Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 387


__ADS_3

"Mengapa kau tersenyum, Sayang?"heran Arion. Arion merasa tidak ada yang lucu, mereka baru saja selesai mandi bersama.


"Sepertinya dalam waktu dekat ada akan pesta pernikahan di markas," jawab Karina.


"Siapa gerangan yang akan menikah? Jika dilihat dari senyummu pasti anggota penting," tanya Arion penasaran. Karina mengangguk.


"Kau ingat lamaran Emir tempo hari?" Arion mengingat sebentar, kemudian mengangguk.


"Eh ini betulan? Lamarannya diterima oleh Aleza?" Arion membulatkan matanya terkejut. Sedikit banyaknya Arion tahu karakter Aleza. 


"Yap. Dia bahkan sudah menanyakan tentang hantaran."


"Baguslah. Kau bisa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," kekeh Arion. Karina mengeryit tipis menatap Arion tidak mengerti. 


"Ayolah kau lebih paham daripada aku." Senyum Karina mengembang, terkekeh pelan.


"Kau benar," sahut Karina. 


"Tapi kebahagian Aleza lebih penting. Pernikahan itu kelak tidak hanya mempersatukan dua insan tetapi dua keluarga besar. Hubungan keluarga lebih baik daripada sekadar hubungan kerja." 


*


*


*


Emir memberi kabar bahwa ia dan keluarga  akan ke markas pusat dua minggu dari sekarang. Di kediamannya, semua orang sibuk mempersiapkan lamaran Emir untuk Aleza. Perhiasan, beberapa properti yang diubah atas nama Aleza, uang tunai, kain dengan kualitas terbaik, dan masih banyak lagi. Semua dibungkus sedemikian rupa. 


Di markas juga terjadi persiapan. Aula disulap menjadi tempat berlangsungnya lamaran. Dekorasi warna biru mendominasi. Aleza merasa tidak pantas menerima semua persiapan ini. Namun titah Karina membuatnya pasrah. Kehendak Karina sukar ia tolak. Toh semua ini untuk kebahagiaannya. Saat tim yang ditunjuk sibuk mendekor, sang bintang malah sibuk bekerja. Biarpun sudah disuruh mengambil cuti tetap saja Aleza menolak.


"Jika aku mengambil cuti … aku akan cuti selamanya dari perusahaan. Lamaranku masih tiga hari lagi. Tiga hari itu waktu yang sangat berharga. Sangat tidak enak rasanya jika aku berdiam diri. Kakak … sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri, meninggalkan rumah ke rumah suami, ku mohon jangan larang aku bekerja!"


Raina, Lila, dan Sasha  hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Semakin dipaksa semakin kekeh. 


Dua hari berlalu, satu hari sebelum hari H. Emir dan rombongan sudah tiba di bandara, dijemput oleh Aldric dan Gerry ke markas. Li tidak ikut karena masih tugas di luar kota. 


Setibanya di markas, rombongan di arahkan ke kamar tamu. Karina masih bekerja begitu juga dengan Aleza. Rombongan hanya disambut oleh Elina. Tidak tersinggung, Emir paham betapa sibuknya Karina. Ia juga sudah kenal karakter Aleza, penggila kerja. Akan tetapi agaknya Osman kesal dengan hal ini. Emir tersenyum simpul, mencoba menenangkan sang ayah. Osman pada akhirnya mengerti walaupun masih terdengar gerutuan darinya.


"Dasar penggila kerja! Emir saat sudah jadi isterimu kelak kau harus memberinya pekerjaan agar ia tak mati bosan!"


*


*


*


Sudah waktunya pulang kerja tapi pekerjaan Karina masih ada. Mau tak mau Karina lembur hari ini. Karena Karina lembur, Aleza dan Sasha pun ikut lembur. Anak-anak tertidur pulas di kamar, kecuali Biru dan Bima yang sibuk membaca buku, tentu saja mengenai bisnis. 


Waktu menunjukkan pukul 19.00, Karina menghela nafas lega. Pekerjaan hari ini sudah tuntas, saatnya pulang. Karina menoleh ke arah Biru dan Bima. Ternyata keduanya tertidur dengan posisi buku di atas dada. Karina memijat pelipisnya, segera bangkit dan membangunkan kedua anak itu. Buku di atas dada sudah dipindahkan ke atas meja.


"Mama?" Biru menguap, mengerjap pelan.


"Ayo kita pulang," ucap Karina.


"Mama sudah selesai?" Bima mengucek matanya.


Karina mengangguk.


"Kakak dan adik?"


"Bangunkan mereka, Mama akan membereskan meja dulu," ujar Karina. Kedua anak itu berjalan gontai menuju kamar. Karina tersenyum tipis, segera membereskan bawaannya. 


