
Mira duduk di ranjang dengan menekuk lutut, pandangannya terfokus pada pintu kamar. Tatapan matanya tidak sabar, ia bosan menunggu Gerry di kamar ini.
Semenjak pamit untuk menyelesaikan pekerjaan seusai magrib tadi, Gerry sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya pada Mira.
Mira tidak berani keluar dari kamar Gerry ini, ia sebagai orang baru di markas Pedang Biru, takut tersesat di luasnya area markas.
Terlebih ia tahu, markas penuh dengan bahaya di beberapa sudut serta hewan penjaga yang dilepaskan di waktu malam. Lorong untuk bangunan ini juga sangat banyak.
Tadi sore, setelah mendarat di bandara, Karina dan Arion langsung pulang ke rumah, terlebih Pak Anton sudah stand by dengan si putih.
Li dan Elina pun bergegas pulang ke markas mengendarai mobil orange yang dibawa dari negara K.
Sedangkan Mira dan Gerry, menuju apartemen Mira menggunakan taksi. Sesampainya di apartemen Mira, Gerry segera membantu Mira membereskan barang - barang yang akan dibawa pindah ke markas.
Ternyata Mira adalah orang yang minimalis. Pakaian, beberapa tas, sepatu, high heels, serta buku kepunyaan Mira yang hampir satu koper.
Tanpa membuang waktu, seusai packing, Gerry dan Mira langsung menuju markas menggunakan mobil kepunyaan Mira.
Setibanya di markas, Gerry langsung membawa Mira menuju kamarnya. Sedang barang mereka, anggota yang membawa sampai depan kamar.
Mira cukup kaget dengan suasana dan kondisi kamar Gerry. Ia kira kamarnya memiliki kesan menyeramkan, serba hitam, gelap, dan tidak ada nuansa kehidupan.
Nyatanya, kamar Gerry sangat nyaman dan menenangkan. Dinding yang didominasi warna coklat muda, dengan ranjang berwarna ungu bercampur putih.
Dinding penuh dengan berbagai piagam, foto keluarga besar Pedang Biru, serta ada foto dirinya.
"Kamu … stalker aku?"tanya Mira penasaran menoleh ke arah Gerry.
Gerry yang sibuk menata pakaian Mira dan aksesoris di walk in closet mengangguk tanpa menoleh.
"Letakkan saja foto yang kamu bawa di tempat yang masih kosong, di atas nakas juga bisa," ujar Gerry.
"Hm."
"Kalian memang memajang foto Karina di kamar? Apa di kamar Li juga?"tanya Elina setelah mendapati di nakaspun ada frame foto Karina.
"Tentu," jawab singkat Gerry, mendekati koper berisi buku lalu membuka dan menyusun buku - buku itu di rak samping meja rias.
"Apa … para istri tidak cemburu?"
Mira sedikit cemburu melihat ada foto wanita lain di kamar Gerry. Katakan saja ia tidak mau mengerti atau egois.
Gerry menghentikan aktivitasnya dan menatap Mira dengan tatapan tidak suka.
"Karina … sudah bagaikan adik, kakak, malaikat serta Queen bagi kami. Jika para wanita kami cemburu dengan Karina, maka mereka tidak layak menjadi pendamping kami. Jadi … jangan pernah sekali kamu mengungkit mengenai foto - foto itu. Mengungkit dan memprotesnya sama saja membangkitkan amarah kami. Tidak masalah jika ini kamu katakan berlebihan, tapi bagi kami … ini biasa, dan menunjukkan rasa hormat dan sayang kami pada Queen," papar Gerry, dilengkapi dengan tatapan tajamnya.
Mira terkesiap, bulu kuduknya meremang, merasa Gerry menakutkan dan bukan Gerry yang ia kenal lembut.
Susah payah Mira mengangguk setelah menelan ludah. Gerry langsung tersenyum dan melanjutkan menyusun buku.
Ia memang mencintai Mira, tapi jika Mira menyinggung Karina atau menjelekkan, atau berbicara yang tidak sepantasnya, Gerry tidak akan pandang siapa Mira.
