Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 150


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 23.30, sebentar lagi tengah malam, akan tetapi rumah Karina masih ramai, biasanya di jam segini sudah pada dialam mimpi semua. Mereka bersepuluh berada di ruang tengah, apalagi kalau bukan menonton televisi dan mengobrol ria. Lengkap dengan coklat hangat, susu pisang untuk Kuki dan cemilan serta buku di atas meja. Enji sudah menyatu dengan Ketujuh tamu Karina itu. Bertukar cerita. Karina dan Arion hanya diam saja menyimak. 


"Nona, adakah kau novel ini dalam versi Inggris atau korea?" tanya Koya menunjukkan novel hujan yang baru seperempat ia baca. 


"Hmm tidak. Aku tak mau kena undang-undang mengenai hak cipta. Artikan saja sendiri," sahut Karina.


Koya menghela nafas kasar. 


"Hyung, apa kau mulai merubah bacaanmu?" tanya Kuki.


"Tak apalah, mumpung liburan tanpa kamera dan aturan, bebas huh," sahut Koya menunjukkan wajah cerianya.


"Benar tuh, biasanya kan kamu serius sekali," celetuk Agus.


"Hm," gumam Koya.


"Cookie, nyanyi awalan lagu baru kalian dong," pinta Enji. Masih dengan laptop di pangkuannya. Awalnya mereka aneh dengan itu, tapi selama beberapa waktu kemudian akhirnya paham.


"Oke," jawab Kuki.


"Cause I I I'm in the stars tonight. So watch me bring the fire and set the night alight," nyanyi Kuki.


Blue Boys menyanyikan single lagu mereka dan yang lain mendengarkannya dengan santai, Arion malah memejamkan matanya tertidur di pundak Karina. Enji malah asyik dengan laptopnya.


"Sudah! Ayo tidur," ujar Karina tegas.


"Hmm oke," sahut Blue Boys. 


Mereka segera beranjak, naik ke kamar masing-masing dengan susunan mereka, Kuki satu kamar dengan Enji. Maklum kembar seiras namun tak sedarah. 


Karina merangkul Arion naik ke lantai atas kamar mereka. Akhirnya kegiatan malam ini selesai. Mereka tidur dengan senyum mengembang. Besok agendanya baru dimulai. 


Karina tersenyum tipis sebelum tidur. 


Saatnya memulai, batin Karina.


***


Saat sedang berada di alam mimpi, RJ terbangun karena perutnya kembali bergejolak minta diisi. RJ mengucek matanya dan melihat Agus yang tertidur nyenyak. Ia menghidupkan lampu kamar dan keluar menuju dapur. Padahal di kamar ada kamar mandi, RJ malah membasuh wajah di wastapel dapur. 


Setelah matanya serasa segar. RJ membuka lemari es. Berjongkok mencari apa yang mau ia makan.


"Hah? Aneh namanya lemon kok bentuknya mie?"gumam RJ melihat mie yang berkemasan warna hijau.


"Tapi dibuat dari bayam?"gumam RJ lagi melihat komposisinya. 


"Coba sajalah. Sepertinya enak," putus RJ. Memgambil panci dan memanaskan air. Memisahkan mie dan bumbu. Bumbu ia letakkan di atas piring. 


Tiga menit kemudian mie matang dan langsung RJ tiriskan serta dicampur dengan bumbu. 


"Hm wanginya menggoda," ucap RJ. Sebelum makan ia mencuci tangannya dan membereskan peralatan. Hanya satu menit ditinggal, mie diatas meja lenyap. Piringnya juga hilang. RJ melihat kanan-kiri serta menggaruk kepalanya. Heran kemana perginya mie buatannya.


RJ menajamkan indera penciumannya. Ia mencium bau wangi, dengan segera mengikuti arah wanginya. Lampu ruang tengah menyala. Ada pria yang duduk di sana. RJ hafal dengan punggung itu.


"RM? Kau memakan mie buatanku?"pekik kesal RJ.


Koya menoleh dengan mulut yang masih mengunyah mie.


