Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 237


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan tengah malam, 00.00. Akan tetapi, mata Karina dan Arion tidak mau diajak kompromi untuk tidur. Awalnya mereka sudah mulai terlelap setelah kembali dari dinner mereka. Akan tetapi, Sam membuat mereka terbangun. 


Flashback on.


Setengah jam kemudian, Sam memberhentikan laju mobilnya di depan gerbang kediaman Karina. Kediaman tampak sepi, wajar saja, sudah banyak yang tidur, jikapun ada hanyanya penjaga gerbang. Sam membunyikan klakson mobilnya berulang kali. Tak ada sahutan dari dalam. 


Sam kesal, ia tetap menekan klakson. Beberapa saat kemudian, ada sahutan.


"Dengan siapa? Ada keperluan apa malam-malam membuat keributan di depan kediaman kami?" tanya galak penjaga gerbang kediaman Karina. Sam menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya.


"Aku ingin bertemu dengan Karina. Ini sangat mendesak. Tolong bukakan gerbangnya," sahut Sam tegas. Penjaga gerbang yang hanya menampakkan kepalanya, menatap curiga Sam. 


"Tidak bisa, saya tidak bisa membiarkan Anda masuk. Nona dan Tuan sudah tidur. Besok saja kembali lagi!" tolak tegas penjaga gerbang.


Sam menggeleng dan terus menekan klaksonnya. Penjaga itu meneriaki Sam agar berhenti, akan tetapi Sam membandel dan tetap menekan klaksonnya.


Akibat perbuatan mereka, para pelayan Karina terganggu dan dengan mata mengantuk menuju gerbang. Kecuali sang pemilik rumah, sebab kamar mereka dilengkapi peredam suara. 


"Ada apa ini?" tanya Pak Anton serak.


"Ada yang mau bertamu Pak, saya tidak berani membuka gerbang. Takut Nona dan Tuan terganggu istirahatnya," jelas Penjaga gerbang.


"Siapa memangnya?" tanya Bik Mirna. Penjaga gerbang itu menggeleng.


Pak Anton melihat siapa yang datang dan menyebabkan keributan.


"Bukankah dia Tuan Sam? Mau apa malam-malam begini bertamu?" gumam Pak Anton heran.


Pak Anton kembali menoleh kepada penjaga gerbang dan memintanya untuk membuka pintu gerbang berwarna biru itu.


Pak Anton penasaran apa alasan Sam. Suara klakson berhenti dan suara mobil terdengar menjauh. Sedetik lagi gerbang terbuka, malah gerbang biru itu terguncang seakan baru ditabrak.


Yap, Sam yang kalut menabrakkan mobilnya ke gerbang, berharap gerbang itu terbuka. Pak Anton dan lainnya terkejut dan menjauh. 


"Cepat buka gerbangnya!" seru Pak Anton.


Hatinya mendongkol pada Sam. Habislah, bakalan marah Karina ini. 


Setelah gerbang terbuka, Sam mengemudi masuk dengan bomper mobil bagian depan yang lecet. Pak Anton dan lainnya, kecuali Bik Mirna malah melihat kondisi gerbang yang ditabrak.


"Lecet?"


Pak Anton dan lainnya saling melempar pandang.


"Sepertinya besok akan ada gerbang baru," ucap mereka serempak dengan wajah kusut.


Penjaga gerbang kembali menutup gerbang. Pak Anton dan lainnya segera kembali ke kamar masing-masing. Penasaran, tapi ditahan.


Bik Mirna mempersilahkan Sam masuk.


"Ada perlu apa Tuan tengah malam begini berkunjung?" tanya sopan Bik Mirna.


"Saya perlu bertemu dan berbicara dengan Karina," jawab Sam serius.


"Tapi sepertinya Nona sudah tidur. Saya tidak berani membangunkannya. Lebih baik Tuan kembali besok saja. Atau Tuan menginap di sini dan menunggu esok tiba," saran Bik Mirna.


