
Di sinilah, di ruang kepemimpinanya, kini Karina berada. Karina menggoyangkan pelan gelas kecil berisi wine sembari menatap ramainya dan sibuknya kota. Semakin hari, kota semakin hidup dan sibuk. Jalanan selalu sibuk dan padat. Gedung-gedung tinggi berlomba-lomba dibangun.
Karina mendekatkan bibir cangkir ke bibirnya dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat mengalir di kerongkongan Karina.
Tatapan matanya, seperti biasa tajam, wajahnya datar. Setelah menikmati winenya, Karina melangkah dan duduk di kursi kepemimpinannya. Menatap datar laptop, serta dokumen di atas meja kerjanya. Jemari Karina kini menarik di atas keyboard.
Karina mendengus sebal setelah mencari apa yang ia inginkan. Bersamaan dengan itu, dering handphone-nya berbunyi, notifikasi email masuk ke handphone.
Karina mengabaikannya sejenak. Tatapan matanya menjadi dingin.
"Beruntung Syaka cerdik bisa menghindari mereka. Dasar scorpion sialan! Beraninya mengincar orangku! Cari mati!" desis Karina mengepalkan tangannya.
Ternyata, kematian orang tua Syaka adalah sebuah rencana, pembunuhan berencana. Pelakunya tak lain adalah musuh lama Karina, bintang berkobra, atau sebut saja scorpion.
"Tapi? Apa alasan mereka?" pikir Karina merasa bingung. Secara, Syaka bukanlah orang terdekatnya dan juga bukan anggotanya. Setelah umurnya 20 tahun nanti, baru Syaka sah menjadi anggota.
Kening Karina berkerut bertanda ia berpikir keras.
"Ataukah?" Karina menahan ucapannya. Matanya membulat seketika, dan senyum lebar tersemat di bibirnya.
"Mereka, mengakui dan tahu kemampuan Syaka. Aku memang tidak pernah salah memilih orang." Karina tertawa keras dan puas.
Okey, Scorpion adalah organisasi sindikat penculikan anak dulunya, anak-anak itu bukan untuk dijual, tapi dijadikan alat, anak dengan kualitas di atas rata-ratalah yang menjadi incaran mereka. Namun, itu terhenti saat mereka menculik Karina, kejahatan mereka berakhir berikut lepasnya Karina.
"Hoh, jadi mereka mau mencari seorang pewaris untuk mereka? Hm, sayangnya dia orangku. Kalian, tunggu saja kematian kalian dengan tenang. See you next time, Scorpion."
Karina lantas memalingkan wajahnya ke layar handphone yang masih menyala dengan wallpaper fotonya bersama Arion saat menikmati sunrise di Seoul beberapa waktu lalu.
"Hm, jadi … Sam dijebak? Woah … Dayana, kau boleh juga," ucap Karina dengan nada sedikit memuji. Li sudah melaporkan apa yang Karina minta kemarin sore pada Karina.
Karina lantas segera memanggil Lila. Lila yang tetap masuk kerja dan bungkam tentang masalahnya, masuk dengan sopan dan membungkuk hormat pada Karina.
"Duduklah!" titah Karina.
"Hah?" kaget Lila.
"Duduk," ulang Karina disertai dengan tatapan memerintah dan tidak terbantahkan. Dengan canggung, Lila duduk di hadapan Karina dengan wajah menunduk namun penasaran serta tangan yang meremas kemejanya.
Karina lalu menyambungkan laptop dan handphone lalu memutar layar laptop ke hadapan Lila.
"Apa ini Nona?" tanya Lila bingung.
"Lihat saja dan temukan jawaban atas masalahmu," jawab Karina.
Lila menatap serius layar laptop dan melihat apa yang ditampilkan. Lima menit kemudian, Lila mengangkat pandangannya dan menatap rumit Karina. Akan tetapi, di dalam kerumitan itu, ada rasa lega yang terpancar.
"Ini, ini benarkan Nona? Jadi, Sam tidak selingkuhkan?" tanya Lila dengan suara bergetar.
Karina menunjukan raut wajah mengiyakan. Seketika Lila terseduh dan mengucapkan terima kasih pada Karina. Bertambah besar lagi, rasa pengabdian Lila pada Karina.
"Seseorang kalau sudah bucin, sulit berpaling ke yang lain Lil," ucap Karina santai.
__ADS_1
"Tapi, dari mana Nona tahu masalah saya?" tanya Lila heran.