"Buatanmu? Tapi kau tidak ada di dapur tadi? Aku kira dibuat untukku," ujar Koya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Tapi kau kan tahu, jangan mengambil barang milik orang lain, sekarang mana mieku, aku lapar, apa kau tak mendengar bunyi perutku?"kesal RJ menyodorkan tangannya.


"Habis," jawab Koya menunjukkan piring yang tinggal noda bumbu.


RJ menatap kesal dan marah Koya, Koya tersenyum simpul. RJ mencoba menahan emosi.


"Ada lagi kah mienya? Jika ada akan ku buatkan untukmu," rayu Koya. Senyum RJ terbit. Ia mengangguk. 


Koya segera menuju dapur. Membuat mie untuk RJ. Sedangkan RJ duduk di sofa dan melihat kembali asitektur ruang tengah.


Sofa berwarna cream. Luas dan lebar, permadani berwarna biru. RJ terka Karina suka warna biru. Ada foto pernikahan Karina dan Arion serta foto-foto Enji terpajang di dinding. Elegan dan berkelas. 


"Kalian sedang apa?"tanya Enji menuruni tangga.


"Kook? Tak biasanya kau bangun jam segini?"heran TJ.


"Aku Enji Tirta Sanjaya bukan Kuki, bedakan lah. Telinga Cookie ada antingnya telingaku kan tidak," ketus Enji.


"Maaf, kalian kembar," sesal RJ.


"Ya tak apa, seperti rumah sendiri ya?"tanya Enji duduk di samping RJ dan membuka toples berisi cemilan dari kacang tanah dan gula merah. Bentuknya tipis dan rasanya renyah, manis serta gurih.


"Hehehe habisnya Hyungmu itu ramah sekali, dia bilang nyamannya senyaman kalian di rumah sendiri," kekeh RJ ikut mencoba apa yang Enji nikmati.


"Ya kalian belum tahu kakakku itu ada udang di balik batu," ujar Enji santai. 


Jin mengeryit. Tak paham akan pepatah yang RJ ucapkan.


"Apa artinya?"tanya RJ. Enji menaikkan satu alisnya dan tersenyum.


"Tunggu saja besok," jawab Enji. RJ mencembikkan bibirnya kesal. 


"Kau bangun? Cepat sekali," heran Koya.


"Ini jam 04.00 pagi, aku memang bangun jam segini, belajar sebelum subuh dan lanjut lagi setelah subuh, ini jam 04.30 aku haus jadi aku turun, persedian di kulkasku habis," jelas Enji lebar.


"Apa benar belajar di kala pagi lebih cepat nangkap? Daripada siang atau malam hari?"tanya RJ melirik Enji.


"Menurutku iya, sebab kala bangun pagi di jam segini, otak masih segar. Belum ada beban apapun. Jadi lebih mudah mencerna apa yang kita pelajari. Jika sudah siang apalagi cuaca panas hati juga panas, mana nyambung lagi. Aku saja dulu sering tidur siang di kelas saat sudah jam 12.00 ke atas, guru nerangkan mah bodo amat, apalagi saya lihat di mading ada yang buat tidur setelah belajar membuat kita lebih mudah mengingat. Hehe jadi aku aplikasikanlah, apalagi aku introvet. Bosan sedikit saja, ketemu meja langsung deh ke alam mimpi," jelas Enji panjang lebar. Bermanfaat gak bermanfaat mah bodo amat, yang penting keluar apa yang ada di pikirannya.


"Woah, kau lebih panjang dari RM, mirip mah kalian," puji RJ terpukau kagum.


"Panas hati? Apaan tuh?"tanya Koya.


"Panas lihat gebetan nemplok sama cowok lain, apalagi lihat mantan sweet sama pacar barunya. Malah gue di sini meratap memeluk tiang melihat itu. Gue kan masih cinta sama dia, tapi dianya gak peka dan milih putus dan jadian sama cowok kampret itu!"kesal Enji curhat.


"Woah, fake love," ujar RJ.


