
"Akhirnya kita bisa bertemu dengan kalian, hallo Blood Sweet are you know who me?" tanya Karina dengan nada bersemangat. Enji membawa ketiga wanita itu ke bagian pantai yang sepi dan nyaris tak ada orang. Arion, Koya dan Agus di belakang Karina. Enji duduk bersandar di bawah pohon kelapa dan menghapus keringatnya. Sekarang ia jadi penonton.
Flashback beberapa menit yang lalu.
Enji lari sekencang mungkin ke arah Karina. Ketiga wanita itu mengejar dan membiarkan rambut mereka tertiup angin.
Jika Bayu menyaksikan itu, mungkin ia akan langsung teringat dengan adegan mahabrata saat Arjuna dikejar beberapa gadis sebab para gadis itu mengira Arjuna memecahkan kendi air yang mereka junjung, namun nyatanya itu adalah perbuatan Krisna. Dan ya ini mirip, Bayu yang berbuat, Enji yang kena masalah.
"Istriku tolong aku, mereka mau menikahkanku lagi dengan adik mereka, kakak istriku, bantu suamimu ini, sayangku Karina," teriak Enji, lari melewati Karina, Amri, dan Maria yang tengah memberikan susu pada Alia melalui dot.
Tentu saja ketiga orang itu dan para pria yang sedang bermain air mengeryit melihat Enji. Arion dan para member Boy Band terpanah dengan adegan kejar-kejaran tersebut.
"Eh, kurang ajar kau Zi, Karina itu istriku bukan istrimu!" teriak Arion kesal dan keluar dari air menghampiri Karina. Para member yang ditinggalkan saling pandang dan terkekeh.
Karina menyipitkan matanya melihat wajah ketiga wanita itu. Seketika otaknya mencari dan tersenyum menyeringai.
Mereka, dapat! Saatnya bersenang-senang!batin Karina.
"Ar, Koya, Agus, ikut aku sekarang!" Karina berdiri dan menghasilan tatapan bingung dari Amri dan Maria. Merasa namanya terpanggil, Koya dan Agus segera bergegas.
"Kami misi dulu," ucap sang leader.
"Hati-hati," ucap member lainnya minus Agus.
"Mama dan Papa di sini saja, Karina ada urusan dengan mereka," ucap Karina.
"Oke," jawab Amri. Arion, Karina, Agus dan Koya segera berlari mengejar Enji dan ketiga wanita tersebut. Karina hanya berlari kecil.
Flashback Off.
***
Ketiga wanita itu mengeryit dan waspada. Mereka tentu saja kenal dengan RM dan Agus, tetapi tidak dengan Karina dan Arion, ya mungkin tahu jika diberi clue.
"Ah, kami hanya kenal mereka berdua, mereka idola kami, tetapi dengan kalian berdua kami tidak kenal dan siapa Blood Sweet?" tanya wanita dengan rambut berkucir kuda, berlagak tak tahu. Karina dan Arion serentak mendecih.
"Astaga? Kalian penggemar kami? Woah, kejutan, sekarang kami yang mengejar kalian," seru Koya.
"Hehehe, kami merasa terhormat bisa dikejar oleh kalian," sahut wanita berambut sebahu.
"Hm, cukup basa basinya, buka saja topeng kalian, di sini sepi kok, oh apa kalian tidak mau mempertontonkan tubuh kalian yang seksi itu? Tenang, mata mereka tertiga akan tertutup kok, cuma aku yang akan melihatnya," cibir Karina. Tersenyum mengejek. Wajah ketiga wanita itu geram dan tak terima.
"Nira, kau kenal dua orang itu?" tanya wanita berambut kucir kuda.
"Mana aku tahu," sahut wanita yang bernama Nira itu.
"Maaf Nona dan Tuan, kami tak ada masalah dengan kalian. Kalian bisa kami laporkan loh atas dasar pencemaran nama baik kami. Kami hanya berurusan dengan pria itu," ujar wanita berambut sepinggang mengedarkan pandangannya mencari Enji. Wajahnya mengeras melihat Enji yang tertidur.
"Sialan, kurang ajar! Setelah melecehkan adikku kau bisa-bisanya tidur nyaman? Kau harus ku bunuh!" pekik wanita melangkah.
"Eit, nanti dulu, urusanmu denganku belum selesai! Apakah adikku melecehkan adikmu? Pelecehan bagaimana? Apa yang bisa dilakukan selama lima belas menit?" tahan Karina.