"Tidak! Saya harus berbicara malam ini juga. Tolong, ini demi masa depan saya. Jika Anda tidak berani membangunkannya, saya yang akan membangunkan Karina. Tunjukkan di mana kamarnya!" tolak tegas Sam. Tangannya berada di pundak Bik Mirna dan menatapnya penuh harap.


Bik Mirna melirik pundaknya kemudian menghela nafas. Bik Mirna menerka dalam hati, ini adalah masalah rumah tangga Sam dan Lila, akan tetapi untuk apa Nonanya dibawa-bawa? Apa hubungannya? Apa karena Karina adalah atasan Lila?


"Tunggulah di sini sebentar. Saya akan mencoba membangunkannya," tukas Bik Mirna membuat Sam mengembangkan senyum dan memeluk Bik Mirna. 


Bik Mirna segera menaiki anak tangga menuju kamar Karina. Sedangkan Sam, duduk sembari mengumpulkan keberanian. Rasanya bak kerupuk disiram air, melempem.

__ADS_1


Sam tadi sangat berani di gerbang, sekarang ia mirip seorang terdakwa yang hendak diadili. Tapi, itu bukan masalah, bagaimanapun caranya, apapun itu akan ia lakukan demi kembali bertemu dengan Lila.


Lima belas menit kemudian, Bik Mirna kembali turun disusul oleh Karina dan Arion. Wajah Karina  dan Arion tampak mengantuk dan kesal bersamaan. Keduanya menatap Sam tajam. Dengan tak bersahabat, keduanya duduk dan melipat tangan di atas paha.


"Mengapa kau mengganggu tidurku?" ketus Karina.


"Aku ingin bertanya dan mengetahui sesuatu," jawab Sam menatap Karina.


"Bukankah bisa esok pagi, kau mengganggu waktu kami Sam!" kesal Arion, meraih bantal dan meletakkannya di paha.


"Apa yang ingin kau tanyakan? Cepatlah sedikit!" ucap tegas Karina. 


"Di mana Lila?" tanya Sam serius.


Karina menyipitkan matanya sesaat sedangkan Arion menggelengkan kepalanya pelan. 


"Bukankah dia istrimu? Mengapa bertanya padaku? Oh, aku tahu Lila pasti kabur karena kau selingkuh kan? Dasar buaya!" cibir Karina. Arion menyenggol Karina. Sam menunduk. 


Karina melirik Arion.


"Sayang, kamu kan tahu kebenarannya? Mengapa harus mencibir Sam?" bisik Arion. Karina hanya mendengus sebagai jawabann.


"Andai saja Arion tidak menjelaskan kebenarannya, sudah ku ledakkan rumah dan perusahaanmu!" ketus Karina.


Sam diam tidak menjawab, tetapi matanya menatap Karina penuh harap. Tampak penyesalan di netranya, ada rindu juga di saja. Rasa takut pun ikut masuk. Karina menghela nafas kasar dan menatap datar Sam.


"Aku tidak tahu di mana Lila," ucap Karina.


"Kakak, aku mohon bantulah diriku. Apapun akan ku lakukan asal kamu membantuku. Kakak, aku harus menyelamatkan rumah tanggaku. Aku mohon."


Sam menangkupkan kedua tangannya di dada. 


"Jika Karina mengatakan tidak tahu, ya tidak tahu. Kamu kira istriku berbohong dan menyembunyikan keberadaan Lila?"


Arion angkat bicara. Sam menatap Arion, berharap Arion mau membantunya.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kakak ipar memberitahuku!" tolak tegas Sam. 


Karina menatap acuh itu. 


"Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan Lila? Meminta maaf? Menjelaskannya? Memohon dan merengek, atau membawa paksa?"


Sam terdiam sejenak. 


"Itu urusanku kakak. Yang jelas, aku tidak akan menyakitinya," jawab mantap Sam. Karina tersenyum sinis.


"Kalau begitu, itu juga bukan urusanku. Pergilah. Lila ada di tempat yang aman." Karina beranjak dan berjalan menuju tangga.


