Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 182


__ADS_3

Kakek Bram tengah ditangani oleh dokter. Karina, Arion, dan lainnya menunggu di depan ruang UGD. Amri mondar-mandir di depan pintu, tak sabar menunggu dokter keluar. 


Bayu dan Enji kompak, menggerakkan kepala mereka mengikuti gerakan Amri yang mondar-mandir.


"Pusing Yah," keluh Bayu.


"Berhenti dulu," sahut Enji.


Karina dan Arion menggelengkan kepala mereka melihat itu. Maria sedari melihat ke arah Karina dengan tatapan rumit. Menyadari hal itu, Karina mengkode Maria agar berpisah sedikit jauh dari Arion, Amri, Bayu, Enji dan Ferry.


"Ar, aku kantin dulu ya, anakmu minta makan lagi," ujar Karina.


"Aku temani," sahut Arion.


Amri menoleh sekilas ke arah Karina dan Arion. Kemudian duduk di samping Maria, lelah juga.


"Biar sama Mama saja Ar, kamu di sini saja," ucap Maria cepat. 


"Ya benar, aku sama Mama saja," ujar Karina.


Amri dan Arion tampak mengeryitkan dahi mereka, curiga.


"Baiklah," ucap Arion. Karina dan Arion segera berdiri dan berjalan mencari kantin. 


Setelah punggung keduanya hilang dari pandangan, Amri mendekati Arion.


"Ada yang Mama dan istrimu sembunyikan," ujar Arion.


"Kalau begitu, ayo kita lihat apa yang mereka bicarakan," sahut Arion, berdiri.


"Kalian jangan ada yang ngaduh sama Karina, okey!" Arion menatap tajam Bayu, Enji dan Ferry. Ketiga orang itu mengangguk. 


***


"Sayang, di mana kamu menyembunyikan Nita dan anaknya?" tanya Maria serius setibanya di kantin.


Karina mengalihkan pandangannya sesaat dari buku menu di tangannya. Kemudian memanggil pelayan dan memesan makanan.


"Mana Karina tahu Ma," jawab Karina, bukan dia yang menculik Nita dan Alia.


"Jadi ini bukan ulah kamu?" Maria menatap Karina tak percaya.


"Iya Ma, rencananya itu besok setelah peresmian restoran, bukan sekarang. Kurang kerjaan sekali Karina jika nyuruh orang Karina nyuruh mereka, lebih baik suruh datang sendiri tapi buat screen-nya seperti diculik," ucap Karina.


"Terus siapa yang nyulik Nita dan anaknya? Setahu Mama kakek itu gak punya musuh di sini." Maria mengenyitkan dahinya berpikir. Karina menaikkan bahunya tak tahu.


"Rencana apa yang kalian maksud?" Maria dan Karina sontak menoleh ke arah sumber suara yang mereka kenal. Maria membulatkan matanya sedangkan Karina, tersenyum simpul.


Arion dan Amri segera mengambil tempat duduk dan menatap Istri mereka penuh tanda tanya.


"Rencana? Rencana apa maksud Papa ya?" Maria mencoba berlaku santai namun tak bisa, tetap saja ia gugup.


"Karina sayang, tadi aku dengar, Mama nuduh kamu nyulik Nita dan anaknya, terus kamu bilang rencananya itu besok? Rencana apa dan apa hubungannya dengan Nita dan anaknya? Pasti ada hubungannya juga dengan kenapa kamu minta liburan kemari dan itu bersamaan dengan kakek," ucap Arion meminta jawaban.


"Menurut kamu?" Karina menjawab dengan pertanyaan.


"Tolong jujur dan jangan buat kami penasaran. Kepala Papa sudah pusing dengan kakek dan penculikan pelayan dan anaknya itu. Biar bagaimanapun anaknya itu adikku," ucap Amri, lirik di kalimat terakhir. 

__ADS_1


"Ya baiklah aku jawab." Karina menceritakan semuanya. Maria melirik takut ke arah suaminya. Amri dan Arion saling pandang. Amri tampak menghela nafas sedangkan Arion tersenyum.


