Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 222


__ADS_3

Di kediaman Darwis, Joya, Rian dan Satya, suasana sepi. Para pelayan sedang tidak berada di rumah, ini adalah jadwal santai mereka setiap 6 bulan sekali. 


Terlihat di meja makan, mereka berempat duduk dan menikmati makan siang, di mana Darwis dan Satya lah yang menjadi koki.


Joya, merasa dirinya tidak ada gunanya bagi sang suami, apalagi dengan kondisinya yang tampak sehat dari luar namun tubuhnya digerogoti benang kanker dari dalam. Joya menghela nafas saat Darwis kembali menyuapinya.


"Ada apa sweetheart? Kamu melamun? Apa ada rasa masakannya yang kurang cocok?" tanya Darwis serius.


Joya melirik Darwis. Satya dan Rian, diam membiarkan pasangan itu berinteraksi. Mereka berdua, hanya bisa meratap dalam, entah jodoh yang belum datang, atau mereka yang malas mencari.


"Tidak Wis, semuanya lezat, hanya saja, hatiku yang tidak nyaman, seharusnya kan aku yang memasak dan melayanimu, bukan kamu," ujar Joya lirik. Darwis tersenyum dan meletakkan sendok. Ia lalu mengusap rambut Joya.


"Kita suami istri, jangan merasa tidak nyaman. Kamu sedang sakit dan mengandung, aku tidak mau kondisi kamu menurun jika harus melayaniku, terlebih layanan di ranjang, cukup jaga kesehatan dan suasana hati kamu, bahagai selalu dan tetap ceria, itu sudah cukup bagiku, aku tidak mau kehilangan kamu," tutur Darwis. Mata Joya berkaca-kaca. Ia lalu memeluk Darwis.


"Terima kasih Wis, terima kasih untuk semuanya," ucap Joya.


"Sudah kewajibanku, Sweetheart," balas Darwis.


Kedua berpelukan cukup lama, membuat Rian dan Satya saling pandang dengan tatapan iri, kedua lantas menghela nafas dan batuk-batuk kecil, mengkode agar adegan romantis di depan mereka segera berakhir. Sadar, Darwis dan Joya melepas pelukan dan tersenyum cerah.


"Makanya, jadi jodoh, memangnya jodoh akan datang jika kalian tidak mencari?" sindir Darwis, lanjut menyuapi Joya. 


"Aku makan sendiri saja, lama-lama tangan aku kaku atau mungkin lumpuh karena semuanya kamu bantu, aku jadi seperti boneka yang hidup namun semua kegiatan hingga sekecil apapun kamu bantu," tolak Joya, Darwis mengeryit, ia mau membantu istrinya agar tidak kelelahan. Tapi mimik wajah Joya meyakinkannya dan menatapnya serius, Darwis mengiyakan.


"Tapi, makanlah yang telah ku sodorkan ini," pinta Darwis, Joya segera memakannya dan menyantap makan siangnya langsung dari tangannya sendiri.


"Hm, entahlah Wis, sepertinya kau memang benar, akan tetapi, ketakutan akan dunia pernikahan yang akan menyakitiku, sama seperti pernikahan kedua orang tuaku dulu yang tidak pernah aku barang sesaat, dan ku rasa saat membuatku mereka sedang perang, heh? Dan berujung mereka berpisah dan meninggalkanku sendiri di bawah sinaran lampu taman. Aku takut, jika nanti seandainya aku menikah, walaupun saling mencintai namun rasa ego masih menghalangi, apakah pernikahan itu akan jadi ladang pahala, atau arena pertempuran?" tutur Satya dengan mimik wajah sedihnya. Rian menepuk pundak Satya, Darwis diam sedangkan Joya turun prihatin, sebab ia juga baru tahu mengenai hal ini.


"Tidak semua pernikahan seperti pernikahan orang tuamu Ya. Bukankah kamu sudah melihat banyak hal di dunia ini, termasuk dunia pernikahan, tidak jauh, lihatlah aku dan Joya, kami baik-baik saja bukan? Lihatlah Karina dan Arion, mereka saling mencintai, walaupun mereka sempat perang karena dendam masa lalu, tapi semua baik bukan? Ya, apakah kamu sudah pernah mengenal cinta? Apakah kamu bisa merasakannya barang setitik saat bercinta dengan wanita hadiah dari orang-orang itu? Apakah hanya menuntaskan hasrat di hati? Hubungan tanpa rasa, hambar dan pahit, bagai kopi tanpa pemanis." Darwis meletakkan kedua sendok di samping piring sebab ia sudah selesai makan.