"Tunggu!" Sam berdiri dan mengejap Karina. Tepat di anak tangga pertama, langkah Karina terhenti dan membalikkan badannya.


"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah mengusirmu?" tanya datar Karina.


"Kakak tahu kan di mana Lila? Aku mohon kak, katakan padaku. Aku bersedia melakukan apapun, kau mau nyawaku, silahkan. Kau mau sahamku, ambillah. Tapi, biarkan aku bertemu Lila dan calon anakku," pinta Sam, memegang harap tangan Karina. Arion yang masih duduk, hanya menonton. Sembari menahan kantuknya, Arion mengetuk-ngetukkan jarinya ke bantal.


"Cari sendiri! Satu hal lagi, camkan kata-kataku. Aku tidak butuh uang, nyawa ataupun harta bendamu yang lain. Aku hanya mau kau membahagiakan Lila, kau tidak bisa lepaskan saja!"


Karina tetap menolak dengan ekspresi dinginnya. Arion menghembuskan nafas kasar. 


"Aku tidak akan pergi sebelum kau memberitahuku!"


Sam kekeh, tak takut dengan aura kesal Karina. Karina melepas pegangan tangan Sam.


"Keringat sendiri lebih nikmat daripada keringat orang lain. Carilah sendiri, atau kau memilih mati," gertak Karina.

__ADS_1


Sam terkesiap, ia mengerjap. Batinnya berkelut. Akhirnya dengan berat hati Sam membalikkan badannya. Karina juga berbalik dan melangkah naik. Arion berdiri dari tempatnya dan berjalan menghampiri Sam. Wajah Sam sendu dan galau.


"Pulanglah dulu, aku akan berusaha membujuknya," ujar Arion menepuk pundak Sam. Sam menatap Arion sejenak dan mengangguk.


"Baiklah," jawab Sam, melangkah keluar. Arion menyusul Karina.


Saat memasuki kamar, Arion mendapati pintu balkon terbuka. Arion melangkah menuju balkon dan melihat Karina yang berdiri dengan tangan bertumpu pada pembatas. Pandangan Karina ke bawah. Arion mengambil tempat di sisi Karina.


"Mengapa kamu menyulitkannya? Kamu mau membuat masalah ini berlarut-larut? Sayang, bukan hanya Sam yang terluka, Lila juga. Bukan satu orang yang rindu, mereka satu bagian yang terpisah, cepat atau lambat akan bersatu juga. Berikan Sam kesempatan untuk menemui Lila. Bagaimana hasilnya, merekalah yang memutuskan, bukan kita. Aku tahu kamu kesal dengan Sam, tapi mereka berdua yang tersiksa Karina," ujar Arion menatap wajah Karina dari samping.


Karina tidak menyahut. Tatapannya berganti menatap bumi lalu menghela nafas.


"Sam," panggil Karina lantang, melihat Sam yang hendak masuk ke mobil. Sam terlihat mencari asal suara, lalu mengangkat kepalanya ke atas.


"Ya," sahut Sam.


Karina tampak melempar sesuatu ke bawah. Sam sigap menangkapnya. Saat benda yang dilempar Karina ia dapatkan, senyum cerah ia kembangkan. Ia kembali menaikkan pandangannya, menatap Karina yang menampilkan raut datar. Arion merangkul pundak Karina.


"Kakak, terima kasih! Aku akan melakukan yang terbaik!" teriak Sam bahagia. 


"Hm, jangan lupa ganti rugi pintu gerbangku yang kau tabrak. Transfer saja ke rekeningku. Bye!"


Setelah mengatakan itu, Karina berbalik dan masuk ke kamar. Arion mengangkat tangannya menyemangati Sam. Sam menyambutnya dengan anggukan mantap. Segera, ia masuk mobil dan melaju meninggalkan kediaman Karina dan Arion.


*


*


*


"Sam sialan!" gerutu Karina.