Mira lalu menatap foto Karina dengan pria yang ia kenal. Satya pun ada di dalamnya.
Gaun merah Karina sangat sangat menunjukkan wibawa dan kepemimpinan, belum lagi tatapan mata Karina tajam, walaupun hanya foto, mampu membuat takut siapa saja yang melihatnya.
Mira menghela nafas panjang.
"Cemburu padanya sama saja dengan aku mengantarkan nyawa. Karina adalah cahaya bagi kalian. Jika pun aku cemburu … aku akan cemburu … berapa beruntunglah Karina, mendapat perlindungan dari kalian semua. Tapi aku sadar, biarpun Karina terkesan mengatur kalian, ia tetap saja memikirkan kebahagiaan kalian. Aku sudah merasakannya sendiri. Maafkan aku yang membuatku marah tadi."
Mira mendekat pada Gerry, lalu menundukkan kepala.
Gerry yang baru saja selesai menyusun buku, menoleh ke arah Mira. Pria itu menyunggingkan senyum.
Dalam sekali gerakan, Mira kini berada dalam pelukan Gerry.
"Jangan lakukan lagi," ujar Gerry.
"Aku janji."
Gerry lalu melepas pelukannya.
"Ayo."
Gerry menggenggam jemari Mira.
"Kemana?"
"Berkeliling markas. Sekarang ini adalah rumahmu. Sebagai penghuninya sudah seharusnya kamu tahu tentang markas ini. Oh ya, kamu juga harus ngenalin kamar ini. Soalnya, semua kamar di sini sama seperti kamar hotel. Hanya status dan nomor kamar yang membedakan."
Mira mengangguk mengerti.
*
*
*
__ADS_1
Mira mendengus kesal. Ini adalah malam kedua mereka menjadi suami isteri. Ia ingin menghabiskan malam bersama Gerry.
Ya walaupun masih banyak malam yang akan mereka lalui bersama, tetap saja dirinya ingin bermanja dan nempel terus sama Gerry.
Suara pergerakan jarum panjang, berpindah detik demi detik adalah suara yang terdengar di kamar ini.
Saat Mira hampir terlelap, terdengar suara pintu dibuka. Refleks, Mira langsung duduk dan menatap lekat pintu.
Hatinya langsung menyeru senang melihat Gerry yang melangkah masuk, tak lupa senyum melekat di wajah suaminya itu.
"Mengapa malam sekali?"tanya Mira, duduk di pinggir ranjang.
Gerry tersenyum, mendaratkan ciuman di kening Mira.
"Libur dua hari sama dengan libur dua minggu Mir. Ini pusat organisasi. Banyak yang harus dikerjakan. Terlebih kejar target," jelas Gerry, duduk di samping Mira.
Mira langsung bersandar pada pundak Gerry.
"Pasti sangat melelahkan. Oh ya kamu sudah makan? Apa perlu aku membuatkanmu makan malam?"
Mira baru sadar, bahwa Gerry pergi tadi belum makan malam.
"Aku sudah makan," jawab Gerry.
"Syukurlah," ucap lega Mira.
"Kamu mengapa belum tidur? Menunggu diriku?"
"Hm. Aku merasa asing tidur di kamar ini, tanpa dirimu."
"Benarkah? Kalau begitu ayo tidur," ajak Gerry.
Wajah Mira yang semula sumringah, berubah menjadi kesal. Tentu saja Gerry heran.
"Mengapa?"
"Apa kamu tidak ingin segera menjadi ayah?"tanya Mira langsung.
Gerry mengerjap, pria itu terdiam dengan wajah yang masih terkejut. Bahkan bibir Gerry terbuka. Mira semakin kesal.
"Ger!"sentak Mira.
"Ah."
Gerry tersadar.
"Maksudnya … kamu hamil?"tanya Gerry tidak percaya.
Plak!
Bukannya jawaban ya atau tidak, malah pukulan keras di lengan yang ia dapat.