"Leza, Sasha!" Karina memanggil keduanya. Segera keduanya masuk.


"Bawa tas anak-anak ke mobil," ucap Karina.


"Baik, Nona." Keduanya keluar dengan membawa tas anak-anak. Tak berselang lama, enam anak keluar dari kamar dengan mata yang terlihat jelas masih mengantuk. 


"Ayo-ayo. Nanti di mobil kalian lanjut tidur," ucap Karina. Bintang menguap, menepuk-nepuk pipinya supaya rasa kantuk menjauh.


"Baik." Bintang memimpin jalan. Brian, Bara, dan Bahtiar di tengah, sedangkan Bima dan Biru paling belakang. Karina mengawasi dari belakang, melangkah pendek. Setibanya di mobil, keenam anak itu masuk teratur. 


"Leza besok kau harus cuti. Perawatan sebelum acara!"tegas Karina.


"T-tapi Nona …." Karina menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri.


"No. Aku tidak menerima penolakan! Ini perintah! Aleza aku tidak ingin kau tampil kusam nanti. Perawatan sehari sudah cukup!" 


Aleza terdiam pasrah, mengangguk pelan. Sasha berkikik pelan melihat wajah pasrah Aleza. 


"Sasha kau temani Leza besok. Pekerjaan kalian biar Raina dan Lila yang handle!" Sasha tersedak, Aleza melangkungkan senyum puas.


"N-Nona saya juga cuti?" Karina mengangguk.


Sasha menunjukkan wajah memelas agar Karina menarik perintahnya. Karina menggeleng dan segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Nona!"rengek Sasha saat mobil melaju meninggalkan basement. Karina mendengus senyum, melihat ke samping dan belakang di mana anak-anak kembali tertidur.


"Tenang Kawan. Setidaknya kita masih bersama!"ucap Aleza, merangkul Sasha.


"Benar juga. Sebentar lagi kita akan berpisah. Leza ayo kita bekerja dari rumah!" Sasha berbinar. 


"Benar juga. Mengapa tak terpikir olehku? Lagipula semua persiapan sudah matang, kalau perawatan, sebentar saja glowing," sahut Aleza. Keduanya tertawa, melangkah riang menuju mobil. 


*


*


*


"Mengapa Aleza belum pulang juga?" Emir menyangga dagunya lesu.


"Kan dia tidak pulang kemari." Gerry melirik heran. 


"Bukankah seharusnya dia kemari?" Osman memalingkan wajah dari layar televisi menatap Gerry.


"Kemungkinan besok ia di sini," sahut Gerry.


"Dia juga belum menelponku," keluh Emir. Gerry memutar bola mata malas. 


"Jika kau merindukan Leza mengapa tak ke apartemennya saja?" Mira datang dengan membawa nampan berisi makanan riang.


"Ke apartemennya? Benar juga!" Emir duduk tegak, bersemangat.


"Tapi aku tak tahu di mana apartemennya. Aku juga tak paham tulisan penunjuk arah." Emir kembali lesu.


"Kan ada Gerry," ujar Mira, menatap Gerry. Emir ikut menatap Gerry, matanya penuh harap. Gerry mengeryit tipis, mata yang menunjukkan penolakan. Sorot mata tegas Mira tak kuasa Gerry tolak.


"Baiklah. Ayo ku antar," putus Gerry. Mira tersenyum lebar. Emir langsung berdiri dan memeluk Gerry.


"Terima kasih, Kawan!"


Gerry mengangguk, melangkah keluar duluan. 


"Hei tunggu apa lagi? Cepat sana ntar Alezanya keburu tidur!"sentak Mira yang melihat Emir diam dengan senyum-senyum sendiri. Emir tersentak, menoleh polos ke arah Mira.


"Mana Gerry?"


"Sudah di tengah jalan!"sahut kesal Mira. 


"Kalau begitu saya tinggal dulu," ujar Mira. Osman dan Rayan mengangguk. Mira melangkah pergi, menuju pendopo taman di mana ada Mira, Ali, juga Laith putranya.


"Mama!" Laith memalingkan wajah dari buku di tangannya.


"Ada apa?"sahut Mira, mengusap lembut rambut Laith.


"Tidak ada. Mana Papa?"


"Mengantar Paman Emir ketemu sama tante Leza," jawab Mira, duduk dengan memeluk Laith.


"Oh …."


"Jadi Gerry mengantar Emir? Mengapa tidak Aldric saja?" 


"Apa kau lupa? Aldric kan ikut dengan Li," sahut Mira. 