Karina akan sulit tidur lagi jika sudah tidur namun tiba-tiba terbangun atau tidurnya diganggu. Arion yang menjadi tempat bersandar Karina, tersenyum menanggapinya walaupun sebenarnya ia kesal. Tangan kanannya menepuk-nepuk pelan pundak Karina.


"Bagaimana jika kita mengobrol ringan? Mungkin bisa membuatmu kembali tidur," saran Arion. Karina menatap manik mata Arion dengan tatapan tak percaya. Namun, maka Arion menatapnya meyakinkan, dengan ragu Karina mengangguk.


"Aku ingat Li, Gerry, Darwis, Rian dan Satya pernah memberitahuku mengenai penyakitmu. Boleh aku ajukan pertanyaan?" ujar Arion mengawali obrolan. 


"Oh, tanyakanlah. Apa yang ingin kamu ketahui," sahut Karina santai.


"Mereka mengatakan bahwa penyakit jiwamu akan kambuh setahun setahun, enam bulan sekali, bahkan kalau sampai kamu stress, bisa empat bulan sekali. Lantas, selama aku menikah denganmu, tidak pernah sekalipun kamu kambuh, atau kamu menyembunyikannya dariku dengan alasan pergi keluar negeri? Jawablah," ucap Arion penasaran.


Karina diam sejenak. Matanya menatap mata Arion. Bibirnya mengulas senyum tipis.


"Ku rasa juga begitu. Entahlah Ar, penyakit itu sudah tidak kambuh lagi saat aku menikah denganmu. Kalau tidak, kau pasti harus menyediakan seseorang atau beberapa untuk aku siksa. Kau tahu, saat kita bulan madu ke negara A. Ada satu malam aku membiusmu dan aku keluar untuk balas dendam. Saat itu jiwa psiskopatku datang. Terlebih saat aku melihat darah mereka keluar. Sayang sekali rasanya tidak enak. Oh ya, apa kau tahu juga aku suka menyicipi darah musuh? Sayangnya dulu aku tidak sempat menyicipi darahmu, darahmu pasti manis kan? Dari semua musuh, darah Rezalah yang paling enak. Hehehe."


Dengan santainya Karina bercerita, tanpa melihat raut wajah Arion yang ngeri-ngeri sedap.


"Kau vampire kah?" tanya Arion spontan.


"Sembarangan! Aku hanya menjilatnya, bukan mengisapnya!"


Karina mendelik kesal pada Arion.


"Darimana kamu bisa melakukan hal itu?"


Arion cukup terkejut dengan kejujuran Karina. Biasanya, orang mati-matian menutupi masa lalu yang kelam atau kelakuan buruk mereka, ini malah santai bak hal itu sudah biasa dan lazim.


"Sejak masa penculikan itu. Percayalah, insiden itu mengubah hidupku," jawab Karina, bersandar di dada Arion lagi dan memejamkan matanya.


"Kau tidak infeel denganku Ar? Tanganku ini bermuluran darah. Tubuh ini sudah merasakan rasanya sayatan pedang, peluru dan beragam senjata lainnya. Sejujurnya, banyak luka di tubuh ini, namun aku melakukan penambalan kulit sebulan sebelum kita menikah. Apakah aku juga cenayang? Saat melakukan penambalan, akupun tidak tahu alasannya," tutur Karina.


Hati Arion berdenyut sedih. Satu lagi ia tahu tentang masa lalu Karina. Ternyata masih banyak yang ditimbun Karina.

__ADS_1


"Sayang, sekarang semua itu akan ku timbul dengan kebahagiaan. Aku akan menghapus semua kenangan burukmu. Tahukah dirimu, ketidaklazimanmu adalah daya tarik sendiri. Tidak peduli seburuk apapun dirimu, kamu tetaplah pemilik hatiku," tutur Arion sendu, mengecup kening Karina.


Terdengar suara dengkuran halus, Arion terkekeh tanpa suara dan ikut memejamkan mata.


__ADS_2