"Hei Lila, kamu tadi malam tinggal di markas, bagaimana aku tahu? Hal mudah bagiku. Sekarang, dengan apa kamu akan membasmi hama pelakor itu?" tanya Karina, menyangga dagunya dengan kedua tangannya dan menatap Lila dengan kedua alis terangkat.
"Dayana dan keluarganya adalah keluarga yang pandai memanipulasi, bahkan Sam saja tertipu dan aku hampir. Maka, untuk membasmi mereka, harus pakai cara halusinasi juga. Bagaimana dengan permainan?" tanya Lila dengan wajah meminta pendapat.
Karina mengangkat bahunya.
"Terserah kamu. Itu hakmu. Tapi, biarkan dulu suamimu itu mencari tahu. Aku penasaran, sampai mana perjuangannya," ujar Karina dengan nada acuhnya.
Lila mengangguk dan izin undur diri. Hatinya yang semalaman tidak karuan kini menjadi damai dan tersenyum lega. Karina menghela nafas panjang dan tersenyum lega.
"Dayana? Namanya cantik, wajahnya juga cantik, sayang akhlaknya minus," kekeh Karina, dan kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
*
*
*
Di lain sisi lain, Arion menatap tajam Sam dan Calvin. Mereka bertiga berada di sebuah ruang VIP cafe. Tatapan Arion membuka nyali dua Tuan Muda itu menciut.
"Mengapa kalian bisa seceroboh ini? Bagaimana kamu bisa melakukan itu Sam!? You know kan akibatnya, Karina oy, karena ulah kamu, kamu bisa mengancam aku dan Calvin. Malah kalian gak ada konfirmasi lagi denganku mengenai pengerahan informan, hei kalian tidak menganggapku sebagai ketua lagi?" kesal Arion dengan nada marahnya.
"Ya maaf," sahut Calvin, Sam hanya menunduk takut.
"Angkat kepalamu Sam. Kau itu pria apa wanita? Hanya pria yang merasa dirinya salah yang menundukkan kepala!" kecam Arion kesal.
"Sam, loe selingkuhi Lila? Gila loe! Apa kurangnya Lila Bro? Kalian ini malah bermain dengan singa tidur, kalian tahu kan apa yang terjadi jika singanya bangun? Semutpun tidaka akan ia lepaskan!" lanjut Arion lagi.
"Stop!" Sam memukul meja sekali, hatinya panas, mendengar Arion yang menuduhnya, ya walaupun dia belum tahu kebenaran aslinya.
"Eits, sabar oy! Ini mau nyelesain masalah apa nambah masalah? Ar, gue sama Sam minta maaf masalah itu. Kami tidak meminta konfirmasimu sebab kami takut Karina tahu, akan lebih berabe. Bisa-bisa kami jadi manusia guling dan rumah kami jadi kembang api," ujar Calvin serius.
Arion kembali menatap Sam setelah mengangguk menyetujui ucapan Calvin.
"Gue gak tahu, gue salah apa enggak," ucap Sam lanjut menceritakan apa yang terjadi. Arion dan Calvin mendengarkan dengan seksama. Lima belas menit kemudian, Sam mengakhiri ceritanya dengan wajah penuh harap pada Arion. Arion mengesah dan menjitak kepala Sam.
"Loe tahu gak keluarga itu keluarga yang penuh trik? Bagaimana bisa loe bisa kena tipu sama obat perangsang. Haduh, kalau hasilnya beneran loe ngambil kesucian wanita itu, gue angkat tangan." Arion memijat pelipisnya. Sam mengerutkan keningnya.
"Trik? Jadi rasa panas itu adalah obat perangsang? Wah keterlaluan!" kesal Sam.
"Jadi, loe mau bantu juga Ar?" tanya Calvin.
"Ya, biar bagaimanapun, kalian adalah sahabat dan saudara gue. Masalah kalian, juga masalah gue. Gue akan ikut kerahin informan gue. Secepatnya kita harus menemukan titik terang. Demi kebaikan kita semua," sahut Arion serius.
Sam dan Calvin tersenyum. Ini akan jadi semakin mudah. Setelah berbincang beberapa saat, Arion pamit balik ke kantor duluan. Meninggalkan Sam dan Calvin berdua.
"Sam, bokap nyokap loe, tahu gak masalah ini? Gue yakin Lila gak balik ke rumah tadi malam," tanya Calvin penasaran.
