
"Apa sekarang kau menyesal?"
Karina mendapati Enji menyandarkan kepalanya pada pilar koridor dengan kedua tangan mengepal.
Enji menoleh ke samping, menatap Karina yang tersenyum simpul.
"Tentu saja, tidak! Aku hanya merasa sedikit sedih. Aku kini menyadarinya, rasa seumur jagungpun dapat sangat berarti. Hanya saja, kami sangat berbeda dari segala sisi. Aku tidak bisa membahayakan keluargaku demi seorang wanita. Kakak, aku yakin di luar sana masih banyak wanita, yang bisa menjadi pendamping idealku," jawab Enji.
"Bagaimana jika seandainya tidak ada?"tanya Karina.
"Jika tidak ada? Tidak masalah aku melajang seumur hidup. Lagipula aku sudah ada penerus. Jika aku tidak menemukan wanita yang akan menjadi isteriku kelak, aku akan menghabiskan waktu dengan Kakak, merawat anak-anakmu kelak," jawab Enji, tersenyum lebar.
Karina berdecak lidah.
"Mengapa tak kau buka saja panti asuhan?"
"Aku hanya merawat keturunanmu, Kak. Bukan yang lain," balas Enji mantap.
"Ya-ya. Terserahmu sajalah. Kau sudah dewasa, sudah mampu mengambil keputusan. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Istirahat agar cepat pulih total," ujar Karina, melambaikan tangan mengambil penjaga.
"Baiklah. Good Night, Kak."
Enji melangkah, menjauh dari Karina menuju kamarnya ditemani seorang penjaga. Karina juga kembali ke kamarnya setelah punggung Enji hilang di pertigaan koridor.
Karina terbangun saat alarm berbunyi tepat pukul 05.00. Karina lupa mengganti waktu alarm menjadi pukul 04.00.
Karina menyalakan lampu kamar, mendapati Arion yang masih tidur dengan Bintang dan Biru yang tidur dengan berbantal perut dan dada Arion. Pemandangan yang menyegarkan serta menenangkan hati.
Karina mengambil handphonenya, mengabadikan pose mereka bertiga. Setelah beberapa kali jepretan, Karina menyimpan handphone.
Arion dengan lembut memindahkan posisi tidur Bintang dan Biru kemudian beranjak turun. Berjalan memutar dan kini berada di samping Arion. Menunduk, memberikan kecupan manis di kening Arion. Membuat kelopak mata Arion bergerak dan membuka. Arion tersenyum mendapati Karina yang mengusap pipinya.
Arion menggeliat pelan, memegang tangan Karina yang masih mengusap pipinya.
"Mengapa pagi-pagi sudah nakal?"tanya serak Arion.
"Nakal?"
"Hm."
Karina memekik pelan saat Arion menarik tangannya. Kini posisi Karina dan Arion berpelukan. Kedua tangan Arion menahan, melingkar di pinggang Karina.
"Haruskah kita berolahraga setelah salat?"bisik Arion, serak disertai desahan mesra di telinga Karina.
Telinga Karina memerah. Meronta pelan disertai tatapan tajam pada Arion.
"Kau menggodaku, Sayang. Harus bertanggung jawab karena membangunkannya," tambah Arion.
"Tapi … tapi di sini ada Bintang dan Biru," tolak halus Karina.
Arion tersenyum.
"Di markas sebesar ini apa cuma ada satu kamar? Hm?"
Karina pasrah, mengangguk pelan yang dihadiahi sebuah kecupan singkat. Arion melepas pelukannya. Arion segera menjauh, masuk ke dalam kamar mandi. Arion terkekeh pelan, bangun dan merenggangkan tubuhnya kemudian menyusul Karina.
Setelah menjalankan salat subuh, dan memastikan bahwa Bintang dan Biru masih terlelap, Arion langsung menarik tangan Karina keluar dari kamar menuju kamar lain di lantai pribadi Karina ini.
Saat Karina dan Arion kembali ke kamar, mereka mendapati Bintang dan Biru telah bangun dan bermain di atas ranjang. Keduanya menghela nafas lega.
Bintang dan Biru langsung menatap Karina dan Arion.
"Aku akan menemani mereka. Lekaslah mandi," ujar Arion, duduk di ranjang.
Bintang langsung mendekat pada Arion, memeluk dan mencium Arion.
Biru tetap menatap Karina, tatapan curiga. Karina tersenyum.
"Mama mandi dulu ya," ucap Karina, melangkah menuju kamar mandi.