"Oh, kau kakaknya, lalu di mana istrinya? Dia telah mengambil keperawanan dada adikku!" sahut wanita itu.
"Nana, aku ragu," ucap Nira.
"Wah, Enji dapat kenikmatan," ujar Arion, mengerling pada Karina. Karina mendinginkan wajahnya. Sedangkan Agus dan Koya saling pandang.
__ADS_1
"Hei, memangnya dada ada perawannya?" tanya Agus.
"Ntar aku belajar lagi tentang itu," jawab Koya.
"Stop membual! Aku bahkan ragu kalian masih murni, jadi jangan mengada-ada. Saatnya menyelesaikan urusan kalian denganku. Selamat, kalian akan berakhir di tangan Queen Pedang Biru," tegas Karina, mengeluarkan pena yang biasa ia gunakan untuk bertarung.
"Hah? Pedang Biru?" kaget ketiganya. Mereka membulatkan mata mereka dan menggeleng tak percaya. Berhadapan dengan anggotanya saja mereka sering kalah dan menggunakan cara spesial untuk menang, kini harus berhadapan dengan Queen dan Kingnya.
"Oh, merasa terhormat bisa bertemu dan berhadapan langsung dengan kalian," ujar Nari, si wanita berambut sepinggang seraya tersenyum.
"Yang, hati-hati," ujar Arion. Akhirnya mereka bertarung. Arion melawan Nira dan Nana sedangkan Karina melawan Nari. Dalam mafia dan dunia gelap, tak mengenal pria hanya melawan pria dan wanita melawan wanita. Terkadang, wanita lebih lebat dan kuat daripada lelaki. Bukankah banyak di dunia ini di mana wanita menjadi petinggi militer bahkan sekarang wanita bisa mengendalikan jet tempur. Semua tak ada yang mustahil jika kita berusaha.
"Apa kita hanya menonton?" tanya Koya, melirik Agus.
"Ya apalagi, itu perintahnya, lebih baik aku tidur bersama Enji," sahut Agus, melangkah mendekati Enji dan ikut tidur. Koya menggeleng dan memilih memperhatikan Karina dan Arion.
Karina menghindari dan menahan serangan Nari. Karina meliuk badannya menghindari tendangan Nari. Karina merasa kurang nyaman bertarung dengan kondisi hamil. Tapi apa boleh buat, musuh di depan mata tak bisa dilepaskan lagi.
Melihat Nari yang mulai kehabisan nafas dan tenaga, segera melancarkan serangan. Nari mencoba menahan. Kecepatan serangan Karina membuatnya bingung.
Arion juga cekatan menghindari serangan combo Nana dan Nira. Mendapat cela, Arion melancarkan tendangan pada Nana.
Bruk!
"Ah," pekik Nana, merasa tubuhnya menghantam tanah dan dadanya yang sakit.
"Nana!" seru Nira, tetap bertarung dengan Arion. Arion tersenyum miring.
Serangan Nira bertambah keras. Arion merasakan sakit pada beberapa bagian yang terkena pukulan Nira.
Grep!
"Enji, bangun!" seru Arion. Membuat Enji tersentak dan menguap.
Dengan langkah gontai, Enji mengurus Nira dengan memegang kedua tangannya erat. Ck padahal pingsan.
"Awas Hyung!" seru Agus melihat Nana yang menodongkan pistol ke kepala Arion dari belakang. Karina melirik Arion, dan tetap santai.
Arion melirik ke belakang. Ia tersenyum sinis.
Dengan gerakan cepat, ia membalas dengan menendang tangan Nana, pistol terlempar. Nana mengerut takut.
"Ck, anak kemarin sore melawan kami yang sudah ahlinya, trik semacam ini tak berlaku bagi kami," ujar dingin Arion. Koya diam-diam mencari tali pengikat.
Nira berpikir untuk menggunakan cara spesial mereka namun tertahan oleh sesuatu.
Koya telah menangkapnya dari belakang. Nira memberontak.
Koya segera membuat Nira agar pingsan.
"Kerja bagus!" puji Arion.
"Hehe," tawa Koya segera mengikat Nira. Arion menghela nafas dan menyentuh dadanya yang kena tendangan dari Nana tadi.
Sedangkan Karina kini, ia tersenyum miring melihat Nari yang merengsek di pasir, mencoba menjauh dari Karina. Wajahnya terdapat beberapa luka dan terlihat darah segar menetes dan menodai dagunya.