"Sakit Mir."
"Mana ada tebar semalam langsung jadi besoknya."
"Jadi belum?"
"Ya belum lah!"
"Terus kapan jadinya?"
"Kalau Tuhan memberi izin diiringi dengan doa dan usaha, mudah - mudahan cepat jadi."
"Jadi?"
"Jangan pura-pura enggak tahu. Kamu membuatku kesal. Mana mungkin pria sepertimu tidak mengerti hal ini," gerutu Mira, memalingkan wajah dengan bibir mengerucut.
"Oh. Sepertinya kini aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Gerry memegang lengan Mira dan dalam sekali tarikan, Mira kembali berada dalam pelukan Gerry. Tak sempat ia berontak, bibirnya dan bibir Gerry sudah bersentuhan, dan malam kedua pernikahan mereka pun berlangsung. Tak lupa, Gerry mengunci rapat pintu, serta mode kedap suara.
*
*
*
Alunan melodi piano yang menggambarkan kegundahan memenuhi setiap ruang di kamarnya.
Lampu kamar yang dibuat sedikit redup menambah kesan sedih, gelisah, serta harapan. Di atas ranjang, seorang pria berbaring dengan kedua tangan berada di belakang kepala.
Tatapan matanya tertuju pada langit - langit kamar. Giginya saling bergesekan, memikirkan sesuatu. Tak berapa lama, tatapannya beranjak menuju dinding, di mana tergantung beberapa foto.
Mengapa belum ada kabar juga? batinnya gelisah.
Pria itu kemudian duduk dan meletakkan bantal di pangkuannya. Pria itu memejamkan mata.
__ADS_1
Jika memang Bayu diculik, mengapa belum ada kabar dari penculiknya sampai saat ini? Atau bisa jadi penculiknya tidak mengharapkan tebusan? Sindikat penculikan anak?
Pria itu adalah Enji. Ini sudah dini hari, ia tidak bisa menutup mata untuk tidur barang sesaat.
Matanya memang tertutup, tapi pikirannya melayang, jiwanya mencari jawaban.
Tapi … itu juga meragukan. Anak itu selalu membawa senjata. Otaknya pasti tidak akan diam saat raga dalam bahaya. Aih … mau tidak mau aku harus menghubungi Kakak besok. Lebih baik kena omel seharian penuh daripada gelisah dan uring-uringan Bayu tidak diketahui rimbanya sekarang, pikir Enji kemudian membuka mata.
Pria itu mematikan tape lalu beranjak turun dari ranjang. Enji melangkah menuju dapur. Ia membuka lemari dan mengambil sebotol sampanye lalu duduk di meja makan. Enji mengambil gelas panjang lalu menuang sampanye.
Diminumnya perlahan, menenangkan hatinya yang gelisah. Enji minum ditemani keheningan malam, matanya mulai meredup. Gelagatnya sudah menunjukkan bahwa Enji mabuk.
Jika Bayu pergi dengan sukarela, melepaskan jam dan ponselnya, apa alasannya? Mengapa Bayu melakukan hal itu? Apa dia marah padaku?
Batin Enji masih bergejolak, ia menyenderkan kepalanya di atas meja. Tatapan matanya lurus menatap pintu kamar Bayu.
Tiba - tiba saja, dada Enji terasa sesak. Mata yang merah efek mabuk, bertambah merah oleh lonjakan kesedihan di hati.
Di luar terkaan dan rasa percaya dirinya, Enji merasa sangat kehilangan. Ia merasa ada yang kurang, sangat kurang bahkan. Apartemen ini serasa sangat sepi, serasa tidak lengkap.
Hari ini sangat buruk untuknya. Setitik kristal bening berhasil lolos dari kedua pelupuk mata Enji, mengalir menuruni pipi dan jatuh di atas meja.
Apa salahku? Apakah aku melakukan hal yang tidak Bayu sukai? Kenapa dia meninggalkan diriku? Kenapa Bayu pergi? Apakah Bayu mengaduh pada Kakak tadi? Mengapa firasat dan naluriku mengatakan Kakak yang membawa Bayu?