Biru kemudian mengalihkan tatapannya pada Arion yang kini bercengkrama dengan Bintang. Dengan pelan merangkak mendekati Arion.
Arion menatap Biru yang bertumpu pada pahanya.
"Ah anak Papa semakin tampan saja," puji Arion, mengangkat Biru melayang di udara.
Biru mengembangkan senyum. Bintang cemburu, menarik baju Arion, merengek ingin seperti Biru juga.
"Bintang mau juga? Baiklah."
Arion menurunkan Biru, memberikan sebuah puzzle yang belum tersusun untuk mengurangi rasa kesal Biru. Benar saja, Biru langsung tenggelam menyusun puzzle. Memecahkan tantangan seakan sudah menjadi hobi untuk Biru.
__ADS_1
Bintang tertawa lepas saat Arion mengangkatnya tinggi.
"Ar, cepatlah mandi. Bukankah kau ada meeting pagi ini?"
Karina keluar kamar mandi seraya mengeringkan rambut dengan handuk. Arion mengangguk, menurunkan Bintang di samping Biru. Kali ini, sepertinya Bintang sudah jera mengganggu Biru, tidak mau dahinya dipukul oleh adik kembarnya lagi. Anak pertama Karina itu kini malah membantu Biru menyusun puzzle. Walaupun masih agak merusuh setidaknya tidak merusak kerja keras Biru.
Karina duduk di tepi ranjang, mengamati kedua anaknya.
Kecerdasan yang dimiliki kedua anaknya sama tinggi. Hanya saja Bintang lebih suka bermain-main, lebih santai sedangkan Biru lebih serius, sangat serius malah. Karina tersenyum, sepertinya sudah ada keputusan lagi yang Karina ambil.
"Tidak haus atau lapar?"tanya Karina.
Bintang yang sudah mengerti, langsung merangkak mendekati Karina. Karina tersenyum, langsung menyusui Bintang.
Saat Arion keluar kamar dengan hanya menggunakan handuk dengan rambut yang masih basah pula, Arion mendapati Karina telah selesai menyusui Bintang, berganti menyusui Biru.
Saat Arion keluar dari kamar ganti, sudah dengan setelan kerjanya, Arion mendapati Biru telah selesai menyusu.
"Sayang, apa kau bekerja hari ini?"tanya Arion.
"Sepertinya aku masuk siang, Ar. Setelah ku cek tidak ada agenda penting sampai makan siang. Semua bisa dihandle oleh sekertaris-sekretarisku," jawab Karina.
"Istirahatlah lagi setelah memandikan Bintang dan Biru," ujar Arion.
"Aku akan memanggil Nata dan Niki untuk memandikan mereka. Para anggota juga harus mengenal pimpinan masa depan mereka bukan?"
Arion mengangguk menyetujui.
"Ya sudah. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantar sarapan ke kamar."
Karina mengangguk.
"Aku sudah memutuskannya," ucap Karina.
"Apa itu?"tanya Arion.
"Setelah mengamati Bintang dan Biru aku memutuskan bahwa Bintang akan menjadi penerus perusahanku sedangkan Biru menjadi penerus Pedang Biru," ujar Karina.
"Jika itu sudah kau putuskan, maka itulah yang terbaik," ujar Arion menanggapi keputusan tersebut.
Karina tersenyum lebar. Arion kemudian melihat jam tangannya.
"Aku harus segera berangkat ke kantor. Sayang, aku berangkat dulu ya," pamit Arion.
"Pasti. Aku berangkat ya. Bintang, Biru, Papa berangkat dulu ya. Assalamualaikum," pamit Arion lagi.
"Waalaikumsalam," jawab Karina.
Karina kemudian mencium punggung tangan Arion. Arion mengusap rambut kemudian mendaratkan kecupan singkat di kening Karina. Bintang dan Biru yang sudah terbiasa, bergantian mencium punggung tangan Arion.
Seusai itu, Arion melangkah keluar kamar dengan membawa tas kerjanya. Bintang dan Biru kembali asyik bermain selagi menunggu Nata dan Niki datang.
Tak berselang lama, bel pintu kamar Karina berbunyi. Karina mengambil remote untuk membuka pintu. Dua wanita berusia sekitar 30 tahunan, wanita kembar itu masuk kemudian membungkuk hormat pada Karina.
"Untuk sementara, kalian akan menjaga dan mengurus kedua anakku. Mereka sudah menyusu, satu jam lagi waktunya makan bubur. Resepnya sudah ku berikan pada bagian dapur," ujar Karina.
