
Agus memarkirkan mobil di parkiran khusus untuk pemilik restauran. Terdapat tiga tempat untuk parkir tiga mobil. Dua di antaranya sudah diisi oleh mobil, pastinya yang dipakai oleh Arion dan Amri.
Tak lama, Koya dan member lainnya datang menyusul.
"Oh ya hampir kelupaan," ucap Karina tiba-tiba. Ia kemudian menuju bagasi mobil dan membukanya.
"Apa ini?" tanya Agus
"Hadiah untuk kami kah?" terka Tata.
"Hm, ada tujuh, satu orang satu sudah sesuai dengan diri kalian masing-masing," ujar Karina.
"Kalau begitu, kami pindahkan saja ke mobil kami," ujar Mang. Semua member setuju.
"Ayo masuk," ajak Karina. Karina diikuti ketujuh pria itu masuk ke dalam restauran. Mereka masuk disambut dengan ucapan selamat datang dari para karyawan yang merupakan anggota Pedang Biru.
"Assalamualaikum," tutur Karina, menyapa anggota keluarganya yang telah berkumpul mengisi meja makan yang berbentuk persegi panjang, dapat menampung sekitar 15 orangan. Jika dipadatin 20 orang muat.
"Waalaikumsalam," sahut Arion dan lainnya. Karina langsung menyalami Arion, Amri dan Maria. Sedangkan ketujuh pria tampan itu hanya menundukkan kepala mereka.
"Halo," sapa mereka bertujuh.
"Hai," sahut Arion dan lainnya kecuali Karina. Karina langsung mengambil tempat duduk di samping Arion.
"Kuki, akhirnya kita berjumpa lagi," ucap Enji bangkit dan memeluk Kuki. Tak lupa melakukan aksi selebrasi khusus keduanya.
"Halo Bayu, kau tambah tinggi ya," ujar Chimmy mengambil posisi duduk di samping Bayu.
"Tentu Paman, namanya juga aku tumbuh dan berkembang. Bukan Paman yang tak bisa bertambah tinggi lagi, usiamu itu sudah 25 tahun lebih, dan tulang itu bertambah panjang sampai di usia 18 tahun ke bawah," jawab acuh Bayu, meledek Chimmy yang memang anggota terpendek di boy band tersebut.
"Gak 18 plus ke atas? Kalau ke bawah gak seru yang seru ke atas," ucap Chimmy tersenyum manis.
"Sepertinya benar apa yang kau katakan dulu padaku, Gus."
Arion menoleh ke arah Agus yang dengan santainya mulai makan, disusul oleh Kuki.
Deheman Karina membuat mereka berdu berhenti makan dan menelan apa yang ada di mulut mereka.
"Sudah, lanjutkan nanti lagi, ayo makan siang dulu. Apa kalian tidak risih dengan suara perut yang digendang?" ucap Amri.
"Ya baiklah," sahut mereka semua.
Ferry, Maria suruh memimpin doa. Selesai berdoa mereka langsung mengucapkan selamat makan.
Hanya terdengar suara alat makan yang bersentuhan. Sekitar 20 menit kemudian, mereka tuntas menyelesaikan makan siang mereka. Seluruh sajian di atas meja ludes habis masuk ke lambung masing-masing.
"Aku yakin setelah diresmikan restauran ini akan ramai, apalagi kami yang mempromosikannya," ucap RJ puas dengan cita rasa makanan yang ia konsumsi.
"Lebih laris lagi jika kau yang memasaknya, adik kedua," sahut Arion.
"Sesekali bisa Hyung, masa' saya kerja part time, saya kan sudah bukan traine lagi, saya kan sudah jadi star world and world wide handsome sekarang dan selamanya," jawab Jin.
"Sekarang dan selamanya, beta yakin cuma ale yang terbaik, paling terbaik." Ferry malah nyanyi dengan suara falesnya.
"Berisik kak," keluh Bayu. Ferry menatap kesal Bayu.
"Hari Rabu kan peresmiannya?" tanya Agus.
"Aku masih heran, harusnya kan kemarin, mengapa ditunda? Ada masalah apa rupanya?" tanya Koya.
"Waktu berangkat kemari, di tengah jalan ada badai dan ikut menyambar pesawat kami. Untung saja kami semua selamat tanpa luka. Tapi kasihan pesawatnya hancur berkeping-keping," jawab Maria.
"Hah? Pesawat kalian meledak?" beo ketujuh orang itu bersamaan.
Amri menceritakan kronologinya sejenak. Setelah paham, akhirnya mereka mulai mengobrol lagi, membicarakan apa yang mereka lalui.
Sekarang waktu menunjukkan pukul 15.00, Blue Boys pamit untuk kembali ke dorm mereka. Sedangkan Karina dan keluarga masih berada di restauran.
"Hm, bagaimana jika jalan-jalan keluar?" Karina menaikkan satu alisnya mendengar saran Enji.