Satya menggeleng lemah. Apa yang dikatakan Darwis dan ditanyakan jawabannya adalah tidak, hanya hasrat di dada yang berkumpul pada suatu titik yang minta disalurkan. 


"Hm, sudahlah, akan ada saatnya bagimu merasakan apa itu cinta," lanjut Darwis.


"Tapi Wis, jika pernikahan tanpa restu, akan kah berakhir dengan kematian tragis? Seperti yang orang tuaku alami? Mereka tewas karena keluarga dari sisi Ibuku tidak merestui hubungan dengan Ayah. Kasta? Status? Kekayaan? Apakah restu harus hadir jika ketiga hal itu memenuhi?" tanya Rian.


 Ia dan Satya memang korban pernikahan. Semua itu mereka alami saat masih belia, tidak ada yang peduli dengan mereka, setelah orang terdekat mereka tiada, hidup luntang-lantung di jalan, mengais sesuatu untuk mencari makan walaupun rasanya sudah tidak pantas lagi untuk dimakan, tidur beratapkan langit dan beranjang bumi, menggigil sebab selimut mereka adalah angin.


"Aku tidak tahu mengenai pertanyaanmu Rian, sebab aku tidak pernah mengalaminya," jawab singkat Darwis. Rian mengesah, Satya mulai mengembangkan senyum.


"Hei, mengapa kau sedih? Aku tidak bisa menjawab, kan orang lain bisa. Bagaimana jika kita ke mall? Aku dengar ada barang baru, khususnya perlengkapan anak bayi, Joya kita pergi ya, belanja untuk anak kita, sudah bulan ke enam bukan?" tawar Darwis dengan binar matanya, menatap Joya penuh harap.


Joya mengeryit, tak lama menggeleng. 


"Mengapa?" tanya Darwis penasaran.

__ADS_1


"Masih bulan keenam, masih ada tiga bulan lagi, bagaimana jika di bulan ke delapan saja? Pasti kan ada yang lebih bagus dan baru lagi, bilaperlu, kau pesan saja ke perusahaannya," jawab Joya santai. Darwis terkekeh. Rian dan Satya pamit undur diri. Mereka ke kamar masing-masing.


"Hehe, kalau begitu, mari ke mall bersenang-senang, jika ada yang menarik, baru kita beli," tawar Darwis lagi. 


"Hei, kau ini!" kesal Joya, cemberut yang dibalas kecupan singkat di bibirnya oleh Darwis.


Joya membulatkan matanya, wajahnya memerah, antara malu dan kesal.


"Kau mencuri!" gerutu Joya.


"Sudahlah, ayo bersiap, kita nanti melepas senja di pantai," ajak Darwis.


Joya berdiri duluan dan menuju kamar. Semenjak sakit, Darwis merubah kamar mereka jadi di lantai dasar, bukan di lantai dua. Darwis menyusul dengan senyum lebar dan langkah kaki yang lebar pula.


"Mau dibantu?" tawar Darwis saat melihat Joya hendak masuk ke kamar mandi, Darwis menahan pintu. Joya mengedus kesal.


"Tidak! Aku bisa sendiri, cuma mandi saja, lagipula, aku ragu satu ruang dalam keadaan tanpa busana di depan serigala, sekarang dia jinak, namun tak tahu setelah itunya bangkit," tolak tegas Joya.


"Yakin? Nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana? Aku temani saja, biar hatiku tenang," bujuk Darwis lagi. Joya menggeleng keras.


"No, no, no! Kau tunggu saja di luar! Aku tidak akan lama," tegas Joya lagi, menatap Darwis serius dan meyakinkan. Darwis menghela nafas dan mengalah. 


"Baiklah, kalau begitu cepatlah sembuh, agar aku tidak ragu untuk memakanmu, aku merindukan kehangatan dirimu serta pergulatan kita di sana. Main solo, rasanya kurang," ujar Darwis, entah bagaimana, telinga Joya panas dan wajahnya juga memanas.


Joya mematung dengan kondisi pintu terbuka setengah. Ia memejamkan mata. Hatinya gelisah dan tidak nyaman.


"Aku lebih takut, tidak bisa melihat kamu lagi, Wis. Aku takut, kamu melupakanku nanti seadainya aku tiada lebih dulu. No Joya! Optimis, kamu pasti sembuh. Dengan perhatiannya, kamu pasti sembuh! Aku mau menua dan menikmati kehidupan yang indah sampai menutup mata!" tekad Joya, menutup rapat pintu lalu mandi.