"Baik, Queen," jawab keduanya bersamaan.
Nata kemudian menggendong Bintang sedangkan Niki menggendong Biru, tak lupa membawa puzzle yang belum diselesaikan oleh Biru.
Karina kembali berbaring saat Nata dan Niki bersama kedua anaknya keluar dari kamar. Pelan tapi pasti, kedua matanya kembali tertutup, Karina kembali tidur.
Karina terbangun karena handphonenya terus berdering, mengusik mimpinya. Karina bangun, meraih handphonenya yang masih berdering.
"Darwis?"gumam Karina, sebelum dijawab sudah menjadi panggilan tak terjawab.
Karina mengusap wajahnya, memilih membasuh wajah dulu sebelum menghubungi balik Darwis.
Saat kembali, handphonenya masih berdering, secepat kilat Karina menjawabnya.
"Akhirnya kau menjawabnya juga."
Terdengar lega yang disambut dengusan Karina.
"Ada apa? Kau menganggu tidurku," ketus Karina.
"Tidur? Kalian kau masih tidur di jam segini? Ini sudah tengah hari loh," seru Darwis kaget.
"Kenapa? Ada masalah?"sahut Karina.
"Ah tentu saja ada. Tidur pagi kurang bagus untuk kesehatan. Apa yang membuatmu begitu lelah?"
__ADS_1
"Rahasia."
"Rahasia?"
"Sudahlah. Katakan ada apa? Aku juga harus berangkat ke perusahaan," sela Karina.
"Astaga. Sampai kelupaan mengatakan tujuanku. Ada kabar baik," kekeh Darwis.
"Kabar baik? Apa Joya sudah sadar?"tebak Karina.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Ternyata tepat sasaran.
"Selain kabar sadarnya Joya, memangnya ada kabar apa lagi?"tanya balik Karina.
"Ah aku lupa. Joya sudah sadar, Karina. Dia baru saja sadar dan kini masih diperiksa oleh dokter," ujar Darwis.
"Syukurlah."
Karina memejamkan mata, merasa lega. Satu beban lagi sudah terangkat.
"Karina … aku sangat bahagia. Akhirnya keluarga kecilku lengkap."
"Baiklah. Akhirnya aku juga bisa menepati janji pada Rian."
"Janji?"
"Aku berjanji padanya bahwa kita akan liburan bareng setelah Enji dan Joya sadar. Setelah kondisi mereka pulih total, kita akan ke Maldives," jelas Karina.
"Itu artinya Enji sudah sadar?"
"Hm. Kemarin siang, dia sudah sadar."
"Kebahagiaan melingkupi keluarga kita. Sungguh membahagiakan."
"Baiklah. Aku akan mengatur jadwalnya setelah berbicara dengan Joya," putus Karina.
"Aku akan memberitahu kabar baik ini pada yang lain. Sebelum kita bertemu langsung, kita harus bertemu secara virtual, okay?"
"Okay," sahut Karina.
Seusai itu panggilan berakhir. Karina tersenyum lebar. Hatinya sungguh bahagia. Dengan langkah lebar, Karina keluar kamar, mencari keberadaan kedua anaknya.
Karina menemukan Nata dan Niki berada di pendopo, juga menemukan kedua anaknya yang tengah bercengkrama dengan Enji, juga Li dan Elina serta Ali.
Ketiga balita itu akur, bermain bersama.
"Kakak kau sudah bangun?"
"Hm."
Karina duduk.
"Ada kabar baik apa hingga membuat wajahmu sangat berseri, Karina?"tanya Li.
"Joya sudah sadar," beritahu Karina.
"Benarkah?"
Li dan Elina bertanya dengan nada bahagia. Karina mengangguk.
"Darwis baru saja menghubungiku," jawab Karina.
Li dan Elina langsung berseru syukur. Hanya Enji sendiri yang mengeryit bingung.
"Baru sadar? Apa maksudnya?"tanya Enji.
"Ah Kakak lupa memberitahumu. Joya koma setelah melahirkan. Sekitar satu bulan setelah kau koma," jelas Karina.
"Begitu rupanya. Lantas bagaimana dengan anak mereka?"
"Tentu saja selamat. Namanya Gibran … Gibran siapa? Aku lupa nama lengkapnya," tanya Li menatap Elina dan Karina bergantian.
"Aku juga lupa," ringis Elina.
"Karina?"
"Gibran Raqqilla Firaz."
"Nah itu dia!"
__ADS_1
"Syukurlah," ujar Enji.