"Ah benar, mumpung jadwal kita free semua kan? Ar kamu sudah selesai untuk hari ini kan? Karina? Kamu bebas kan?"
__ADS_1
Maria menatap Arion dan Karina penuh harap.
"Ya sudah, ayo kita ke taman saja, atau ke pantai juga boleh," tutur Arion.
"Taman saja, ini musim semi jadi pastinya taman indah," ujar Karina.
***
Di taman kota, di bawah pohon yang tengah berbunga lebat, Nita dan kakek Bram serta anak mereka duduk dengan nyaman. Menikmati pemandangan bunga yang bermekaran, semilir angin dan orang-orang yang berlalu lalang. Mereka melakukan piknik sederhana. Di atas tikar plastik mereka duduk diremani bekal yang mereka bawa.
"Mas, Nita ke toilet dulu ya," pamit Nita.
Kakek Bram mengangguk.
"Jangan lama-lama," ucap kakek Bram.
Nita segera berdiri dan berjalan cepat menuju toilet umum. Sedangkan kakek Bram kembali bermain dengan Alia.
"Uwu ternyata walaupun usiaku sudah tua begini, tetap bisa menghasilkan anak secantik ini," gemas kakek Bram.
Alia tertawa melihat ayahnya. Kakek Bram terkesiap, tak lama ia tertawa. Tanpa kakek Bram sadari, tak jauh dari tempatnya, di balik sebuah pohon rindang dan cukup besar. Seseorang memakai hoodie hitam, menggunakan masker tersenyum sinis.
"Aku kehilangan mereka karena kau, maka aku akan mengambil anak dan istrimu, Bram Wijaya!"desisnya, melangkah pergi.
Sepuluh menit berlalu, Nita belum kembali. Kakek Bram mulai gelisah.
"Lama sekali Nita, perasaan toilet kan gak jauh dari sini," gumam kakek Bram melempar pandang ke arah ke mana Nita tadi pergi. Kakek Bram mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Nita.
"Ck, nyambung tapi gak diangkat, kemana sih dia," gerutu kakek Bram.
Kakek Bram lantas menghubungi seseorang.
"Kalian di mana? Cepat periksa seluruh toilet taman ini, temukan istriku!" titah kakek Bram. Setelah mendapat jawaban baik, kakek Bram mematikan panggilan dan menghela nafas pelan.
"Andai saja Oaska masih seperti dulu, pasti tak akan ribet begini," gumam kakek Bram. Matanya menyiratkan kesedihan.
Fokus kakek Bram teralihkan oleh suara tangis Alia. Kakek Bram mulai panik, ia segera memeriksa Alia yang tiduran di atas tikar.
Akhirnya karena kasihan dan khawatir bersamaan, kakek Bram mengganti sendiri pempes Alia. Membuka pempes yang Alia gunakan dengan hati-hati.
"Ganti dulu baru ini dibuang." Kakek Bram meraih tas tempat barang-barang untuk Alia. Mencari pempes dan memakainyanya.
"Benar gak nih ya? Kayaknya begini deh, hm, ya Nita pernah sekali ngajarin aku waktu dia masih hamil."
Kakek Bram tersenyum. Tangis Alia tak kunjung berhenti walaupun sudah berganti.
Kakek Bram menggerut heran. Ia kembali teringat Nita yang kunjung kembali. Dengan berat hati, kakek Bram beranjak untuk membuang pempes Alia di tong sampah yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada.
Saat hendak berbalik, ada yang memanggil kakek Bram. Dua orang berbadan kekar menghampirinya.
"Tuan, kami tak menemukan Nyonya di manapun, tapi kami menemukan handphone beliau tak jauh dari toilet," ujar seorang pria berambut gondrong berumur kurang lebih 40 tahunan. Menyodorkan sebuah ponsel pada kakek Bram.
"Maksudmu, istriku diculik?" terka kakek Bram.
"Kemungkinannya Tuan," jawab pria berambut cepak.
Kakek Bram mengepalkan tangannya emosi. Ia mengeraskan rahangnya.
"Oek!" Suara Alia memekik, membuat ketiga orang itu melihat ke arah sumber suara.
"Alia/Nona!" pekik kakek Bram dan kedua pria itu melihat Alia tak berada di tempat dan dibawa lari oleh seseorang.
Mereka segera mengejar orang yang membawa Alia lari. Karena faktor usia, kakek Bram baru sebentar saja, nafasnya sudah terasa tersenggal.
Ia meletakkan kedua tangannya di kedua lututnya dan menatap ke depan. Masih terlihat kedua orangnya berusaha keras mengejak penculik Alia.
"Aku harus bisa, ayo Bram!"
Kakek Bram berusaha lari lagi. Tak terasa kini ia sudah berada di luar taman. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Nafasnya semakin ngos-ngosan. Kakek Bram memutuskan duduk sejenak di halte tak jauh darinya.