"Ya begitulah, Mama ingin hubungan Papa dan kakek membaik, ya walaupun kata maaf sudah terucap tetap saja hati belum dapat menerima. Tapi sekarang rencananya buyar dan berganti dengan rencana untuk menemukan dan menyelamatkan Nita dan anaknya. Bagaimanapun Nita itu anggotaku," terang Karina.


"Astaga Ma, mengapa sampai sejauh ini?" Amri kembali menghela nafas.


"Kalau boleh jujur, Papa sudah bisa menerima mereka kembali, Papa sadar, Papa tak seharusnya bertindak seperti itu. Ibu pun pasti akan sedih dengan sikap Papa selama ini. Kalian berdua benar, kebahagian keluarga Wijaya memang tidak lengkap, ada cela di dalamnya," tutur Amri.


"Jadi Papa sudah bisa menerima mereka? Hati Papa sudah melunak kan?" Maria menatap Amri bahagia.


Amri mengangguk. Karina dan Arion malah asyik suap-suapan sembari melihat Amri dan Maria yang berpelukan dengan air mata kebahagiannya.


***


"Kita bagi tugas saja, Mama, Papa sama Ferry tetap di sini sedangkan Aku, Karina, Bayu dan Enji ke markas Pedang Biru untuk mencari keberadaan Nita dan anaknya," ujar Arion, mereka kini telah berada di ruang rawat kakek Bram. Di ranjang, kakek Bram masih tak sadarkan diri.


"Mengapa anak ini juga ikut serta? Lebih baik ajak Ferry saja," ucap Amri menunjuk Bayu. Bayu menggerakkan bibirnya kesal.


"Yang tua ngalah sama yang muda, beri kesempatan anak muda menunjukkan bakat dan skillnya," ucap Karina.


"Kakak, kau bilang aku tua?" keluh Ferry yang diam menyimak.


"Sudahlah, biarkan saja Bayu yang ikut, kau ini lebih baik fokus sama kakek saja," ucap Maria.


"Ya baiklah," sahut Amri.


***


Kini mobil yang dikemudikan Arion dan Enji melaju beriringan menuju markas Pedang Biru. Di sepanjang jalan, Bayu yang mengambil tempat duduk di belakang fokus pada laptopnya.


"Gerakannya cepat sekali Yah, apalagi itu di keramaian. Sungguh besar nyali orang itu, sudah nyulik di siang bolong, suasananya ramai dan yang lain masa' bodoh," jawab Bayu, menutup laptopnya.


"Yah, bagaimana cara Kakak menyelidiki kasus ini?" tanya Bayu penasaran.


"Kakak punya sistem anggotanya sendiri, hanya dia yang bisa masuk dan keluar," jawab Enji.


Bayu mengangguk. Ia kembali mengingat saat Karina pertama kali membawanya masuk ke perusahaan KS Tirta Grub. Ia kemudian membuka kaca jendela mobil sebelah kiri dan melihat keluar.


Matanya menyipit melihat ada orang yang ia kenal. Mereka berjalan dengan sesekali mengelap keringat yang mengucur deras, lengkah mereka ada yang pantang menyerah, pasrah dan juga putus asa.


Bukankah itu dua anak tadi? batin Bayu.


Tapi mengapa bawa koper dan tas, malah jalan lagi, kasihan paman dan bibi yang bersama mereka itu. Apa mereka ada masalahnya? Kepo aku jadinya, batin Bayu lagi.


"Yah bukankah mereka dua orang di mall tadi? Yang mencari masalah denganku," ucap Bayu.


"Mana?" tanya Enji.


"Itu, yang kita lewati tadi, ayah gak teliti," ujar Bayu. 


Enji melihat kaca spionnya. Dahinya mengerut dan segera pasang lampu send untuk menepi.


Arion mengenyit heran melihat mobil Enji yang menepi.


"Ada apa?" tanya Karina melihat Arion yang ikut menepikan mobil.


"Enji berhenti," jawab Arion.

__ADS_1


"Ck, ada apa dengannya," kesal Karina.


"Tak tahu, ayo kita lihat," ajak Arion.


Karina dan Arion lalu keluar dari mobil. Guratan senja mulai menghiasi langit, cahaya lampu jalanan dan bangunan mulai menyala satu persatu. Begitupun juga sorot lampu kendaraan yang lalu lalang.