"Belum. Mereka keluar kota, dan gue rasa Lila bermalam di tempat yang gak bisa gue masukin," jawab Sam lesu.
__ADS_1
"Gue juga gak pulang, tidur di kantor gue tadi malam. Huh, semoga ini cepat berlalu, berbeda rasanya memeluk guling dengan memeluk istri," lanjut Sam. Calvin tampak terkekeh.
"Ya sudah, gue cabut ya, semangat Sam," ujar Calvin pamit pergi. Sam mengangguk. Setelah Calvin keluar dari ruangan, Sam mengulas senyum smirk dan terlihat menakutkan.
"Serigala berbulu domba? Akan ku kuliti kau!" desis Sam menggertakkan giginya. *
*
*
Hari ini Enji menyempatkan diri untuk mampir ke markas. Enji ingin latihan menembak, sekalian menghilangkan kekesalannya. Di latihan tembak, Enji memilih senjata api secara random.
Terdengar suara tembakan beruntun disertai dengan pelepasan kekesalan. Ternyata suara tembakan itu menarik perhatian Elina yang kebetulan tidak sengaja melintas di tempat latihan tembak.
"Eh, Zi. Tumben kamu latihan? Mukanya ditekuk juga? Kamu kesal dengan siapa? Bayu? Karina atau siapa?" tegur Elina langsung menyocos bertanya. Enji memalingkan wajahnya menatap Elina saat pundaknya ditepuk pelan oleh Elina, percayalah, walaupun pelan tetap saja sakit.
"Oh, Elina," sapa Enji sembari melepas penutup telinganya. Enji mengulas senyum manis. Elina masih menunjukkan wajah bertanya.
"Kau tadi bertanya apa?" tanya Enji memecah suasana. Elina mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku bertanya, tumben kamu latihan menembak, wajah ditekuk dan kesal," ulang Elina dengan nada galaknya. Sampai-sampai, Enji terlonjak dan mundur beberapa langkah.
"Ah, memangnya ada yang aneh ya?" tanya Enji menaikkan alisnya.
"Enggak sih, cuma heran saja," sahut Elina menyilangkan kedua tangannya.
"Hm, ada masalah kecil di perusahaan namun mengesalkan bagiku. Makanya aku melepaskannya di sini," tutur Enji.
"Ku kira karena Bayu," ucap Elina.
"Mana ada, anak menggemaskan itu tidak akan membuatku kesal, sekalipun iya, dia langsung merayuku," ujar Enji. Keduanya berjalan keluar arena tembak, sepanjang jalan, mereka saling bertukar cerita dan tertawa saat ada yang lucu.
Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama, sebab kucingnya Elina yang cemburuan datang dan menatap tajam Enji. Enji hanya tersenyum dan menyapa Li, toh mereka cuma berbincang, hei Elina juga masih punya akal, iya kali selingkuh di markas, mau mati di tempat memangnya ia.
"Ngapain jalan berdua pakai acara senyam-senyum sama cekikikan lagi!" ketus Li memeluk pinggang Elina.
"Ngobrol, enggak boleh rupanya?" sahut Enji santai.
"Kok berduan, kamu godain istriku ya?" tuduh pada Enji. Enji sontak menggeleng keras.
"Mana ada. Sudahlah, malas gue ladeni orang cemburuan. Eli, gue ke kamar dulu ya, bye," ujar Enji, melenggang pergi. Punggung Enji hilang di balik dinding, suara pekikan Li merasa pinggangnya dipelintir pecah.
"Kamu ini, tidak percaya diri sekali, kamu kira aku wanita yang gampang berpaling apa hah? Lihat perutku ini!" Elina menambah kekuatannya, membuat Li menggelinjal kesakitan.
"Eli, hentikan, sakit, aduh. Aku kan cemburu. Aduh, lepas dong," rengek Li. Elina melepas cubitannya dan menginjak kuat kaki Li. Li terlonjak sakit.
"Li, maaf … aku enggak ragu sama kamu, aku curiga dengan anak itu!" Li mengejar Elina dengan terpincang-pincang.
"Bodo' ah. Kamu tidur di luar kamar hari ini!" ketus Elina. Dan selanjutnya, Li terus merengek pada Elina agar tidak menghukumnya. Sayangnya, Elina acuh dan memilih bungkam.
Sedangkan di kamar mandi, Enji yang polos mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower. Enji meletakkan tangannya di dinding dan memejamkan matanya. Ingatannya kembali pada beberapa jam lalu.
__ADS_1