*
*
*
Arion membuka mata setelah alarm ponselnya berbunyi nyaring. Arion segera mematikan alarm dan merenggangkan tubuhnya.
Lampu kamar ia nyalakan, wajah tentram dan nyenyak Karina dan Bayu dapat ia lihat dengan jelas.
Arion tersenyum lebar, ia jadi teringat malam pertama Bayu menjadi adik Karina. Saat itu ia merasa bahwa akan sangat menyenangkan seandainya Bayu menjadi anaknya dan Karina.
Arion juga teringat saat ia ditolak oleh Karina saat mengatakan rasa suka pada Karina.
Kenangan manis sekaligus masam, ibarat anggur yang asam manis. Setelah melewati berbagai cobaan dan hari, tak terasa sudah bulan ketujuh kehamilan Karina. Aku berjanji, akan menjaga kalian dengan segenap jiwa dan ragaku. Semoga Tuhan selalu melindungi keluargaku, harap Arion.
Tangannya bergerak merapikan rambut Bayu yang menutup dahi, lalu beralih membelai lembut pipi Karina.
Merasa cukup mengamati wajah kedua orang itu, Arion turun ranjang dan bergegas mandi.
Seusai mandi, Arion mendapati Karina dan Bayu masih nyenyak tidur, padahal sebentar lagi waktu Subuh tiba.
Arion bimbang ingin membangunkan mereka atau tidak. Rasanya tidak tega membangunkan Karina yang tidurnya sangat nyenyak, juga Bayu. Ia tahu betul tadi malam Bayu kesulitan tidur.
Tapi … kewajiban tetaplah kewajiban, batin Arion.
Ia mendekati dan membangunkan Karina. Tidak sabar, Arion langsung saja mengecup bibir Karina. Secara sebelumnya Karina hanya menggumam dan mengerang.
Benar saja, mata Karina langsung terbuka dan mendorong wajah Arion. Arion terkekeh melihat wajah kesal bangun tidur Karina.
"Sudah Subuh. Ayo bersiap," ujar Arion.
"Hm."
Karina menggumam kesal dan langsung menyibak selimut dan turun dari ranjang menuju kamar mandi.
"Saatnya membangunkan anak ini," gumam Bayu.
Bayu menggeliat saat pipinya ditepuk dengan lembut. Ia memalingkan badannya dan menarik selimut. Arion mendengus senyum.
"Ayo bangun Bayu. Jangan tidur lagi, sudah Subuh loh," ujar Arion.
Bayu menjawab dengan gumaman.
"Bangun sendiri atau Kakak gelitikin ya," ancam Arion.
Bayu tidak bergeming. Arion berdecak sebal dan langsung menarik selimut Bayu dan menggelitik perut Bayu. Sontak, Bayu membuka mata disertai dengan tawa gelinya.
Ia berusaha untuk duduk dan menghindar dari Arion. Arion tetap menggelitik Bayu.
"Sudah Kak. Ampun … geli. Aku sudah bangun," pinta Bayu, memegang perutnya yang serasa kram.
Arion berhenti sembari mengatur nafasnya.
"Astaga! Mengapa kasur jadi kapal pecah?"pekik Karina kesal.
Bayu dan Arion menoleh ke sumber suara. Wajah garang Karina membuat keduanya takut dan segera membenahi ranjang dilengkapi dengan senyum mereka. Karina langsung duduk di sofa.
"Aku mandi akan segera mandi," ujar Bayu.
"Hm."
Arion melangkah duduk di samping Karina.
__ADS_1
"Aku sudah bisa membayangkan, betapa ramainya pagi di rumah ini setelah mereka lahir. Aku tidak sabar untuk itu," ucap Arion, mengusap perut buncit Karina.
"Ada Bayu saja sudah seramai ini, apalagi dengan hadirnya mereka. Aku juga sangat menantikannya. Sangat menantikan!"balas Karina.