"No, aku tak bahagia melihat kau bahagia dengannya aku terluka melihat kau bahagia," ralat Enji memeluk Koya.


"Astaga kamu ini mencintai dalam sepi ya?"tanya Koya.


Enji mengangkat wajahnya menatap Koya.


"Tahu darimana kamu lagu itu?"tanya Enji heran.


"Di meja, ada cataan lirik lagu, rata-rata bahasa Indonesia, Inggris dan India, terus saya buka ada liriknya mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu, melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya yang harus membuatku sedikit menepi." Koya menyanyikan lirik awal lagu. Enji terlihat terkesima. RJ pun. 


"Lancar bahasa Indonesiamu," puji Enji.

__ADS_1


"Ya," sahut Koya.


Puku 05.00, suara azan berkumandang. Enji bangkit kala azan selesai berkumandang.


"Aku ke kamar dulu, dah," pamit Enji.


"Oke," sahut Koya dan RJ. Mereka tiduran di sofa, tanpa sengaja tidur beneran.


Di kamarnya, Karina dan Arion juga tengah bersiap untuk menjalankan kewajiban mereka. Khusuk dan khidmat sekali sholat berjamaah mereka. Diakhiri dengan doa dan Karina yang mencium tangan Arion.


***


Jam 06.30, aktivitas ramai, Bik Mirna dibantu satu anak buahnya memasak. Pak Anton cuci mobil dan memanasi mobil yang segudang di garasa bawah tanah. Pak Anton sebenarnya heran, buat apa mobil satu garasi jika yang digunakan hanya dua. Tapi yang namanya hobi, mau bilang apa?


Kring!


Alarm berbunyi dengan kencang membangunkan member yang masih tidur di kamar. Kuki mah masih di alam mimpi sebab alarm kamar Enji berbunyi setiap pukul 02.00 dan pukul 04.00.


Tata yang sekamar dengan Chimmy mengucek matanya dan berjalan lunglai menuju kamar mandi, tak lama Chimmy ikut bangun. 


Di kamar sebelah Agus dan Mang masih tidur dengan selimut menutup diri mereka. Dibuntal bak lontong sayur.


Suara dering alarm yang mana lagu dynamite membuat mereka menggesah dan akhirnya bangun.


"Siapa yang menyetel lagu ini? Kamu ya?"tanya Agus pada Mang.


"Mana ada, aku kan tidur duluan," sarkas Mang.


"Lantas?"tanya Agus.


Mang mengendikkan bahunya. Bangkit dan segera berbersih. Diikuti Agus.


Lantas Karina, Arion dan Enji gimana kabarnya? Mereka tengah berada di taman bunga yang masih kuncup dengan embun yang turun dari daun menetes ke bumi.


Menikmati segelas kopi dan coklat untuk membangunkan semangat pagi. Tak lupa roti bakar aneka rasa tersaji bersama kopi.


"Kak apa agenda kita hari ini?"tanya Enji. Kali ini Enji hanya membawa handphone memotret mentari pagi yang hadir menyapa bumi.


"Latihan tembak," jawab Karina.


"Latihan tembak? Ke markas?"tanya Arion.


"Ya, tapi mereka duluan, kita ke rumah sakit dulu, sebab pendonor kamu sudah berada di sana," jelas Karina.


"Ini mah kamu mau latih mereka militer Yang," celetuk Arion.


"Aku ratu aku bebas," sahut Karina.


"Zi nyaman tidur berdua?"tanya Karina.


"Lumayan kak," jawab Enji.


"Kapan kau temui Bayu? Katamu secepatnya, sampai sekarang belum juga," tanya Karina lagi.


Enji diam dan menatap ke langit. Ia menghela nafas pelan, wajahnya sendu.


"Entahlah kak, aku takut bertemu dengannya. Nyaliku ciut membayangkan aku mau bertemu dengannya. Takut dia membenci dan tak mau menerimaku," ujar Enji sedih. 


Arion mengangkat tangannya dan berusaha menepuk pundak Enji.

__ADS_1


__ADS_2