Siapa yang menculik anak dan istriku? Aku kan tak punya musuh di sini? Mafiaku juga tak punya cabang di sini? Masa' iya dari negara B dia jauh-jauh kemari buat nyulik mereka? batin kakek Bram, merasa bingung.
__ADS_1
"Kakek minum dulu, saya lihat kakek sangat gelisah," ujar seorang wanita paruh baya menyodorkan botol air mineral yang masih disegel.
"Ah terima kasih," ucap kakek Bram, segera menenggaknya. Lima menit kemudian, kakek Bram merasa sudah mendapatkan tenaganya kembali.
Kakek Bram pamit dan berniat untuk kembali ke hotel tempat ia menginap. Letaknya tak terlalu jauh dari tempat ia berada kini.
Kakek Bram berdiri dan hendak menyebrang jalan.
Karena kurang waspada, atau bagaimana, kakek Bram tak menyadari bahwa ada sebuah mobil melaju kencang saat ia menyebrang.
"Ar, lihat depan!" pekik Karina. Mata Arion membulat dan segera menginjak rem. Rem mendadak itu membuat mobil yang dikemudikan Amri dan Ferry pun ikut rem mendadak dan nyaris bertabrakan satu sama lain.
Bruk!
Mobil menabrak kakek Bram, walaupun pelan mampu membuat kakek Bram terjerambak ke belakang dan tak sadarkan diri.
"Astaga, nabrak kan jadinya."
Karina menetap kesal Arion dan segera keluar mobil. Orang-orang yang berada di sekitar mulai berkerumun. Arion menetralkan debar jantungnya dan segera menyusul Karina. Amri dan lainnya meminggirkan mobil mereka dan menghampiri Karina dan Arion dengan wajah cemas.
"Kasihan sekali dia," ucap ibu-ibu yang memberi kakek Bram minum tadi.
Mata Karina dan Arion membulat bersamaaan melihat siapa yang mereka tabrak.
"Kakek!"
Dengan cepat Arion mendekati kakek Bram yang tak sadarkan diri dan memanggku kepalanya.
Karina mengeryit dan mengedarkan pandangannya.
"Astaga, bagaimana bisa?" Amri dan Maria membekap mulut mereka sendiri.
"Ayo cepat ke rumah sakit," ucap Amri, mendekati kakek Bram, dibantu oleh Ferry, mereka memasukkan kakek Bram ke mobil Karina.
"Luar biasa, cucu menabrak kakeknya sendiri," komentar orang-orang yang melihat itu.
Dengan segera ketiga mobil itu melesat menuju rumah sakit terdekat. Amri memangku kepala ayahnya, raut wajah khawatir terlihat jelas di wajahnya.
Karina diam saja menatap ke depan. Arion sibuk menyalip mobil atau kendaraan yang memperlambat jalannya.
Ke mana Nita dan anaknya? batin Karina.
"Berarti apa yang Papa lihat tadi memang mereka, tapi di mana pelayan dan anaknya itu?" tutur Amri, mengangkat pandangannya.
"Jadi Papa lihat mereka?" tanya Arion.
"Iya tadi waktu di lampu merah, ck pasti dia sibuk sendiri dan melupakan ayah," kesal Amri pada Nita.
"Jangan buruk sangka dulu, Pa," ucap Karina tegas.
"Gimana gak buruk sangka, sudah tahu suaminya ini renta, malah dibiarkan pergi sendiri, dasar istri gak becus!" sahut Amri.
Karina dan Arion saling lirik dan menghela nafas.
Suara dering handphone terdengar. Ketiga orang itu menggeleng, itu bukan nada dering mereka. Pandangan Amri tertuju pada saku celana kakek Bram. Ia menggerakkan tangannya untuk memeriksanya.
"Pengawal 1?" gumam Amri. Amri segera mengangkat panggilan itu.
"Halo Tuan, maafkan kami Tuan, kami gagal mengejar dan menyelamatkan Nona, Tuan. Kami kehilangan jejaknya," lapor pengawal takut. Amri mengernyit.
"Maksudmu anak dari pelayan itu diculik?" tanya Amri serius.
"Anda siapa? Di mana Tuan saya?" tanya pengawal 1 tegas.
"Aku anaknya pertamanya, sekarang jawab pertanyaanku, apa yang terjadi?" tanya Amri tak sabar. Pengawal 1 segera menceritakan apa yang terjadi pada ayahnya tersebut.
Amri membulatkan matanya tak percaya. Setelah panggilan berakhir, ia menampilkan raut wajah bersalahnya.
"Tuh kan, Karina bilang jangan buruk sangka dulu," ujar Karina.
"Tapi siapa yang menculik mereka? Dan apa motifnya? Kita harus mencari tahu," timpal Arion.
__ADS_1
"Ya, kalian benar," sahut Amri. Kini hatinya menjadi tidak karuan. Amri kembali menatap wajah kakek Bram, kemudian melemparkan pandang melihat bangunan di sisi jalanan.