Karina dan Arion kemudian mendekati Enji, Bayu dan keempat orang yang tidak mereka kenal itu.


"Siapa mereka Zi?" tanya Karina datar, meneliti wanita dan pria paruh baya serta anak laki-laki dan perempuan berusia 15 dan 13 tahun itu.


Mata pria paruh baya itu terbebelalak.


"Bukankah Anda presdir KS Tirta Grub dan Jaya Company?" pekiknya tak percaya.


"Iya benar," jawab Karina dan Arion bersamaan.


"Ah perkenalkan Tuan, nama saya Lin Handan ini istriku, Wei Lan dan kedua anakku Lin Lian dan Lin Jian," ucap pria itu memperkenalkan keluarganya. Karina dan Arion mengangguk.


"Apa jawabannya tadi? Zi kau kenal mereka?" tanya Arion, mengulang pertanyaan Karina.


"Cuma kedua anaknya kak, tadi waktu di mall gak sengaja ada insiden kecil yang menyebabkan Bayu dan mereka bertengkar," jelas Enji.


"Oh, lantas mengapa mereka jalan kaki, bawa koper sama wajah lesu begini? Mereka lagi jalan-jalan atau bagaimana?" tanya Karina lagi.


"Mana aku tahu kak, ini aku baru mau tanya," jawab Enji.


"Tuan, kalian ada masalah apa? Barangkali kami bisa membantu," tanya Enji hati-hati.


"Sungguh beruntung kami bisa mendapat perhatian dari Anda semua, keluarga kami sedang dalam masa sulit, perusahaan saya gulung tikar, hutang tak terbayar, alhasil harta benda jadi sitaan, sekarang kami jadi gelandangan tak tahu mau kemana? Sanak saudara acuh sejak kebangkrutan saya didengar, padahal waktu saya berada di atas mereka datang mendekat bak semut mengerumi gula, mau bermalam dan mengisi perut untuk malam ini saja kami tak ada uang," ucap Pak Lin menahan tangis dan kesedihan.


"Perusahaan Lin kah? Yang bergerak di bidang furniture?" terka Arion. Pak Lin mengangguk membenarkan.


"Bangkrut? Kok bisa? Kalau saya lihat Anda bukan tipe orang yang licik, suka menghamburkan uang ataupun sifat buruk lainnya," selidik Karina penasaran.


"Saya yang lalai dalam mengendalikan perusahaan Nyonya, Tuan, saya tak dapat mengontrol beberapa bawahan saya," jelasnya.


"Ayah, sekarang kita tinggal di mana?" tanya Lian.


 "Ah, sabar sebentar ya Nak," sahut Pak Lin.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya," ujar Pak Lin membungkukan badannya.


"Yang, kasihan mereka, padahal produk mereka okey loh," bisik Arion.


"Hm, tunggu sebentar Pak Lin!" panggil Karina.


Pak Lin dan keluarga yang telah berjalan beberapa meter berhenti dan menoleh ke arah Karina dan lainnya.


"Bagaimana jika Anda tinggal di tempat saya dulu? Atau bisakah kita melakukan kerja sama? Ya walaupun Anda bukan lagi seorang CEO tapi Anda tetaplah Pak Lin Han pendiri perusahaan, saya yakin kecerdasan dan sikap pemimpin Anda tak hilang walaupun perusahaan Anda menghilang, bagaimana?"


Karina memberikan penawaran. Pak Lin tampak tercengang, setelah berdiskusi beberapa saat, Pak Lin tersenyum dan mengangguk.


"Yah sudah tahu keluarganya bangkrut kok sempat-sempatnya ke mall? Malah songong lagi," bisik Bayu pada Enji.


"Mungkin itu tadi mereka belum tahu, sampai rumah baru, tapi ayah salut deh, walaupun dulu keluarga cukup mapan, mereka tak foya-foya beli barang asli malah beli kwnya," balas Enji berbisik juga.


"Itu mah mau ngibulin orang yang gak tahu barang itu kw," ketus Bayu, berbisik.

__ADS_1


__ADS_2