyi.


Markas, di mana lagi markas mereka selain yang sudah diketahui? Ayolah Karina ingat!


Karina berusaha mengingat kejadian dan pembicaraan penting yang ia dengar sewaktu diculik dulu.


Pak Anton ikut mengeryit melihat Karina yang berpikir keras. Ia sedikit was-was dengan Karina.


"Non," panggil Pak Anton.


Karina hanya bergumam sebagai jawaban. Pak Anton menghela nafas dan mengumpulkan keberanian untuk bertanya kembali.


"Non lagi berusaha mengingat tentang apa? Sepertinya sangat serius dan juga penting," tanya Pak Anton. Karina tersenyum.


"Tentang siapa yang menculik saya dulu Pak. Bapak pasti tahukan siapa mereka, ternyata pimpinannya berhasil kabur dan kini entah bersembunyi di mana, saya khawatir mereka akan kembali datang dan mengganggu ketenangan saya Pak," jawab Karina.


Memang benar, Pak Anton telah bersama Karina sejak 20 tahun silam. Lebih tepatnya dari usia 20 tahun ia sudah bekerja sebagai sopir Pak Arsuf. Kini usianya Pak Arsuf menginjak usia 40 tahun.


Pak Anton ikut mengingat, siapa tahu saja ada sisa kejadian yang menempel di ingatannya.


"Non, saya dulu sepertinya pernah lihat kertas hasil penyelidikan Papa Non, nah di situ ada tertulis markas mereka di amazon namun kemudian dihempaskan sebab tidak ada bentuknya di lapangan. Mereka kira itu cuma sebatas kecohan," terang Pak Anton serius. Karina berpikir sejenak meresapi keterangan Pak Anton.


"Benar juga Anda Pak. Bisa jadi mereka di sana. Saya akan mengirim tim pencari terbaik ke sana."


Karina tersenyum penuh arti. Ia mengambil handphone-nya dan menghubungi seseorang. Setelah Karina menyampaikan perintah, Karina menghela nafas lega.


"Terima kasih Bapak telah memberikan masukkan yang cukup menjanjikan," ujar Karina.


Pak Anton tersenyum dan merasa sangat bahagia.


"Sudah tugas dan kewajiban saya Nona," jawab Pak Anton.


Setibanya di kantor, Karina langsung menuju lift khusus untuknya. Karina menekan lantai di mana ruangannya berada. 


Di depan ruangannya Lila dan Raina langsung membungkuk hormat ketika Karina tiba di depan mereka.


"Mana Aleza dan Sasha?" tanya Karina yang menemukan meja kedua orang itu kosong tak berpenghuni.


"Mereka melanjutkan tugas yang Anda berikan semalam Nona," jawab Lila.


"Oh." Karina langsung masuk ke dalam ruangannya. Lila ikut masuk dan memberikan jadwal Karina hari ini. Karina membacanya sekilas.


"Kosongkan jadwalku dari jam 02.00 sampai selesai jam kerja. Aku akan check up hari ini, sehabis check up aku akan langsung kembali ke rumah," titah Karina.


"Baik Nona," jawab Lila.


Karina melambaikan tangannya. Lila membungkuk kecil dan permisi keluar. Karina segera mengerjakan pekerjaannya.


Tatapannya sangat fokus pada layar monitor laptop, jarinya menari cepat di keyboard. Kacamata bertengger manis di hidungnya.

__ADS_1


Dengan durasi yang sama, Karina minum agar tidak dehidrasi dan kelelahan. Sesekali ia merenggakan tubuhnya dan mengusap lembut perutnya yang terbalut dress berwarna putih.


__ADS_2