"Ah benar. Hampir saja lupa," kekeh Elina, menepuk dahinya pelan.


"Mama kapan Papa pulang?" Li memalingkan wajahnya dari layar handphone.


"Kemungkinan besok, Ali," jawab Elina.


"Oooh. Mama, Ali sudah ngantuk."


"Sudah ngantuk, ya sudah Mama antar ke kamar yuk," ujar Elina. Ali menggeleng. 


"Jadi?"


"Ali sudah besar. Ali bisa ke kamar sendiri, Ma," ucap Ali bersungguh-sungguh.


"Benarkah?"


Ali mengangguk.


"Baiklah." Elina tersenyum lembut.


"Ma aku juga mau ke kamar, bareng sama Ali," ucap Laith.


"Ya sudah. Kalian hati-hati," tutur Mira. Kedua anak itu mengangguk, turun dari pendopo, berjalan meninggalkan pendopo menuju kamar mereka.


Mira dan Elina kemudian larut dalam obrolan mereka. 

__ADS_1


*


*


*


"Aleza tinggal di sini?" Emir menatap bangunan apartemen di depannya. Gerry mengangguk.


"Ini tempat tinggal untuk anggota yang bekerja di luar markas," jawab Gerry.


"Tidakkah ini terlalu mewah?"


"Ini setimpal dengan kontribusi mereka," sahut Gerry.


"Ayo." Gerry melangkah lebih dulu memasuki lobby. Emir menyusul. Mereka naik lift menuju lantai apartemen Aleza dan Sasha. 


"Pintu 200," gumam Gerry mencari pintu bernomor 200. 


"Ah ketemu!"seru Gerry.


"Ini apartemennya?"


Gerry tidak menjawab, membunyikan bel pintu. Tak berselang lama, pintu terbuka. Sasha keluar dengan mata mengantuk.


"Siapa?"


"Sasha mana Aleza?"tanya Gerry.


"Kak Ger?" Mata Sasha langsung terbuka sempurna.


"Tuan Emir?" Aleza bingung dengan kedatangan dua orang ini.


"Aleza mana? Aku ingin bertemu dengannya," tanya Emir.


"Ah ya Aleza ya? Alezanya sudah tidur, sebentar aku bangunkan dulu." Sasha berbalik.


"Tunggu!"tahan Emir. Aleza kembali menghadap Gerry dan Emir.


"Dia sudah tidur? Berapa lama?"


"Belum lama sih, kenapa?"


"Tak perlu dibangunkan. Besok pagi saja aku kemari lagi," ucap Emir. Gerry menaikkan alisnya.


"Tapi kan sudah datang."


"Tidak apa. Jangan bangunkan dia."


"Baiklah. Kalau begitu besok tak perlu datang kemari. Besok kami cuti, kami akan ke markas," ujar Sasha.


"Benarkah?"


"Kalian cuti?" Gerry tertegun. Sasha mengangguk.


"Baguslah," sahut Gerry.


"Baiklah. Aku akan menunggunya di markas." Wajah Emir berbinar bahagia, meninggalkan Gerry dan Sasha yang menatap datar dirinya.


"Hei apakah dunia terbalik? Kalian bisa ambil cuti juga," ledek Gerry.


"Siapa bilang? Ini perintah Nona. Ah tidak sebenarnya ini karena Aleza. Aku disuruh menemaninya," jelas Sasha.


"Oh bukankah bisa bekerja dari rumah?"


"Nona serius dengan perintahnya. Kami dilarang masuk, baik offline maupun online." Sasha menunduk lesu. 


"Ya sudah kalau begitu. Aku pulang," pamit Gerry.


"Ya. Hati - hati," jawab Sasha. Gerry mengangguk dan segera menyusul Emir yang sudah tiba di lobby.


"Hei Pangeran plin-plan!"seru Gerry setelah tiba di mobil.


"Hei sopan sedikit denganku!"balas Emir ketus.


"Untung saja besok mereka ke markas. Jika aku harus mengantarmu lagi besok, aku akan menurunkanmu di tengah jalan!"kesal Gerry.


"Hei-hei apa maksudmu? Aku ini tamu harus diperlakukan dengan baik!"seru Emir, memegang pegangan tangan saat Gerry mengemudi dengan bar-bar. 


"Sudah lama aku tidak balapan, Pangeran Emir bagaimana jika kita mampir ke sirkuit dulu?"


"Ah tidak! Aku tidak mau!"


"Baiklah mari bersenang-senang malam ini!"


Gerry malah menambah kecepatan dan tak butuh lama tiba di area balapan. Emir langsung keluar dan muntah. Gerry tertawa puas dan menemui panitia balapan ini. 

__ADS_1


__ADS_2