Setengah jam berlalu, Darwis kembali ke kamar setelah menyelesaikan sedikit pekerjaannya. Ia mengeryit heran melihat kamar yang kosong dan hening. Di kamar mandi, juga tidak ada suara. Akan tetapi, pakaian ganti Joya masih berada di atas ranjang. Seketika, rasa cemas, khawatir dan takut menjadi satu.  


Darwis memutar handle pintu kamar mandi, dikunci dari dalam. Darwis mencari kunci cadangannya, setelah membongkar beberapa lemari, barulah ia temukan. Dengan segera ia buka pintu dan membukanya. Ditemukannya Joya berada di dalam bath up dalam kondisi diam. 


Matanya membulat melihat wajah pucat, dan mata terpejam Joya. Dengan segera Darwis mengangkat Joya dan membawanya ke ranjang.


"Joya, hei Joya, sayang, bangun," panggil Darwis menepuk pipi Joya. Kedinginan suhu Joya menjawab panggilan Darwis. Darwis memeriksa denyut nadi Joya. 


"Sial! Ceroboh! Bodoh!" runtuk Darwis pada dirinya sendiri. Segera ia memakaikan Joya pakaian dan menggendongnya keluar.


"Rian! Satya!" teriak Darwis tak sabaran. Rian dan Satya yang sudah berada di mobil datang tergopoh. Mereka terkejut dengan kondisi Joya.


"Ayo Wis!" seru Satya cepat. Darwis bergegas menuju mobil. Rian membukakan pintu. Satya yang mengemudi. Sepanjang jalan, Darwis menggosong telapak tangan Joya, berharap menciptakan rasa hangat di sana.


"Cepat sedikit!" pekik Darwis kesal.


"Sabar Wis!" balas Rian. Ia dan Satya juga ikut panik. Biar bagaimanapun, Joya sudah menjadi kakak ipar mereka.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit Tirta Hospital, Joya segera mendapat perawatan. Darwis menunggu gelisah di depan ruangan Joya ditangani. Rian dan Satya menenangkan Darwis.


Joya, kau harus kuat! Jangan tinggalkan aku. Jangan lemah! Kau wanita kuat, batin Darwis.


*


*


*


Karina menghembuskan nafas kasar saat keluar dari laboratoriumnya. Ia menoleh ke belakang sesaat dan melangkah menuju kamarnya. Sesaat hatinya merasa tidak nyaman. Namun, Karina abaikan dan berbaik sangka saja.


Ternyata Arion sudah menunggu di sana.


"Makanlah dulu," ujar Arion. Karina mengangguk dan duduk di hadapan Arion. Arion dengan telaten menyuapi Karina.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Arion.


"Menggagumkan! Benar-benar hebat! Mereka berhasil mengeluarkan chip dari tubuh wanita itu! Tubuhnya ternyata berbeda, ada yang spesial. Hingga kemungkinannya berubah menjadi 80%," jawab Karina.


"Woah, langkah apa selanjutnya?" tanya Arion, menyangga dagunya melihat Karina yang sedang mengusap bibir dengan tisu.


"Tentu saja memperkuat chipku," jawab Karina santai.


"Kalau begitu, ada yang bisa aku bantu?" tawar Arion. Karina mengangguk.


"Jadi barang percobaan, mau?" tanya Karina.


"Eh? Kau kejam sekali. Suamimu sendiri kau jadikan bahan uji, kalau aku gagal bagaimana?" kesal Arion. Karina tergelak tawa. 


"Kau terlalu serius, mana mungkin aku melakukannya, aku akan melakukannya pada tahanan, dan barangkali juga pada adik wanita itu," kekeh Karina. Arion mendatarkan wajahnya. 


"Hmhp! Aku tertipu lagi!" runtuk Arion pada dirinya sendiri.


*


*


*


"Haih, lelahnya," gumam Elina, yang baru keluar dari laboratorium. Ia merenggangkan tubuhnya sesaat. Tak lama, sebuah peti kayu dibawa keluar dari lab menuju tanah makam yang telah disediakan. Elina menatap dalam kepergian peti mati berisikan mayat Rama. 


"Selamat jalan, semoga kau tenang dan damai di sana. Adikmu telah kami temukan, maafkan aku!"


Elina membungkuk sesaat lalu menuju lift untuk turun ke lantai kamarnya dan Li.

__ADS_1


__ADS_2