Sedangkan Karina melirik memar di kedua tangannya akibat serangan Nira tadi.
__ADS_1
"Nyawa anggotaku yang tewas karena kalian, nyawa kalian berempat adalah gantinya," ucap dingin Karina.
"Kalau begitu, cepat bunuh aku!" ucap Nari.
"Tak semudah itu. Kalian akan mendapat beberapa hadiah lagi," sahut Karina.
Mendekati Nari dengan cepat dan mencengkram leher Nari. Nari merasa ia semakin sesak bernafas.
Nari memberontak, namun cengkraman tangan Karina erat sekali. Wajah Nari memucat. Karina tersenyum saat Nari mulai cengap-cengap. Ia melepas cengkramannya dan memukul punggung Nari hingga pingsan.
Suga datang dan segera mengikat Nari.
"Yang, kamu okey kan? Astaga tangan kamu memar, kamu gak kena tendangan kan?" tanya Arion, khawatir.
Karina menggeleng dengan wajah datarnya.
"Bertarung tanpa luka, itu bukan bertarung Ar," sahut Karina datar.
"Ya, itu benar, ayo kita kembali," balas Arion.
"Hm, kalian bawa mereka, anggotaku sebentar lagi datang dan membawa mereka ke markas," titah Arion.
"Hm, baiklah," jawab Agus, Koya dan Enji serentak. Agus membawa Nira dengan cara merangkulnya dan Koya dengan cara membopongnya di pundak layaknya karung beras.
Dan Enji dengan malas menyeret kaki Nari. Ck, Enji memang enggan menggendong, merangkul ataupun membopong Nari. Mereka bertiga jalan duluan meninggalkan Arion dan Karina
"Dadamu okey?" tanya Karina, menyentuh dan membuka kancing kemeja Arion.
"Yang jangan di sini, malu ah," tahan Arion, namun hanya ucapan.
"Ck, malu sama siapa? Memangnya aku mau menelanjangimu di sini? Aku harus melihat dadamu yang terkena tendangan tadi. Jika lukanya serius akan ku potong kaki wanita itu!" ketus Karina. Menyentuh bekas tendangan Nira tadi.
"Hm, rasanya sakit," aduh Arion, memegang kedua tangan Karina yang sibuk menyentuh dadanya.
"Ayo ke mobil, akan aku obati," ucap Karina, datar.
"Cukup cium aku saja, maka sakitnya akan hilang," ujar Arion, tersenyum mesum. Karina menatap Arion datar.
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan! Apa hubungan dada dan bibirmu? Apa sakitnya berpindah ke bibirmu? Jangan ngadi-ngadi," ketus Karina, menarik tangannya dan bersilang tangan.
"Heh? Masa' kamu gak paham sih? Kemarin minta itu gak dikasih, sekarang minta cium saja gak mau. Aku suami kamu loh," keluh Arion, menampilkan raut wajah antara kesal, kecewa dan marah.
Karina memutar bola matanya malas dan berjinjit, mendekatkan wajahnya pada Arion. Dan mencium bibir Arion singkat. Saat hendak melepas, Arion malah memeluk pinggang Karina dan melanjutkan ciuman mereka.
Ya mau tak mau, Karina membalasnya. Selang beberapa menit kemudian, mereka menyelesaikan sesi ciuman mereka.
"Hehe, malu-malu tapi mau," ledek Arion, Karina mengusap bibirnya.
"Hm," sahut Karina datar.
Kemudian, mereka dengan langkah bersamaan segera menyusul anggota keluarga yang lain.
Di tempat para member dan keluarga Wijaya berada, mereka menunggu Karina dan Arion cemas. Keempat wanita yang pingsan itu dijejerkan. Baju basah para member telah berganti. Agar tak masuk angin.
"Yah, hari sudah mau senja, kita gak pulang?" tanya Bayu takut pada Enji, sebab ia sudah mendapat hadiah kuping panas dari Enji dan Maria. Kini telinganya memerah dua-dua.
Semoga saja Ayah tak mengadu pada kakak, harap Bayu dalam hati.
__ADS_1
"Tentu kita pulang. Setelah masalah ini selesai Nak," jawab Enji. Bayu mengangguk. Tak lama, Karina dan Arion datang. Mendapat tatapan selidik dari mereka semua.
"Masalah pribadi," ujar Arion. Enji, Maria dan Amri langsung konek sedangkan yang lain bertukar pandang.